Friday, 8 May 2020

Karantina ...

Hal pertama yang ada dalam benakku adalah pembatasan atau lebih ekstrim lagi kurungan. Definisi menurut KBBI ka·ran·ti·na n 1 tempat penampungan yang lokasinya terpencil guna mencegah terjadinya penularan (pengaruh dan sebagainya) penyakit dan sebagainya; 2 Tern tempat untuk menahan ternak impor yang baru datang dari luar negeri, guna mencegah penyebaran penyakit menular. Masih terkait wabah Corona bahwasanya ketika seseorang terdeteksi positif terinfeksi virus apalagi bila dipastikan virus ini yang menginfeksi tindakan yang dilakukan adalah mengkarantina karena memang virus ini masih baru dan belum didapatkan pengobatan yang sesuai jadi tindakan ini untuk meminimalkan resiko penularan dan lainnya.

Kemudian saya merenung lebih lanjut bagaimana kehidupan manusia yang mengalami karantina ini??apa yang dirasakannya ketika dia sendirian dan harus mengalami hal yang tidak diinginkannya sendirian??

Jika lumrahnya manusia mengalami kesedihan dan sakit ditemani orang terdekat atau yang lainnya...Ia harus mengalami itu sendirian,dan kebetulan teman saya ada yang mengalami hal ini dan beberapa kali kami chatting karena memang itu yang bisa kami lakukan. Terungkap perasaan sedih dan dia menangis pada awal kejadian, perasaan yang manusiawi bukan? Beberapa kali dia merasa down dengan hal tersebut dan sulit bagi kami yang tidak merasakan mengerti perasaan yang dialaminya. Saya hanya bisa memberi semangat walau mungkin semu sifatnya tapi itu yang bisa kami lakukan saat ini dan akhirnya dia bisa kembali ceria adalah ketika dirinya bisa melakukan peneriman sendiri. Karena kenapa sendiri karena semua tidak bisa menolongnya saat ini, tidak seperti bencana alam biasa yang orang bisa melakukan pendampingan langsung semua melalui aplikasi. Akhirnya ini semua menjadi permenungan saya pribadi bahwa manusia memang tidak bisa sendirian karena itu menyebabkan dia bisa kehilangan dirinya sendiri ketika dia tidak bisa menerima diri dengan baik.

Betapa tersiksanya manusia yang sudah terbiasa bersosialisasi satu dengan lainnya tiba - tiba harus terkurung dengan hal yang tidak bisa didapati seperti biasanya. Dan betapa manusia berusaha menghibur diri dan mencoba menghilangkan hal yang tidak bisa didapatkan kembali. Sebuah kebebasan....

Entah apa definisi kebebasan sejati setiap individu akan berbeda maknanya....

Satu hal yang pasti kungkungan atau karantina atau apapun istilah yang muncul akan memberi dampak luar biasa jika kita tidak bisa memaknai hal tersebut dengan bijak...

Thursday, 9 April 2020

Misa dan Perayaannya...

Hari ini adalah salah satu rangkaian misa suci dalam keyakinan agama Katolik, dan kemudian saya tertarik menùliskannya. Karena saya mengikuti misa dirumah melalui media televisi sesuai anjuran karena wabah Corona yang masih berlangsung. Ada yang yang sangat berbeda dalam misa tersebut. Pertama misa yang disiarkan tanpa jemaat di gereja,karena kami berada dirumah masing - masing. Selanjutnya adalah pakaian karena misa malam hari dan jam saya tidur jadi pakaian yang saya gunakan adalah pakaian tidur, dan semoga tidak menghilangkan esensi dari ekaristi itu sendiri. Sepertinya kalau bukan dalam kondisi wabah ini, tidak mungkin saya bisa memakai pakaian tidur tanpa hujatan 😅
Hampir tanpa make up dan tak ada asesoris yang harus saya pikirkan. Ini baru saya pribadi, entah yang lainnya mungkin berbeda dengan yang saya lakukan.

Tapi buat saya pribadi maknanya malah lebih berarti saat ini. Ketika kesederhanaan muncul itulah paskah sebenarnya, bukan hiruk pikuk atau hingar bingar yang mungkin diinginkanNya. Tuhan berbicara lain melalui hal ini. Ketika perayaan agung keagamaan terjadi, biasanya akan banyak ritual yang dilakukan dalam bentuk ceremonial. Dan panitia gereja akan sibuk sebelum perayaan itu sendiri. Tak ada yang salah dengan perayaan itu atau dengan orang - orang yang menyiapkannya. Tapi ada sesuatu yang hilang ketika kita melebih - lebihkannya, karena sebuah kebiasaan atau ritual sebelumnya.

