Labels

Showing posts with label Karena aku wanita. Show all posts
Showing posts with label Karena aku wanita. Show all posts

Tuesday, 23 September 2014

Kenapa Harus Kami Wanita Yang Menjadi Objek...




“Dian...tadi sebel deh mba,masak tadi pas naek motor tangan dian dipegang orang sambil lewat gitu,kan nyebelin jadi aku maki maki aja tuh orang,” cerita teman kerjaku saat kami bertemu hari ini.

 “Emang orang tadi naek motor juga?”, tanyaku kemudian.

 “ Iya mba...pantesan dian udah curiga dari tadi, kok orang itu naek motornya agak aneh...”, lanjutnya bercerita.

 “ Aneh gimana ?,” tanyaku ingin tahu.

“Iya aneh aja mba, soalnya pas dian lihat dispion orang itu ada dibelakang motor dian,” lanjutnya.

“Padahal dian sengaja gak ngebut soalnya trauma jatuh waktu itu,jadi naek motornya kan pelan tuh dan orang itu ada dibelakang Dian terus”, lanjut cerita temanku tadi.

“Nah, Dian kan jadinya penasaran, nih orang mau kemana sih, terus Dian coba kencengin naek motornya, eh dianya ikutan ngebut, terus Dian pelanin orangnya juga ikutan pelan,aneh kan mba,” sahut temanku tersebut.

“ Terus gimana?”,lanjutku bertanya.

“Ya pokoknya, dian jadi takut aja, terus ngebut sampe belokan, pas  Dian mau belok dia tiba tiba ngebut sambil megang tangan Dian yang sebelah kanan sambil menyentuh payudara, Dian kan jadi kaget terus spontan aja keluar makian eh dianya malah meringis, nyebelin banget kan,”sahutnya kesal.

Dan aku bisa merasakan hal yang menyebalkan yang sama dengannya, karena aku pernah mengalaminya dan menurutku itu sudah masuk kategori pelecehan seksual.

“Padahal kan siang gitu, terus jadinya orang pada nanya sama Dian kenapa, terus aku jawab aja gak tau tuh orang aneh,” masih dengan nada kesal.

“Mungkin orang gila kali neng...,”sahut orang yang mendengar ocehan temanku saat itu.

“Emang orang itu ngikutin kamu darimana?,” rasa ingin tahuku kembali muncul.

“Tadi pas dilampu merah kan sempet berhenti nah orang itu ada disebelah Dian, padahal Dian udah paling pinggir banget, gak tau kalau orang itu emang ngikutin Dian, soalnya gak ngeh juga,” ceritanya kembali.

“Nyebelin banget deh mba, jadinya kan nakutin kalau pergi pergian gitu,” sambil menaruh tas kerjanya dan melanjutkan melampiaskan rasa kesalnya.

Aku masih mendengarkan ceritanya.

“Waktu mba gimana?,” dia bertanya dan aku menceritakan saat beberapa waktu yang lalu aku mengalami hal tersebut. Aku bisa mengerti apa yang dirasakannya saat itu karena saat aku mengalaminya benar benar menyebalkan, rasanya kalau tidak saat dijalan raya ingin aku tampar dan tonjok saja orang itu. Padahal temanku memakai jaket panjang dan tidak ada yang aneh dalam hal berpakaian, wajah tertutup helm walau pastinya orang tadi melihat raut wajah temanku tadi. 
 
Yang jelas aku hanya menjawab,” orang sakit jiwa tuh ...”

“Iya ya mba..kalau gak kelainan jiwa ngapain coba ngelakuin hal tadi bikin orang kaget dan nakutin, nanti pulang mau minta dikawal suami dulu ah, takut...”lanjutnya kemudian.

Aku tersenyum dan agak sedikit kesal juga mendengar ceritanya, kalau masih saja ada orang yang senang membuat teror seperti itu dan orang yang seperti itu harus disebut dengan “teroris” juga. Karena ia menebarkan teror atau rasa takut pada orang lain.

