Saturday, 8 October 2011

Pertemanan versi dunia maya


Kali ini aku bingung harus memulai kata dari mana?

Entahlah aku harus memulai cerita dari apa nih...

Mungkin kalian semua pernah dan sedang “bersahabat”, ya   katanya manusia kan mahluk sosial jadi hidup mereka akan selalu berhubungan satu sama lainnya,iya gak sih?

Makanya cerita kali ini mungkin seperti itulah kurang lebihnya,tapi kali ini aku ingin bercerita tentang pertemanan melalui teknologi alias “dunia maya”.

Sebenarnya aku bukan orang yang terlalu suka dengan teknologi tapi juga aku bukan orang yang anti dengan teknologi,jadi ya kalau memang diperlukan aku menyukainya.

Sepertinya aku konservatif ya ? 

Rasanya sih gak juga,aku sangat terbuka dengan teknologi dan aku orang yang mau belajar walau aku tidak terlalu menyukainya.

Demikian pula dengan pertemanan melalui “dunia maya”,aku sangat tidak tertarik pada awalnya mulai dari friendster hingga sekarang mulai ada google plus,aku masih belum mengerti kelebihannya kalau boleh aku jujur.Tapi kalau aku ikut masuk ke bagiannya mungkin lebih karena lucu lucuan aja.

Kok bisa?

Ya bisa ajalah,orang nyatanya aku bisa.

Sebenarnya aku juga gak tau bagaimana aku bisa jadi bagian pertemanan dengan hal ini.Awalnya sih karena ada yang bikin aku terlibat didalamnya.Maksudnya gimana sih?

Awalnya mungkin karena sepupuku berpikir kalau aku memang sedikit “apatis” dengan hal ini jadi dia iseng buat pertemanan atas namaku tanpa sepengetahuanku,mungkin biar aku sedikit narsis kali he he he he

Males banget waktu tau aku ada dalam bagian itu,ihhh apa apaan sih (gak lucu banget) kalau aku pikir,waktu aku lihat teman teman yang jadi temannku kan orangnya setiap hari aku ketemu juga,ngapain juga harus ngobrol tanpa lihat muka terus komentar komentar segala toh tadi atau kemarin bahkan nanti atau lusa aku pasti ketemu mereka.Rasanya gimana gitu lihat hal itu pertama kali,mungkin aku orang yang lebih suka dengan hal hal yang langsung bisa aku temui alias “real”.

Padahal kalau dilihat lihat,dengan semakin canggihnya teknologi dan perkembangannya yang semakin pesat,banyak hal yang menjadi resiko dari hal itu.

Mungkin kalau diperkotaan dan orang yang berpikiran “modern”,hal tersebut mungkin sangat banyak membantu.Di kala waktu buat mereka semakin sedikit dan “terlalu berarti”untuk sekedar berbicara dan mengobrol,karena entah pekerjaan atau aktivitas lain yang banyak menyita waktu. Pertemanan atau komunikasi melalui dunia elektronik sangat berarti,mungkin saja.

Tapi bagaimana dengan mereka yang tinggal di pedesaan?

Hmmmm...

Rasanya dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat,hal itu tidak lagi menjadi halangan untuk sebagian orang yang tinggal di pedesaan yang memang memiliki akses tersebut.

Seperti “facebook” dan pertemanan sejenisnya saja,sudah tidak lagi menjadi dominasi orang diperkotaan atau milik segelintir orang saja.Toh, kenyataannya “teknologi” sekarang begitu mudah dimiliki oleh siapapun yang menyukainya. Seperti halnya dengan “telepon selular”, hal itu bukan lagi suatu hal yang baru atau aneh dengan perkembangan jaman sekarang ini.Setiap individu bisa memiliki akses tersebut dengan mudah.

Demikian halnya dengan “pertemanan melalui teknologi” sepertinya bukan lagi sebuah hal yang aneh ditambah dengan kemudahan akses “internet” yang begitu mudah ditemui hingga daerah pelosok yang   telah di masuki jaringan canggih tersebut.