Paskah adalah pemberian cinta kasih yang tulus yang nilainya lebih dari perayaannya itu sendiri pada awalnya. Tapi berjalannya waktu manusia menciptakan versinya masing - masing dan akhirnya berkembang sampai saat ini menjadi ritual atau kebiasaan yang berlebihan dan konsumtif termasuk saya sendiri melakukannya....

Orang akan mencoba memberikan yang terbaik dalam penampilan diri atau apapun dengan pembenaran masing - masing, tak ada yang salah juga dengan hal itu. Sah - sah saja dengan alasan masing - masing bukan?

Tapi ketika semua itu berawal muncul dari keberadaan sebuah virus yang sangat kecil, bentuknya tapi merubah semua hal yang besar nampaknya. Ketakutan muncul tanpa sadar dan ini juga sempat saya alami, takut mati atau takut apapun. Sehingga menyebabkan logika kadang kala tidak bisa lagi bekerja. Manusia tidak lagi bisa menyentuh atau bersentuhan satu sama lainnya, bahkan mungkin berjarak satu dengan lainnya. Jadi manusia dalam beberapa waktu saling menjauh dengan sadar. Dan kemudian apa yang terjadi? 

Apakah manusia tersadar apa yang sebenarnya diberikan atau diajarkan virus ini? Banyak yang diberikan akibat efek penyebarannya yang begitu cepat hingga semua orang kebingungan sesaat. Karena ketika akhirnya manusia sadar apa yg diajarkan virus ini, manusia akan tahu apa yang nantinya akan dilakukannya. 

Seperti juga dengan misa dan perayaannya. Tak ada lagi kemegahan sebagai bentuk alasan pembenarannya, mengajarkan apa itu paskah. Semoga dalam kesederhaan tidak akan merubah esensi paskah itu sendiri, malah sebaliknya akan memberikan nilainya tersendiri. Dan semoga ditahun selanjutnya walau sudah tidak ada virus corona kebiasaan baik atau ritual baik lainnya tetap berjalan karena sudah menjadi kebiasaan dan menjadi perilaku lebih baik lagi...

Sunday, 5 April 2020

Kebaikan dibalik Fenomena Wabah...

Akhir tahun 2019 dunia dikejutkan dengan keberadaan virus SARS yang bermutasi dan kemudian dinamakan Corona dengan tipe baru dan terkenallah dia dengan sebutan Covid 19 karena mewabah diakhir tahun 2019 ks seluruh dunia karena kecepatan virus menyebar memang relatif lebih mudah. Dan akhirnya awal tahun 2020 dunia dihebohkan dengan keberadaan virus ini. 

Beberapa hal sudah dilakukan oleh beberapa negara untuk mencegah penyebaran dengan kebijakan masing - masing negara dengan tingkat urgency dan kondisinya. Mulai dari lockdown hingga pysical atau social distancing. Dan kemudian saya tertarik menuliskannya adalah lebih dari hal kedua yang dilakukan di negara kita pysical distancing.

Sebenarnya ada kebaikan yang diberikan dengan keberadaan virus ini kalau saya boleh beropini. Kenapa? Karena dengan  keberadaannya muncul kebijakan WFH atau work from home untuk beberapa kantor entah pemerintahan dan swasta. Kemudian muncul kebijakan untuk dirumah saja agar mata rantai virus menyebar putus walau kebanyakan tidak paham konsep ini he...xx

Yang lebih menarik dari kebijakan yang diambil dari hal tersebut adalah saat ini adalah saat dimana manusia bergerak begitu cepat karena tuntuntan dan kemudahan berbagai hal termasuk akses. Sehingga mobilisasi manusia begitu cepatnya salam semua hal, bahkan saking cepatnya tak ada lagi kesempatan manusia satu dan lainnya saling bertemu atau mungkin bertegur sapa. Bahkan dengan orang yang ada didekatnya atau seperti dirumah. Banyak keluarga yang tidak bisa mengenal dengan baik anggota keluarganya masing - masing karena berada lebih banyak diluar rumah karena tuntutan pekerjaan dan sebagainya. 

