Wednesday, 7 September 2011


 GEROBAK SETIA



                                                                       

Siang itu,aku melihatmu mendorong gerobak reotmu penuh dengan isi daganganmu.Sepertinya gerobak itu telah lama bersamamu dan enggan untuk di gantikan.Ya,seperti biasa kau mendorongnya berjalan mulai dari rumahmu hingga tempatmu mangkal.Tak ada jenuh yang kulihat dari raut wajahmu,walau tampak sekali kau lelah.Apakah kau pernah berpikir untuk berhenti,atau tidak melakukannya?

“Aku rasa kau pasti pernah melakukannya”.

Mencoba berhenti dari rutinitasmu,menikmati istirahatmu,bahkan menikmati apa yang kau miliki.

Tapi apa daya,realita selalu membuatmu kalah.Membuatmu berpikir untuk kembali melakukannya,membuatmu merasakan kembali rasa lelah,penat dan jenuh.

Merasakan rasa panas yang menyengat ketika kau berjalan di siang hari, dimana sang mentari memberikan kekuatan sinarnya hingga membakar kulit tipismu.Dan ketika air hujan membasahi seluruh tubuhmu beserta dinginnya udara yang menyertainya,tak pernah sedikitpun engkau memprotesnya!

Kau membiarkan semuanya menyertai semua aktivitasmu,sedikitpun tanpa pernah kau mengeluh.

Tapi benarkah?Kau tak pernah mengeluh atau berteriak bahkan memprotes kepada sang kehidupan.
Apakah diammu benar-benar “diam?”.

Tak adakah rasa untuk merasakan sesuatu yang lain?

Ketika kaki-kaki tuamu terus berjalan dan telingamu mendengar rintihan suara “lapar” setiap anak yang kau miliki,apakah kau akan terus mendengarnya?
Dan ketika tangan-tangan keriputmu tak sanggup lagi mendorongnya,akankah kau terus mendorongnya.

Sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu?

Sebenarnya apa yang ingin kau katakan dari bibir keringmu,seolah ingin mengatakan apa yang terkumpul didalamnya,bahkan mungkin memuntahkannya.

Rasanya ingin sekali mengetahui apa yang ada dalam pikiranmu,mengeruk bahkan mengebor hingga kedalam batang otakmu,hingga aku bisa mengetahuinya.

“Apa yang ingin kau ketahui sebenarnya?”mungkin itu pemikiranmu

Benarkah kau ingin mengetahuinya?

Sanggupkah engkau mendengarnya,ketika aku menceritakan semuanya hingga rahasia terdalam yang ada dalam diriku.Apakah engkau mau menampung semua isi pemikiranku ketika aku mencoba membaginya dengan dirimu!
Apakah ketika tangan-tangan tuaku berhenti mendorong,engkau bersedia mendorongnya untukku.

Apakah dan apakah?

Ketika semua bertanya dan aku menjawabnya,sanggupkah engkau menerimanya.

Aku hanya mendorong gerobak reotku berusaha untuk memenuhi kenyataan hidup yang ingin terus hidup,bahkan demi anak cucuku,dan mugkin entahlah demi siapa....

Dan apakah ketika aku meprotes semuanya ini pada sang kehidupan, semuanya akan berubah?

“Bukankah dengan menikmatinya aku akan merasakannya!”

Bersama gerobak setiaku yang reot......

No comments:

Post a Comment