Padahal tak ada yang aneh dengan diri kami, kalau temanku cantik apa dia salah terlahir cantik dan apakah harus ia mengalami hal tersebut karena ia cantik?Rasanya bukan masalah cantik atau tidak, ini masalah moral??

Rasanya setelah mendengar cerita temanku itu, jangan jangan masih banyak wanita lain yang mungkin mengalami hal yang sama dengan yang kami alami. Berarti diluar sana banyak orang yang mengalami kelainan jiwa yang berkeliaran dengan amannya, yang setiap saat bisa mengganggu kami para wanita.

Ada lagi cerita temanku lagi saat mendengar cerita temanku tadi. Dia bercerita saat dia berada didalam kereta api lokal. Dan semua orang pasti bisa membayangkan kalau kereta tersebut pasti penuh sesak. Dan menurut cerita temanku, dia bertemu dengan “coli” istilah yang dia gunakan. Aku sendiri kurang paham dengan istilah tersebut, cuma dia menceritakan kalau “coli” itu adalah lelaki yang mempunyai kebiasaan menggesek gesekan alat kelaminnya saat suasana kereta penuh sesak dan korbannya adalah wanita didepan “coli” tersebut. Dan temanku mengalami hal tersebut. Entah apa yang dialami orang tersebut, kalau sensasi ingin menikmati kenikmatan seksual, aneh saja kalau harus disaat ramai seperti itu dan memanfaatkan keadaan yang seperti itu. Kalau aku sebut kelainan seksual???

Jadi apa sih yang harus kami lakukan saat harus berada dalam keadaan seperti itu? Aku sempat bilang pada temanku teriak aja biar orang tahu kelakuan orang sakit itu dan malu sekalian kan pas banyak orang tuh jadi orang pasti banyak yang dengar. Temanku hanya bilang,” takutlah mba...banyak orang disana dan ada teman temannya, padahal dia pake baju rapih dan berdasi, aku pindah tempat aja dan aku pelotin gitu mba,” lanjut temanku yang lain.

“Kenapa cuma dipelototin aja, teriak biar malu sekalian, kalau besok ketemu lagi,”lanjutku mengomporinya.

“Takut diapa apainlah soalnya kita kan perempuan dan mereka laki laki, belum tentu yang lainnya nanti bantuin kalau aku teriak, kalau pas turun kita diincer kan malah jadi punya masalah baru,” lanjut temanku bercerita.

Dan permasalahannya adalah laki laki yang tidak bisa menghormati wanita seperti itu harus diapakan? Jangan bilang salah perempuannya itu sih dengan alasana bla bla bla. Kalau anda yang bilang seperti itu adalah laki laki juga bagaimana jika anda diposisi kami wanita? Apakah kalian akan berkata seperti itu juga?

Ini yang harus menjadi perhatian kita para wanita jika berada ditempat keramaian seperti kereta atau tempat umum agat tidak mengalami hal hal yang tadi sempat aku ceritakan. Kalau ada yang bilang itu sih resiko jadi wanita? Rasanya yang bilang seperti itu harus berpikir dua kali saat mengatakannya. Kami wanita baik baik yang bertemu dengan pria tidak baik itu mungkin permasalahannya. Dan karena kami kerap kali dianggap lemah akibatnya adalah kami sering kali menjadi dan dijadikan objek. Padahal terkadang situasi yang membuat seperti itu. Kami tak pernah meminta dilahirkan dengan jenis kelamin tertentu bukan?

Thursday, 22 March 2012

Statusku Janda...

Jadi inget mau cerita sesuatu,kemaren aku ngobrol dengan teman kerja baruku,karena baru hari ini kita ketemu.Singkat cerita,kesan pertama ramah dan cantik.Semoga bisa diajak kerjasama yang baik.
Awalnya canggung juga karena aku agak susah basa basi,kadang kadang kalau terlalu akrab aku suka lupa batasan.Makanya setiap awal ketemu aku lihat situasi dulu, takut malah bikin orang sakit hati he he he

Ternyata  yang memulai percakapan dirinya dan dia yang banyak bercerita dan aku hanya menanggapi sesuai pertanyaan saja.Sebenarnya aku sudah sedikit mendengar dari beberapa temanku tentang teman baruku ini,tapi aku kan belum pernah ketemu langsung jadi buatku kalau belum bertemu dan berbicara dengan orangnya langsung agak susah memberi kesan,dan akhirnya aku ketemu juga.Intinya buatku Eneng anak yang ramah dan sangat cantik.

