Saturday, 17 February 2018

Tanpa Judul Lagi....

Terkadang kita merasa tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani.Kadangkala kita merasa tahu apa yang sedang kita jalani dan bahkan kita malah takut dengan apa yang kita jalani.Entah kita sadari atau tidak semua hal tersebut hanyalah satu bentuk kesadaran bahwa kita hanyalah seorang "manusia".

Ketika sisi manusiawi kita yang sedang bekerja atau tidak bukanlah hal yang penting,karena semua hanyalah diri kita apa adanya. Ketika semua hal yang ada dalam diri kita diterima,ya sudah,hanya sesimple itu. Tak perlu dipikirkan kenapa dan mengapa,walau terkadang pikiran menganalisa semua hal dengan otomatis,biarkan saja. Karena itu bukan hal yang penting,yang penting adalah semakin hari kita bisa mengerti apa yang memang seharusnya kita mengerti,jika ada yg belum kita mengerti,biarkan saja,kalau memang kita harus mengerti,semuanya akan diberikan saatnya,jika tidak ya sudah. Tidak usah membuat segala sesuatu menjadi rumit,biarkan saja apa adanya :-)

Friday, 19 January 2018

Kesadaran...

Entah mengapa manusia mempunyai rasa takut akan sesuatu?apakah ada manusia yg tidak memiliki rasa takut?karena aku mempunyai rasa takut dan ketakutan ku yg terbesar adalah diri sendiri....

Banyak hal yg kalau aku boleh jujur yang membuatku takut akan sesuatu,karena kita sendiri yang akan memahami rasa takut apa yang kita miliki.

Diri kita diberikan kemampuan bertahan diri sebagai naluri agar manusia tetap bisa eksis keberadaannya dengan adanya rasa takut.Ketika kita bisa mengendalikan atau menangani rasa takut yang ada dalam diri kita dengan baik,keberadaan diri kita akan tetap ada.Sehingga kita bisa melihat kekuatan diri kita sendiri.Ketika diri kita bisa melihat ketakutan yang ada didalam diri kita,pertanyaannya adalah beranikah kita menantang diri kita sendiri untuk bisa mengendalikan ketakutan itu sendiri?

Karena kuncinya adalah diri kita sendiri dan mungkin disanalah pembelajaran berharga kita yang akan kita dapatkan saat kita menyadarinya dan belajar menerima rasa takut itu.

Semuanya tidak bisa dipaksakan kapan kita siap menerima rasa takut itu,karena kuncinya ada didalam diri kita masing-masing.

Setiap manusia punya ketakutannya sendiri dan setiap manusia diberikan kebebasan untuk tetap berada dalam rasa takut atau melepaskannya.Kita hanya bisa melepaskan rasa takut itu ketika kita menghadapinya bukan lari darinya.

Kesadaran membuat kita bisa menyadarinya.Kita hanya butuh untuk menyadari setiap saat apapun itu dan kita akan paham sesuatu.

Terima kasih untuk pembelajaran tentang apa itu kesadaran,karena memahaminya hanya perlu membiarkan hati terbuka seluas luasnya dan semuanya akan berjalan dengan sendirinya tanpa perlu usaha apapun.Karena semakin kita berusaha untuk memahami sesuatu kita malah seringkali tidak memahami apapun.

Rasakan apa yang memang harus dirasakan dan pahami apa yang memang harus dipahami.Perlahan dan pasti kita akan merasakan apa itu hati yang berkembang dan merekah seperti bunga.Semuanya tidak bisa dijelaskan karena ia tidak perlu dijelaskan.

love for all...it’s one of my beautifull birthday gift

Thursday, 30 November 2017

Entah apa ini judulnya

oSetiap saat yang tampak kita lihat di depan kita apakah sebuah realita? terkadang hal ini tidak bisa terjawab pasti.Seperti saat ketika aku menghadiri pernikahan teman kerjaku, kebetulan aku datang bersama sama teman kerjaku. Yang menjadi fokus perhatian adalah saat aku selesai bersalaman dengan mempelai saat pemberkatan,ak melihat seorang bapak tua yg terduduk dikursi gereja dengan tongkat besi tersimpan disampingnya. Aku menduga bapak ini terserang stroke bila aku melihat kondisi fisik beliau,aku sempat bertatapan mata dengan beliau dan entah apa yang aku lihat di matanya yang aku bisa lihat adalah sorot mata kesedihan, aku sempat ingin menyapanya atau bersalaman dengannya tapi aku urungkan karena takut salah memulai kata kata,ak hanya duduk di barisan kursinya bersama teman temanku. Dan entah kapan datangnya seorang wanita lebih muda usia dari bapak tersebut memberikan makanan cair pada bapak tersebut, aku menebak beliau adalah istrinya. Yang saat itu menjadi perhatianku adalah cara ibu ini menyuapi bapak ini, walau hanya makanan cair tapi ibu ini menyuapi kalau menurutku sedikit tidak manusiawi. Mulut bapak ini dijejali makanan cair tanpa jeda sehingga beberapa makanan cair itu banyak menetes di mulut si bapak itu. Aku meminta temanku yang membawa tisu memberikannya kepada ibu tersebut agar mulut bapak itu tidak belepotan makanan cair, aku tidak tega saja melihatnya, dan temanku memberikan tisu basah pada ibu tersebut dan mereka sempat mengobrol.