Sekarang yang menjadi permasalahannya bukan lagi akses yang bisa di jangkau tapi apakah dampak dari hal tersebut.

Bukankah akan ada “resiko” dari setiap hal yang terjadi dalam hidup ini.

Ketika aku menulis hal ini pun aku masih berpikir,bagaimana mungkin pertemanan melalui dunia “elektronik” atau apapun namanya,bisa menggantikan sebuah “pertemanan” yang sesungguhnya.

Bukankah ketika kita berbicara dan mengobrol bersama “sahabat” langsung dengan adanya “kontak fisik” dan melihat langsung reaksi serta bahasa tubuh mereka,rasanya hal tersebut yang membuat mereka tampak nyata “ada” dan “bersama” kita.

Tapi,bagaimana “facebook,twitter,google plus dan friendster sebagai pendahulunya bisa mengalahkan semua hal tersebut.

Aku masih belum bisa mengerti.

Dan ketika aku menjadi bagiannya pun aku masih belum mengerti.

Satu hal yang aku fahami adalah “mereka” sepertinya lama kelamaan menimbulkan “kecanduan”.

Terkadang mereka “menghabiskan” waktu kita secara tidak sadar,membuat kita tersenyum membacanya dan membuat kita asyik masuk kedalamnya dan akhirnya terlalu “asyik” dengan diri kita sendiri.

Apakah memang sekarang “sulit” memiliki waktu untuk bisa berinteraksi langsung dengan “sahabat” atau “teman” seperti layaknya “pertemanan”.

Hmmm....Sepertinya iya...

Rasanya aku pernah merasakan hal itu,ketika aku merasa asik dengan mereka dan orang disekitarku tidak lagi menjadi “penting”.Bahkan,mempunyai “teman” baru yang belum pernah aku temui dan aku ketahui.Berinteraksi tanpa “kontak fisik”.Berbicara tanpa melihat “reaksi” lawan bicara.Sepertinya aku mengalami itu semua tapi aku tak bisa “merasakannya”.

Mungkin,ketika waktu semakin cepat berputar,aktivitas yang terkadang banyak menyita,semakin membuat kita merasa “hampa”.

Dan karena manusia pada dasarnya memang “mahluk sosial” secara naluri ia membutuhkan “pertemanan” sebagai bukti “aktualisasi diri” dan “eksisitensi” sebagai manusia.

Entah itu “pertemanan” dalam arti yang sebenarnya atau hanya “pertemanan” yang entahlah bisa di artikan sebagai apa.

Satu hal yang pasti, ketika ia menjadi bagian kita jangan pernah membuat ia menjadi sebuah “kecanduan” yang membuat kita tergantung pada dirinya.

Jadikanlah ia hanya sebuah wacana “melihat” sesuatu dari sudut pandang lain saja.Sebuah kecanggihan teknologi yang bisa kita ambil bagian positipnya tanpa membuat kita tertinggal olehnya,tapi tetap memiliki "kearifan" tersendiri.

“Entahlah....”

Ini hanyalah sebuah “pemikiranku” tanpa bermaksud memberi “opini” toh aku juga ada dalam bagian itu...so enjoy ajalah...






Friday, 7 October 2011

"Mereka"


“Lonte....”

Sering kita mendengar kata kata tersebut,mungkin bahkan dengan kata yang lainnya yang kurang lebih artinya sama.

Sebenarnya kata itu juga berawal dari apa dan bagaimana akhirnya kata itu begitu sangat biasa diucapkan untuk memberi “tanda” pada aktivitas orang,aku sendiri tidak tahu.

Tapi kalau dipikir kata kata itu gak berbeda jauh dengan sebuah merk “permen karet” ,kalau huruf tengahnya diganti “ T “ bukan “ N”.

“Permen karet” itu memberi “kenikmatan” tersendiri bagi penikmatnya.

Apakah “Lonte” juga??

