Wednesday, 14 November 2012

Jiwa dan Keseimbangan...

Pernahkah kalian berpikir atau membayangkan apa yang terjadi saat tubuh dan jiwa terpisah?

Terkadang aku berpikir tentang itu semua. Seperti apakah rasanya? Bukannya aku ingin merasakannya sekarang, tetapi pikiran nakal selalu mengelitik diriku. Selama kita hidup jiwa dan tubuh menjadi satu kesatuan dan terikat oleh sesuatu yang membuatnya menjadi “senyawa”. Dan tubuh kita terdiri dari berbagai macam proses kimiawi yang sangat rumit. Dan setiap bagian mempunyai mekanisme kerja masing masing yang membuat segala sesuatu berjalan semestinya. 

Sistem itulah yang membuat kita merasakan kehidupan.

Itu kalau kita berpikir menggunakan logika. Tapi hidup terkadang tidak hanya sekedar logika, karena tubuh tidak terdiri dari sekedar fisik saja yang bisa dilihat secara kasat mata. Ada bagian lain yang membuat tubuh fisik kita menjadi “ hidup”. Ketika bagian fisik kita “sakit”, segala sesuatu menjadi mudah terlihat, karena tubuh mempunyai “alarm” otomatis.

Tapi ketika bagian lain yang bukan fisik yang terganggu itu yang lebih sulit untuk memahaminya. Karena jiwa adalah “roh” yang adalah “tubuh” yang tidak bisa kita lihat dengan nyata. Padahal jiwa dan fisik adalah sebuah kesatuan yang dinamis dan saling bersinergi satu dengan yang lainnya. Terkadang bagian ini yang sering terlupakan dan kurang diperhatikan keberadaannya. Bukan berarti kita harus berurusan dengan hal hal “mistis”, tapi jiwa adalah sumber kehidupan yang sebenarnya menurut pendapatku.

Karena ketika jiwa terlepas atau terpisah dari “tubuh” kita, tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh tubuh itu. Ia hanya akan bisa diam dan tak bereaksi, tak ada lagi proses kimiawi atau fisika yang terjadi. Jadi secara otomatis ada sesuatu dalam diri yang akan selalu ingin dipenuhi dan dianggap keberadaannya. Itulah "jiwa"...

Seperti halnya tubuh fisik yang berkembang, aku berpikir jiwa pun sama halnya ia ingin bertumbuh dan berkembang mencari kepenuhan “diri”. Berkembang dan bertumbuh dengan tahapan tahapan. Tak ada yang terjadi dengan “instan” semua melalui proses. Dan proses itulah yang menjadi bagian utama.

Menjadikan semuanya seimbang itu yang harus dilakukan, karena keseimbangan adalah tolak ukur adanya “kehidupan”. Tak ada yang berat sebelah sehingga memiliki arti yang sebenarnya.

Jiwa adalah inti.

Inti dari sebuah “kehidupan”...

Monday, 5 November 2012

Catatan Harianku Merengkuh Kegagahan Semeru...


Kamis, pukul.08.15

Persiapan awal perjalanan menuju Pasar Senen, menggunakan angkutan bus jurusan kp.rambutan. Dua orang temanku tresno dan pakde kismo menunggu diterminal Klari jam.10 pagi sesuai rencana awal. Tapi setelah packing ulang, ternyata sepertinya aku pasti telat kalau harus ketempat yang sama. Akhirnya, aku memutuskan menunggu digerbang perumnas saja daripada waktu terbuang percuma dan kedua temanku pun setuju. Karena lelah selama perjalanan aku tertidur kecuali saat dalam busway, kondisi busway sekarang berbeda saat pertama dikenalkan pada khalayak umum, kesan yang aku tangkap kenyamanannya sekarang berkurang. Akhirnya tiba di Stasiun Pasar Senen dan langsung melakukan cek in seperti di bandara saja, KTP asli dan tiket diteliti apakah ada ketidaksesuaian atau tidak. Kelebihannya mungkin meminimalisir calo sehingga lebih tertib.

Pukul. 14.05 WIB

Kereta Matarmaja mulai diberangkatkan sesuai jadwal yang tertera dan perjalanan menuju Malang dimulai, sepanjang kurang lebih sekitar 18 jam aku akan duduk didalam kereta. Aku sengaja membeli dua tempat duduk agar bisa sedikit beristirahat, karena pertimbangan lamanya perjalanan dan aku butuh stamina yang lumayan fit. Selama perjalanan aku lebih banyak tertidur karena memang kereta yang aku naiki adalah kereta malam jadi pas kan. Dua orang temanku aku biarkan asik bercengkrama diantara mereka, sedangkan aku menikmati mimpiku sendiri ha ha ha