Aku hanya berpikir saja, apapun yang pernah dilakukan oleh bapak tersebut sebelum dia sakit atau apapun itu bila pernah dia menyakiti ibu itu atau apapun yang pernah dilakukan, janganlah membuatnya seperti seorang pendosa. Cukup apa yang telah diterimanya dengan kondisinya saat ini saja sudah menjadi sesuatu yg mungkin memang harus dijalaninya,tanpa menambah kesedihan dalam dirinya. Tapi itu semua adalah hal yang manusiawi, tak ada manusia yang begitu sempurna. Apa yang ibu itu lakukan dan apa yang bapak itu terima.

Hidup hanyalah satu bagian memberi dan menerima. Ada saatnya memberi dan menerima...

Hanya sebuah pikiran...

Apakah tanpa pilihan adalah pilihan?

Hidup terkadang memberi sebuah hal yang seperti tanpa pilihan. Terkadang kita melihat sebuah hal seperti yang tanpa pilihan, padahal setiap hal dalam kehidupan ini hasil sebuah pilihan. Tak ada yang tidak dipilih walau kelihatannya tanpa pilihan. Karena setiap pilihan mengikuti paketnya, maksudnya adalah bahwa apapun yang kita terima adalah hasil dari pilihan yang kita ambil. Ketika kita memilih berbelok ke kiri atau kanan saat ada dipersimpangan jalan, semua hal yang kita pilih baik itu kiri atau kanan atau bahkan tidak berbelok, lurus sekalipun ada bagian cerita yang akan ditimbulkannya,jadi persiapkan saja diri dengan apapun yang telah kita pilih,tidak mudah memang karena sang pemberi hidup hanya ingin semua bisa dipertanggung jawabkan saja. Dan semua sudah dipersiapkan baik adanya, sesuai dengan niat yang baik.

Friday, 20 October 2017

Desa Ngadas...




Desa Ngadas adalah desa terakhir yang bisa kita temui bila hendak menuju gunung bromo dari kota Malang. Dan disinilah aku mengalami cinta satu malamku mengenal kebersahajaan masyarakat suku Tengger, dan aku bersyukur bisa tinggal bersama keluarga pak Tris sebelum aku menikmati matahari terbit gunung Bromo. Ini semua diluar  perkiraanku kalau akhirnya aku malah bisa bermalam bersama mereka, ini sengaja tidak disengaja, bingung kan?
            Semua berawal karena aku kebingungan mencari tempat bermalam setelah aku mengikuti retret MTO dan ingin mampir bromo sekalian, biasanya aku memang mencari home stay on the spot he he he. Dan ini hasilnya, aku mendapatkan no telp pak Mulyadi yang ternyata beliau adalah mantan petinggi Desa Ngadas sebelumnya. Aku awalnya hendak bermalam dirumahnya, tapi karena ada sesuatu hal diluar teknis akhirnya aku bermalam dirumah adik pak Mulyadi dan untukku bukan sebuah masalah besar, aku terbiasa tidur dimana saja asal gak dingin aja. Ternyata bulan ini adalah musim dingin bagi masyarakat Tengger, aku salah perkiraan, hmm....
            Siang hari aku sudah tiba di desa Ngadas sekitar pukul 1 siang, setelah sebelumnya aku mampir coban Pelangi. Dan aku masuk ke salah satu kamar anak perempuan Pak Tris, ini aku lihat dari foto-foto yang menempel di dinding kamar. Foto anak gadis yang manis menurutku. Kamar yang aku tinggali cukup sempit, persis kalau aku tidur dalam tenda dome kapasitas3- 4orang tapi buatku gak masalah toh aku diterima dengan sangat ramah. Pak Tris memiliki 2orang anak, seorang putra dan putri yang sudah menikah, kebetulan cucu mereka tinggal bersama mereka namanya icha, kurang lebih begitu panggilannya. Usianya sekitar 3 tahun dan amat sangat lengket dengan mbah putrinya, itu yang aku amati. Masyarakat Tengger mayoritas beragama Hindu, tapi aku melihat ada beberapa orang yang menggunakan jilbab, berarti disini juga ada orang muslimnya. Tapi buatku cukup mengamati saja, aku kan bukan pendataan agama he he he.