Silahkan anda jawab sendiri.

Aku memang belum pernah mengenal mereka atau bahkan mengobrol dengan mereka.Bukan karena aku membuat jarak atau membatasi untuk tidak bergaul dengan mereka,tapi memang aku belum pernah bertemu dengan “mereka”.

Sebenarnya,aku ingin sekali mengenal “mereka” atau mungkin hanya berbicara atau sekedar basa basi atau apalah dengan “mereka”.
Aku hanya pernah melewati beberapa tempat yang memang banyak dihuni oleh mereka,menemani temanku pastinya.Cuma untuk mengobrol lebih banyak dengan “mereka” takut mereka beranggapan aku mau tahu banyak tentang “kalian’.Padahal sih iya...

Terkadang,aku berpikir seandainya itu aku,apa yang membuat aku seperti itu yah??

Pertanyaan yang masih sulit untuk ku jawab hingga saat ini.

Sebenarnya apa yang ada dipikiran “mereka”

Apakah memang tak ada “pilihan” buat “mereka”?

Rasanya kurang bijaksana kalau aku membuat sebuah “opini” atas “mereka” yang sebenarnya aku sendiri tidak mengerti.

Mungkin lebih baik kalau aku belajar menjadi seperti “mereka”.

Maksudnya bagaimana sih?

Mari kita mencoba berpikir dengan “pemikiran mereka” bukan “kita” pada umumnya.

Pernahkah kita bertanya atau mengetahui ketika seseorang membuat sebuah keputusan?

Mungkin tidak selalu kita tahu,tapi bila itu kita pastinya sebuah “keputusan” selalu ada sebab dan sumber permasalahan atau apapun itulah yang selalu mengawali dari sebuah keputusan.

Kalaupun “mereka” memilih dan memutuskan itu,biarkan itu menjadi keputusan ‘mereka”, toh setiap orang berhak atas kehidupan mereka masing masing.Dan pada akhirnya pertanggungjawaban atas sebuah ‘keputusan” akan ada pada masing masing individu.

“Bukankah masalah benar atau salah bukan hak kita untuk memberi “penilaian” bukan?”

“Mereka” mungkin juga sama seperti kita hanya ingin terus tetap “eksis” berada dalam kehidupan ini.Bersama merasakan apa itu “hidup” dengan cara mereka masing masing.Terus berada dalam lingkaran kehidupan dan bisa “menikmati” kehidupan,sama seperti kita walau setiap manusia mempunyai ceritanya masing masing.

Kalau harus dipikirkan mungkin akan menjadi sebuah “hal” yang rumit.Biarkan ia seperti apa adanya sekarang dengan “kondisinya” yang sekarang.

Tugasku hanyalah “menghargai” atas  keputusan yang telah “mereka “ buat, apapun itu.

“Mereka” tetaplah manusia sama seperti “kita” walau berbagai macam anggapan bahkan penilaian telah mengiringi kehidupan mereka.

“Mereka” juga mungkin ingin dianggap ada sebagai diri mereka sendiri,entahlah...

“Mereka” memang seperti kupu kupu yang bisa terbang kemanapun mereka mau.Bahkan hinggap kemanapun, walau mereka suka atau tidak.Sebenarnya aku miris melihat kehidupan mereka.Bagaimana tidak, jika ternyata mereka melakukan semua itu hanya demi keterpaksaan saja.Bagaimana mungkin melakukan sesuatu tidak menggunakan hati?

Tapi nyatanya mereka bisa.

Tapi benarkah?...

Seharusnya orang orang yang “mencari” merekalah yang dipertanyakan, pernahkah kalian menggunakan perasaan?


 Apa yang kalian “lihat” ketika bertemu dan bersama mereka?

Tidakkah kalian hanya menggangap “mereka” hanya pemuas nafsu belaka?

Apakah kalian pernah mengangap mereka sebagai manusia bahkan seorang wanita atau pria?

