Saturday, 21 January 2012

Akibat dari sebuah Jembatan Bambu...

 



Cerita ini berawal dari sebuah rencana petualangan yang tidak jelas sebenarnya.Bagaimana jelas kalau persiapan saja dan informasi yang aku dapat sangat minim.Dari setiap penjelajahanku di dunia maya tak ada informasi yang bisa aku dapatkan dengan memuaskan.Tak ada gambaran yang bisa aku jadikan sumber informasi.”Tapi sudahlah,mungkin bisa bertanya selama perjalanan,”pikirku kemudian.

Sebenarnya lebih kearah frustrasi saja.Aku coba tanya temanku jawabannya juga seperti itu.Jadi apa mau dikata,lanjut saja seperti biasa sambil menunggu kepastian temanku jadi cutinya atau bagaimana.

Singkat cerita akhirnya petualangan itu akhirnya dimulai dengan informasi yang sebisanya aku dapat.Kamipun akhirnya memulai perjalanan sore hari itu,karena memang sebenarnya temanku cuti karena ada keperluan jadi sekalian saja toh seperti pepatah yang sering kita dengar Sambil menyelam minum air he he he

Tapi kalau diulas balik petualangan kali ini memang dilakukan setengah hati sepertinya,karena tak ada rencana yang matang dan semua serba spontan saja.Aku berpikir temanku yang satu ini sepertinya akan susah untuk diajak bertualang bersama karena sebentar lagi ia akan memulai satu fase yang baru dalam kehidupannya yaitu pernikahan.

Jadi kapan lagi?

Masalah nanti bagaimana dan seperti apa, namanya juga berpetualang,tapi yang ini tidak seperti petualangan yang lainnya.Karena informasi yang bisa aku dapat benar benar minim dan tidak mendukung.Tapi seperti biasa bukan aku namanya kalau tidak lanjut terus,toh temanku ini sangat biasa di alam bebas jadi apa yang harus kami ragukan dan kami pergi bersama bukan yang pertama kali.Tak ada yang membuat aku ragu,kecuali teman temanku mungkin ragu dengan ideku kali ini.Sedikit aneh dan tidak jelas.

Sore itu kami pergi masing masing menggunakan motor saja,alasan pertama untuk mempersingkat waktu sehingga sedikit efisien saja,praktis kan?Perjalanan dimulai dengan sedikit keterlambatan karena ternyata temanku terpisah dengan temanku yang satunya.Ditambah temanku ini belum pernah ke daerah yang akan kami kunjungi,dengan cuaca yang sudah mulai gelap,aku pun harus memandu sedikit dan menunggu agar kami bisa berangkat bersama.

Setelah perjalanan kami mulai, mungkin baru sepertiga perjalanan yang harus kami tempuh.Hujan itu akhirnya datang,pertama masih rintik rintik,semakin lama semakin asyik.Bertambah lama bertambah deras,diiringi gemuruh guntur dan kilatan petir yang menyambar dan sepertinya mereka saat itu sangat kompak untuk menyertai perjalanan kami.Dan membuat aku sedikit ketakutan karena banyak persawahan yang harus kami lalui dengan kondisi tak ada pepohonan dan perumahan jadi kami memang yang tertinggi saat itu sehingga kalau pun petir dan kilat ingin menyambar kami, posisi kami sangat nyaman untuk di sambar petir,benar benar kondisi yang horor  ha ha ha

Sempat aku berteduh karena temanku tertinggal di belakang karena lebatnya hujan dan suasana malam membuat kami sulit melihat dimana posisi kami masing masing.Saat berteduh itulah ada yang bertanya padaku,” malam malam begini membawa tas hendak kemana?.”Mungkin seperti itulah pertanyaannya dan aku menjawabnya,tampak sedikit keraguan dalam raut muka orang yang bertanya itu.Tak masalah buatku,orang berpikiran seperti apa itu hak mereka bukan?

Perjalanan aku lanjutkan setelah melihat teman temanku melewati tempatku berteduh karena carrier yang mereka bawa menjadi petunjuk jelas buatku dan aku mencoba menyusul mereka,sehingga kami bisa berjalan bersama,aku pun berpamitan dengan orang yang sempat mengajak aku mengobrol.

Tapi hujan yang turun terlalu lebat menyusahkan pandangan kami saat malam ditambah akses jalanan menuju kesana sangat parah kerusakannya.Bagaimana tidak rusak parah kalau yang melewati jalan kecamatan tersebut adalah truk truk besar yang berisi muatan batu kapur dan sejenisnya,ditambah cuaca ekstrem seperti saat ini.Lengkap sudahlah semuanya.

