Kita tak pernah tahu kapan maut akan datang menjemput, tetapi mungkin kita bisa sedikit merasakannya walau mungkin tidak mengetahuinya malah tidak mengerti. Ini kejadian beberapa tahun yang lalu ketika kakekku masih hidup. Beliau meninggal sekitar 2 tahun yang lalu dan ini adalah satu hal yang membuatku melihat langsung sebuah proses kematian dan masih membuatku sedikit takut.
Kakekku meninggal dalam keadaan tenang, karena beliau mengalami tahapan penerimaan. Ini yang aku simpulkan. Karena sebelum meninggal sekitar dua bulan sebelumnya, beliau seperti sudah mendapat firasat. Aku yang saat itu sering mengunjunginya di jogja berpikir kalau beliau kangen pada anaknya yang lain yaitu ibuku. Memang ibuku yang tinggal didaerah lain, anaknya yang lain menemaninya di jogja. Beliau memang sering menanyakan ibuku, kapan akan berkunjung ke Jogja dan ibuku memang jarang pulang mungkin setahun sekali saja atau malah lebih. Aku yang sering pulang karena aku selalu kangen kakekku dan suasana Jogja.
Dua bulan terakhir beliau mengobrol dengan ibuku melalui telepon dan aku langsung berpikir kalau beliau kangen ibuku. Jadi ketika aku bertemu ibuku aku langsung bercerita tentang kesan yang aku terima saat itu. Rasa kangen tak akan bisa dibohongi, perasaan itu akan tergambar melalui mata dan mimik atau raut muka. Hal itu yang aku ceritakan pada ibuku, dan akhirnya ibuku memutuskan untuk pulang kampung akhir tahun karena kebetulan liburan juga dan memang ibuku sudah agak lama tidak pulang kampung.
Dan entah mengapa, saat kami semua pulang akhir desember tingkah laku kakekku tiba tiba menjadi aneh. Padahal saat bulan november aku mengunjunginya beliau masih biasa. Anehnya itu tiba tiba, kakekku bertingkah seperti orang ketakutan dan berbicara mulai kacau. Bisa tiba tiba fokus dengan kami dan bisa tiba tiba mengunci diri di kamar dan berbicara sendiri. Satu kata yang sering aku ingat saat itu, beliau sering mengusir kami untuk tidak mendekati beliau saat hal tersebut terjadi. Beliau berkata,”jangan dekat dekat, nanti kalian terbawa.” Dalam bahasa jawa beliau berkata, dan kami tidak pernah mengerti hal tersebut saat itu dan aku mencoba mencerna apa maksudnya?Dan yang sering beliau lakukan adalah mengambil surat surat penting seperti KTP dan bercerita tentang uang yang sudah dikumpulkannya untuk membeli sebidang tanah. Aku sedikit sedikit mulai menyadari ada sesuatu yang aneh saat itu. Ketakutannya dan hampir setiap malam beliau tak pernah bisa memejamkan matanya, hanya sebentar dan kemudian terjaga lagi.
Orang kampung menganggap kalau kakekku sedang pikun. Padahal aku sangat hapal kalau kakekku bukan orang yang pikun, untuk orang usia sekitar 80 tahun daya ingat kakekku masih sangat baik. Beliau belum pikun dan masih bisa mengingat apapun dengan baik. Jadi aku tak percaya kalau beliau pikun, ditambah cerita mistik kalau kakekku dahulu mempunyai jimat penjaga. Katanya orang jaman dahulu biasa mempunyai jimat untuk melindungi diri dan hal ini juga yang sulit aku pahami. Dan harus dikeluarkan, cara mengeluarkan?Panggil orang pintar katanya, dan aku sangat tidak menyukai hal ini.
Dan pengakuan beliau ketika sadar dan kami tanya apakah ada, beliau mengaku tidak ada. Dan hal tersebut menjadi hal yang paling aneh untuk diriku, dan aku bertanya apakah memang hal tersebut ada?Aku memang kurang mempercayai hal tersebut buatku aneh saja, tapi ternyata banyak orang yang meyakini hal tersebut. Hmmm...