Kemudian akhirnya manusia harus berada dirumah walau dengan jarak kecuali kondisi tertentu. Virus ini menyadarkan aku dan menjadikan permenungan bahwa saatnya manusia beristirahat sejenak dari hiruk pikuknya kecepatan aktifitasnya. Saatnya manusia sadar akan keberadaan makhluk lainnya walau harus dengan jarak tertentu. Virus ini mengajarkan ada hal - hal penting lainnya yang seharusnya dimiliki manusia satu dengan manusia lainnya adalah pysical touching. Hal ini menyadarkanku bahwa nilai inilah yang penting, karena ketika virus ini mewabah hal apa yang dihilangkannya? 

Manusia satu dan lainnya tidak diperkenankan saling bersentuhan karena dianggap sebagai media penyebarannya. Dan ini menyadarkanku bahwa ketika ada saatnya bahwa manusia membutuhkan sentuhan sebagai bukti eksistensinya dan ia tidak mendapatkan itu, pertanyaanku selanjutnya adalah apa dampaknya?

Sebuah kehilangan...
Ya sebuah kehilangan dalam banyak arti, ketika ada yang terenggut nyawanya atau alasan lainnya dan kemudian manusia lainnya tidak bisa menyentuh bahkan tidak bisa bertemu. Betapa hal itu menyakitkan untuk manusia lainnya tersebut bukan? Ada hal yang diajarkan oleh keberadaan virus ini lepas dari betapa progesifnya dia menyebar, tapi hal inilah yang menarik pemikiranku. Bahwa kehadirannya mengingatkan kita tentang hal lain yang dilupakan manusia tentang hal penting yang mungkin sudah terlupakan karena mobilitas manusia dan kecanggihan teknologi. Dan kembali kita diingatkan dan menjadi permenungan bersama bahwa apa yang menjadi hakikat keberadaan manusia itu sendiri dan betapa berartinya sebuah sentuhan...


Sunday, 29 March 2020

Korona dan Keberadaanmu...

Pertama kali mendengar virus baru ini,yang muncul pertama kali adalah rekayasa apalagi ini...Kenapa aku awalnya berpikir seperti itu adalah virus adalah makhluk hidup atau mikroorganisme yang ada karena memang keberadaannya ada untuk jadi satu bagian kehidupan. Dia hidup layaknya manusia atau makhluk hidup lainnya yang mempunyai eksistensinya sendiri. Kehidupannya sendiri mempunyai siklus dan cara yang sama seperti manusia, cuma karena keberadaannya yang terlalu kecil, seringkali kita tidak menyadari. Dia hidup dengan ekosistemnya sendiri dan selama ekosistemnya tidak dirusak seharusnya dia berada dalam dunianya sendiri. Virus senang dengan kesendiriannya,dunia gelap dan dinginnya. Itu sudah menjadi bagian kehidupannya dan dia tidak bisa masuk kedunia yang begitu panas. Jadi sudah ada bagiannya masing - masing. Tapi terkadang manusia itu memang makhluk sombong dan serakah. Rasa ingin tahu yang dimilikinya seringkali digunakan untuk hal - hal yang tidak berguna, mengganggu keberadaan dan makhluk lainnya. Entah apa yang ingin dilakukan sebagian manusia yang tamak dengan keberadaan mahluk lainnya, dan padahal manusia sendiri yang menanggung akibatnya. Karena virus tidak bs hidup tanpa media perantara, jadi secara logika virus tidak bisa berkembang sendirian. Jadi tidak mungkin virus berkembang muncul tiba - tiba, kecuali memang habitat dia sudah rusak atau program kehidupannya yang rusak, entahlah..