Kami musti ekstra hati hati karena pastinya banyak jalan yang berlubang tertutup genangan air hujan.Ditambah beberapa jalan yang sedang dalam tahap perbaikan,benar benar jalanan yang membuat aku berpikir ulang kalau harus melewatinya lagi.

Bagaimana bisa akses menuju sebuah kawasan yang sedang di promosikan sebagai daerah kawasan wisata seperti itu kondisinya.Bukan hanya aku yang akan berpikir ulang untuk mengunjunginya,kecuali orang tersebut memang sedang ingin melakukan petualangan off road.Sangat becek saat hujan dan jalanan banyak berlubang,sungguh ironis dengan promosi yang gencar dilakukan.

Dan sepertinya selama truk truk besar tersebut melewati jalanan itu,tak akan pernah jalanan disana akan mulus dan nyaman dilalui.Mungkin pemda setempat harus berpikir untuk solusi yang dilakukan agar promosi yang dilakukan sebanding lurus dan membawa hasil seperti yang direncanakan,sehingga kesannya tidak setengah setengah.

Lanjut kecerita inti,kamipun akhirnya sampai di daerah yang kami tuju sudah agak larut malam.Sekitar pukul 20.30 kurang lebihnya,kami sempat bertanya di daerah obyek wisata yang di jaga 24 jam karena mereka akses yang mudah saat itu.Cuaca masih hujan rintik dan sudah mulai larut malam, sepertinya tak ada penduduk lokal yang akan berada diluar rumahnya,pastinya mereka akan lebih nyaman tidur di rumah masing masing layaknya orang normal biasanya (Berarti kami tidak normal ha ha ha)

Jawaban yang kami dapat semakin membuat kami bingung saja,ditambah cerita cerita yang menurutku terlalu berlebihan atau memang kondisinya seperti itu.Tapi bukankah memang seperti itu alam,selalu mempunyai penilaian dan persepsi yang berbeda beda dalam menyingkapinya.Tapi rasanya kami harus menghargai kepercayaan masyarakat setempat,walau dalam pikiran kami terlebih aku sedikit berlebihan saja deskripsinya.Karena kami memang tak punya gambaran apa apa tentang pendakian kali ini,tak ada literatur yang bisa kami jadikan panduan dan yang aku baca  pun informasi sekedarnya.

Kami pun akhirnya berunding,apakah akan kami lanjutkan rencana kami atau bagaimana?Karena memang semakin tidak jelas,tapi aku berpikir sudah sampai sini. Karena cuaca hujan dan anjuran untuk tidak naik malam itu,akhirnya kamipun berpikir untuk beristirahat sejenak,tapi dimana?

Tiba tiba ada seorang bapak yang keluar dari sebuah warung dan mungkin sedikit aneh melihat kami berunding ditengah jalan.Dan ternyata setelah temanku mengobrol,bapak itu berasal dari kalimantan dan mempunyai tujuan yang sama tapi niat yang berbeda.Ia lebih kearah unsur mistis dan ingin mencari sesuatu makanya ia berniat pergi pada malam tertentu dan beliau menunggu malam tersebut.Tampaknya beliau sering ke tempat itu,dan saat kami tanyakan jawabannya sungguh sedikit lucu.

Ketika temanku bertanya apakah bapak tersebut sudah pernah sampai puncaknya jawaban bapak itu seperti ini,”Wah,kalau sampai puncak saya belum pernah,musti bener bener bersih kalau sampai sana.”

Memang hati yang bersih yang seperti apa pak?Mungkin sebelum berangkat kita harus mandi dan kalau perlu direndam pake sabun cuci he he he

Tapi itulah kepercayaan,setiap orang berhak menyakini apa pun dan orang lain pun boleh tidak menyakininya.Yang penting menghargai saja apa yang menjadi keyakinan bapak tadi tanpa harus membuat pembenaran yang lainnya.Masalah kita percaya atau tidak kembali ke pribadi kita masing masing dan apa yang kita yakini.

Akhirnya kami memilih bermalam ditempat lain dan tak mungkin bersama bapak tadi karena beliau tidur di rumah penduduk yang tersedia.Temanku memilih untuk bermalam di alam terbuka saja,secara kami membawa tas perlengkapan out door masak harus tidur ala in door,seperti itulah alasan utamanya.