Tapi ada satu hal yang membuatku sedikit kaget saja,dia bercerita kalau dia divorce.Aku tahu hal itu saat dia bertanya padaku apakah aku sudah menikah dan aku jawab,”belum...emang kenapa?”

Kemudian dia langsung berkata,”gak teh,cuma tanya...berarti saya penikahan dini yah?”.

Aku kemudian bertanya,”emang kamu menikah umur berapa?”.Sedikit ingin tahu karena ia berkata seperti itu.

Sambil tersenyum Eneng berkata,”dua puluh satu...”.

Aku terdiam sesaat.

“Anak kamu berapa?”,lanjutku bertanya.

“Dua...satu umur tiga tahun dan satunya dua tahun,perempuan semua teh,”lanjut Eneng.

“Sekarang sama siapa?”,lanjutku kemudian.

“Sama aku tapi kalau kerja diasuh mamah...”,lanjut dirinya.

“Sekarang umur kamu berapa Eneng?”,aku melanjutkan pertanyaanku.

“27...teh,”dia menjawab pertanyaanku.

Setelah itu dia sedikit bercerita tentang dirinya dan sedikit pengalaman hidupnya,walau pastinya ceritanya tak akan banyak karena kita baru bertemu,pasti ada hal hal yang tak akan ia ceritakan padaku dan aku juga tak akan banyak bertanya walau pada kenyataannya aku sangat ingin banyak bertanya dengan dirinya.

Berarti kamu “Janda”,itu hanya perkataan dalam hatiku.

Karena itu yang kemudian muncul dalam pemikiranku.

Status itu sudah menempel dengan dirimu,entah suka atau tidak sepertinya dirimu paham akan hal ini.Dirimu memang bercerita tentang penyebab perpisahan kalian tapi bukan hal itu yang menjadi pemikiranku,toh hal itu sudah menjadi kesepakatan kalian.

Usiamu baru 27 tahun,seorang perempuan cantik,sangat cantik menurutku.Tapi berbanding terbalik dengan kenyataan yang kamu jalani.Apapun alasannya aku sedikit kecewa dengan perpisahan kalian.Tapi itu hidupmu dan pilihanmu .Aku membayangkan kedua anak lucumu walau aku belum bertemu dengan mereka.

Entah bagaimana perasaan mereka yang masih sangat kecil harus merasakan hal tersebut.Aku juga tak berhak menilai keputusan yang sudah diambil oleh kedua orangtuanya.Mungkin karena aku bukan berasal dari keluarga yang terpisah jadi agak susah menerima hal ini.

Setiap keputusan ada penyebab dan alasannya.Mungkin hal ini juga terpaksa harus dilakukan dan pastinya sudah diperhitungkan dengan baik.Apa mungkin seperti ucapan Eneng padaku.”berarti saya pernikahan dini?”.

Tapi sepertinya aku tak terlalu setuju 100 persen dengan kata katamu,teman.Mungkin ada benarnya sebagian, tapi toh ada beberapa hal yang tidak terjadi sama,toh ada temanku yang menikah saat berusia 20 tahun dan sampai saat ini baik baik saja kelihatannya.Entahlah apa yang terjadi pada kalian.Tapi apapun itu,perpisahan hanya membuat daftar panjang anak anak yang harus kehilangan haknya untuk mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya.Dan mungkin merasakan kebingungan hidup akan pertanyaan pertanyaan yang nantinya harus mereka cari sendiri jawabannya.
Yang jelas sekarang stempel dan status itu sudah menempel dengan dirimu dan kebetulan dirimu adalah wanita,dan semua menjadi berbeda.Kenapa kalau hal ini terjadi pada wanita semua menjadi berbeda yah?