Sesekali aku terbangun hanya untuk sekedar mengisi perutku atau melihat sudah sampai manakah perjalanan kami. Aku sempat mengingat apakah ada barang barang yang tertinggal, karena biasanya ada yang tertinggal. Adikku sempat beberapa kali menghubungiku karena sesuatu hal yang ditanyakannya. Aku beruntung adikku bisa pulang dan menjaga ibuku yang sempat sakit jadi aku sedikit tenang. Padahal kami sempat bertengkar karena salah paham saja, aku yang sempat membatalkan rencana keberangkatan tertolong oleh kebaikan adikku yang sangat sangat mengerti tentang diriku. Itulah kelebihan kami, saling mendukung satu sama lain walau terkadang ada bumbu ribut ributnya dulu. Aku ingat kata kata adikku saat aku membatalkan rencana pada awalnya, “ mbak...ayu tahu kalau trip ini sudah dipersiapkan jauh jauh hari apalagi ngatur libur kamu kan agak ribet, jadi lanjut aja jangan batal biar nanti ayu dari Bandung pulang kamis pagi,lagian bolos kuliah satu hari kan gak papa, belum pernah bolos ini, kecuali ada tugas besar, tenang aja,percaya kan?” adikku berbicara saat ditelpon semalam sebelum keberangkatanku. Aku sangat percaya adikku, tapi juga aku gak mau kalau kuliahnya jadi korban hanya gara gara salah satu mimpiku. Tapi adikku cukup bisa menyakinkanku pada akhirnya.

Dikereta Matarmaja ini kami bertemu tiga orang teman baru yang mempunyai tujuan yang sama ke Semeru, yaitu Arif, Gilang, dan Himan asal mereka dari Kemayoran. Akhirnya kami sepakat menjadi teman satu perjalanan ke Semeru menggunakan jeep.

Jumat, pukul.08.10

Tiba di Stasiun Kota Baru, Malang. Kami sempat bingung karena memang belum pernah kesini, sedangkan tiga jagoan Kemayoran tadi harus mencari persyaratan kesehatan dulu di Malang jadi kami berpisah dahulu disini. Sebenarnya disini juga kami bertemu dua orang pendaki lainnya tapi mereka berencana mendaki gunung Arjuna Welirang. Akhirnya kami memutuskan untuk menambah beberapa logistik disini dan aku menggunakan kesempatan ini untuk bertanya rute menuju Tumpang. Seorang ibu yang baik menyarankanku untuk menggunakan angkutan kota dengan kode ADL karena lebih cepat daripada yang lainnya menurut beliau. Akhirnya memang kami sampai diterminal arjosari sekitar 15 menit lebih kurangnya, kemudian kami lanjutkan menuju Pasar Tumpang menggunakan angkutan kota sekitar kurang lebih 30 menit. Sebuah Jeep berwarna hijau lumut sudah menanti kedatangan kami dan sepertinya mereka mengerti dan menyambut kami bertiga. Kami tiba sekitar pukul.11 siang dan harus menunggu beberapa saat karena baru kami bertiga yang tiba disini. Sambil menunggu rekan kami dari Kemayoran tadi, aku mencoba mencari beberapa hal yang bisa aku lakukan untuk menambah logistik nanti. Ditambah hp ku low batt aku kemudian mencharge disamping AlfaMart dan mengisi perutku yang keroncongan he he he

Sekitar pukul setengah 12, Arif, Gilang, dan Himan turun dari angkot dan kami tertawa lega akhirnya bertambah 3 orang lagi, lumayan buat sharing ongkos Jeep. Kami masih menunggu hingga waktu menunjukkan pukul 12 lebih dan belum ada tanda tanda rekan baru lagi, tadinya ada sekitar 5 orang wanita yang akan naik bersama kami tapi tiba tiba menghilang tanpa alasan yang jelas. Karena hari semakin siang dan kami harus tiba di Ranu Pane sebelum sore hari, akhirnya kami memutuskan lanjut saja seadanya tapi kami sempat melakukan penawaran harga karena kami hanya berenam, setelah deal, perlengkapan kami diatur diatas Jeep dan kami siap berangkat.

Ketika akan berangkat  tiba tiba ada sebuah angkot memutar dan keluarlah beberapa orang membawa tas keril yang ternyata akan menuju ke Semeru juga. Ternyata ada 5 orang lagi tambahan rekan perjalanan kami nantinya, seperti malaikat penyelamat saja mereka. Mereka adalah Roy, Trias, Gepeng, Okta,dan Reza, datang dari Purwokerto menggunakan kereta Gaya Baru Malam jadi baru tiba dari Surabaya tadi pagi dan lanjut menuju Malang. Akhirnya kami bertambah menjadi 11 orang dan kami sepakat untuk menjadi satu rombongan saja, dan aku akhirnya menjadi wanita satu satunya dalam perjalanan ini. Seperti putri salju ditemani 10 kurcaci saja jadinya. Selama perjalanan kurang lebih 2 jam kami sempat berhenti sejenak untuk berfoto mengabadikan sebuah tempat dimana kaldera pasir Bromo tampak jelas terlihat dari atas.

Pukul. 14.20 WIB.

