Saturday, 16 June 2012

Rinjani Sang Pemikat Hati...

                            

Rinjani...
Akhirnya sampai juga aku menjejakkan kakiku di gunung yang menawarkan pesona yang tak terbayangkan. Kalau melihat semua prosesnya begitu banyak hal dan cerita yang menyertai pengalamanku kali ini. Diawali dengan berbagai hal yang tidak pasti. Jadwal kerja yang awalnya sangat tidak bisa diandalkan dan sempat membuat aku “hopeless” kalau aku bisa berangkat, padahal tiket keberangkatan sudah aku dapatkan jauh jauh hari. Mas Agus yang awalnya memberitahu tentang “trip” ini malah tidak jadi ikut, dan aku akhirnya berangkat seorang diri tanpa teman,sedihnya he he he
Tapi semuanya sudah aku pasrahkan dari awal, kalau memang Rinjani memanggilku segala sesuatu pasti akan tetap berjalan. Niat sudah aku bulatkan apapun yang terjadi aku harus sampai di Rinjani. Izin dari ibuku sudah aku dapatkan  dan ayahku pun sudah aku beritahukan ketika semuanya sudah pasti, dan aku sedikit memaksa. Izin dari keduanya mutlak aku harus dapatkan karena buatku perjalanan kali ini pasti tidak bisa diprediksi apa yang akan terjadi, jadi aku harus membuat kedua orangtuaku siap dengan apa yang terjadi. Lebay dikit ahh
Dan yang membuatku terhibur ternyata teman temanku sangat banyak membantu mulai ditempat kerja, teman teman belajarku yang mengijinkan aku absen beberapa hari dan membuatkan tugas tugasku dan merekayasa beberapa hal ( makasih banyak mbak imas,ijul,teh mae, all of u )
Untuk rinjani aku memang sudah mempersiapkan fisik sejak awal tahun walau semuanya baru sangat intensif H – 30 . Disana aku “sendirian” dan aku harus mengandalkan diriku sendiri, jadi aku harus benar benar tidak terlalu merepotkan orang lain, dan kesendirianku malah membuatku berpikir untuk “mandiri” dan biasanya juga aku seperti itu kan ha ha ha
 Perjalanan ke Lombok dimulai...
Jam 09 pagi aku sudah dibandara, aku memilih jalur ini karena libur kerjaku benar benar mepet jadi aku tidak berharap mampir kemana mana selain Rinjani dan sekitarnya. Tiba di Lombok aku masih sendiri, karena aku terpisah dan berangkat sendiri, teman teman Khyber Pass berada ditempat lain aku hanya berhubungan dengan bang ipunk untuk memastikan keberadaanku. Sebenarnya teman teman di Lombok sudah ada yang menanyakan keberadaanku tapi semakin banyak yang bertanya aku malah semakin bingung.

