Saturday, 5 November 2011

Pilihan...



Ternyata membuat sebuah keputusan bukan suatu hal yang mudah,apalagi ketika hal itu nantinya memberi pengaruh pada kehidupan kita ke depannya.

Padahal,ada beberapa orang yang kelihatannya gampang gampang aja ketika memutuskan hal ini.

Kenapa buatku sulit?

“Menikah...”

Sepertinya kata kata itu hanya terdiri dari beberapa untaian huruf dan satu kata,tetapi kenapa sulit buatku untukku melakukannya.Bukankah banyak orang juga melakukan hal itu,dan tampaknya biasa saja.

Apakah aku termasuk orang yang aneh?

“Pernikahan...”

Membayangkannya saja buatku terlalu rumit,jadi seringkali aku malas untuk sekedar membayangkannya.Entahlah,apakah aku memang tidak punya “konsep” tentang sebuah pernikahan? Rasanya aku punya “impian”.

Tapi kenapa aku malas buat merealisasikannya.

Traumakah?

Rasanya juga tidak,toh kalau manusia pernah gagal membina sebuah hubungan sepertinya hal yang lumrah dan biasa bukan.Kalau kita menjadi berhati hati,rasanya lebih bijak.Tak ada manusia yang tak pernah “gagal” dan kegagalan itulah yang membuat kita semakin banyak belajar tentang sesuatu,bukan dari sebuah keberhasilan kita mendapatkan sesuatu tapi dari sebuah “kegagalan”.Semakin banyak kita melakukan “kegagalan” akan banyak hal pula yang kita terima sebagai pembelajaran hidup.Tapi bukan berarti kita harus gagal terus,kalau seperti itu pastinya sebuah “kebodohan” yang bekerja he he he he

Takutkah aku?

Kalau untuk hal yang ini,mungkin saja.Tapi kenapa yah...Benarkah aku takut?

Apakah mungkin aku takut gagal?berarti aku tak mau mencoba kalau memang iya.Wah,kalau seperti ini ceritanya kapan aku mau melangkah.

Sepertinya aku memang takut mencoba, karena  ketika aku mencoba melangkahkan kakiku untuk pertama kalinya,aku ingin ada orang  disampingku yang bersedia memapahku ketika aku terjatuh dan menopangku ketika aku terperosok dan menerimaku apa adanya “aku”.Tapi masalahnya adakah “orang” itu? Dan itukah “realita”...

Aku cukup sadar dengan “sang waktu”, ia tak pernah berhenti untuk menunggu dan aku juga tak akan pernah sanggup untuk mengejarnya.

Seringkali dalam kesendirianku,aku merenung dan tak terasa air matapun menetes tanpa diundang,bukan karena aku sedih tapi berpikir kalau aku sudah menyia nyiakan hidupku dengan sesuatu hal yang tak jelas,semoga saja tidak...

Dan akupun terkadang bertanya pada diriku sendiri,apakah yang kamu mau?

Apa yang menjadi pilihan hidupmu?

Pernah seorang temanku bertanya dan berkata,”sebenarnya kamu mau menikah tidak?”

Dan aku menjawab,”aku belum membuat pilihan.”

Diapun kembali bertanya,”kenapa belum,emang kamu gak mau menikah?”

Aku hanya diam...

Aku tak menjawab untuk hal itu,aku hanya berpikir ketika aku memutuskan sesuatu, aku sudah paham betul dengan semua resiko yang akan terjadi di kemudian hari,sampai hal yang terburukpun aku harus sudah mempersiapkan.Walaupun kalau kenyataannya terjadi belum tentu aku siap.Memang seperti itulah kenyataan.Terkadang tak sesuai dengan apa yang kita bayangkan dan harapkan.

Aku hanya mau ketika aku sudah membuat keputusan tak ada lagi sebuah kata “penyesalan” yang akan mengelayutiku di kemudian hari,walau prakteknya tak akan semudah itu.

Entahlah semakin hari semakin rumit aku berpikir untuk hal yang ini.

Aku semakin paham kenapa orang yang semakin bertambah umur semakin sulit memutuskan sesuatu dan akhirnya mereka memilih untuk “diam”.

Sepertinya lebih mudah ketika usiaku mundur beberapa tahun yang lalu,saat itu aku penuh dengan impian dan rasanya sangat mudah aku membuat “keputusan”.Walaupun akhirnya juga tak ada yang terealisasikan ha ha ha ha

Tapi kadang kadang aku berpikir,apakah hidup hanya memberi satu pilihan?

Contohnya gini nih,kalau orang lahir terus hidup kemudian besar terus bertambah dewasa dan matang harus pasti “menikah” yah?terus ketika orang “menikah” pertanyaan yang muncul,”anaknya dah berapa?”.Terus kalau udah punya anak dan anaknya tumbuh dewasa juga,pertanyaan selanjutnya,”udah punya cucu berapa?”dan selanjutnya dan selanjutnya.