Rencana awal kami membuat tenda tapi melihat banyak saung saung tersedia kenapa juga harus merepotkan diri membuat tenda dan mengotori tenda.Akhirnya kami memilih beristirahat di saung tersebut.Lebih nyaman ternyata.Dan mereka langsung membuat kopi dan minuman hangat yang lainnya,sedangkan aku memilih langsung beristirahat karena sedikit lelah membawa motor dan kehujanan,sedangkan mereka terdengar masih mengobrol satu sama lain mungkin saling melepas rindu sudah lama tidak berjumpa ha ha ha

Setelah beristirahat dan makan bersama akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami.Kami sempat bertanya tentang arah tujuan kami,karena memang disini tak ada petunjuk jelas kearah mana pendakian itu harus di mulai.Karena memang tak ada pos pendakian disini jadi memang harus banyak bertanya.Dan terkadang banyak bertanya kalau tak ada gambaran pun semakin membuat tidak jelas saja,hanya petunjuk sebuah jalanan kecil sedikit menanjak,setelah kami cari ternyata hanya sebuah jalanan yang membuat rancu apakah jalan tersebut jalan kerumah atau bagaimana.
 
 

Kami bertanya kembali setelah melewati jalanan ini kemana?Dan jawaban yang kami dapat hanya ikuti saja jalanan ini sampai menemukan jembatan bambu belok kiri,tak ada penjelasan lebih lanjut.Pantas saja,bapak yang dari kalimantan tadi saat kami tanya bagaimana cara kesana,jawabannya pun kurang memuaskan.”Kalau saya ceritakan juga susah,saya sih tahu,tapi bingung menjelaskannya,”begitulah jawaban bapak kalimantan tadi.

Karena kami pun bingung saat dijelaskan oleh penduduk setempat,akhirnya kami mencari jembatan bambu sebagai acuan.Setelah melewati persawahan dan lintasan yang masih landai kemudian lintasan mulai sedikit menanjak kemudian turun lagi melewati aliran sungai kecil, kami belum menemukan jembatan bambu.

Kami terus berjalan sampai kami melewati persawahan dan sebuah saung ditengah sawah.Nah,kesalahannya adalah saat di tengah sawah ini kami tidak bertanya kembali padahal ada orang di tengah sawah,kami terlebih aku sangat yakin dengan petunjuk jembatan bambu tadi.Karena jembatan tersebut sudah tampak di depan mata,berarti tinggal mencari lintasan dan belok kiri.
 
Kasalahan pertama kami terlebih aku tidak menanyakan lebih detail apakah belok kiri setelah jembatan atau sebelum jembatan.Karena di akhir perjalanan nanti kami semua tersadar terlebih aku bahwa kesalahan awal ini terjadi disini.Karena mungkin terlalu percaya dengan petunjuk tadi dan kami mungkin juga terlalu percaya diri terlebih aku,jadi sebenarnya tersangka utama untuk kesalahan ini adalah aku.Ditambah setelah kami berjalan kurang lebih beberapa jam,temanku sempat bertanya tapi jawaban orang yang ditanya tadi tidak diceritakan ulang jadi membuat persepsi sendiri,jadilah kesalahan bertambah jadi dua ha ha ha

Kami berjalan terus sampai aku berpikir kok tidak seperti yang aku baca di posting orang,karena awal pendakian mereka menemukan makam.Tapi setelah kami menanjak dan menanjak tak ada makam yang kami temui malah persawahan lagi.Kami mulai curiga,karena aku merasa lelah dan sedikit frustrasi kok ini lagi ini lagi dan tanjakan yang kami lalui tidak seperti yang di ceritakan.

Pokoknya aku merasa tidak seperti yang diceritakan,untung kami bertemu orang dan kami bertanya saja.Karena aku yang mengerti bahasa daerah setempat jadi aku yang bertanya dan akhirnya...
“Salah neng,balik lagi aja dan turun lagi kembali ke jembatan bambu,”kira kira artinya seperti itu.Apa?Kembali ke jembatan bambu...

Seingatku jembatan bambu tadi masih diawal perjalanan,sedangkan kami berjalan sudah hampir setengah lebih perjalanan dan kalau dipikir sebentar lagi kami sampai di puncaknya.Dan dengan santainya bapak itu menganjurkan kami kembali,mungkin kalau waktu kami banyak bisa jadi di ulang menjadi alternatif yang memuaskan tapi?