Tapi lepas dari itu semua adalah bukan keberadaan virus itu sendiri. Karena pada dasarnya virus akan selalu ada bersama dengan kehidupan dan manusia, ketika dia menjadi progresif ada yang salah dengan mekanisme kehidupannya. Ada hal yang membuat dia bisa bermutasi dengan hebatnya, karena ada yg merubah ekosistemnya. Bisa jadi kita manusia yang membuat dia menjadi progresif dengan keberadaan obat anti virus yang membuat secara alamiah virus berusaha tetap eksis dalam keberadaanya dalam bagian kehidupan. Dia hanya mencoba tetap bertahan hidup seperti layaknya kita manusia dan makhluk hidup lainnya. Tak ada yang salah kan dengan hal itu. Dengan mutasi genetika diri alamiah atau buatan, virus hanya menyesuaikan diri dengan lingkungannya untuk tetap bisa hidup. Kalau dia menjadi kuat karena lingkungan yang membuatnya dan kemudian manusia tidak berevolusi ya pasti ada yang kalah dengan hal tersebut. Kan memang begitu hukum alamnya he...xx

Tidak ada makhluk hidup yang diciptakan di dunia ini untuk menjadi kejahatan untuk makhluk lainnya sesuai dengan keberadaannya. Makhluk yang memang harus hidup didunia gelap dan dingin ya disana dia berkembang dengan seharusnya dan di dunia yang hangat dan terang ya begitu juga sebaliknya. Pada awal penciptaan pasti baik adanya, semua hanya berkembang menyesuaikan kondisi lingkungan saja dan berusaha untuk menjaga eksistensi diri saja.

Tapi dengan wabah virus atau mungkin mikroba atau apapun adalah mereka hadir sebagai cerminan diri kita manusia, dalam bertingkah dan berperilaku. Mereka hadir pasti ada campur tangan manusia, entah bagaimana awalnya dan menyebar pun pasti dengan media perantara, misalnya unggas atau makhluk lainnya. Manusia tetap yg mempunyai peran dalam hal tersebut. Siapa yang paling banyak mengkonsumsi makhluk lainnya, misal unggas, jawabannya ya manusia juga. . Jadi memang manusia tetap menjadi sumber segala sesuatu.

Tapi yang menjadi permenunganku adalah apa yang diajarkan oleh keberadaan virus yang menyebar dengan masifnya hampir ke seluruh dunia. Lepas dari permainan atau rekayasa yang terjadi. Bahwasanya kita harus bijak dalam berinteraksi dengan lingkungan, menjaga keberadaan dalam lingkungan masing - masing. Tidak memanfaatkan keberadaan makhluk lain untuk kepentingan makhluk lainnya. Dan peduli dengan apapun, bahkan makhluk yg bentuknya saja harus dilihat secara mikroskopis. Tapi dia ada...keberadaannya yang tak terlihat seringkali dilupakan kecuali untuk kebutuhan tertentu, seperti pengobatan dan sebagainya. Orang begitu takut dengan keberadaannya tanpa paham bagaimana mekanisme kehidupannya dan kenapa mereka ada. Dan berusaha menghancurkan kehidupan lainnya tanpa sadar, padahal hakikat penciptaannya akan selalu ada seiring dengan adanya kehidupan. Karena mereka di awal penciptaan adalah bagian dari kehidupan dan tidak akan menganggu selama berada dalam batas kehidupan masing - masing.

Seringkali hal inilah yang dilupakan orang. Manusia seringkali cenderung melihat bukan pada konsepnya tapi lebih fokus pada konteksnya. Dan manusiawi sih, karena kodrat manusia...

Saturday, 18 January 2020

Makna Keluarga

Hmm...tak ada habisnya bila bercerita tentang keluarga. Terlebih jika sebuah tontonan dibuat terkait dengan keluarga, buat saya yang menganut nilai keluarga sebuah hal yang penting. Keluarga mempunyai nilai tersendiri yang tidak bisa digantikan apapun. Mungkin semua tergantung bagaimana keluarga itu dibentuk dan apa nilai dasar yang dipegang dan diyakini oleh anggota keluarganya, semua bisa berbeda sesuai dengan nilai masing - masing.

Film ini memang diadopt atau berdasarkan sebuah novel dan dijadikan sebuah tontonan, yang menjadi menarik adalah alur cerita dan inti cerita yang dibuat oleh penulis skenarionya, bisa dengan mudah mengaduk perasaan penontonnya, dengan alur cerita yang sering dibuat flashback membuat bingung pada awalnya bila tidak mengikuti dengan seksama tapi menjadi lebih seru. Jadi memang diharapkan penonton menonton dengan baik sehingga bisa mengerti nilai yang ingin diberi oleh si pembuat cerita awalnya. Aku yang menjadi terharu pada akhir cerita, menjadi begitu terkesan dengan cerita dibalik ceritanya, karena mengingatkan beberapa hal yang sama dalam keluarga kami he....xx