Sekarang aku yang bertanya,kalau semua hal itu tidak terjadi seperti itu bagaimana?

Misalnya,ketika dewasa anaknya memutuskan tidak menikah atau setelah menikah tidak dikarunia anak,apa yang akan terjadi dengan kehidupan orang tersebut?

Apakah “mereka” dianggap manusia yang tidak berhasil atau malah “aneh”?

Apakah mata rantai kehidupannya berhenti setelah ia tidak lagi mengalami hal itu semua?Seandainya betul,sungguh “tragis” hidup mereka,terus pertanyaan yang muncul kemudian,”sebenarnya manusia diciptakan untuk apa sih?”

Apakah betul hanya untuk sekedar bereproduksi dan kalau tidak berhasil apakah mereka dianggap manusia “gagal”?

Hmmm...

Kalau seandainya itu semua memang betul,rasanya sedih sekali,bahkan miris merasakannya.Bukankah “nilai” seorang manusia lebih dari itu semua?

Bukankah katanya manusia diciptakan lebih tinggi derajatnya dari mahluk lainnya di muka bumi ini? Terus apa bedanya “manusia” kalau seperti itu ceritanya,toh merekapun melakukan hal ituwalau ada perbedaannya,tapi intinya kan sama.Maaf yah kalau ada yang tersinggung....

Aku mencari “konsep” yang berbeda dari sebuah penikahan,kalau aku harus menikah aku tidak mau hanya sekedar seksualitas harus ada yang lebih dari itu.Sesuatu yang “agung” yang aku lakukan dari sebuah “pernikahan”.Karena sebuah “pernikahan”terlalu agung kalau hanya diartikan seperti itu.Toh kalau hanya untuk hal itu manusia bisa kok melakukannya tanpa “pernikahan”, ini menurutku lho.

“Menikah” itu masalah “kesetiaan” salah satunya.Bagaimana aku bisa “setia” dengan satu orang itu seumur hidupku.Itulah yang bikin “rumit”.

Kebayang banget deh dengan orang yang sama dengan segala hal yang pasti berbeda,seumur hidup lagi.

Wah.....

Makanya rasanya aneh banget ketika aku harus seumur hidupku bersamanya kalau tidak mempunyai cara pandang yang sama, walau terkadang sudut pandang bisa berbeda.Maksudnya gimana nih?

Gini deh gampangnya,misalnya kita beranggapan atau melihat bumi itu bulat, walau dilihat dari sudut manapun, yah bumi itu tetap bulat nah seperti itulah yang namanya satu visi.Jadi lebih mudah mengartikannya bukan?

Dan buat aku pasangan adalah “patner”, ketika kami bisa mengartikan seperti itu sepertinya asik aja deh.

Apalagi yang namanya “pernikahan” seumur hidup kan,pasti ada masa bosan atau jenuhnya kan? Orang kadang aku yang masih “single” saja sering banget bosannya dengan rutinitas hidup,apalagi nanti yah,bener gak sih?

Woii...yang udah memutuskan “married” buat koment yah nanti biar aku tahu kenyataannya,ini kan baru versiku sekarang.

Waduh...ceritanya kok jadi tambah panjang nih dan sepertinya harus aku stop,nanti malah bikin kerancuan hidup deh.Intinya sih aku memang belum memutuskan dan membuat pilihan,tapi bukan berati aku anti menikah atau tidak menikah.Toh keputusan belum aku ambil,dan kalau nanti aku sudah membuatnya dan kalau ternyata aku memilih menikah semoga memang dia yang bisa menjadi “patner” hidupku yang memiliki cara pandang yang sama tentang sebuah “pernikahan”.Dan kalau aku memilih yang sebaliknya semoga sudah aku pikir matang sekali dan semoga hidupku juga lebih berarti dan sama dengan pernikahan ha ha ha ha

Tenang aja ,semua masih sangat mungkin....tak ada yang tidak mungkin kan dalam hidup ini?

Aku masih suka anak anak kecil yang lucu,so bersiaplah menjadi lelaki sejati hai...para pejantan he he he he

Kayaknya ngaco deh ceritaku kali ini.......


4 comments:

  1. Aku sih pengen banget nikah, tapi belom ada yang mau alias ga laku2 hahahaaaa....

    ohyah.. salam kenal ^___^

    ReplyDelete
  2. ha...xxx salam kenal juga,dah kebelet yah????aku masih mau menikmati hidupku dan kalau nanti menikah juga aku mau tetap bisa menikmati hidupku,bisa gak yah??????

    ReplyDelete
  3. Menikah...Uϑªh hampir lupa dengan kata ini..hehe

    ReplyDelete
  4. aduh...mas iman inikebanyakan gaul ma orang utan sih ha...xx jadi lupa ya...peace ahhh

    ReplyDelete