Aku gak tahu apakah aku harus kasihan dengan dirimu atau harus bagaimana?Mungkin dirimu sekarang bahagia atau sedih,aku juga tidak tahu.Yang jelas anak akan selalu menjadi korban akan sebuah perpisahan.Tapi aku juga bingung kalau kenyataannya mengharuskan sebuah perpisahan.Bisakah orangtua yang harus berkorban untuk anak anaknya?

Tapi lepas dari itu semua semua keputusan atau tindakan pasti ada sebab dan akibat,mungkin aku memang  tidak tahu penyebab pastinya.Yang jelas hidup harus terus berjalan dan skenario hidup akan selalu dibuat...

Sunday, 11 March 2012

Wanita...

Wanita pekerja merangkap ibu rumah tangga.Hal ini yang banyak terjadi pada situasi dan kondisi sekarang.Kalau ditanya satu persatu semua ibu dan wanita pada umumnya,mungkin ada bermacam macam pendapat.Semua tergantung sudut pandang masing masing wanitanya.Terlepas dari itu semua,aku hanya mencoba melihat yang terjadi dilingkungan kerjaku dan sekitarku saja.

Kebetulan karena lingkungan kerjaku yang satu tempat denganku semuanya wanita,jadi otomatis mereka semua adalah wanita pekerja sekaligus ibu rumah tangga.Dan apa yang terjadi pada mereka bisa menjadi tolak ukur pembelajaranku nantinya ketika tiba saatnya aku menjadi seperti mereka juga atau mungkin hanya seorang ibu rumah tangga biasa.Tak ada yang tahu pasti bukan.

Tapi yang menjadi bahan pemikiranku saat ini adalah keberadaan ibu ibu pekerja sekaligus ibu rumah tangga menjadi sebuah fenomena biasa untuk kondisi saat ini.Istilahnya menjadi trend senterlah,karena bukan hal yang aneh untuk seorang wanita bekerja diluar rumah dan sekaligus tetap mengurus rumah tangga yang katanya adalah kodrat seorang ibu.Banyak kejadian yang menarik dari pengalaman teman teman kerjaku sendiri.Dan hal tersebut menjadi sebuah tantangan untuk wanita jaman sekarang,karena secara otomatis tugas kami sebagai wanita menjadi bertambah.Tapi hal tersebut bukanlah sebuah kendala buat teman temanku pada umumnya,walau pada kenyataannya banyak hal yang terjadi menyertai kehidupan mereka.

Ketika aku tanya pada mereka,kenapa memilih tetap bekerja walau ada saat saat tertentu terbentur dengan kendala yang membantu mereka mengurus pekerjaan rumah tangga terkadang tidak ada.Sehingga mereka kerepotan dengan hal tersebut,tapi toh mereka tetap memilih bekerja.Dan tahu apa jawaban mereka ketika aku mencoba menanyakannya,”gak kebayang aja kalau seharian dirumah terus,kalau cuma sehari dua hari sih mungkin bisa tahan,Cuma nantinya gimana?”.

“Maksudnya gimana sih?,”aku mencoba memperjelas jawaban mereka.

“Bayangin aja,kalau sekarang biar kita pusing gak punya pembantu atau masalah apapun terjadi dirumah,kalau udah sampe tempat kerjaan bisa hilang tuh stres,”seperti itulah jawaban mereka.

“Emang kalau dirumah terus kenapa?,”tanyaku kemudian.

“Yah...kepikiran aja malah jadi tambah stres kalau pas ada masalah,kalau ditempat kerja bisa curhat ada teman bicara jadi gak fokus sama masalah,jadi kalau pas pulang gak selalu bikin emosi,”lanjut cerita salah satu teman kerjaku.

“Oh...gitu yah,”aku mencoba berusaha mengerti.

“Nanti juga kamu ngerasain kok kalau rumah tangga kayak gimana,”lanjut temanku.

“Apalagi kalau kita terbiasa mempunyai uang dari hasil keringat sendiri,kayaknya kalau harus murni uang suami jadi gimana gitu,”lanjut mereka.

