Thursday, 8 November 2018

Rasa Takut...

Entah seperti apa sebenarnya perasaan itu bentuknya.Karena terlalu sulit untuk bisa mengartikan sebuah perasaan, karena ia mempunyai berbagai macam bentuk atau wujudnya. Tergantung bagaimana kondisi si pemilik perasaan itu sendiri saat itu. Perasaan terkadang membuat bingung pemiliknya jika sang pemilik perasaan begitu terikat dengan hanya salah satu perasaan saja. Karena pada kenyataan perasaan bisa berubah sesuai dengan kondisi yang terjadi dan bila sang pemilik perasaan terlalu kuat dengan salah satu perasaan saja, sepertinya sang pemilik akan terbelenggu dengan reaksi perasaan terlalu lama. Misal bila sang pemilik sedang bahagia dan ia berusaha mengikat perasaan itu terlalu lama, bukankah mungkin yg seharusnya muncul perasaan lainnya, jadi karena menyenangkan sang pemilik berusaha menciptakan kondisi yang mirip dengan perasaan yg disukainya agar ia tetap merasakan sensasi perasaan tersebut, bisa jadi perasaan tersebut hanya semu belaka karena berusaha diciptakan oleh sang pemiliknya,bukan yg seharusnya muncul?

Terkadang kita tidak selalu bisa jujur dengan perasaan kita sendiri, bahkan mungkin tidak berani mengungkapkan perasaan tersebut. Ada banyak ketakutan yang diciptakan oleh diri kita karena ada banyak hal yg tidak kita ketahui pasti apa yang akan terjadi bila...

Padahal itu semua hanya ketakutan saja. Seperti diriku yang tampak seperti berani dalam beberapa hal tapi kenyataannya banyak hal yang aku takuti,seperti aku takut air, takut ketinggian dan banyak hal yang aku takuti. Tapi perlahan aku mulai beradaptasi dengan rasa takutku, aku mencoba pelan pelan keluar dari rasa takutku. Rasa takut yang selama ini terlalu mengikatku dengan sebuah tameng rasa aman.

Rasa takut yang selalu membayang bayangi diriku yang sebenarnya. Tugasku untuk keluar dari bayang bayang semu rasa aman atau apalah itu namanya....

Monday, 21 May 2018

Luka Batin

Tanpa sadar kita mempunyai luka batin yg mungkin tersimpan didalam diri kita masing-masing. Bahkan didalam hati kita, dan yang menjadi permasalahannya adalah hati kita adalah kunci dari segala hal yang tanpa sadar mempengaruhi kita nantinya.Aku jadi teringat ketika aku mencoba mengikuti sebuah therapi yg diberi nama regresi, konselor therapi sebelumnya memberikan banyak informasi kepadaku tentang hal tersebut. Dan terkadang penjelasan tidak banyak membantu tapi bisa membuat kita mengerti sedikit, entah dikemudian hari tanpa penjelasan awal mungkin kita akan sedikit bingung.

Kembali ke luka batin,bahwasanya tak ada satu manusiapun yang tak pernah terluka atau mempunyai luka batin.Karena mungkin itu hakekat manusia pada akhirnya. Dan luka batin tidak hanya tidak hanya memberi efek yg seringkali membuat pemiliknya memiliki bekas, yg ada kalanya bekas tersebut bisa hilang bahkan menimbulkan parut yg mgkn semua orang bisa melihatnya?

Yang menjadi permasalahan adalah ketika luka itu membekas dan kita tak mau membuat bekas itu menghilang entah perlahan hilang atau secepatnya. Dan yang menjadi lebih berbahaya lagi adalah ketika luka itu menjadi sebuah dendam, ini yang paling aku takutkan.Kenapa sebuah dendam begitu membahayakan, terlebih orang yang membuat luka itu menjadi dendam. Karena manusia sepertinya diciptakan dengan paket bertahan hidup, karena pertahanan hidup manusialah yang membuat eksistensi manusia sampai sekarang masih ada.

Keberadaan manusia tetap ada karena setiap makhluk hidup memiliki kemampuan bertahan hidup demi kelangsungan diri mereka sendiri. Dan manusia salah satunya.