            Ciri khas yang aku lihat di setiap depan rumah ada tempat menyimpan sesaji seperti rumah Bali tapi rumah disini seperti kebanyakan rumah biasa di pulau Jawa bukan di pulau Bali. Dan aku melihat mereka membuat sesaji didalam rumah, tadinya aku ingin bertanya kenapa diluar rumah aku tidak melihat mereka menyimpan sesaji seperti masyarakat Bali pada umumnya, tapi aku kembali teringat ,” hallooo... ini Tengger bukan Bali.” Mungkin seperti ini cara mereka melakukan ritualnya, kenapa aku menyamakan dengan yang lainnya ha ha ha


            Pada sore hari aku berjalan ke luar rumah dan mencoba berjalan sekitar jalan desa hingga menuju pintu awal masuk desa. Kebetulan rumah pak Tris berada di depan sebuah SD negeri dan aku mencoba mampir ke SD tersebut dan mencoba melihat-melihat ke sekitarnya. Ternyata SD Ngadas ini hanya mempunyai 5 kelas dengan asumsiku satu ruagan pasti dijadikan ruang guru dan kantor, berarti hanya 4 kelas yang bisa dijadikan ruangan kelas dan sejenisnya. Aku melihat atribut ekstra kurikuler bercampur dengan atribut kelas lainnya, kesan yang tangkap adalah kelas ini adalah kelas campuran dan aku melihat kursi dan lainnya dari luar. Aku membayangkan kalau kelas ini adalah kelas kecil,kenapa aku beranggapan begini karena kursi yang disediakan sedikit dan sepertinya di bagi menjadi 2. Aku sempat bertanya jumlah penduduk desa Ngadas pada pak Tris saat aku berkumpul bersama mereka saat menghangatkan diriku di perapian, pak Tris menjawab sekitar 500 KK kurang lebihnya. Berarti kalau saja satu KK mempunyai 2 orang anak dan keluarga muda setengah dari jumlah KK, berarti ada sekitar 250 KK dan jika mereka mempunyai 2 orang anak dan setengahnya masih usia sekolah ada sekitar 100-200 kurang lebihnya anak usia sekolah SD hmm...
                                                                    


            Aku tidak melihat bangunan sekolah SMA disini dan ketika aku tanyakan, memang kalau ingin bersekolah harus ke kecamatan Tumpang, yah cukup jauh dan aku juga mengerti kenapa sekolah menengah atas hanya di Tumpang, dan terbayang akses kesana, tapi ya seperti itulah keadaaannya. Ini mungkin lebih baik jika dibandingkan dengan daerah lainnya yang mungkin jauh terisolir di pedalaman-pedalaman hutan dan mungkin gunung atau pulau terpencil. Tapi ini menjadi gambaran nyata, bahwa realita hidup kebanyakan orang adalah seperti ini. Disamping sekolah SD terdapat polindes, mungkin ini perpanjangan tangan dari puskemas sebagai fasilitas kesehatan yang bisa menjangkau mereka, dan kebetulan Bidan Desanya tidak ada karena pintunya dikunci, dan sempat aku tanya memang sedang pergi. Kemudian berjalan lagi aku melihat balai desa dan sebuah pura yang sepertinya ini adalah pura Desa Ngadas. Sempat aku bertemu dengan masyarakat setempat dan sepertinya mereka terbiasa dengan orang lain desanya, dan mereka pasti tahu kalau aku bukan asli warga desa mereka. Dan aku tersenyum saat bertemu dengan mereka, saat mereka memperhatikanku yang sedang berjalan-jalan sore itu.
            Kebetulan saat aku kesana baru saja musim tanam, jadinya kebun-kebun tidak sedang hijaunya. Mungkin kalau sedang musim panen, akan berbeda suasananya. Tapi aku cukup beruntung karena aku masih bisa mendapatkan sisa cabe Tengger yang bisa aku bawa sebagai oleh-oleh walaupun tidak sebanyak bila sedang panen, lumayanlah.


            Kemudian aku kembali masuk kedalam rumah setelah berjalan menikmati suasana sore hari, rasanya seperti mimpi. Aku kembali menghangatkan diri di dalam rumah dan mengobrol beberapa saat sebelum akhirnya aku memutuskan tidur sebelum dini hari aku berangkat ke penanjakan sekitar jam 3 pagi. Malam ini pasti menjadi malam perjuanganku juga, karena cuaca malam sedang sangat dingin. Sleeping bag sudah aku pakai dan selimut yang ada sudah aku gunakan, tapi masih cukup terasa dinginnya padahal aku didalam rumah. Terbayang saat malam di ranu kumbolo beberapa waktu yang lalu, dinginnya brrrr....