Jadi aku memilih rencana awal yang bertemu dengan teman teman di Mataram, daripada aku harus langsung Ke Selong. Sekalian perkenalan awal dengan teman teman yang nantinya akan menjadi sahabat perjalananku. Ternyata aku tiba lebih dulu diterminal Mandalika, aku yang tak mengerti tempat sempat bingung. Sopir taxi yang mengantar aku sebenarnya sangat ramah dan beliau menurunkan aku ditempat yang aman sebenarnya. Tapi tak mungkin beliau menunggu aku bukan?
Jadi aku berusaha mencari tempat, awalnya berusaha mencari tempat makan, tapi aku berpikir nanti teman temanku sulit melihat aku. Jadi aku memilih berdiri didekat toko karena aku sebenarnya berada diterminal tapi didaerah pasarnya. Aku sempat sedikit ketakutan juga ternyata banyak orang yang memandangku, mungkin aneh melihatku, seorang wanita berdiri membawa keril tanpa teman teman seperti biasanya dan tak jelas arah tujuannya. Tapi sepertinya mereka tahu pasti Rinjani mimpiku. Akhirnya daripada aku ketakutan dan terlihat aneh, aku lebih baik menelpon jadi mereka beranggapan kalau aku memang sudah janjian he he he ( makasih om agus cerita jandanya )
Akhirnya bang ipunk dan kawan kawan tiba juga di Mandalika, walau ternyata kita berbeda tempat dan posisi. Aku sempat bertanya,” posisi kalian dimana bang?”
Bang ipunk menjawab,” nanti kalau lihat mobil putih yang ada tas keril diatas itu rombongan kita.”
Aku pun menjawab,” aku sudah didepan terminal ya, bang.”
“Yang ada tas keril diatasnya,” sahut bang ipunk dalam telepon.
Aku semakin bingung, didepanku memang ada bus putih tapi tanpa tas keril diatasnya. Aku mulai yakin kalau ada sesuatu yang salah. Karena lama menunggu aku memang memutuskan masuk kewarung makan yang ada didekatku. Dan didalam warung makan tersebut aku sempat mengobrol dengan seorang bapak dan ibu yang menunggu anaknya pulang dari pulau jawa. Dan ada seorang bapak yang lain yang mengatakan padaku kalau beliau tadi dipelabuhan Lembar sempat bertemu dengan teman temanku yang baru turun dari kapal laut.
Tiba tiba saat aku selesai makan sebuah pesan singkat masuk dan menanyakan posisiku. Aku langsung menghubungi bang ipunk dan memberikan petunjuk posisiku, tapi sepertinya sinyal kita berbeda, karena tanda tanda yang masing masing kami berikan tak terlihat he he he
Semakin jelaslah kalau kami menunggu diterminal dalam posisi yang berbeda, akhirnya aku dijemput pakai motor sampai didepan mobil elf warna putih yang menunggu.
Kami berkenalan dalam mobil, ada 4 orang wanita termasuk seorang ibu yang gaul namanya ibu nang, usianya kalau dilihat sekilas sekitar 50 tahunan tapi ternyata sudah 65 tahun dan masih langsing. Wanita yang lainnya Yuni, Aniez dan aku sendiri pastinya. Selebihnya pria ada bang Fahmi, Dodi, bang Ade, bang Arif, Yuri, Bang Umar alias aji ya?, Olis yang imut usianya baru 17 tahun dan sedang menunggu hasil kelulusan yah, bang Onay, pak Gani, dan bang ipunk yang punya gawe nih.
Ternyata perjalanan dari Mandalika menuju Selong lumayan jauh, sekitar hampir kurang lebih 2 jam. Tiba di base camp Gema Alam didaerah Pancor, sekitar pukul 7 malam, kami hanya transit sebentar untuk meninggalkan beberapa barang yang tak harus kami bawa dan menitipkannya disana. Beberapa orang sempat mandi dan aku mengobrol dengan beberapa orang yang ada disana.
Sekitar pukul 9 malam kami melanjutkan perjalanan menuju pintu masuk Sembalun lebih tepatnya desa Sanjang karena hari sudah larut malam hampir pukul 12 malam waktu setempat atau WIB,aku masih terkadang bingung dengan orientasi waktu yang berbeda satu jam. Kami berhenti sebentar dan kemudian menuju tempat istirahat sementara sebelum kami berangkat esok harinya.

Pagi hari kami mulai mempersiapkan semuanya, tas keril mulai kami packing ulang dan aku yang belum mandi dari kemarin, disini merasakan segarnya air desa Sanjang, Lombok Timur.
 
Jam menunjukkan pukul 06.45 WIB ketika perjalanan menuju Sembalun kami mulai. Jadi satu jam lebih awal waktu setempat. Kami mulai menapaki jalur setapak dan persawahan, Sembalun terkenal sebagai penghasil bawang putih tapi yang aku lihat bawang merah yang bagus terlebih ditempat kami menginap,rasanya ingin aku jadikan oleh oleh. Yang aku baca dibuku seperti itu.

Awal perjalanan tampak gunung Rinjani menjulang disebelah kiri jalan setapak yang kami lewati,keanggunannya terlihat jelas pagi itu.
Kami masih bisa bersendau gurau dan berfoto foto sebentar disini. Perjalanan kami lanjutkan sampai memasuki daerah savana hingga sampai di pos I sekitar satu jam perjalanan kurang lebihnya.
 
Masih memasuki daerah savana kami melanjutkan perjalanan menuju pos II yang kami tempuh kurang lebih satu setengah jam, pemandangan yang ada sungguh sangat memanjakan mataku. Walaupun terik matahari mulai menyengat tapi udara sejuk yang terkadang menyapu wajah kami membuat semuanya terasa menyenangkan. Pemandangan awal benar benar sangat manis terlebih Rinjani tampak anggun berdiri didepan kami dengan sangat jelas. Cuaca sangat cerah.
Sepanjang jalur yang kami lewati hanyalah padang savana yang sangat luas dan kami melewati 2 jembatan seingatku. Aku berjalan bersama Yuni, seorang wanita yang tinggal di Depok dan dari ceritanya Rinjani gunung pertama yang ia daki dan kalau betul fisiknya lumayan juga.
 
