Friday, 2 September 2011

Perjalanan ini

Kami berkumpul di terminal itu sekitar pukul 9 pagi,setelah kemarin malam kami menyepakati jam keberangkatan itu.Karena hari itu hari minggu dan aku harus ke gereja dulu,teman-temanku mau menungguku.Karena aku perempuan satu-satunya yang akhirnya berangkat,karena yang lainnya memutuskan dengan berbagai alasan.Tergesa gesa sepertinya sudah menjadi bagian dari ritme hidupku,padahal aku sudah prepare semuanya dari beberapa hari yang lalu.Aku cuma tinggal angkat dan menggendong tas carrierku ini.

"Hai...."aku menyapa teman-temanku dan ada satu orang yang baru kukenal, yang lainnya aku sudah kenal."Maaf telat ya.."aku sedikit berbasa basi.Mereka tersenyum dan segera kami bergegas menaki bus yang akan mengantar kami menuju cibodas.

Karena hari minggu kamipun sampai di cibodas sekitar jam 3 sore,karena perjanjian awal kami akan berangkat pagi pagi berarti kami menginap dahulu di base camp ini,pikirku.Ternyata mereka sekongkol untuk merubah rencana awal.Pantesan dari tadi sore mereka sibuk bolak balik ke pos pertama pendaftaran buat registrasi ulang dan sedikit" menyogok" ma petugasnya tuh,pake rokok biar diijinin naik malam itu juga.Karena ijin kami memang untuk besok pagi,setelah obrol sana sini dan tawar menawar waktu,temenku yang namanya mas edi tersenyum penuh arti.Dari gelagatnya sih kayaknya bakal ada sesuatu nih."Ayo..kita naik sekarang..,"kata mas edi pada kami."Sekarang?katanya besok kok jadi malam sih?"aku sedikit protes,perasaan badan masih terasa capek karena perjalanan di bus dan kemacetan yang terjadi masih bikin kepala masih sedikit melayang.
 "Huhhh.....,"aku sedikit kesal awalnya,tapi tetap kuangkat tas carierku dan berjalan mengikuti mereka.Begini nih nasib kalau cuma bisa jadi pengikut,gak bisa apa-apa selain protes tanpa respon.

Seperti biasa setelah pemeriksaan standar di pos pertama, kami langsung melanjutkan perjalanan awal hingga pos berikutnya.Perjalanan masih bisa aku lalui walau kelelahan sudah mulai terasa.Beberapa kali aku mengeluarkan air minum yang kubawa dan meneguk air yang ada didalamnya, untuk sekedar memuaskan rasa dahaga ini.Teman-temanku selalu berada diantaraku mungkin takut aku tersesat dan pingsan tanpa mereka ketahui,tapi memang begitulah rulesnya.Itu yang aku suka dari petualang,menjaga satu sama lain.Walau seharusnya kita menjaga diri kita sendiri,karena alam terkadang berspekulasi membuat kita terkadang harus bisa survive dengan diri sendiri.Kami masih bisa bersenda gurau hingga pos ketiga,setelah melewati pos ketiga dan berikutnya aku mulai sangat kelelahan.Hanya mas edi dan superman yang tak terganggu dengan rasa lelah,sesekali mas edi memberiku semangat dan dengan sabar menungguku ketika aku duduk mencoba mengatur jalan nafasku yang terasa sesak.

Semakin keatas semakin terasa berat buatku,ditambah suasana malam membuatku tidak bisa melihat apapun selain gelap dan pepohonan yang tampak begitu angkuh di kegelapan malam.Beruntung malam itu bulan bersinar penuh sehingga bisa membuatku seperti melihat seberkas harapan.Bagaimana tidak,ketika aku melihat bulan semakin dekat berarti aku semakin mendekati puncak.Itulah pemikiran gampangku,tapi kenyataannya hal itu malah membuatku semakin frustasi ketika aku melihat bulan itu tetap diatasku dan tidak berkurang jaraknya.Sebuah pemikiran bodoh sepertinya,tapi aku tetap berusaha fokus dengan bulan itu.Mungkin aku mencoba menghibur diriku sendiri yang mulai frustasi.Rasa lelah begitu mengerogoti diriku,tak ada rasa lapar lagi yang ada hanya keinginan untuk sampai di atas titik.Tapi kedua kaki rasanya tidak bersahabat dengan keinginanku,beberapa kali aku berhenti untuk sekedar membuatku bisa bernafas dan menghilangkan rasa perih di dada akibat rasa lelah yang semakin mendera.Tapi berhenti malah membuat aku semakin lelah dan rasanya aku ingin menangis dan berteriak,"Lelah.....aku sangat lelah."
Sesekali aku mendongakkan kepalaku berusaha mencari sang rembulan,ketika aku merasa semakin dekat dengannya aku sepertinya berusaha untuk semakin meraihnya.Rasanya ingin sekali tangan ini menggapainya dan bergelantungan padanya,dan berkata," bawa aku keatas".Tapi ia mengabaikanku seolah tak melihatku,bahkan tak mengenalku.Sang rembulan begitu tampak angkuh diatas kepalaku,seakan ingin menunjukkan siapa dirinya.Aku yang kelelahan seperti tak punya kekuatan untuk berkata apapun.

Rasa kantuk yang begitu lekat di mataku dan sepertinya mengelayuti dengan erat,menambah lengkap derita yang aku rasakan.Tak ada lagi hal yang bisa membuatku kembali turun kesana walau semua rasa yang membuatku "gila" tak bisa bertoleransi dengan diriku.Semakin lelah aku semakin mengantuk,dan hal ini sebenarnya berbahaya kalau diteruskan karena bisa mencelakakan diriku sendiri.Tapi aku tak mau sang rembulan menertawakan diriku yang menyerah dengan keadaan.
Aku tetap melangkah dengan semua rasa kantuk dan berjalan dengan kedua mata terpejam dan hanya tongkat penyangga dari kayu sebagai penunjuk jalanku,agar aku tetap tersadar.Aku membayangkan bagaimana orang yang melihat dalam kegelapan,mungkin seperti ini kurang lebihnya.Aku bernyanyi untuk membuat hatiku mendengarnya dan menghibur kedua kakiku yang sangat lelah agar terus berjalan dan berjalan.Aku teringat ketika temanku mas kismo berkata,"jantungku sepertinya meledak."Aku tertawa kalau mengingatnya,ya aku dan kismo yang memang tampak tersiksa dengan perjalanan ini.

Selangkah demi selangkah aku terus berusaha mendaki dan mendaki,dan ketika kami melihat daerah yang lapang walau tak seluas lapangan bola seperti aku melihat" oase" di padang pasir.Dan kami mendengar orang berbincang dan beberapa tenda sudah berada disana,rasanya kamipun ingin segera membuat tempat peristirahatan disana melepas semua rasa ini....




No comments:

Post a Comment