Aku kurang suka dengan hal tersebut, dan ketika kakekku semakin mulai tambah ketakutan. Aku semakin melihat kalau ketakutannya berbeda. Akhirnya aku bicara dengan ibuku dan bulekku kalau lebih baik dilakukan pengajian saja, kebetulan kakekku muslim dan akhirnya dilakukan pengajian. Dan karena keyakinan kami berbeda, bulekku dan pakdeku yang mengaji ketika malam hari. Aku lebih menyukai aktifitas ini daripada hal lain. Hampir setiap malam kakekku tidak tidur terlebih hari hari menjelang kematiannya. Ada ketakutan untuk memejamkan mata sepertinya.
Kami bergantian menjaga beliau setiap malam dan berusaha untuk membuat beliau tenang. Ada kata kata yang pernah aku dengar dari mulut beliau ketika meracau,” aku masih ingin melihat dan mengasuh anak cucu.” Itu aku dengar ditelingaku sendiri dan membuatku semakin memahami sesuatu. Aku hanya berbisik pada telinganya,” yang ikhlas mbah...” saat aku menemani beliau tidur bergantian. Karena semalaman beliau bisa melakukan tingkah yang aneh menurut pemikiran kita. Hampir sekitar 1 mg lebih disana, kami menemani kakekku. Sampai sampai ketika ada ajakan untuk maen ketempat lain aku tolak, aku hanya berpikir jangan sampai menyesal dikemudian hari. Jadi cutiku benar benar dirumah kakek, dan beruntungnya kami semua bisa berkumpul bersama kecuali adikku yang cowok karena ia tidak bisa cuti saat itu. Aku selalu berbisik di telinganya dan berusaha membuat kata kata yang bisa menenangkan beliau kalau kami ikhlas melepas beliau dan beliau harus ikhlas juga. Sedih rasanya mengingat hal tersebut tapi bahagia masih bisa menemani beliau di saat saat terakhirnya. Terlebih anak anaknya, ibuku beruntung menjadi anak yang bisa menemani orangtuanya hingga ajal menjemput. Kakekku meninggal ketika ibuku pamit pulang kembali, dan hanya berselang sekitar 10 menit dari beliau pamit. Dan ibuku masih bisa langsung kembali saat itu juga. Sangat tenang...dan ibuku adalah anak nakalnya, dan aku cucu nakalnya. Tapi ini bukti kalau orangtua tak pernah memberi cinta dengan batasan.
Satu hal yang aku bisa pahami saat itu adalah kematian adalah nyata dan semua akan mengalaminya tak terkecuali. Dan sepertinya manusiawi jika hal yang terjadi pada kakekku juga terjadi pada kita. Tak ada yang siap 100 % ketika kita harus meninggalkan dunia ini. Apalagi jika kita masih mempunyai mimpi dan asa, ditambah jika kita masih ingin mengecap manisnya dunia. Saat kita merasakan kebahagiaan, apakah kita rela melepaskannya?
Aku bisa mengerti kenapa kakekku pada awalnya tak siap ketika ajal mulai mendekati. Beliau melakukan penawaran dan tak ada kata tawar sepertinya. Tapi satu hal yang membuatku bahagia adalah beliau meninggal begitu tenang dan bisa menerimanya. Yang membuat aku menangis adalah saat beliau berkata,” terimakasih Tuhan...” Itu jelas sekali terdengar ditelingaku dan aku mencium pipinya saat beliau berkata seperti itu dan menangis bahagia. Kakekku bukan seorang religius yang melakukan ritual ibadah agamanya dengan sangat baik, tapi beliau meninggal dengan sebuah penerimaan diri yang luar biasa dan bahagia. Aku mungkin belum tentu bisa seperti itu. Meninggal saat orang yang kita cintai menemani kita dan memberi dukungan untuk bisa menerima kematian dengan ikhlas. Sebuah kematian yang indah... Atau ketika tak ada yang menemani tapi kita merasa bahagia dan ikhlas dan tersenyum.
Tapi tak ada yang tahu hari esok kan?


No comments:
Post a Comment