Monday, 10 October 2011

Anak Pantai Utara...

                                         

Anak anak itu kulihat  di siang itu, mereka tampak asyik bermain bersama teman teman yang lainnya,tanpa sedikitpun mereka terganngu oleh keberadaaan diriku disini.

“Asyiknya....,” pikirku sambil terus memperhatikan tingkah laku mereka saat itu.

Sambil berlari lari kecil bersama ombak yang mengejar mereka,karena mereka tampak lucu lucu sepertinya ha ha ha ha

Padahal saat itu matahari sedang terik teriknya berada diatas kepala kita,waktu menunjukkan pukul.12.35 saat itu dan mereka tetap asyik tanpa memperdulikan semua itu.Bahkan ada anak yang sama sekali tidak menggunakan pakaian sehelaipun alias “bugil”.Dan mereka tak terganggu oleh itu.
Aku mencoba mendekati mereka tanpa berusaha menggangu keasyikan mereka,aku biarkan mereka tetap dengan aktivitasnya saat itu.Kupijakkan telapak kakiku yang telah terlepas dari alasnya,aku mencoba menyentuh langsung pasir itu.Waduh....panas juga.

Ternyata pasir itu panas...

Tapi mengapa mereka sepertinya tidak merasakan itu semua?

Akhirnya aku memutuskan tetap berada ditempatku ini sambil terus melihat kelucuan serta kepolosan mereka.

Satu orang anak perempuan dan sekitar empat anak laki laki kalau aku tak salah menghitung.Bermain bersama hitamnya pasir yang ada ditepi pantai,air pantai yang kalau terlihat dari jauh tampak sangat indah kebiru biruan.Dan ketika menepi berubah kecoklatan tercampur pasir yang mengikutinya.

Mereka bercengkrama dan bersenda gurau versi mereka.

Tak ada orangtua yang mendampingi mereka?

Kemana orangtua mereka?

Tak takutkah mereka anak mereka terbawa ombak pantai yang tidak bisa diprediksi.

Sepertinya memang orangtua mereka tak ada disitu saat itu.

Aku bertanya pada seorang bapak tua yang mempunyai rumah makan “ikan bakar” yang ada disitu,kemana orangtua mereka?

Dan bapak itu menjawab,”ada dirumah malah mungkin di muara mempersiapkan perahu yang akan pergi nanti sore.”

Yah,sebentar lagi sore dan saatnya nelayan pergi ketengah lautan malam harinya.

“Ombak sekarang lagi bagus dbanding kemarin kemarin,”lanjutnya.

Makanya kemarin harga ikan sempat mahal karena susah,cerita bapak itu.

“Terus bapaknya anak anak itu punya perahu?”tanyaku kemudian.

“Ya,enggaklah..Cuma yang punya duit yang bisa beli kapal?”sahut bapak tua itu.

Berarti orangtua mereka tak memiliki uang?

Orangtua anak anak itu yang bekerja dikapal kapal itu,satu kapal bisa terdiri dari 5 sampai 6 orang tergantung kapalnya.Kemudian hasil tangkapan ikan nantinya dibagi setelah pemilik kapal mengurangi biaya kapalnya,dan sisanya itulah yang dibagi awak kapal tadi.

Aku diam...mencoba mengkalkulasi berapa kira kira penghasilan orangtua anak anak itu.

Hmm....padahal kalau udah dipasar apalagi pasar modern,ikan itu bisa berkali kali lipat hasilnya dari yang mereka dapatkan.

Dan aku sempat berpikir,apakah anak anak ini makan ikan hasil tangkapan orangtuanya itu?

Aku sangsi untuk hal itu,

Pastinya orangtuanya berpikir lebih “realistis” untuk menjual ikan tadi daripada di makan,toh dari menjual mereka bisa membeli sesuatu untuk anaknya.

Mungkin bagi mereka ikan lebih penting dijual daripada dimakan,sah sah saja kan pemikiran itu.Toh,mereka berpikir tak lebih dari hari ini bukan esok atau lusa.

Seperti anak anak tadi yang tak pernah berpikir apa yang akan terjadi nanti saat mereka bermain.Tak ada rasa takut ombak yang tiba tiba datang menyeret mereka,walaupun ombak di pantai utara tidak seganas pantai selatan,tapi adakah yang bisa memprediksi alam?

Bukankah alam selalu mempunyai keinginannya sendiri?

Seperti anak anak itu, yang tak bisa kuketahui apa yang ada di dalam benaknya saat itu.

Hanya tampak kegembiraan saat itu dengan segala hal yang menyertainya.

Dan sepertinya orangtua mereka tak lagi khawatir dengan anak anaknya karena alam,terlebih laut telah menjadi penjaga dan pengasuh untuk anak mereka.

Terlihat sekali kalau mereka bersahabat dengan laut yang ada didekatnya,sepertinya mereka mengenal satu sama lain,entahlah...

Mereka tampaknya belajar dari alam yang ada di sekitar mereka.

Bagaimana menjadi sahabat alam dan berinteraksi dengan dirinya.

Dan sepertinya ilmu itu yang akan mereka miliki,hanya mereka yang tahu bagaimana tanda tanda alam sedang ceria,marah,dan sedih.Dimulai dari anak anak itu, yang nantinya akan tumbuh dan berkembang bersama dunia mereka dan alam mereka.Tanpa bimbingan orangtua mereka,yang sudah mempercayakan pada laut sebagai ”mentor” mereka untuk perkembangan kehidupan manusia di kemudian hari.

Tawa itu...

Senyuman itu...

Dan lautan itu....


No comments:

Post a Comment