Cuti temanku hanya sampai hari ini dan belum ditambah perjalanan kembali ke rumahnya yang pasti membutuhkan waktu.Jadi,kami kembali tanpa berusaha mencari puncak.Kami akhirnya kembali tanpa sebuah hasil yang di tuju,tapi lebih dari itu sebuah kebersamaan yang sudah lama tidak kami lalui menjadi sebuah harga yang lebih bernilai dari puncak itu.
Kami pun akhirnya beristirahat di saung di tengah sawah sambil menikmati pemandangan yang asri dan temanku memasak mie rebus sedangkan aku menertawakan kebodohanku sendiri akibat kualat oleh jembatan bambu ha ha ha
 
Jadi teringat kata kata bapak kalimantan tadi,”kalau puncak saya belum pernah soalnya harus benar benar bersih.”

Mentang mentang kami berangkat kehujanan dan pakaian kami kotor oleh genangan air berlumpur,ditambah kami belum sempat mandi waktu berangkat tadi,jangankan puncak,gunungnya saja sudah berbeda sepertinya kami mendaki kearah yang lain ha ha ha
Tapi semuanya tak lagi penting,karena kami memang menikmati perjalanan ini,masalah kami sampai dimana tak lagi menjadi satu hal yang terlalu penting.Ketika kami bisa tertawa bersama dan menertawakan kebodohanku dan hal hal yang tadi kami lalui,bertemu bapak kalimantan dan tersenyum mendengar kata katanya.Besok besok kita pasti mandi dulu pak,kalau perlu tampil cantik dan menawan he he he

Kami pun pulang dengan sebuah senyuman walau dengan kepuasan yang berbeda.Dan yang paling penting adalah obsesiku ketemu elang jawa terbayar sudah,walau tidak dari jarak dekat tapi burung elang itu terbang di atas kepalaku dan dan mengeluarkan suara khasnya.Mungkin kalau burung itu bisa berbicara,ia berteriak dan menertawakan aku juga.Cukup menghibur dengan kehadiran burung elang tersebut,walau akhirnya tak bisa aku abadikan.

Yang lebih penting adalah kebersamaan kami dan kepuasan tertawa dengan lepasnya di tengah alam yang indah menghilangkan jenuh dan penat yang ada.Rasanya ingin mengulang kembali semua kebersamaan itu,tapi terkadang realitas memang berkata lain.Dan setiap orang akan menjalani hidupnya masing masing,semuanya memang ada waktunya.Ada waktu bersama dan ada waktu dimana kita mungkin tidak bisa bersama lagi,tapi itulah kehidupan.Semoga ini menjadi kenangan manis buat kami walau salah arah(dan tersangka utama adalah aku).

Dan petualangan ini meninggalkan kesan tersendiri dengan hal hal yang menyertainya,terima kasih teman teman,kalian yang pertama kali membantuku mewujudkankan petualangan alam bebasku beberapa tahun yang lalu sehingga akhirnya aku menikmatinya hingga hari ini.Setiap petualangan akan selalu menjadi kenangan terindah untuk diriku.Selamat menempuh kehidupan baru yah mas Edi,nanti superman biar nyusul mas,nanti kita buat untuk superman yah mas (di Lawu?) he he he.(Aku selalu terbuka untuk penawaran petualangan selanjutnya cc mas Edi ha ha ha) (Mas Edi jangan jangan ini semua gara gara kita mangil mangil nama mbah ngatijo waktu gecamp,hayooo hayooo he he he)















2 comments:

  1. Harusnya pas ketemu jembatan bambu nyeberang,bukan lurus.Tak jauh dari jembatan itu kita akan menemukan sebuah perkampungan kecil. Dsisitu ada beberapa Makam.... selepas perkampungan itu tinggal lurus aja ngikutin jalur setapak, tak beberapa lama dari perkampungan ada pancuran air....untuk mencapai puncak dibutuhkan sekitar 3 jam lagi dari pancuran tersebut.Setelah sampai puncak apa yang Anda cari pasti ketemu.... "Makam diatas Awan", Awesome!!! Salam Lestari.... ayapoe

    ReplyDelete
  2. makasih bwt infonya mas or mbak nih?kyknya mas yah he..xx renc kl gk ada halangan tgl.23 mo kesana lg msh penasaran, pas plg balik kita lihat kok jalur yg sebelah kiri kan?yang gak nyebrang he..xx renc sih pp gk pake nginap lg jd brgkt pg lgsg turun kok...cukup kan kl pp?

    ReplyDelete