Apakah ketika kalian bersama mereka perasaan kalian ikut “muncul”?

Aku belum pernah merasakan apa yang kalian rasakan,aku hanya melihat dan memandang dari sudut pandangku sekarang.

Aku hanya melihat mereka sama sepertiku “manusia” 

Mencoba berpikir "realistis".
Tapi apakah bisa aku melihat tanpa menilai?









Mimpi


  
“Mimpi itu...”

Seringkali mimpi itu datang dan memasuki  hingga relung hatiku.

Semakin lama,semakin ingin rasanya mewujudkannya.

“Rasanya semakin hari,semakin membuatku “gila” dengan semua mimpi itu.

Kalau bisa setiap hari,mungkin aku ingin melakukannya setiap hari bahkan setiap saat.

“Sepertinya darah yang mengalir ini begitu haus dengan “petualangan itu” dan nyawa dari kehidupanku adalah sebuah “perjalanan”.

Seandainya,aku tidak sendiri melakukannya,betapa menyenangkannya.
Seandainya,setiap aku melakukannya,ada dirimu disampingku.

Mungkin semua “petualangan”itu semakin berarti dan semakin  mudah untuk dilakukan.

“Setiap kali melihat “keindahan” itu semakin sukma ini melayang ingin menghampirinya dan ia sepertinya tak pernah lelah memanggilku,dan membuatku mengalami “adiktif”.

Ya,sebuah kecanduan tingkat tinggi yang membuatku “selalu ingin dan ingin”.

Seandainya aku bisa melakukannya setiap hari,mungkin ada sebuah rasa yang tak akan pernah bisa aku ceritakan yang membuatku melambung tinggi,dan merasakan “kenikmatan” yang tiada taranya.

Dan memang inilah salah satu “mimpiku” yang membuatku “gila”,bergaul dengan alam dan menyentuhnya,membiarkan ia memberikan kelembutannya kepadaku dan membuat aku akhirnya “mencintainya”.

“Membuat aku mengalami sebuah kontemplasi...”

Sebuah kontemplasi yang akan membuatku masuk lebih dalam dan dalam hingga mungkin membuatku tenggelam bersamanya.

Setiap perjalanan itu membuatku tak pernah bisa berkata dan selalu ada sesuatu yang membuatku semakin merindukannya.Entahlah...

Perasaan itu seperti tidak pernah habis untuk dipenuhi.

Layaknya orang yang mengalami sebuah “kecanduan”.

Perjalanan itu selalu membuat cerita baru yang tak akan pernah sama ,satu dengan yang lainnya.

“Ia selalu membuat dan mempunyai nuansa berbeda,selalu ada sesuatu yang membuatku mengingatnya dan meninggalkan kesan tersendiri dalam diriku.”

Kalau harus aku ceritakan,mungkin sisa waktu yang  kumiliki tak akan pernah cukup untuk menuliskannya.

Sepertinya akan butuh bertumpuk tumpuk “diary” yang akan menampung semua cerita itu.

Hmmm....

“Begitu berkesannya sebuah pengalaman dari sebuah petualangan hidup.”

“Petualangan hidup seorang manusia,entah apa yang dicari atau diketahui.”

Semua rasa itu hanya seperti ingin dipenuhi saja.

“Sesuatu” itu memanggil terus dan terus sampai akhirnya kau “menyerah” padanya dan mengikuti apa yang kau inginkan.

Hanya butuh sebuah “keberanian” untuk memulainya!

Serta “niat” yang luar biasa kuat.

Beruntunglah orang-orang yang “keras” karena mereka biasanya mempunyai  sebuah karakter yang “unik”,tinggal menyeimbangkan dengan kearifan hidup untuk bisa mewujudkan “mimpi”itu.

“Mimpi” membutuhkan usaha dan keinginan yang kuat untuk bisa mewujudkannya,mungkin lebih dari sekedar itu.

Selalu semangat untuk mewujudkan semua “mimpi” itu,dengan sebuah “usaha nyata”.