Dan manusia yang merasa tersakiti dengan luka batinnya dan memiliki dendam akan melakukan berbagai macam cara untuk selalu menjaga keberadaannya. Hal ini yang mungkin memberikan efek yang bisa terjadi diluar batas pemikiran orang kebanyakan dan bahkan tidak akan bisa dipahami oleh orang kebanyakan yang sudah didoktrin oleh norma dan nilai. Jadi ketika ada hal2 diluar nilai seharusnya orang akan mempunyai penilaian masing2 ha...xx

Agak gak nyambung deh tulisan ini..

Wednesday, 21 March 2018

Siklus Manusia...

9Setiap manusia mempunyai siklus kehidupan yang hampir sama, hanya peran setiap manusia yang berbeda, tergantung dari pilihan yang dibuatnya.

Siklus manusia dimulai dari saat manusia memilih lahir kedunia dengan berbagai macam pilihan yang telah dibuatnya. Mulai dari terlahir dari bayi kecil yang tak ingat apapun sampai bagaimana dia belajar menjadi besar hingga dewasa dan menjadi manusia yang sesuai dengan pilihan awalnya, semesta hanya mengarahkan setiap manusia kepada tujuan awal penciptaannya. Oleh karena itu kenapa setiap manusia disaat saat tertentu mereka selalu bertanya kenapa mereka ada dan untuk apa kita ada di dunia ini? Semua ini akan muncul pada saat manusia siap menemukan tujuan awal penciptaannya.Ketika dia belum siap,kita tak akan bisa bertanya apapun karena semua memang ada saatnya,dan ketika kita memaksakan satu hal pada saat yang belum tiba waktunya,mungkin hasilnya tidak akan sesuai dengan apa yang diharapkan sebenarnya.

Jadi memang semua ada waktunya sampai anda atau saya siap menerima apapun, ketika anda belajar menunggu sesuatu, percayalah bahwa memang semua dipersiapkan sampai anda pantas menerimanya. Berlian tidak akan diberikan pada orang yang tidak bisa menjaga atau merawatnya, siapkan diri kita untuk pantas menerimanya.Karena setiap orang akan menerima sepadan dengan kemampuan penerimaannya, ketika kita memang saat ini baru pantas menerima perak atau perunggu ya mungkin itu yang sepadan saat ini, jangan pernah memaksa menerima emas atau berlian. Ketika anda memaksa menerima berlian ketika anda belum siap,kita hanya mungkin akan merusak berlian tersebut atau malah mungkin menghancurkannya hingga tidak berarti dan tidak ada nilainya.

Emas atau berlian bagi setiap orang akan berbeda nilainya,karena setiap orang mungkin memberi penilaian yang berbeda untuk mengartikan berlian dalam hidupnya tergantung dari manusia itu sendiri. Jadi jangan pernah mengartikan berlian dalam nilai arti yang sebenarnya,karena mungkin bukan berliannya yang dicari beberapa orang.

Karena berlian setiap orang pasti berbeda,carilah berlian anda sendiri yang sesuai dengan diri anda sendiri.

Saturday, 17 March 2018

My lovely orangtuaku...

Banyak hal yang tak pernah habis aku ceritakan tentang kedua orangtuaku yang luar biasa. Merekalah yang luar biasa mendidik kami dan menjadikan kami manusia yang sekiranya mempunyai manfaat atas kehadiran kami di dunia ini. Walau diusia senja ada satu kebahagiaan yang belum bisa kami berikan saat ini,semoga kami bisa memberikannya kepada mereka berdua kalau itu yg bisa menjadi balas budi atas kebaikan mereka karena memberikan segalanya pada kami semua...

