GEROBAK SETIA
Siang itu,aku melihatmu
mendorong gerobak reotmu penuh dengan isi daganganmu.Sepertinya gerobak itu
telah lama bersamamu dan enggan untuk di gantikan.Ya,seperti biasa kau mendorongnya
berjalan mulai dari rumahmu hingga tempatmu mangkal.Tak ada jenuh yang kulihat
dari raut wajahmu,walau tampak sekali kau lelah.Apakah kau pernah berpikir
untuk berhenti,atau tidak melakukannya?
“Aku rasa kau pasti pernah
melakukannya”.
Mencoba berhenti dari
rutinitasmu,menikmati istirahatmu,bahkan menikmati apa yang kau miliki.
Tapi apa daya,realita
selalu membuatmu kalah.Membuatmu berpikir untuk kembali melakukannya,membuatmu
merasakan kembali rasa lelah,penat dan jenuh.
Merasakan rasa panas yang
menyengat ketika kau berjalan di siang hari, dimana sang mentari memberikan
kekuatan sinarnya hingga membakar kulit tipismu.Dan ketika air hujan membasahi
seluruh tubuhmu beserta dinginnya udara yang menyertainya,tak pernah sedikitpun
engkau memprotesnya!
Kau membiarkan semuanya
menyertai semua aktivitasmu,sedikitpun tanpa pernah kau mengeluh.
Tapi benarkah?Kau tak
pernah mengeluh atau berteriak bahkan memprotes kepada sang kehidupan.
Apakah diammu benar-benar
“diam?”.
Tak adakah rasa untuk
merasakan sesuatu yang lain?
Ketika kaki-kaki tuamu
terus berjalan dan telingamu mendengar rintihan suara “lapar” setiap anak yang
kau miliki,apakah kau akan terus mendengarnya?
Dan ketika tangan-tangan
keriputmu tak sanggup lagi mendorongnya,akankah kau terus mendorongnya.
Sebenarnya apa yang ada
dalam pikiranmu?
Sebenarnya apa yang ingin
kau katakan dari bibir keringmu,seolah ingin mengatakan apa yang terkumpul
didalamnya,bahkan mungkin memuntahkannya.
Rasanya ingin sekali
mengetahui apa yang ada dalam pikiranmu,mengeruk bahkan mengebor hingga kedalam
batang otakmu,hingga aku bisa mengetahuinya.
“Apa yang ingin kau
ketahui sebenarnya?”mungkin itu pemikiranmu
Benarkah kau ingin
mengetahuinya?
Sanggupkah engkau
mendengarnya,ketika aku menceritakan semuanya hingga rahasia terdalam yang ada
dalam diriku.Apakah engkau mau menampung semua isi pemikiranku ketika aku
mencoba membaginya dengan dirimu!
Apakah ketika
tangan-tangan tuaku berhenti mendorong,engkau bersedia mendorongnya untukku.
Apakah dan apakah?
Ketika semua bertanya dan
aku menjawabnya,sanggupkah engkau menerimanya.
Aku hanya mendorong
gerobak reotku berusaha untuk memenuhi kenyataan hidup yang ingin terus
hidup,bahkan demi anak cucuku,dan mugkin entahlah demi siapa....
Dan apakah ketika aku meprotes
semuanya ini pada sang kehidupan, semuanya akan berubah?
“Bukankah dengan
menikmatinya aku akan merasakannya!”
Bersama gerobak setiaku
yang reot......
No comments:
Post a Comment