Bagaimana seorang ayah berusaha untuk memberikan hal yang terbaik untuk keluarganya, sehingga menjadi over protektif ketika ternyata perasaan kehilangan menjadi sumber atau masalah awalnya. Orang bisa menjadi ketakutan saat pernah merasakan arti kehilangan, entah kehilangan dalam bentuk apapun. Sehingga perasaan itu menjadi toxic atau racun dalam dirinya dan orang sekitar tanpa sadar. Tak ada yang salah dengan perasaan ini jika bisa dikelola dan diselesaikan dengan baik bukan dengan sebuah pembenaran dan butuh toleransi untuk bisa mengerti apa yang melatari hal tersebut. Yang sering menjadi masalah adalah ketika tidak terselesaikan dan orang lain tidak bisa memahami hal tersebut, terjadilah konflik.

Ayah dalam film tersebut adalah bintang utamanya dan ibu dalam film tersebut adalah penyelesai sebuah masalah. Bagaimana mereka bisa berkolaborasi satu sama lain,untuk bisa saling mendukung dalam sebuah keluarga bisa diceritakan dan ditampilkan begitu manis dalam cerita. Begitu kuat muncul pada akhir cerita. Ketika sang ibu yang akhirnya menyelesaikan semua permasalahan dan menyadarkan anggota keluarganya tentang sosok ayah mereka. Tampak bahwa perempuan atau seorang ibu adalah sosok pengambil keputusan penting yang menyelamatkan keluarga tersebut pada akhirnya. Tanpa usaha ibu yang bijak, keluarga yang tampak baik sekalipun bisa menjadi sebaliknya. Peran ibu memang luar biasa, dan ditampilkan dengan cukup baik oleh Susan Bachtiar yang tampak begitu kalem dan lembut tapi tegas dan bijak. Sosok ibu bijak seperti inilah yang akan membuat sebuah keluarga menjadi keluarga bahagia dengan sebenarnya, karena seorang ibu adalah pengayom keluarga dan seorang ayah adalah pelindung keluarga. Intinya sih itu dengan semua konflik keluarga pada umumnya.

Aku terharu karena sosok ayahku yang luar biasa muncul hampir sama seperti dalam film yang selalu berusaha menjaga keluarganya sebagai bentuk tanggung jawab seorang ayah. Apapun akan dilakukan ayahku untuk memastikan anggota keluarga kami baik-baik saja, sampai kebiasaan menelpon kami adalah hal wajib yang kami pahami. Bahkan ketika kami bertambah dewasa dan mulai berani protes, terlebih diriku anak nakal mereka. Sampai kami menyadari apa yang mendasari ayahku melakukan hal tersebut. Perasaan kehilangan orangtua sejak kecil yang membuat beliau seperti itu, jadi walau terkadang sifat dan tingkah beliau ketika sepuh mulai menyebalkan kebaikan serta ketulusan beliau yang luar biasa yang membuat kami tidak akan tega untuk menyakitinya. Ibu kami yang seringkali memarahi kami adalah ibu yang luar biasa lepas dari sifat yang sering juga menyebalkan, tapi beliau adalah ibu yang berani mengambil beberapa keputusan penting dalam kehidupan kami, tanpa ibu kami yang mandiri dan tegas banyak hal yang akan terbengkalai tak terurus dengan baik ha...xx

Dan keluarga bahagia adalah keluarga dengan sosok yang saling mendukung satu dengan lainnya hingga masing-masing mencapai tujuan yang dikehendaki oleh masing-masing anggotanya. Tak ada kebahagiaan yang berasal dari orang lain. Kebahagiaan sejati berasal dari diri sendiri,  tanggung jawab kita sendiri bukan orang lain. Jadi tak adil jika kita memproyeksikan kebahagiaan kita kepada orang lain dan jika tidak terwujud orang lain yang harus bertanggung jawab. Harta kami memang ada disini dalam hati keluarga, karena keluarga kami bukan hanya keluarga inti kami tapi semua yang kami kasihi,termasuk tetangga dan orang disekitar kami bahkan mungkin orang yang tak kami kenal awalnya. Semua akan menjadi keluarga saat kasih menjadi dasarnya.


Sunday, 5 January 2020

Bingung...