Aku pernah menuliskan cerita tentang beliau berdua di blog ini juga. Saat ini aku hanya ingin bercerita tentang bagaimana ketika orangtua kita bertambah usia,saatnya kita sebagai anaklah yang menjaga mereka layaknya kita saat kecil,belajar sabar seperti saat mereka membesarkan kita saat dulu kita masih kecil,kondisi ini memang seperti teori bahwa ketika manusia bertambah tua semua kembali seperti anak kecil. Mereka yang menjadi lebih sensitif, terkadang ada yang mempunyai perasaan tidak berharga karena kemampuan orangtua akan semakin berkurang seiring bertambahnya usia, ini berbanding terbalik saat muda. Dan psikologis saat inilah yang begitu penting bagi mereka, bagaimana caranya membuat mereka tetap berharga di mata mereka sendiri. Karena terkadang maksud baik kita belum tentu bisa diartikan baik bagi orangtua,karena bisa salah arti. Misal kita terkadang berpikir bahwa menjaga orangtua adalah melarang mereka melakukan aktifitas pekerjaan karena kondisi tubuh mereka kan sudah tidak muda lagi jd kadang rasa kasihan atau takut mereka sakit seringkali yg membuat kita melakukannya. Dan ternyata buat beberapa orangtua yang saat muda adalah orang yang enerjik dan gesit untuk tidak melakukan apapun itu seperti penyiksaan perlahan karena mungkin waktu jadi terasa terbuang begitu lama. Dan pengalamanku adalah hal tersebut membuat stres para orangtua yang dulunya enerjik, dan ketika stres muncul maka muncul beberapa keluhan yang dimanifestasikan oleh tubuh dengan reaksi yang ditimbulkannya,bisa banyak macamnya, karena tubuh responsif terhadap reaksi.

Dan disaat mereka bertambah tua dalam usia dan kemampuan fisik yang berkurang atau sakit. Saat inilah kita membalas budi mereka, dengan bergantian menjaga mereka seperti saat kita kecil mereka menjaga mereka. Ini adalah pendapatku,kl ada yg berpendapat lain buatku tidak masalah karena setiap orang punya keyakinan atau pendapat yang mungkin tidak sama.

Jadi membiarkan mereka melakukan apa yang mereka ingin lakukan adalah penting selama apa yang mereka lakukan masih bisa ditoleransi dan logis. Karena kunci kesehatan adalah "kebahagiaan" yg dirasakan oleh hati karena itu nyata hasilnya. Aku melihat bahwa hati yang bahagia adalah sumber kesehatan sejati.

Bahagia itu berasal dari diri sendiri bukan dari hal lainnya.

Ketika anda merasa tidak bahagia bertanyalah pada diri sendiri,apa yg sebenarnya anda cari?

Saturday, 17 February 2018

Tanpa Judul Lagi....

Terkadang kita merasa tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani.Kadangkala kita merasa tahu apa yang sedang kita jalani dan bahkan kita malah takut dengan apa yang kita jalani.Entah kita sadari atau tidak semua hal tersebut hanyalah satu bentuk kesadaran bahwa kita hanyalah seorang "manusia".

Ketika sisi manusiawi kita yang sedang bekerja atau tidak bukanlah hal yang penting,karena semua hanyalah diri kita apa adanya. Ketika semua hal yang ada dalam diri kita diterima,ya sudah,hanya sesimple itu. Tak perlu dipikirkan kenapa dan mengapa,walau terkadang pikiran menganalisa semua hal dengan otomatis,biarkan saja. Karena itu bukan hal yang penting,yang penting adalah semakin hari kita bisa mengerti apa yang memang seharusnya kita mengerti,jika ada yg belum kita mengerti,biarkan saja,kalau memang kita harus mengerti,semuanya akan diberikan saatnya,jika tidak ya sudah. Tidak usah membuat segala sesuatu menjadi rumit,biarkan saja apa adanya :-)

Friday, 19 January 2018

Kesadaran...

Entah mengapa manusia mempunyai rasa takut akan sesuatu?apakah ada manusia yg tidak memiliki rasa takut?karena aku mempunyai rasa takut dan ketakutan ku yg terbesar adalah diri sendiri....

Banyak hal yg kalau aku boleh jujur yang membuatku takut akan sesuatu,karena kita sendiri yang akan memahami rasa takut apa yang kita miliki.

Diri kita diberikan kemampuan bertahan diri sebagai naluri agar manusia tetap bisa eksis keberadaannya dengan adanya rasa takut.Ketika kita bisa mengendalikan atau menangani rasa takut yang ada dalam diri kita dengan baik,keberadaan diri kita akan tetap ada.Sehingga kita bisa melihat kekuatan diri kita sendiri.Ketika diri kita bisa melihat ketakutan yang ada didalam diri kita,pertanyaannya adalah beranikah kita menantang diri kita sendiri untuk bisa mengendalikan ketakutan itu sendiri?

