Friday, 30 September 2011

Kebebasan...?

 “Kebebasan....

Seringkali kata kata itu keluar dari banyak mulut dan entahlah,aku belum tahu mulut yang mana yang benar benar sebuah “kebebasan”.

Menurutku,sebuah kata yang begitu “tulus”.

Karena buatku,”kebebasan” benar –benar “sesuatu banget...”.

Bagaimana tidak,”kebebasan” adalah hal yang paling hakiki dari seorang manusia.

Apakah pernah kalian berpikir,ketika seorang lahir apa yang ikut terbawa pertama kalinya bersama dirinya?

“Sebuah kebebasan....”

Bagaimana ia terlahir dengan kebebasan diri.

Ia berhak untuk menghirup nafas semaunya,entah banyak entah sedikit,tak ada yang melarangnya bahkan “sang pemilik Kehidupan sendiri”.Dan ia pun berhak untuk tidak menghirupnya jika memang ia berkehendak seperti itu.

Tak pernah ada larangan tertulis kan?

Semua telah tersedia dan tinggal kita nikmati,bukankah seperti itu?Entahlah...

Hmmm....

Tapi mengapa masih saja aku mendengar “kebebasan itu ada batasnya”.

Benarkah?

Entahlah,buatku sebuah “kebebasan” adalah kebebasan tanpa batasan.

Tak ada intervensi atas itu semua,biarpun kamus berbahasa sudah memberikan definisi yang jelas tertulis,buatku kebebasan adalah kebebasan tanpa batasan.

Bagaimana bisa sebuah kebebasan dengan sebuah batasan,bukankah itu membuat sekat dan arti yang “sempit” untuk kebebasan itu sendiri.

Aku ingin mempunyai arti sendiri kalau memang pemikiranku berbeda untuk hal ini.

“Bebas menjadi dan melakukan apa yang kalian mau,menjadi egois kalau memang diperlukan,dan seperti ketika kita lahir dan belum mendapat intervensi lingkungan,menerima dogma dan norma yang dibuat atau malah menolaknya,menjadi diri sendiri dan dihargai sebagai diri sendiri,tak harus takut dengan semua stigma yang akan muncul jika kita berbeda,berani mempertanggungjawabkan semuanya.”

Sebenarnya kebebasan tak akan pernah bisa dijelaskan,yang jelas ketika kita membiarkan ia menjadi ia,mungkin seperti itu maksudnya.

Batasan hanyalah sebuah pengikat yang membuat kebebasan itu terikat dan tak akan pernah bisa berkembang,jadi kebebasan tak akan pernah bisa berdampingan dengan kebebasan.

Karena ketika ada batasan,ia bukan lagi sebuah “kebebasan”.

Mungkin orang akan bertanya,bagaimana bisa sebuah kebebasan tanpa batasan?

Sekarang pertanyaan itu dikembalikan pada diri kalian masing masing,apakah sebenarnya “kebebasan” yang kalian maksud dan “kebebasan” apa yang kalian cari?

Karena ketika ia “bebas” adalah “bebas”.

Tak ada batasan,karena batasan hanyalah sebuah “penjara” yang mengungkung “kebebasan” itu.

Batasan hanyalah sebuah pengkotakan “kebebasan”.

“Kebebasan selalu tanpa arti karena ketika diberikan arti ia bukan lagi sebuah”kebebasan”.

Jangan pernah menyamakan “batasan” dengan “tanggung jawab” karena konteks dan arti pastinya berbeda.Coba intip kamus berbahasa!

“Batasan bukan sebuah tanggung jawab,dan tanggung jawab bukan sebuah batasan.”

Batasan hanya akan menjadi sekat dalam setiap hal,jadi jangan pernah membuat sebuah batasan dalam hal apapun,karena semua hal akan menjadi sempit,tapi buatlah semua hal dalam “kebebasan”.

“Kebebasan juga bukan tanggung jawab,dan tanggung jawab bukan kebebasan”

Kebebasan hanyalah kebebasan...

Tapi carilah arti yang luas dari sebuah “kebebasan” kalau perlu tanpa arti....

Biar akhirnya kebebasan itu yang memberikan dirinya sendiri....

Hmmmm






Monday, 19 September 2011

Sempurna atau Tidak Sempurna,,,


                 

“Sebenarnya apa sih yang kamu cari?nobody perfect...,”begitulah kira kira ungkapan kata yag sering aku dengar.

Mendengar itu semua terkadang aku terdiam dan mencoba menelaah,maksud dari kata-kata itu.

Hmmm....

“Emang manusia itu tidak sempurna yah?,”ingin rasanya pertanyaan “klise”itu kulontarkan dan berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan.