“Lah,emang kenapa dengan suami kan udah jadi tanggung jawab suami sebagai kepala keluarga buat nafkahin kita dan keluarga?”aku mencoba memancing jawaban temanku tadi.

“Yah,pokoknya beda ajalah,kalau uang kita sendiri kan lebih bebas kalau mau makenya,”lanjut temanku.

Aku hanya tersenyum mendengarnya.

Mungkin maksud temanku adalah masalah tanggung jawab seorang istri dan ibu ketika mereka harus mengelola keuangan keluarganya.Maksudnya ketika ada keinginan yang mungkin berasal dari dirinya sendiri dan bukan demi kepentingan keluarga inti pada umumnya,mereka bisa lebih mudah menggunakannya.Tapi aku paham perkataan mereka,karena pada umumnya wanita adalah mahkluk yang spontan.Tapi intinya kalau menurutku adalah masalah “komunikasi”.

Sepertinya memang wanita lebih menggunakan perasaan dalam bertindak dan berpikir,ketika ada sesuatu terjadi kami memang jadi lebih sensitif dan hal tersebut yang mungkin kurang dimengerti oleh pasangan mereka.Sehingga ketika terjadi masalah mereka butuh didengarkan atau sekedar mengeluarkan apa yang mereka rasakan saat itu,dan hal itu mungkin bisa dimengerti oleh sesama wanita,seperti juga sebaliknya yang terjadi pada pihak pria mereka akan lebih mudah dimengerti oleh sesama pria.Sebuah hal yang manusiawi bukan?

Bukan berarti ibu rumah tangga murni tak punya teman atau tak bisa bercerita dengan wanita yang lainnya.

Ini mungkin masalah “eksistensi” wanita,karena mereka juga mau keberadaannya diakui oleh kaum pria terlebih suami.Jadi inget kata kata ibuku waktu kita ngobrol santai,ibuku pernah menasehatiku begini,”pokoknya kalau nanti kamu menikah kalau bisa kamu tetap bekerja.”

“Emang kenapa gitu mah?”,tanyaku ingin tahu.

“Pengalaman mamah sih wanita kalau kerja lebih bisa dihargai oleh suaminya,apalagi kalau perempuan itu tetap bisa menjaga tanggung jawabnya sebagai ibu dan istri,kayak mamah gitu,”sambil tersenyum sedikit pamer ibuku bercerita.

“Tapi gak semua suami kayak bapak kan mah,bisa ngertiin istrinya,”sahutku mencoba menyanggah.

“Pokoknya pesan mamah sih kalau kamu rumah tangga kalau bisa tetap kerja,kan malah bisa membantu ekonomi keluarga,sekarang apa apa udah mahal, apalagi nanti kalau anak anak kamu udah masuk sekolah butuh biaya banyak,belum tentu suami kamu nanti orang kaya,tapi kalau kaya juga kerja ajalah,mamah gak mau nanti kamu dianggap cuma menadah tangan”lanjut ibuku.

Aku jadi tertawa mendengarnya,soalnya pembicaraan kami jadi lebih serius,tapi ada benarnya juga ibuku ini,mungkin kalau pilihan bekerja karena realitas hidup dan sebuah eksistensi bisa dipahami.

Toh,pengalaman ibuku terbukti nyata bisa mendidik kami hingga kami seperti sekarang dengan tetap bekerja hingga sekarang.Walau pastinya banyak kendala yang dihadapi dan berbagai masalah yang terjadi diantaranya,tapi bukankah semua butuh perjuangan,kerja keras dan mungkin harus sedikit lelah.Tapi dengan sebuah kerja sama semuanya bisa indah pada akhirnya,seperti ibuku dan ayahku mereka membuktikan sebuah kerjasama dan pengertian dan membuahkan hasil yang baik.Terlepas dari apa yang mungkin terjadi diantaranya.

