Jangan terpaku dengan “gambar” yang terlihat,karena ini semua tak ada hubungan apapun!
Sekali lagi peringatan ini di perlukan untuk tidak membuat kenikmatan saat membaca “hilang”.
Cerita berawal ketika aku masih berada dalam lingkungan “karantina”,kalau aku boleh bilang seperti itu.Karena memang seperti “karantina”,hanya bukan tempat “khusus” seperti yang ada dalam bayangan kalian tentunya.Kami hanyalah sekumpulan gadis gadis muda yang tinggal bersama “mamih asrama”.Tapi kami sangat energik,pesona,keinginan,dan ambisi,walaupun terkadang terjadi “kebodohan kebodohan yang di sengaja ataupun tidak disengaja” .
Seperti yang pernah aku lakukan.
Tapi jujur sejujurnya,kalau aku tak pernah sedikitpun merencanakan atau bermimpi untuk melakukan semua ini.
Sore itu seperti biasa kami melakukan hal hal rutin yang menjadi kebiasaan kami setelah pulang “pendidikan”.Kami menyebut seperti itu karena asrama kami berada dalam lingkungan militer.Dan seperti yang ada dalam pikiran kalian,berarti kami berada dalam aturan aturan yang sudah ditetapkan dan bisa dilanggar dengan syarat “terima konsekuensinya”.
Untuk pertama kali memang butuh waktu untuk menyesuaikan diri,tapi itu semua biasalah.Namanya aja “proses adaptasi”.Tapi bukan itu yang sebenarnya ingin aku ceritakan pada kalian.
Bisa kalian bayangkan sebuah asrama putri dengan aturan “militer” yang mempunyai sekitar 11 kamar tidur yang masing masing mempunyai kapasitas yang berbeda.Dengan fasilitas 1 ruang tamu sekaligus menjadi tempat belajar bersama dan ngerumpi plus nonton tv(kalau yang ini ada aturan tesendiri),1 ruang makan yang luas,1 dapur umum,dan sekitar 22 kamar mandi(untuk sekitar 200 putri yang manis manis)tapi tidak semua bisa berfungsi dengan baik dan sebaiknya aku juga tidak usah menceritakan mengapa bisa terjadi”gak penting juga he he he”.Oh iya 1 tempat mencuci bersama layaknya “mencuci di pinggir kali” karena kami biasa berkumpul di tempat ini dengan satu tujuan yang sama.Sehingga bisa kalian bayangkan, tempat mencuci dengan ukuran kurang lebih 4 x4 meter dan bila kami semua bersama sama mencuci disini,pasti kalian bisa membayangkan seperti apa jadinya.
“Betul sekali apa yang kalian bayangkan pasti sangat penuh sesak!”
Kami memang terbiasa mencuci seminggu sekali,”biasalah anak asrama,walaupun kami semua adalah putri yang manis belum tentu semanis yang terlihat”.
Dan mungkin itulah yang sering terjadi disini.
Sore itu memang tempat sudah penuh,dan menjadi pantangan di sini untuk penghuni baru melanggar aturan yang ada.Kalau harus di jabarkan satu persatu,pastinya kalian akan tertidur nyenyak mendengarnya.Yang pasti salah satunya adalah”DILARANG MENCUCI BAJU DI DALAM KAMAR MANDI!!!!”.
Alasannya yang jelas sih, katanya,” kamar mandi itu buat mandilah,jadi jangan buat....”.Jadi kalau mau mencuci harus di tempat cucilah,apalagi kalau di dapur lebih parah jadinya,bisa bisa sayur rasa molto nantinya.Mungkin seperti itulah maksud aturan itu dibuat,dan seperti yang sudah aku ceritakan diatas,”berani melanggar terima resikonya”.
Dan seperti biasa “naluriku untuk melanggar mencoba menggelitik logikaku”.
“Ahhh,gak papalah kan cuma sekali,lagian kalau gak ketahuan kan gak jadi masalah,”pikirku saat itu.
Tapi hati kecilku masih sempat berbisik walau lembut”jangan...nanti kalau ketahuan kamu bakal dihukum sama senior senior kamu!”.Emang kamu gak takut,bujuk hati kecilku agar aku berubah pikiran.Dan sepertinya naluri nakalku gak mau kalah membujuk,”ya jangan sampai ketahuanlah,makanya kamu pakai “otak”.Akhirnya setelah pergulatan yang hanya sebentar dan akhirnya naluriku yang menang,aku memutuskan mencuci di “kamar mandi”.
