Selasa malam aku dan sahabatku pergi makan diluar. Kami memang sudah agak lama tidak jalan bareng, hampir 1,5 bulan kami tidak hang out bersama. Aktifitas kami yang memang terkadang membuat kami jarang mengobrol bersama. Kami berteman sudah hampir sekitar 6 tahun lebih, sampai akhirnya kami bisa sedikit mengenal karakter kami masing masing. Satu hal yang sama dari kami berdua adalah kami sama sama keras kepala, tapi karakter kami berbeda.
Persahabatan kami memang aneh, tapi kami berusaha untuk tulus mewarnainya. Walau tetap saja pepatah tak ada gading yang tak retak pastilah berlaku. Mungkin aku tak akan bercerita tentang persahabatan kami karena itu sudah sangat jelas. Yang ingin aku ceritakan adalah tentang diriku sendiri. Ini berawal dari ungkapan sahabatku sendiri, saat itu ia mengatakan sesuatu tentang diriku yang aku ingat sekali. Kami memang terbiasa saling mengkritik dan tak pernah mempermasalahkannya kok. Ia berkata,” mba itu... cuek banget dan jahat dengan diri sendiri terlebih dengan urusan cinta.” Aku agak sedikit terkejut mendengarnya, tapi aku menerima kritikannya. Saat itu aku tersadar dengan diriku sendiri, sejahat itukah aku memperlakukan diriku sendiri?
Ia hanya bilang,” buka hati mba....”
Aku sebenarnya tidak paham dengan kata buka hati. Entah mengapa kata tersebut tak bisa aku mengerti, karena menurutku aku sudah membuka hati. Aku mencoba merenungkan kata tersebut hingga saat aku menuliskannya, aku masih tidak paham.
Apakah ini karena pengalaman masa laluku?
Aku merasa sudah berdamai dengan bagian masa laluku, seingatku. Tapi terkadang yang melihat kenyataannya adalah orang lain bukan diri kita sendiri!!
Pertanyaanku adalah apakah benar aku sudah berdamai dengan masa laluku? Aku sudah memaafkan semua hal yang pernah aku lalui, buktinya aku tak merasa punya dendam dengan semua masa laluku. Aku rasa semua perasaan yang pernah aku alami dahulu adalah pembelajaran yang luar biasa yang akhirnya bisa membuat aku tegar dan kuat menjalani kenyataan hidup. Kita harus merasakan sakit agar bisa merasakan bagaimana rasanya tersakiti, hingga kita akan berpikir ulang bila akan menyakiti orang. Kita harus merasakan mencintai agar bisa dicintai, dan dicintai agar bisa mencintai.
Kita harus pernah tersungkur jatuh untuk bisa bangkit berdiri. Dan merasakan seperti apa rasanya sedih agar bisa merasakan seperti apa kebahagiaan itu.
Aku tak pernah menyalahkan apa yang pernah aku alami, karena semua itu memang harus aku jalani dan rasakan. Tanpa aku pernah merasakan rasa itu aku tak akan pernah bisa merasakan rasa yang lainnya. Tapi mungkin maksud sahabatku adalah setelah apa yang aku alami aku membuat benteng perlindungan untuk diriku sendiri yang terlalu tinggi dan kuat. Sehingga ketika ada orang mau mencoba menembus benteng itu mengalami kesulitan, bahkan mungkin membutuhkan kesabaran.
Tanpa sadar aku membangun benteng tersebut untuk melindungi perasaanku agar tak mengalami hal serupa. Dan apakah itu salah?
Rasanya manusiawi bukan? Mungkin bila tidak membuat diri kita menderita, masih wajar. Rasanya tak ada manusia di muka bumi ini yang ingin merasakan kesedihan yang sama untuk sekian kali. Tapi terkadang kenyataannya kita sering terjatuh dengan hal yang sama berkali kali, karena itu memang hakekat manusia. Manusia mempunyai kecenderungan untuk melakukan hal yang pernah dilakukannya. Mungkin karena kita mempunyai memori ingatan yang terekam dengan baik didalam hard disk otak kitalah yang membuat hal tersebut terjadi. Ini hanya analisaku saja, belum pasti benar.
Ini yang menjadi salah satu permenungan untuk diriku sendiri...
Bagaimana membuka hati dan meruntuhkan benteng yang terlanjur sudah aku buat?
Semoga ada orang yang mau dengan sabar meruntuhkan benteng itu. Aku yakin benteng itu akan runtuh.Dan tugasku membuka hati...Sepertinya aku sudah melakukannya bukan??
Hmmm.....
No comments:
Post a Comment