Aku tak tahu seperti apa dia sebenarnya,karena aku hanya melihat dari sebuah foto.
Tapi itu semua membuat aku jatuh cinta kepadanya.
Entahlah apa yang membuat pesonanya begitu menyihir diriku dan seakan magnetnya menarik diriku untuk pergi kesana.
Sebuah majalah “National Geografi” yang membuatku melihat keindahannya dengan jelas,setelah aku membaca sebuah buku yang seperti menceritakan riwayat hidup dan biodata dari gunung gunung yang ada.Tapi buku itu tidak berwarna jadi aku hanya membaca dan melihat dan membayangkan dalam imajinasiku.
“Ranu Kumbolo....”
Sebuah tempat yang ingin sekali kujejakan telapak kakiku ini di sana,bermain dengan dinginnya air yang ada disana.Bahkan mungkin memancing bersama ikan ikan yang ada di dalamnya.
Membayangkan aku duduk ditepiannya dan mulai mencelupkan ujung jari kakiku ke dalamnya,membiarkan dinginnya air yang ada disana menjalari seluruh rasa yang ada.Memandang ke arah matahari yang mulai menunjukkan keanggunannya,dan tersenyum.
Melihatnya membagikan sinarnya dan memantulkan bayang bayang alam sekitarnya.Dan aku hanya akan duduk terdiam dan diam.Memandang semuanya dengan takjub tanpa ada kata kata yang akan bisa ku lontarkan seperti biasanya.
Udara yang akan menyapaku,dan mungkin mengajakku berkenalan dengannya,sehingga sepertinya ia mempersilahkan aku untuk menikmati sajian yang ada.
Layaknya orang yang datang menghadiri acara pernikahan dan menikmati hidangan yang lezat tersedia.
Hembusan angin yang bertiup,membelai lembut wajahku.Membuatku sejenak merasakan kelembutan itu,seakan aku berada dalam sebuah “euforia”tanpa henti.
Rasanya aku tak akan bisa beranjak dari sana.
Setiap pesona yang tersaji adalah “keajaiban”.
“Keheningan yang ada membuat kontemplasi bagi pelakunya.”
Sepertinya sukma menyatu dengan apa yang ada disini,mengikat erat disini,dan membuatnya selalu akan kembali kesini,menikmati semua sensasi yang ada.
Setiap hembusan udara dan tarikan nafas seperti sebuah “nyawa” yang akan tertinggal disini.
Walaupun semua ini masih dalam bayangan,sepertinya” nyata” tampak di depan mata.
Walaupun masih berupa sebuah “foto” .
Tak ada keraguan untuk tidak sampai kesana,dan merasakan pesona dirinya,sehingga tak akan ada “penyesalan”telah memperjuangkan dirinya!
No comments:
Post a Comment