Karena kuncinya adalah diri kita sendiri dan mungkin disanalah pembelajaran berharga kita yang akan kita dapatkan saat kita menyadarinya dan belajar menerima rasa takut itu.

Semuanya tidak bisa dipaksakan kapan kita siap menerima rasa takut itu,karena kuncinya ada didalam diri kita masing-masing.

Setiap manusia punya ketakutannya sendiri dan setiap manusia diberikan kebebasan untuk tetap berada dalam rasa takut atau melepaskannya.Kita hanya bisa melepaskan rasa takut itu ketika kita menghadapinya bukan lari darinya.

Kesadaran membuat kita bisa menyadarinya.Kita hanya butuh untuk menyadari setiap saat apapun itu dan kita akan paham sesuatu.

Terima kasih untuk pembelajaran tentang apa itu kesadaran,karena memahaminya hanya perlu membiarkan hati terbuka seluas luasnya dan semuanya akan berjalan dengan sendirinya tanpa perlu usaha apapun.Karena semakin kita berusaha untuk memahami sesuatu kita malah seringkali tidak memahami apapun.

Rasakan apa yang memang harus dirasakan dan pahami apa yang memang harus dipahami.Perlahan dan pasti kita akan merasakan apa itu hati yang berkembang dan merekah seperti bunga.Semuanya tidak bisa dijelaskan karena ia tidak perlu dijelaskan.

love for all...it’s one of my beautifull birthday gift

Thursday, 30 November 2017

Entah apa ini judulnya

oSetiap saat yang tampak kita lihat di depan kita apakah sebuah realita? terkadang hal ini tidak bisa terjawab pasti.Seperti saat ketika aku menghadiri pernikahan teman kerjaku, kebetulan aku datang bersama sama teman kerjaku. Yang menjadi fokus perhatian adalah saat aku selesai bersalaman dengan mempelai saat pemberkatan,ak melihat seorang bapak tua yg terduduk dikursi gereja dengan tongkat besi tersimpan disampingnya. Aku menduga bapak ini terserang stroke bila aku melihat kondisi fisik beliau,aku sempat bertatapan mata dengan beliau dan entah apa yang aku lihat di matanya yang aku bisa lihat adalah sorot mata kesedihan, aku sempat ingin menyapanya atau bersalaman dengannya tapi aku urungkan karena takut salah memulai kata kata,ak hanya duduk di barisan kursinya bersama teman temanku. Dan entah kapan datangnya seorang wanita lebih muda usia dari bapak tersebut memberikan makanan cair pada bapak tersebut, aku menebak beliau adalah istrinya. Yang saat itu menjadi perhatianku adalah cara ibu ini menyuapi bapak ini, walau hanya makanan cair tapi ibu ini menyuapi kalau menurutku sedikit tidak manusiawi. Mulut bapak ini dijejali makanan cair tanpa jeda sehingga beberapa makanan cair itu banyak menetes di mulut si bapak itu. Aku meminta temanku yang membawa tisu memberikannya kepada ibu tersebut agar mulut bapak itu tidak belepotan makanan cair, aku tidak tega saja melihatnya, dan temanku memberikan tisu basah pada ibu tersebut dan mereka sempat mengobrol.

Aku hanya berpikir saja, apapun yang pernah dilakukan oleh bapak tersebut sebelum dia sakit atau apapun itu bila pernah dia menyakiti ibu itu atau apapun yang pernah dilakukan, janganlah membuatnya seperti seorang pendosa. Cukup apa yang telah diterimanya dengan kondisinya saat ini saja sudah menjadi sesuatu yg mungkin memang harus dijalaninya,tanpa menambah kesedihan dalam dirinya. Tapi itu semua adalah hal yang manusiawi, tak ada manusia yang begitu sempurna. Apa yang ibu itu lakukan dan apa yang bapak itu terima.

Hidup hanyalah satu bagian memberi dan menerima. Ada saatnya memberi dan menerima...

Hanya sebuah pikiran...