Kadang kala kita merasa orang lain yang harus berubah seperti apa yang kita mau dan hal tersebut seringkali membuat energi kita terkuras habis dan akhirnya kita lelah. Hal ini aku pahami ketika aku melihat contoh kedua orangtuaku sendiri, mereka sudah hidup selama beberapa puluh tahun dan ketika ada pihak yg masih sering menuntut dan belum bisa menerima apa adanya pasangan kita, ya hal tersebutlah yang seringkali menjadi bahan pemicu keributan berulang kali. 

Aku sempat berdebat dengan ibuku ketika beliau seringkali mengeluhkan kebiasaan ayahku yang menurut beliau mengesalkan. Dan aku pernah bertanya, apakah kebiasaan itu baru ada sekarang atau sudah sejak beliau kenal pertama?Dan jawabannya yang membuat aku sering menertawakannya setiap aku bertanya, karena jawabannya adalah sudah sejak pertama kenal...

Bagaimana aku tidak tertawa, berarti ibuku sudah tahu sejak lama kebiasaan tersebut dan pertanyaanku adalah kenapa baru sekarang dipermasalahkan?Aku pernah mempertanyakannya, dan jawaban ibuku adalah sekarang tambah mengesalkan. Agak sedikit aneh sebenarnya,bagaimana mungkin sekarang lebih mengesalkan,bukankah kebiasaan hanyalah pola tindakan yang dilakukan berulang - ulang sehingga terbentuklah kebiasaan. Orang yg melakukan tidak mungkin merubah kebiasaan yg sudah terpola kecuali ada kesadaran untuk menyadarinya untuk dirubah. Yang sering tidak disadari adalah orang yang melihat kebiasaan atau tidak melakukan kebiasaan tersebutlah yang kemungkinan berubah penerimaannya dari hari ke hari. Dan bisa jadi aku pun akan mengalami hal ini setelah sekian waktu bersama dengan seseorang yang kebiasaanya sudah aku ketahui setiap harinya.

Sepertinya ini adalah masalah yang pasti timbul ketika dua orang manusia hidup bersama dengan segala hal yang sudah berbeda dari awalnya. Entah apapun itu, dan yang menjadi masalah adalah ketika ada pihak yang tidak menyadari hal tersebut dan pihak lainnya tidak memberitahukan hal yang menjadi masalah bagi pihak lain tersebut. Bukankah ketika orang sudah terbiasa dan kurang menyadari hal tersebut bukan sebuah masalah, dan pihak lain akhirnya malas mengungkapkan karena salah satu jenuh untuk mengatakan berulang - ulang,malah hal tersebutlah yang sebenarnya adalah sebuah masalah. Memang lebih mudah mengatakannya daripada melakukannya,karena belum tentu nanti aku bisa mengatasinya, tapi aku berusaha membiasakan sebuah kebiasaanku untuk berbicara apa yang memang aku harus katakan,walau mungkin terdengar kurang nyaman untuk pihak lainnya.

Jadi bukan masalah berapa lama pasangan itu tinggal bersama tapi lebih dari itu, yaitu bagaimana pemahaman kedua orang tersebut dan akhirnya menerima hal - hal yang berbeda bagi masing - masing pihak dan akhirnya menyadari hal tersebut. Jadi kata kuncinya adalah kesadaran. Hmmm....

Tanpa kesadaran sulit untuk menerima sebuah hal yang mungkin nilainya berbeda.

Friday, 27 December 2019

Natal....