“Kalau memang manusia diciptakan tidak sempurna,kenapa?...,” pertanyaan itu seringkali mengegelitik pemikiranku.

“Ya....kenapa harus tidak “sempurna”....,”

“Maksudnya “sempurna itu apa?”.

Pernahkah kita berandai andai seumpama kita “Sang Pencipta” dan berpikir ketika kita melakukan dan berbuat sesuatu,selalu berdasarkan sebuah alasan ataukah tanpa alasan?

Sering sekali diri ini ingin mengetahui sedikit saja pemikiran “Sang Pencipta”,hanya sedikit....tak lebih banyak.

Karena apakah sanggup aku menerima pemikiranNya yang “terlalu banyak”.

Aku ingin sekali tahu,bagaimana Ia memulai semuanya....Ya,

“Bagaimana Ia memulai sesuatu...”

“Apakah Ia memulai dengan “bermimpi” seperti aku?”

“Dan ketika ia memulai sebuah penciptaan,ia memulai dari sebuah “riset”atau penelitan terlebih dahulu?”

“Atau mungkin ketika menciptakan segalanya Ia malah tidak pernah berpikir banyak hal dan melakukan penelitian apapun.”

Karena penelitian itu selalu membutuhka  waktu bahkan melalui “sebuah proses”.

Apakah ia juga melakukan semua hal itu?

Dan apakah Ia juga mengenal “sempurna” dan “tidak sempurna”...

“Tahukah “Engkau” dengan kata-kata itu,atau malah tidak mengenal kata-kata tersebut.

Jikalau “Engkau” mengenalnya berarti pastinya segala yang kau  ciptakan sudah engkau pikirkan dahulu sebelum kau ciptakan.

“Tapi mengapa masih ada saja sebuah “ketidaksempunaan”dari “Sang Sempurna”....”

Atau malah “Engkau”sebenarnya adalah “Ketidaksempurnaan”....?

Makanya semua ciptaanMu memang sengaja kau ciptakan “tidak sempurna”?

Sepertinya “aneh” jika sebuah “kesempurnaan” menciptakan sebuah “ketidaksempurnaan”.

Seharusnya sebuah “kesempurnaan” menciptakan juga “kesempurnaan.

“Begitulah analisa logis yang sering terlontar dari kebanyakan pemikiran kita.”

Karena semua selalu sebanding lurus dan bukannya berbanding terbalik dari kenyataan yang seharusnya ada.

“Maksudnya apa sih?”.

Mungkin seperti inilah gampangnya.

“Kebanyakan pemikiran manusia bahkan mungkin pepatah yang di ciptakan adalah “Buah Tak akan pernah jauh dari pohonnya”.Jadi ketika sebuah pohon apel tak mungkin berbuah manggis,mungkin maksudnya seperti itulah.

Jadi kalau ternyata ada sebuah pohon apel berbuah manggis dan atau malah kebalikannya apa yang terjadi?

“Wah...kemungkinan akan terjadi kehebohan dan pastinya akan tersebar menjadi sebuah “headline news” yang mungkin akan menarik banyak perhatian.”

Pastinya akan terjadi sesuatu..begitulah manusia biasanya,

Dan sepertinya “Sang Pencipta” memang sengaja menciptakan “ketidak sempurnaan” dari sebuah “kesempunaan”.

Ya,ia  memang sengaja melakukan itu semua.

“Sekarang pertanyaan itu kembali terulang kembali,”mengapa?”

Mengapa?....

“Hmm.....

Sepertinya Ia ingin “ketidaksempurnaan” itu mencari “kesempurnaan” dan akhirnya menjadi SEMPURNA.

“Sempurna dalam arti yang sebenarnya.......”

Benarkah....?

Thursday, 15 September 2011

Keikhlasankah?


                                                                 
Tak tampak goresan kesedihan ketika kau mendapatkannya,dan kau menerimanya tanpa tanya.Hari ini aku melihat seorang ibu menggendong anaknya layaknya seorang bayi.Sepertinya anak itu berumur kurang lebih sekitar 4 tahun.Melihat dari tinggi badan dan berat badan anak itu,memang tampak tidak sesuai dengan usianya.Tapi bukan itu yang menjadi perhatianku saat itu.

“Mengapa anak seusianya masih digendong?”,pikiranku bertanya.

Betapa dimanjanya anak itu,dan berarti anak itu bahagia dong karena di cintai.

Aku pun mulai memperhatikannya lebih “detail”,tapi aku juga tidak mau menarik perhatian ibunya kalau aku ingin tahu tentang anaknya.

“Kedua kaki anak itu tampak sekali kecil,tak tampak daging atau lemak membungkus tulang kecilnya,hanya kulit luarnya yang langsung menutup tulang itu.”