            Dini hari, ibu sulasmani sudah membangunkan aku agar aku tidak kesiangan, dan karena tidurku tidak cukup nyenyak karena dingin jadi aku dengan mudahnya bangun. Persiapan baju dan jaket sudah aku pakai, dengan menggunakan motor trail sesuai yang aku inginkan, pak Tris mengantar aku dengan trek yang lumayan bikin deg degan juga, untung tidak sedang musim hujan jalur tidak terlalu berat hanya pasir biasa.
            Tapi saat di tengah dihamparan pasir, setelah melewati bukit teletubies itulah aku melihat sinar rembulan yang masih dengan utuhya menyinarkan cahayanya. Kalau lagi ngecamp disini kayaknya so sweet banget, tapi apa iya bakalan sweety ya?Ada juga kedinginan campur pasir alias menderita he he he


            Cahaya bulan purnama seakan mengejek aku yang tak bisa menikmati kecantikannya saat itu. Dan hamparan bintang diatas hamparan pasir yang aku lewati dan kabut pagi yang cukup membuat kami kedinginan melengkapi suasana malam itu. Yang jelas suasana malam di tengah hamparan pasir dan cahaya rembulan dan bintang dengan kabut lumayan tebal menemani kami malam itu hingga akhirnya aku menikmati matahari pagi itu. Dan rasanya biasa saja..Yang luar biasa adalah kebersahajaan pak Tris dan Ibu Sulasmani bersama icha yang pemalu yang mungkin masih bisa aku ingat....
           
           

Sunday, 24 September 2017

Ketika tuhan memaksaku mengandalkannya...

Mungkin kata-kata ini sedikit nyeleneh,karena aku membuat judul "memaksa". Ya...ini hanyalah sebuah kata yg aku buat menurut pendapatku saja. ketika kita sering mengatakan tuhan adalah andalanku,seringkali tuhan mempertanyakan dan sedikit ingin melihat pembuktiannya dengan membuat hal-hal ini dibuktikan, tidak hanya sebuah kata. Dan ternyata saat dibuktikan tidaklah semudah mengatakannya karena tuhan begitu tahu kelemahan kita. Yang seringkali lebih mudah mengatakan daripada melakukannya, terlebih diriku.

Seringkali hal yang dilakukan tuhan langsung ke intinya dan kita gelagapan ketika dihadapkan dengan situasi tersebut terlebih jika ternyata kita berharap banyak. Mungkin aku sebenarnya yg seperti itu, berharap pada manusia atau menaruh harapan sehingga lebih menjadi obsesi sebenarnya.

Padahal kita sebenarnya tahu bahwa hal tersebut pasti memberikan kekecewaan, karena semua hal yg diharapkan pada manusia memang seperti itu hakikatnya. Tapi itulah hebatnya sang penguasa hati tahu apa yg menjadi kelemahan kita dan sandungan kita. Karena hal itu yang akan diulang ulang dilakukan oleh manusia, seperti maaf yg seringkali diucapkan berulang ulang, sehingga memaafkan pun tak pernah ada batasannya.

Semua memang harus seringkali kita sadari berulang ulang. Semua karena keterbatasan diri fisik kita. Banyak hal yang membuat tuhan akhirnya "memaksa" kita untuk bisa menyadari bagaimana sebenarnya mengandalkannya bukan hanya sekedar slogan atau kata.

Friday, 22 September 2017

Asumsi dan Pendapat

Ternyata hal ini mungkin yang membuat diriku seringkali tersandung. Pendapat atau asumsi sesuatu hal yang seringkali membuat kita berkonflik karena kesalah pahaman. Aku sadar hal ini setelah aku mendapat pembelajaran tentang kondisi ini. Saat aku mempunyai pendapat atau berasumsi sesuatu itu kemungkinan itu hanya halusinasiku saja ha...xx Karena asumsi seringkali membuat kita berpikir sempit, seperti yang pernah aku rasakan, sampai aku tersadar dengan hal ini.

Kondisi dan keadaan seperti ini mungkin karena pikiran kita begitu kuat mendominasi diri kita. Aku yang begitu dominan dengan pikiran akhirnya menyadari sedikit demi sedikit kondisiku ini. Selama ini mungkin aku belum tersadar bahwa aku seringkali berpendapat dengan pikiranku sendiri, pembenaranku sendiri yang sebenarnya belum tentu benar pendapatku tersebut.

Aku disadarkan oleh kondisi juga bahwa tidak semua orang bisa senang dengan asumsi kita dan terkadang asumsi membuat sesuatu menjadi tidak baik.

Ya, aku paham dengan caramu menyadarkanku dan aku memang keras kepala jadi menyadarkanku tenyata butuh sesuatu hal yang langsung menohok jantungku mungkin. Astaga begitu kerasnya diriku...

Perlahan dan pasti caramu melembutkan diriku pasti berhasil...

Buka hatiku selalu...