Thursday, 15 September 2011

Keikhlasankah?


                                                                 
Tak tampak goresan kesedihan ketika kau mendapatkannya,dan kau menerimanya tanpa tanya.Hari ini aku melihat seorang ibu menggendong anaknya layaknya seorang bayi.Sepertinya anak itu berumur kurang lebih sekitar 4 tahun.Melihat dari tinggi badan dan berat badan anak itu,memang tampak tidak sesuai dengan usianya.Tapi bukan itu yang menjadi perhatianku saat itu.

“Mengapa anak seusianya masih digendong?”,pikiranku bertanya.

Betapa dimanjanya anak itu,dan berarti anak itu bahagia dong karena di cintai.

Aku pun mulai memperhatikannya lebih “detail”,tapi aku juga tidak mau menarik perhatian ibunya kalau aku ingin tahu tentang anaknya.

“Kedua kaki anak itu tampak sekali kecil,tak tampak daging atau lemak membungkus tulang kecilnya,hanya kulit luarnya yang langsung menutup tulang itu.”

Begitu tampak kecil...

Kemudian aku mencoba melihat lebih ke atas,

“Kedua tangannya juga tidak lebih besar dari sepasang kaki dibawahnya.”
Jelas sekali kalau kedua kaki tersebut tak akan sanggup menyangga seluruh badannya!
Untuk bergerak saja tampak sekali kalau ia mengalami”kesulitan”.

Melihat lebih keatas...

Proporsi kepalanya sedikit lebih besar,walaupun sebenarnya kepalanya juga kecil,tapi melihat raut muka anak itu,tak tampak seperti anak kebanyakan.Entahlah,apa yang menbuatnya berbeda aku masih “merenung”.Ia menangis...

Ibunya pun memberikannya “botol dot” yang berisi air teh,entah manis atau tidak,tampaknya ia menyukainya.Tak lama berselang botol tersebut habis dihisapnya.

Aku kembali bertanya,”kenapa masih pakai dot?”.

Bukankah seusianya seharusnya ia sudah bisa menggunakan gelas minum seperti yang lainnya?

Apakah sang ibu tak mengajarkannya?

Ataukah memang ia tidak menyukai”gelas”.

Kembali kepalaku dipenuhi pertanyaan demi pertanyaan yang belum terjawab.

Tak sedikitpun aku mendengar anak itu berbicara dengan ibunyaatau sang ibu yang berusaha menjawab pertanyaan anak itu seperti”apa itu bu ?” atau “mau kemana bu?” dan pertanyaan lainnya yang biasanya diungkapkan seorang anak.

Sampai anak itu akhirnya hilang dari penglihatanku bersama ibu dan kakak perempuannya.Sebenarnyapun aku tak tahu anak itu berjenis kelamin apa?aku anggap saja dia seorang anak laki laki.

Tapi raut wajah dan ekspresi anak itu yang jelas tanpa “ekspresi” semakin membayangi pikiranku.
Aku hanya berpikir,bagaimana ketika ia terlahir.

Apakah ketika itu dia melakukan “penawaran lebih dulu”agar tidak terlahir di kemudan hari untuk menjadi seperti ini.Dan apa yang ibunya lakukan ketika setelah melahirkan dan “sempat”merasakan kebahagiaan,tetapi dikemudian hari menjadi was was.
Apa yang dilakukan sang ibu,ketika mendapati buah hatinya yang dulu dibanggakannya,bahkan dicintainya, kemudian hari diluar”ekspetasinya”?

Apakah ia kecewa?

Apakah ia menyesali nya?

Bagaimana ia merawatnya?

Ingin sekali aku bertanya pada ibu itu,bagaimana perasaannya,apakah ia ingin mengeluh atau berkelu kesah?Aku siap mendengarnya..

“Tak ada sebersit penyesalan pada dirimu?”

Atau malah engkau terlalu kecewa?

Begitu banyak pertanyaan yang silih berganti datang dan ingin sekali kutanykan padanya.Tapi aku sendiri hanya bisa terdiam tanpa kata da membiarkannya pergi.

Kembali aku merenung dan mencoba membayangkan”seandainya aku menjadi...”apa yang aku akan lakukan.Terlebih apa yang aku rasakan?

“Apakah aku akan memberontak pada nasib atau meprotes pada sang “takdir”?

Mempertanyakan semua ini ?

Kemudian berusaha merubahnya,tetapi bagaimana kalau aku tak bisa merubahnya?

Pertanyaan itu menggelitik “logikaku”.

“Ya,seandainya semua ini tak bisa kurubah,apakah aku bisa menjalaninya??””

Seperti “Ibu tadi”yang tetap membawa dan merawat anak itu tanpa tanya,walau mungkin ia sendiri tak pernah berharap atau “memimpikannya”.

Apakah aku mau,,,

Memberikan “Cintanya”bahkan keseluruhan diri.

Tanpa sedikitpun ia mendapat apa apa dari “anaknya itu”.

Bagaimana ia bisa “menikmatinya”.

Memberikan “senyumannya” padahal mungkin ia “menangis”?

“Memberi”walau jelas sekali ia tidak akan mendapat apa apa dari”anaknya itu”

Hmmm....

Apakah ini sebuah “keikhlasan”.




(Untuk semua orang yang telah merasakannya dan mengenalinya dan bahkan mengalaminya walau dengan cerita yang berbeda beda,begitu banyak cerita dan wajah wajah keihkhlasan yang terlihat di mataku)

Pertanyaanku adalah....

Apakah kita mau menjadi bagiannya yang walaupun hanya sebuah “kata”,terlampau berliku untuk bisa menjadi “dirinya”!


No comments:

Post a Comment