Begitu tampak kecil...

Kemudian aku mencoba melihat lebih ke atas,

“Kedua tangannya juga tidak lebih besar dari sepasang kaki dibawahnya.”
Jelas sekali kalau kedua kaki tersebut tak akan sanggup menyangga seluruh badannya!
Untuk bergerak saja tampak sekali kalau ia mengalami”kesulitan”.

Melihat lebih keatas...

Proporsi kepalanya sedikit lebih besar,walaupun sebenarnya kepalanya juga kecil,tapi melihat raut muka anak itu,tak tampak seperti anak kebanyakan.Entahlah,apa yang menbuatnya berbeda aku masih “merenung”.Ia menangis...

Ibunya pun memberikannya “botol dot” yang berisi air teh,entah manis atau tidak,tampaknya ia menyukainya.Tak lama berselang botol tersebut habis dihisapnya.

Aku kembali bertanya,”kenapa masih pakai dot?”.

Bukankah seusianya seharusnya ia sudah bisa menggunakan gelas minum seperti yang lainnya?

Apakah sang ibu tak mengajarkannya?

Ataukah memang ia tidak menyukai”gelas”.

Kembali kepalaku dipenuhi pertanyaan demi pertanyaan yang belum terjawab.

Tak sedikitpun aku mendengar anak itu berbicara dengan ibunyaatau sang ibu yang berusaha menjawab pertanyaan anak itu seperti”apa itu bu ?” atau “mau kemana bu?” dan pertanyaan lainnya yang biasanya diungkapkan seorang anak.

Sampai anak itu akhirnya hilang dari penglihatanku bersama ibu dan kakak perempuannya.Sebenarnyapun aku tak tahu anak itu berjenis kelamin apa?aku anggap saja dia seorang anak laki laki.

Tapi raut wajah dan ekspresi anak itu yang jelas tanpa “ekspresi” semakin membayangi pikiranku.
Aku hanya berpikir,bagaimana ketika ia terlahir.

Apakah ketika itu dia melakukan “penawaran lebih dulu”agar tidak terlahir di kemudan hari untuk menjadi seperti ini.Dan apa yang ibunya lakukan ketika setelah melahirkan dan “sempat”merasakan kebahagiaan,tetapi dikemudian hari menjadi was was.
Apa yang dilakukan sang ibu,ketika mendapati buah hatinya yang dulu dibanggakannya,bahkan dicintainya, kemudian hari diluar”ekspetasinya”?

Apakah ia kecewa?

Apakah ia menyesali nya?

Bagaimana ia merawatnya?

Ingin sekali aku bertanya pada ibu itu,bagaimana perasaannya,apakah ia ingin mengeluh atau berkelu kesah?Aku siap mendengarnya..

“Tak ada sebersit penyesalan pada dirimu?”

Atau malah engkau terlalu kecewa?

Begitu banyak pertanyaan yang silih berganti datang dan ingin sekali kutanykan padanya.Tapi aku sendiri hanya bisa terdiam tanpa kata da membiarkannya pergi.

Kembali aku merenung dan mencoba membayangkan”seandainya aku menjadi...”apa yang aku akan lakukan.Terlebih apa yang aku rasakan?

“Apakah aku akan memberontak pada nasib atau meprotes pada sang “takdir”?

Mempertanyakan semua ini ?

Kemudian berusaha merubahnya,tetapi bagaimana kalau aku tak bisa merubahnya?

Pertanyaan itu menggelitik “logikaku”.

“Ya,seandainya semua ini tak bisa kurubah,apakah aku bisa menjalaninya??””

Seperti “Ibu tadi”yang tetap membawa dan merawat anak itu tanpa tanya,walau mungkin ia sendiri tak pernah berharap atau “memimpikannya”.

Apakah aku mau,,,

Memberikan “Cintanya”bahkan keseluruhan diri.

Tanpa sedikitpun ia mendapat apa apa dari “anaknya itu”.

Bagaimana ia bisa “menikmatinya”.

Memberikan “senyumannya” padahal mungkin ia “menangis”?

“Memberi”walau jelas sekali ia tidak akan mendapat apa apa dari”anaknya itu”

Hmmm....

Apakah ini sebuah “keikhlasan”.




(Untuk semua orang yang telah merasakannya dan mengenalinya dan bahkan mengalaminya walau dengan cerita yang berbeda beda,begitu banyak cerita dan wajah wajah keihkhlasan yang terlihat di mataku)

Pertanyaanku adalah....

Apakah kita mau menjadi bagiannya yang walaupun hanya sebuah “kata”,terlampau berliku untuk bisa menjadi “dirinya”!