“Lonte....”
Sering kita mendengar kata kata tersebut,mungkin bahkan dengan kata yang lainnya yang kurang lebih artinya sama.
Sebenarnya kata itu juga berawal dari apa dan bagaimana akhirnya kata itu begitu sangat biasa diucapkan untuk memberi “tanda” pada aktivitas orang,aku sendiri tidak tahu.
Tapi kalau dipikir kata kata itu gak berbeda jauh dengan sebuah merk “permen karet” ,kalau huruf tengahnya diganti “ T “ bukan “ N”.
“Permen karet” itu memberi “kenikmatan” tersendiri bagi penikmatnya.
Apakah “Lonte” juga??
Silahkan anda jawab sendiri.
Aku memang belum pernah mengenal mereka atau bahkan mengobrol dengan mereka.Bukan karena aku membuat jarak atau membatasi untuk tidak bergaul dengan mereka,tapi memang aku belum pernah bertemu dengan “mereka”.
Sebenarnya,aku ingin sekali mengenal “mereka” atau mungkin hanya berbicara atau sekedar basa basi atau apalah dengan “mereka”.
Aku hanya pernah melewati beberapa tempat yang memang banyak dihuni oleh mereka,menemani temanku pastinya.Cuma untuk mengobrol lebih banyak dengan “mereka” takut mereka beranggapan aku mau tahu banyak tentang “kalian’.Padahal sih iya...
Terkadang,aku berpikir seandainya itu aku,apa yang membuat aku seperti itu yah??
Pertanyaan yang masih sulit untuk ku jawab hingga saat ini.
Sebenarnya apa yang ada dipikiran “mereka”
Apakah memang tak ada “pilihan” buat “mereka”?
Rasanya kurang bijaksana kalau aku membuat sebuah “opini” atas “mereka” yang sebenarnya aku sendiri tidak mengerti.
Mungkin lebih baik kalau aku belajar menjadi seperti “mereka”.
Maksudnya bagaimana sih?
Mari kita mencoba berpikir dengan “pemikiran mereka” bukan “kita” pada umumnya.
Pernahkah kita bertanya atau mengetahui ketika seseorang membuat sebuah keputusan?
Mungkin tidak selalu kita tahu,tapi bila itu kita pastinya sebuah “keputusan” selalu ada sebab dan sumber permasalahan atau apapun itulah yang selalu mengawali dari sebuah keputusan.
Kalaupun “mereka” memilih dan memutuskan itu,biarkan itu menjadi keputusan ‘mereka”, toh setiap orang berhak atas kehidupan mereka masing masing.Dan pada akhirnya pertanggungjawaban atas sebuah ‘keputusan” akan ada pada masing masing individu.
“Bukankah masalah benar atau salah bukan hak kita untuk memberi “penilaian” bukan?”
“Mereka” mungkin juga sama seperti kita hanya ingin terus tetap “eksis” berada dalam kehidupan ini.Bersama merasakan apa itu “hidup” dengan cara mereka masing masing.Terus berada dalam lingkaran kehidupan dan bisa “menikmati” kehidupan,sama seperti kita walau setiap manusia mempunyai ceritanya masing masing.
Kalau harus dipikirkan mungkin akan menjadi sebuah “hal” yang rumit.Biarkan ia seperti apa adanya sekarang dengan “kondisinya” yang sekarang.
Tugasku hanyalah “menghargai” atas keputusan yang telah “mereka “ buat, apapun itu.
“Mereka” tetaplah manusia sama seperti “kita” walau berbagai macam anggapan bahkan penilaian telah mengiringi kehidupan mereka.
“Mereka” juga mungkin ingin dianggap ada sebagai diri mereka sendiri,entahlah...
“Mereka” memang seperti kupu kupu yang bisa terbang kemanapun mereka mau.Bahkan hinggap kemanapun, walau mereka suka atau tidak.Sebenarnya aku miris melihat kehidupan mereka.Bagaimana tidak, jika ternyata mereka melakukan semua itu hanya demi keterpaksaan saja.Bagaimana mungkin melakukan sesuatu tidak menggunakan hati?
Tapi nyatanya mereka bisa.
Tapi benarkah?...
Seharusnya orang orang yang “mencari” merekalah yang dipertanyakan, pernahkah kalian menggunakan perasaan?
Apa yang kalian “lihat” ketika bertemu dan bersama mereka?
Tidakkah kalian hanya menggangap “mereka” hanya pemuas nafsu belaka?
Apakah kalian pernah mengangap mereka sebagai manusia bahkan seorang wanita atau pria?
Apakah ketika kalian bersama mereka perasaan kalian ikut “muncul”?
Aku belum pernah merasakan apa yang kalian rasakan,aku hanya melihat dan memandang dari sudut pandangku sekarang.
Aku hanya melihat mereka sama sepertiku “manusia”
Mencoba berpikir "realistis".
Tapi apakah bisa aku melihat tanpa menilai?
No comments:
Post a Comment