Ember yang berisi rendaman cucian akhirnya kupindahkan kedalan kamar mandi terdekat,biar gak ada yang tahu.Dan mungkin karena hari menjelang magrib dan sebentar lagi jam makan malam,kemungkinan orang yang ngantri mandi pasti tinggal sedikit nih.Benar saja,setelah aku melihat tak ada orang dan aman terkendali.Aku masuk kamar mandi nomer...dan ku tutup pintu kamar mandi,layaknya orang yang mandilah.
Pintu tertutup aman dan aku mulai mengucek rendaman “cucian”.
Tiba tiba.....
Aku mendengar orang masuk kamar mandi sebelah persisi di sampingku.
“Wah...gawat nih kalau ketahuan,”pikirku.
Aku masih diam sambil berpikir bagaimana caranya agar tak tampak dan terdengar sedang mencuci.
Yang jelas aku sudah selesai mengucek hanya tinggal membilas,dan pastinya orang membilas dan mandi pasti berbeda.Karena membilas butuh air yang tidak sedikit,orang pasti tahu kalau disebelah ada yang lagi nyuci!
“Gawat....mayday mayday,”otakku masih bekerja mencari solusi.
Dan tiba tiba,”
Artinya otakku sudah mempunyai cara jitu menurutnya.
Ia berkata,”waktu kamu mengambil air kamu harus mengikuti orang di sebelah yang lagi mandi aja,kan jadinya dianggap lagi mandi juga”.
“Bener juga nih otak,”pikirku.
Tapi analisaku saat itu tidak ikut bekerja,karena kalau ia ikut sumbang saran,pastinya butuh waktu yang lebih lama lagi dan membuat orang semakin curiga.
Dan akhirnya kulaksanakan semua ide itu.
Aku pun membilas baju layaknya orang yang sedang mandi,mengikuti irama orang disebelahku dan persis seperti apa yang dia lakukan.
Kalau dia ambil air segayung,aku juga ambil segayung,dan itu terus berlanjut sampai orang disebelahku selesai mandi.
Ketika orang disebelahku pergi keluar karena sudah selesai mandi,aku melanjutkan pekerjaanku dengan tenang.Dan berpikir semuanya “aman terkendali” dan bisa bernafas dengan lega.
Aku sudah sampai tahap memeras cucian,tinggal menjemur sebenarnya.
Sampai tiba tiba.....
Pintu kamar mandiku diketuk,bukan ding,di gedor,”dor..dor...dor...”
Rasanya banyak sekali jari yang menempel di pintu itu,aku sedikit kaget dan hanya “diam”sebagai respon awalku.
“Siapa didalam...”,tanya seseorang diluar tanpa aku tahu siapa namanya.
Aku semakin diam dan masih bisa berpikir,”keluar atau diam aja yah?”
Anehnya aku gak panik saat itu,mungkin kalau aku panik,kemungkinan aku akan berteriak minta tolong sepertinya.Dan aku masih “diam”.
“Cepat keluar,atau kita dobrak pintunya,atau kita panggil yang piket asrama,”teriak orang yang diluar.
Aku masih belum menjawab dan masih diam didalam,yang jelas aku saat itu mulai merasa takut.Ya aku takut bakal dikeroyok atau apalah.
Akhirnya,setelah diam untuk beberapa lama,aku mecoba membuka selop pengunci pintu kamar secara perlahan.Dan tampaknya orang diluar menunggu pintu terbuka karena mendengar selop pintu di geser.
“Saya kak....,”aku pun mulai mengeluarkan suara.
Karena pintu belum terbuka semua,orang juga bingung siapa “saya”.
Dan ketika pintu terbuka lebar dan tampaklah seorang gadis manis yang polos dan menjinjing ember berisi cucian baju keluar dari kamar mandi itu!
Orang orang diluar tampak sekali guratan kekecewaan karena mungkin mereka berpikir,kalau yang akan keluar nanti adalah lelaki tampan yang sedang ngumpet didalam untuk mencari pujaan hatinya.
Atau mungkin mereka berpikir bakal menangkap seorang penjahat yang biasa mengambil baju baju atau celana yang mereka jemur atau barang barang lainnya,sehingga mereka bakal memukul “penjahat” itu dengan sangat puas.
Tapi ternyata....
Yang muncul seorang anak gadis yang untuk memukulnya saja mereka tak sanggup,apalagi setelah melihat wajahnya yang “innocent”.
“Oh...Kamu....,”teriak beberapa orang,jelas sekali mereka kecewa.
Dan akibat dari apa yang kulakukan tadi,semalaman itu aku habis dikerjain senior senior ku dari satu kamar ke kamar yang lain.Seperti tadi peringatan diatas,”berani melanggar,harus siap resikonya,”
Aku pun menerima resiko dari setiap perbuatanku...Hmmmm
No comments:
Post a Comment