Ditambah lagi cerita teman kerjaku yang kehidupan keluarganya bermasalah karena suaminya menikah lagi dengan wanita lain dan meninggalkan mereka tanpa tanggung jawab pernah berkata,”untungnya saya masih kerja sampai sekarang jadi anak anak masih bisa saya urus sendiri tanpa bapaknya juga,gak kebayang kalau dulu saya berhenti bekerja”

Tapi itulah kehidupan dengan segala warna yang menyertai,toh ada banyak wanita yang mempunyai cerita dan pilihan lainnya dengan menjadi ibu rumah tangga murni.Dan mereka juga bukan berarti tidak dipandang,toh menjadi ibu rumah tangga murni atau tetap bekerja adalah masalah pilihan.

Asal paham dengan apa yang menjadi pilihannya tak ada yang lebih baik atau tidak.Semua masalah sudut pandang saja,karena kenyataannya dengan tetap bekerja ada resiko yang membuat kita wanita menjadi ekstra lelah atau berpikir lebih.Tapi menjadi ibu rumah tangga murni juga mempunyai seni tersendiri dan sama artinya,karena esensi sebenarnya wanita berumah tangga adalah sebuah tanggung jawab seorang ibu sekaligus istri.Terlepas mereka bekerja atau tidak.

Semuanya kembali kepada masing masing wanitanya.Tapi mungkin tantangan yang bekerja lebih banyak dan menuntut para wanita menjadi lebih kreatif terutama dalam berpikir,itu pendapatku bila melihat pengalaman teman temanku.

Yang paling penting adalah menjadikan sebuah keluarga bisa saling merasakan keindahan sebuah harmonisasi dan kerjasama,dan wanita berperan penting didalamnya,sehingga menjadikan sebuah “surga kehidupan”dalam keluarga .

Friday, 14 October 2011

Karena Aku Wanita...

                                       

Aku beruntung karena lahir pada jaman sekarang, begitu banyak kemudahan yang ku dapatkan pada jaman ini.Khususnya karena aku wanita.

Tak ada keinginan aku untuk menyesal karena lahir pada jaman ini.

Di sinilah,ketika wanita tidak lagi di pandang sebelah mata.

Saat inilah, ketika wanita dapat menunjukkan eksistensi dirinya sendiri tanpa takut akan berakibat apa nantinya.

Tak ada lagi cibiran dan cap sebagai orang lapis kedua.

Semua bisa kami lakukan saat ini.

Hal hal yang mungkin dulu dianggap tabu untuk seorang wanita,dimana pada masa lalu wanita sudah mempunyai stempel tersendiri.Dan itu terus melekat erat, bahkan masih ada yang beranggapan hingga saat ini.Walau berjalannya waktu,ada sebagian dari itu semua mengalami perubahan.Dan akhirnya kami bisa menikmatinya sekarang.

Memang kalau di pikir, wanita jaman dahulu tentulah sama hebatnya bahkan lebih hebat dari sekarang. Karena mereka memiliki lebih banyak batasan sebagai wanita tapi masih mampu menerima itu semua dan menjalani kehidupan mereka saat itu.

Mereka luar biasa pada jamannya.

Karena aku tidak mengalami jaman dahulu,memang sebaiknya aku bercerita tentang diriku pada jaman ini saja.

Dengan perkembangan jaman yang semakin"progress", ditambah segala kemudahan yang menyertai kami saat ini.Tampaknya bukan lagi sebuah halangan untuk kami berkembang dan terbang bersama sayap kami masing masing.

Kami mempunyai “pemikiran” kami sendiri.

"Mencintai apa yang kami inginkan".

"Memiliki apa yang kami kehendaki".

"Dan meraih apa yang kami impikan".

Semua itu tidak lagi menjadi khayalan “semu” yang tak bisa kami wujudkan.Yang mungkin pada masa lalu semua itu menjadi suatu “impian” atau malah suatu hal yang takut kami impikan.

Itu semua tidak berlaku buat kami sekarang.

Walau pada kenyataannya masih banyak “wanita” yang tidak bisa menjadi wanita seutuhnya dan masih seperti wanita yang hidup di”masa lalu”.

Memang itu semua kembali kepada lingkungan dimana “wanita” itu berada.

Karena pada kenyataannya memang lingkungan mempunyai “peran” yang berarti untuk kami “wanita”.