Mungkin baru kali ini aku membuat cerita tentang natal. Secara natal adalah hari kelahiran Yesus yang diyakini oleh sebagian orang sebagai bentuk fisik Tuhan dan sebagian diyakini orang sebagai nabi atau utusan Tuhan. Dan buat saya pribadi lepas dari apapun yang diyakini orang dan keyakinan saya sendiri, perayaan natal sendiri terlebih tahun ini memberi arti tersendiri. Mencari makna natal dalam diri saya sendiri, mencoba mencari bukan sekedar perayaan atau ceremonial, yang setiap tahun akan dilakukan oleh banyak orang sesuai dengan keyakinannya masing - masing. Tak ada yang salah dengan perayaannya karena itu hak masing - masing orang untuk memaknai dengan caranya sendiri. Sekali lagi ini adalah cara saya dan keyakinan saya. Natal kali ini tidak biasanya saya lakukan tanpa perayaan malam natal. Secara tradisi gereja katolik malam natal akan menjadi perayaan yang meriah karena orang akan berbondong bondong pergi ke gereja untuk merayakan malam kelahiran Yesus sang Penebus manusia. Dan bertahun tahun saya pun sama dengan umat katolik kebanyakan berlaku seperti seharusnya. Tapi ditahun ini karena sesuatu hal saya tidak merayakan malam natal karena sebelum pergi, saya melakukan sesuatu hal yang tidak mencerminkan seseorang yang hatinya damai sehari itu. Terlebih saat akan berangkat saya sudah bersungut sungut tentang kondisi saat itu, dan sepertinya semesta tidak mengijinkan saya untuk mengikuti perayaan malam natal karena terjebak macet, walau sebenarnya saya masih bisa mengikuti perayaan. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk merubah tujuan saya. Saya tidak jadi ke gereja dan memutuskan hal lainnya.

Yang menjadi permenungan saya adalah ketika natal selalu didengungkan dengan perayaan sukacita dan damai. Saat itu saya merasa hati saya tidaklah pantas, jadi buat apa saya tetap datang dengan hati kesal dan ada orang lain yang mungkin tersakiti dengan apa yang saya lakukan dalam satu hari itu.

Semalam itu saya mencoba menenangkan diri saya dengan hal lain dan tidur pada akhirnya. Entah esok saya akan gereja kembali saya hanya melihat kondisi esok kalau tidakpun,saya tidak merasa bersalah dengan tidak gereja, toh hati adalah gereja saya sesungguhnya kalau anggapan gereja adalah tempat Tuhan berada.

Keberadaan Tuhan dalam hati adalah yang terpenting, akan nampak dari apa yang kita cerminkan dalam diri kita sendiri. Ketika kasih tidak muncul dalam keseharianku, bisa jadi aku menutup keberadaanNya yang sebenarnya selalu ada dalam hati dan gerejaku. Gereja bukanlah bangunan fisik yang harus terlihat bentuknya. Karena aku meyakini kalau Tuhan tidaklah sesempit itu hanya ada dalam bangunan tertentu. Ketika bangunan itu tidak ada, apakah keberadaan sang semesta juga tidak ada??

Tapi ini keyakinanku, aku tidak menyalahkan keyakinan lainnya, sekali lagi kebenaran tidaklah mutlak sama denganku,silahkan dengan keyakinan masing - masing.

Natal adalah sebuah kesederhanaan hati bahkan kèrendahan hati yang akhirnya memberikan sukacita dan damai yang nyata. Damai di hati seperti kedamaian di surga, yang entahlah seperti apa sebenarnya tapi ketika aku merasakan hatiku dipenuhi amarah,kesal,dendam atau hal lain yang bukan buah dari kasih saat itu, jelaslah nyata kalau aku saat itu terlebih hatiku tertutup oleh keakuanku sendiri. Sedih rasanya....dan aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri dengan melakukan apa yang seharusnya hati miliki ketika dipenuhi dengan kasih.

Kelahiran Tuhan setiap saat hadir dalam hati yang dipenuhi kasih yang tak terbatas. Hati yang tidak memiliki dendam, hati yang lembut bukan hati yang rapuh tapi hati yang kuat manakala ia tertutup,ia akan selalu tersadar untuk kembali membuka hati untuk terbuka lebih dan lebih dan membiarkan kasih bekerja dengan sempurna. Waktu yang akan selalu membantu membuat kita mengerti makna natal sesungguhnya. Bukanlah perayaan meriah, tapi orang lain tak merasakan sukacita sesungguhnya, sukacita yang berasal dari dalam dirilah yang selalu menjadi sukacita sejati dan kita sendirilah yang menciptakan sukacita dan damai itu sendiri bukan orang lain ataupun kondisi. Menemukan sukacita sejatilah yang akan membawa kita kedalam kedamaian surgawi yang nyata. Dan yang merasakan sukacita ataupun kedamaian adalah orang terdekat kita, karena diri kita hanyalah perantara pembawa damai dan sukacita yang berasal dari hati sebagai manifestasi keberadaan sang semesta itu sendiri.
Hmmm.....agak berat ceritaku, semoga ada selalu yang menopangku hingga aku tidak berat membawanya ha....xx😅😅