Sunday, 17 February 2013

Sepeda Santai Situ Kamojing...

Situ kamojing..

Kenapa aku tertarik dengan nama itu? Sepertinya karena memang aku belum pernah melihat seperti apa situ kamojing. Yang jelas pastinya adalah danau!Dan entah kenapa dalam pikiranku bersepeda pasti banyak ceritanya nih...

Jadi ideku bersepeda aku coba realisasikan segera. Aku mencoba mencari teman yang bisa menemaniku dan tiga teman kerjaku ternyata tertarik bergabung. Segera aku buat rencana tiba tiba, dan kami mulai gowes jam 8 lebih. Perjalanan kami dari daerah Karawang hingga situ kamojing sekitar 30 km lebih. Dan rekor buat teman temanku terutama Yuli, ini latihan kedua bersepedanya. Yang aku pikirkan adalah satu temanku  tadi dan aku tak mungkin melarangnya kan? Aku akhirnya membuat strategi untuk menggowes ketika kami pulang dari situ kamojing saja, pertimbangan temanku tadi . Jadi kami berangkat dengan menumpang pick up untuk sampai di situ kamojing. Tak ada yang pernah ke situ kamojing, jadi kami semua memang tak ada yang tahu. Gambling saja, toh yang penting kami bersepeda bersama itu sih intinya.

Perjalanan bersepeda kami mulai dari rumah kami masing masing hingga titik pertemuan kami rel kereta saja. Hingga daerah johar , selanjutnya tugas pick up kami. Dan karena tak ada yang tahu situ kamojing kami malah hampir diantar hingga daerah Bukit Indah City, jadi sedikit kelebihan... tak apalah hitung hitung pemanasan awal.

Aku sempat iseng mengajak mereka masuk hutan penelitian di daerah Cikampek, tapi aku urungkan karena temanku nanti kelelahan. Akhirnya kami sampai di situ kamojing, respon pertamaku adalah kok kayak kolam gede aja yah? Bukannya situ kamojing bagian dari PLTA, mana PLTA nya? Data yang kurang akurat dengan kenyataan ditambah musim hujan dan akhirnya kami malah narsis sambil minum air kelapa hijau sajalah, anggap penghapus kecewa ha ha ha

Yang lebih menyenangkan saat melihat raut wajah teman temanku saat awal perjalanan, mereka masih tampak antusias terlebih saat bertemu trek menanjak. Trek memang tidak terlalu berat tapi cukup melelahkan, ditambah gerimis yang tidak diundang. Dan kami memang wanita ceria, walaupun lelah masih dengan senyuman manis kami. Saat tanjakan awalpun kami masih tertawa dan saling meledek. Rencana pulang nanti kami akan mampir di daerah yang terkenal dengan pepesnya, yaitu Walahar. Sampai sampai temanku berencana membungkus pepes nanti. Dan itu semua akan jadi bagian cerita ini nantinya.

Perlahan dan pasti kami masih sanggup menggowes, aku posisi dibelakang seperti pengawas saja. Tapi yang menjadi keprihatinanku adalah kurangnya perhatian dari pengguna kendaraan yang lainnya terhadap pengguna sepeda. Ini yang beberapa kali aku alami sendiri dan saat kami bersepeda temanku hampir mengalami juga. Aku spontan berteriak memperingatkan temanku agar posisi selalu dijaga. Karena saat bersepeda kita yang harus peduli dengan diri kita sendiri. Mengharapkan pengguna lain peduli hanya bikin kecewa saja.

Sepertinya kalau dibuat jalur tersendiri mungkin lebih aman. Tapi permasalahannya adalah apakah hal tersebut menguntungkan bagi pemegang kebijakan dan pasti butuh biaya ekstra alasannya. Ahh... itu hanya mimpiku dan mungkin sedikit obsesiku saja.
Perjalanan terus kami lanjutkan dengan menggowes, trek selanjutnya hanya jalanan lurus kalaupun naek hanya sedikit saja. Sampai akhirnya kami mulai mendekati daerah walahar, setelah perempatan kami belok kearah kiri dan disini satu temanku mulai kelelahan. Apalagi saat bertemu tanjakan pertama, padahal gigi sudah dipasang gigi pertama. Aku dan kedua temanku sudah mulai menuruni jalanan saat melihat temanku melambaikan tangannya dan tampak kalau kelelahan. Aku berbalik arah tapi kedua temanku terlalu susah untuk berhenti hingga lanjut terus tanpa sadar. Temanku memang kelelahan kami beristirahat sebentar dan waktu sudah melewati tengah hari. Aku mencoba menghubungi temanku yang lainnya untuk menunggu disisi satunya, dan merekapun menunggu sambil beristirahat seperti kami. Hampir satu jam kami beristirahat disebuah warung pinggir jalan mencoba memulihkan kondisi teman kami dan sambil memutuskan apakah ia sanggup melanjutkan perjalanan ke walahar?

Kami semua tertawa melihat kondisi kami sendiri, terutama raut muka kami yang lusuh semua. Sepertinya temanku tak sanggup dan acara ke walahar gagal!!!
Akhirnya kami memutuskan pulang tanpa mampir untuk makan, padahal sedikit lagi tapi semua tak bisa dipaksa. Sudah lebih dari hebat melihat kondisi kami semua yang menggowes dengan record gowes kami hanya bila ada waktu luang saja. Temanku saling meledek kondisi masing masing dan aku bagian tertawa tawa diatas penderitaan kami bersama. Tak ada moment yang lebih menyenangkan saat bisa menertawakan diri sendiri. Kami yang bermimpi banyak dan kenyataan yang berbanding terbalik dengan semangat kami yang begitu menggebu. Orang bilang semangat 45 tenaga 75 ha ha ha

Dan ada kejadian lucu lagi, saat menggowes pulang ini temanku ada yang berhenti lagi karena kelelahan dan akhirnya obat anti lelahnya makan bakso. Yuliiii... kirain kamu bakal pingsan, ternyata cuma lapar pengen makan bakso aja. Semua kalau dalam keadaan lapar apapun akan terasa sangat nikmat, kuncinya memang lapar. Dan porsi bakso kami ludes tak bersisa...

Sampai akhirnya tiba dirumah temanku karena rencana selanjutnya kami memanjakan diri kami di salon dekat rumahnya, ganjennya kami  . Untung suaminya melihat kondisi lusuh kami hanya tertawa saja tanpa meledek dan besoknya menantang kami untuk mencoba trek lainnya. Dan sepertinya kami menerima tantangannya, kita lihat waktunya nanti !!! Dan teman temanku sempat singgah dan beristirahat sebentar dirumahku, dan kami benar benar kelelahan karena posisi kami langsung tergeletak tidur...selamat mimpi.

No comments:

Post a Comment