Cara pandang orang sekitar dalam melihat “kami” pun pastilah berpengaruh besar.

Masih banyak “wanita” yang terkungkung dalam paradoks bahkan “stempel” masa lalu.Bukan karena wanita itu,terkadang karena orang orang di sekitar “mereka”.

Ketika masih ada saja manusia melihat wanita sebagai orang kelas dua dan stempel sebagai “pelayan”, bahkan sebagai “obyek”.

Apalagi kaum adam yang masih berpikiran “sempit” bahkan tersugesti oleh “nilai nilai”tertentu yang menganggap itu sebagai pembenaran.Yang entahlah apakah nilai itu relevan untuk saat ini dan apakah “nilai” itu sungguh murni?

Atau hanya sebagai “kedok” dan “tameng” pelindung para kaum adam yang ketakutan akan kemunculan “kekuatan” kami, yang akhirnya membuat mereka tak bisa melakukan apa yang mereka mau.Dan mencari berbagai “alasan” untuk membuat”eksistensi” kami terkotak kotak.
Hanya kaum adam yang berbesar hati dan berlapang dada serta berwawasan sangat luas yang bisa menerima kenyataan, bahwasanya kami tak akan merebut “eksistensi” kalian sebagai laki laki.

Kami tetaplah “wanita” yang memiliki sifat dasar “wanita” dan hati seorang “wanita”.

Jadi seharusnya tak ada yang perlu ditakuti.

Tapi memang kenyataannya “laki laki” tetaplah seorang “laki laki”.

Ada “ego” dan “harga diri” seorang laki laki yang tak mau diremehkan oleh “wanita”.

Padahal,kami juga tak mau menganggap kalian “remeh”.

Toh memang ada beberapa hal yang tak bisa kami lakukan dan itu hanya kalian yang bisa melakukannya.

Kalian tetaplah “pejantan” yang akan menjadi sumber kehadiran manusia,tanpa kalian kami juga hanya seorang”wanita”,dan ketika bersama kalian kami bisa menjadi lebih dari seorang wanita,bahkan bisa menjadi ibu,istri,penasehat,penyeimbang bahkan perawat.
  
                                        
                          
Oleh karena itu, tolong hargai kami sebagai “wanita sejati”.

Jangan lagi ada “diskriminasi” dalam bentuk apapun.

Jangan lagi ada “traficking” pada kami atas nama apapun.

Bahkan jangan pernah menjadikan kami hanya sebagai “obyek”,apalagi bila hanya sebagai pemuas nafsu dan keinginanmu.

Jangan lagi ada batasan pada kami terlebih atas nama “gender”.

Kami paham, terlebih diriku apa yang menjadi keberadaan dan tanggung jawab kami sebagai “wanita”.

Jangan lagi ada kata kata yang membuat kami merasa “terintimidasi” sebagai wanita.

Biarkan kami berkembang sebagai “wanita bebas” yang tetap memiliki kesadaran diri sebagai “wanita”.

Toh ketika kalian memperlakukan kami sebagai manusia dan menghargai kami menjadi “wanita”,tak ada lagi keraguan buat kami untuk tidak menganggap kalian sebagai”lelaki sejati”.

Kami hanya ingin melakukan hal yang sama seperti “kalian” bukan berarti “sama persis” tapi merasakan apa yang memang kami ingin “rasakan”.Tidak hanya kalian yang bisa merasakannya.

Kami sadar diri bahwa ada beberapa hal yang diciptakan berbeda pada kita dan itulah yang akan “melengkapi”,bukan malahan menjadi kesempatan kalian membuat batasan pada kami.Tapi lebih dari itu,kami bisa menjadi “penyeimbang” kalian.

Percayalah...

Kami diciptakan sebagai “penyeimbang” kalian.

Tidak lebih tinggi juga tidak lebih rendah.

So...jangan pernah takut dengan “keberadaan” kami.

“Kami” bukan saingan...

Tetapi jangan menganggap kami “remeh”!

Karena "kami" bisa bermimpi dan tak pernah takut untuk "bermimpi".
“Karena aku Wanita......”