Saturday, 10 September 2011

Team Yang Aneh


                                     
Kalau mengingat bagaimana kami bisa menjadi teman,sepertinya aneh saja.

Bagaimana tidak?

Semua berawal dari ketidaksengajaan.

“Ketika kami semua bermimpi hal yang sama,menjadi petualang tidak “sejati”.

Ha ha ha ha.......

Bagaimana mungkin?Pertanyaan sedikit lucu tapi tidak cerdas.

Mungkin aku seorang pemimpi,kecuali mereka bertiga pastinya.Kami memang tergabung dari kuartet yang tidak jelas asal usulnya,karena kalau usul pasti selalu asal.

Sepertinya kami memang dikutuk untuk bertemu satu sama lain dan menjadi teman sependeritaan, tapi kami berempat “tulus” walau mungkin terpaksa.

Kami bertemu tanpa mengenal satu sama lain awalnya(pengantar kata yang terlalu “klise”).

Hanya sebuah tujuan yang sama yang mempertemukan kami akhirnya.
Ketika kami berkeinginan menaklukan diri sendiri versus sebuah gunung.Soalnya kalau sama harimau aku masih bermental “kucing yang manis” (so sweet...)

Kasihan kan,aku yang imut dan cute kalau harus tercabik-cabik dan hanya menjadi “santapan tidak lezat sang harimau”? Betapa sia sianya Tuhan menciptakan aku kalau harus bernasib tragis seperti itu.Pastinya akan banyak duda duda terlantar dan lelaki lelaki jompo yang akan menangis,(sepertinya bukan untukku)

Itu semua terlihat dari cara kami mempersiapkan dan merencanakan sesuatu.

Seperti saat kami menentukan jam keberangkatan,betapa mudahnya aku melobi mereka dan membuat mereka menunggu dan melewatkan waktu mereka demi menanti seorang gadis manis yang tak jelas bentuk pribadinya.

Dan ketika mereka meminta aku untuk mempersiapkan diri dengan baik,aku masih berleha leha dan hanya dalam waktu satu minggu aku menyulap diriku menjadi seorang “pejantan tangguh”.”Jiahhhhh....kayak sheilla on seven up aja dah...

Sampai hari H – 7 aja  “prepare yang aku buat masih banyak tertinggal di dalam mimpi mimpiku”.

Kami hanya berbicara dalam bahasa singkat alias “SMS”,padahal untuk merencanakan sesuatu lebih baik bertemu muka dan berbicara mulut dengan mulut ,jadi semuanya bisa jelas.

Tapi bagaimana mungkin?mengeja saja aku sulit apalagi berbicara,akhirnya diputuskanlah kalau semua pertanyaan dituliskan dan dikirimkan melalui pesan singkat dan padat dan tepat nomernya,kalau salah nomer kan bisa salah sasaran target dan maksud nantinya.

Peraturan pertama sudah aku patuhi dan jalankan walau setengah hati.

Itu gak penting,yang penting niat sudah kami bulatkan seperti bola yang bundar,jadi tinggal kami tendangkan saja menuju target!

Setelah semua persiapan awal kami siapkan dirumah masing masing,tibalah saatnya pertemuan.
Perencanaan kedua kami adalah bertemu di terminal.

Dan sepertinya terlaksana dengan baik walau aku terlambat seperti biasanya,dan memang mereka penunggu sejati,sudah sangat terbukti.

Perencanan ketiga adalah perjalanan selanjutnya,dan disinipun kami mulai diuji dengan diri kami masing masing.Karena untuk transportasi saja kami punya keinginan sendiri sendiri,ada yang mau naek “delman sampai atas”,yang satunya naek becak tapi minta yang rodanya empat biar gak capek goesnya,malah ada yang cuma nyanyi “naek naek ke puncak gunung...tinggi tinggi sekali...”

Akhirnya,kami memutuskan naek L 300 dengan kondisi berdesak desakan sampai untuk mengeser pantat kami saja harus menyenggol pantat tetangga dulu ha ha ha ha

Ini juga menunjukkan bagaimana kami sebagai team terlihat sangat “solid”,saking kompaknya kami semua bisa tertidur pulas dengan kondisi seperti itu dan bersama sama terbangun dengan “iler” yang menempel di ujung sudut bibir kami masing masing,karena kami memang berhenti di tujuan akhir mobil ini.

Perencanaan keempat “makan”.
Untuk hal ini kami sama sekali tidak “kompak”,terlihat sekali dari jenis makanan yang kami pilih.Tak ada satupun dari kami memilih satu jenis makanan yang sama,semua berbeda bahkan tampak bukan “kembar”.Hanya warung tegal yang memang menjadi pilihan kami yang sama,tadinya sih pengen makan di padang,tapi terlalu jauh harus melewati lampung,palembang,jambi(gak lucu amat sih,basi).

Perencanaan kelima “petualangan”

Disinilah akhirnya kami ditempa dan dihadapkan dengan kenyataan hidup yang tak akan pernah bisa terlupakan.Bagaimana kami akhirnya bisa menjadi satu hati.Dan terbukti kalau mereka bisa disebut “sahabat”dan kami adalah team yang sangat konyol.

Kenapa begitu,kenapa begini?

Selama perjalanan inilah kami bisa mengenal satu sama lain,ketika kami sama sama merasakan sebuah perjuangan untuk melawan diri kami sendiri.Menghadapi semua rasa frustrasi.Berhadapan dengan sebuah ketidakpastian,apakah kami bisa berdiri diatas puncak atau hanya terduduk lemas kelelahan tanpa menggapai sebuah senyuman.Di sinilah kami ditantang melawan diri sendiri,bukan orang lain,atau dirinya.

Bagaimana sebuah ketulusan terlihat,ketika seseorang menunggu dengan sabar, ketika yang lainnya berjuang dengan rasa lelah yang menggelayutinya, padahal mereka juga mungkin sama lelahnya.Memberi semangat walau itu hanyalah sebuah “kamuflase” agar seseorang itu tetap bisa berada dalam jalur “mimpi” dan niat awal pada mulanya.Dan berharap temannya itu kembali memulai perjuangannya.

Menjaga satu sama lain,terlebih aku satu satunya “putri” diantara sarang penyamun,tapi aku bersama jaguar jaguar penjaga yang sangat baik dan tangguh,kecuali satu orang tuh.

Berusaha untuk bersama sama merasakan “kebahagiaan yang tak terucap”ketika kami semua bisa berada dan berdiri di atas puncak dan melihat betapa kecilnya kami diantara kebesaran dan keagungan yang tampak nyata di depan mata kami,dengan selamat.

Hanya sebuah rasa syukur yang tak akan pernah berhenti kami ucapkan dan terdengar sampai ke relung hati kami,hingga kami kembali menuruni puncak dengan sebuah senyuman kebahagiaan,kesadaran diri,dan kerendahan hati...semoga

Walaupun kami bertemu secara random,walaupun kami bukanlah team yang hebat,walaupun persiapan kami tidaklah matang tapi cukup membuat kami semua berada diatas sana memandang di ketinggian dengan perasaan “takjub”.

Mungkin kami memang “team yang konyol” yang berusaha mewujudkan mimpi kami.....

Tapi kami terlebih aku tak akan pernah berhenti untuk bermimpi dan mewujudkan “mimpi itu”.

Walaupun harus bersama kekonyolan kekonyolan “hidup”






No comments:

Post a Comment