Di pos II kami beristirahat didekat jembatan sambil makan bekal nasi bungkus, banyak orang yang beristirahat bersama kami. Ada sepasang bule berasal dari Austria dan seorang guide, ada 4 orang bule yang aku lupa asal mereka sepertinya juga daerah Eropa dan ada yang lainnya. Kami sempat berfoto bersama disini.
Sesekali berhenti untuk berfoto dan menikmati pemandangan, dan sangat jelas terlihat kalau Rinjani memang Gunung wisata. Mengapa aku berkata seperti itu? Karena kami banyak sekali bertemu dengan rombongan bule yang hendak naik atau yang baru turun, ditambah banyak sekali porter atau guide yang menemani mereka. Sempat kami bertanya dengan beberapa bule yang kami temui terlebih asal mereka dan terbukti kalau Rinjani begitu terkenal karena mereka ada yang berasal dari daerah Eropa dan Asia.
Tak terasa kami tiba di pos III sekitar pukul 12 siang waktu setempat dan beristirahat sejenak. Disini kami bertemu dengan seekor monyet biasa dan sepertinya ia sangat familiar dengan manusia, karena monyet itu tidak tampak takut melihat kami, malah mendekat sambil mencari makanan di tempat sampah. Cuaca disini mulai tak bisa diprediksi karena kadang berkabut dan tiba tiba bisa muncul sinar matahari.
Perjalanan kami lanjutkan dan aku sempat bertanya jam berapa dan bang Ade menjawab ,”satu kurang seperempat.” Entah waktu setempat atau WIB, aku anggap saja WIB.
                                               

Selanjutnya adalah menuju plawangan Sembalun, perjalanan mulai mendaki trek yang tadi kami lewati masih termasuk landai. Setelah pos III kami melewati beberapa bukit dan nyaris sangat sedikit bonus. Diawal perjalanan aku berpikir kalau bukit yang kami naiki memiliki kemiringan hampir 70 derajat, dan aku sempat mendengar ada yang bilang jangan nengok ke belakang. Apa maksudnya yah?
Sepertinya ini yang namanya bukit penyesalan yang pernah aku baca tentang Rinjani. Ada 2 bukit yang ada di Rinjani yang satu bukit penderitaan dan satunya bukit penyesalan. Satu bukit sudah tidak dilewati lagi dari buku yang aku baca, karena jembatan yang menuju kesana rusak.
Ada sebuah shelter diantara bukit ini walau tanpa atap tapi lumayan untuk sekedar menarik nafas dan meminum seteguk air. Karena trek disini selanjutnya lumayan menguras tenaga, ditambah cuaca mulai berkabut dan dingin.
Menanjak dan terus menanjak, sempat aku menghitung jumlah bukit yang aku lewati tapi selanjutnya aku lelah menghitung setelah 4 bukit dan akhirnya aku tak tahu berapa jumlah bukit yang kami naiki. Tapi tadi aku masih sempat mendengar Yuri Berkata, " pokoknya nanti naik bukit yang jumlahnya ada tujuh."
 
Disinipun kami masih sering berpapasan dengan orang yang telah naik ke Rinjani dan yang aku ingat adalah bapak bapak yang menggunakan rain coat kuning. Karena jumlah mereka lumayan dan warna rain coat yang menyala. Kami sempat bertanya dan mengobrol,dan bang boim yang menemani kami sempat mencandai mereka yang tak sadar kalau sudah dikerjain (dasar bang Boim iseng...)
Perjalanan paling panjang adalah dibukit ini, karena hingga maghrib berlalu kami masih harus menaiki bukit ini. Dan rasanya aku paham kenapa bukit ini disebut bukit penyesalan. Sepertinya memang tak ada habis habisnya kami mendaki bukit dengan kemiringan yang hampir sama dari awal hingga akhir kurang lebih 70 derajatlah,malah di beberapa tempat hampir mencapai 80 derajat.
Tapi bukit ini memang berkesan buat yang mendaki. Meninggalkan cerita terlebih untuk aku pribadi, sekali memulai sesuatu semuanya harus dijalani hingga akhir. Dan itu butuh kesabaran dan motivasi lebih.
Hari sudah malam ketika kami sampai diplawangan Sembalun, disambut oleh tiupan angin yang kencang dan taburan bintang bintang di langit. Sungguh pemandangan yang sedikit aneh tapi luar biasa indah. Udara dingin mulai menusuk hingga aku berusaha mencari kehangatan, rasanya ingin segera rebahan dalam tenda. Dan Yuni menemukan tenda sementara sambil menunggu tenda kami dibuat.
Rinjani anggun sang gunung wisata...
 
Membuat kami ingin kembali kesana,terima kasih untuk teman teman dari Lombok, bang Yon yang sudah banyak bercerita saat menuruni tebing menuju Segara Anakan. Terlebih cerita tentang sumbawa dan Tamboranya tak lupa pulau Satondanya, membuat aku ingin mengunjunginya suatu hari nanti jika sang waktu memberikan kesempatan itu. Bang Boim yang menemaniku saat mendaki bukit Penyesalan bersama Yuni, yang banyak membuat cerita lucu dan sering iseng terlebih pada bapak bapak dari New Mount. Bang Dani yang ternyata Suju dari Lombok katanya, orang yang sangat lincah dan tak ada matinya. Bang Estu alias ecot yang lumayan pendiam tapi pintar masak seperti bang Yon. Kalian semua sahabat perjalanan yang menyenangkan, terima kasih sudah banyak bercerita tentang Si manis Rinjani. Semoga suatu saat kita bisa bertemu kembali...
 

No comments:

Post a Comment