Tiba di pos Ranu Pane, dan disini kami mulai melakukan pengisian formulir pendakian. Aku segera memanfaatkan waktu yang sempit untuk mandi karena selama dalam kereta sepertinya keringatku keluar lumayan banyak dan debu selama perjalanan dalam Jeep. Terlebih nanti aku pasti tidak akan sempat mandi tidak seperti di Segara Anakan, jadi manfaatkan kesempatan yang ada ha ha ha
Ternyata air yang aku pakai untuk mandi sangat jauh dari jernih padahal air mengalir, tapi sudahlah yang penting aku mandi dan keramas.
Selanjutnya kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo, sebelumnya kami sempat foto bersama, dasar banci kamera semua ternyata ha ha ha (termasuk aku...)

Pos I  ( Ladengan Dowo )

Terdapat dua buah shelter yang masih sangat terawat dengan baik, kami tempuh sekitar satu jam lebih untuk shelter I, dengan trek yang agak sedikit menanjak tapi masih cukup landai. Disini kami sempat beristirahat sejenak dan disini pula kami bertemu 2 orang teman perjalanan dari Sidoarjo, mas Page dan mas Jonjot kalau aku gak salah dengar. Perjalanan awal masih cukup bersahabat  kecuali untuk temanku pakde kismo ha ha ha (seperti biasa lagu lama, ternyata berat badan menambah beban he he he pizzz pakde...)

Shelter II  cukup terawat tapi masih sangat baik shelter I, tapi lumayan untuk beristirahat dan disini aku tidak lama berhenti. Jarak yang ditempuh menuju shelter II sekitar setengah jam dengan trek masih cukup landai. Aku masih bisa tersenyum dan bertanya pada Roy berapa jarak pos selanjutnya, Roy menjawab ,” setengah jam...”.
Aku sempat melihat peta petunjuk yang tertempel pada shelter  dan terlihat kalau dari gambar tidak menunjukkan kedekatan apalagi setengah jam menuju Watu Rejeng. Malah sepertinya pada gambar jarak pos ini menuju pos selanjutnya terlihat paling jauh, sepertinya?

Pos II ( Watu Rejeng )

Perjalanan dari Watu Rejeng menuju Ranu Kumbolo yang sedikit agak panjang. Ada dua buah shelter yang akan kami temui. Shelter yang selanjutnya yang kami temui rusak, tinggal atapnya saja yang tersisa karena tiang penyangga patah dan tidak bisa digunakan untuk beristirahat kecuali lesehan dibawah sebuah pohon. Jarak yang kami tempuh menuju shelter ini lumayan panjang sekitar 1,5 jam dengan trek yang masih cukup landai dan beberapa turunan saja, masih dengan melipir punggungan bukit.

Dari shelter yang rusak ini hingga shelter selanjutnya trek agak sedikit menanjak tapi masih cukup landai di beberapa tempat. Lumayan sedikit berkeringat, jarak tempuh hingga shelter terakhir sebelum Ranu Kumbolo sekitar satu jam lebih. Hari mulai gelap saat kami mulai menuju shelter terakhir ini, sehingga lampu mulai digunakan dan ternyata head lampku tidak bisa menyala dengan terang. Akhirnya aku mengikuti cahaya lampu mas Jonjot dan mas Pakeh saja he he he

Beberapa teman menunggu sebelum kami menuju Ranu Kumbolo dan memastikan kalau kami sudah sesuai formasi awal. Dan ternyata tinggal dua orang temanku yang belum hadir yaitu Tresno dan Kismo, mereka bertanya padaku apakah akan ditunggu atau tidak. Aku memutuskan untuk menunggu mereka di Ranu Kumbolo saja. Pertimbanganku hari sudah mulai malam dan dingin, butuh istirahat dan logistik untuk yang lainnya,toh Ranu Kumbolo sudah didepan mata. Aku cukup kenal teman- temanku dan Tresno membawa perlengkapan tenda dan logistik yang cukup jadi kalau mereka memutuskan beristirahat ditempat lain cukup aman kok.

Pukul. 19.15 WIB

Akhirnya tiba di ranu Kombolo...

Dan ternyata ada banyak tenda sudah berdiri disini,rupanya banyak yang bermalam disini. Sekitar 7 tenda sudah berdiri belum termasuk kami. Ditambah  ada sebuah shelter yang besar dan tampaknya ramai dan penuh orang yang memilih tidur tanpa tenda. Kebanyakan orang menginap dishelter pada malam itu, karena sehari sebelumnya mereka melakukan evakuasi enam orang pendaki berasal dari UNJ  ( Jakarta ) yang tersesat dipuncak selama dua hari . Pendaki dari UNJ berjumlah sembilan orang, dan tiga orang yang bisa turun selamat yang memberi informasi tentang enam orang teman mereka yang hilang. Dan semuanya diketemukan dalam keadaan selamat walau kondisinya dehidrasi berat, menurut cerita seorang mas dari komunitas pencinta alam Malang yang melakukan evakuasi tersebut.

Beberapa teman mendirikan tenda dan aku akhirnya memutuskan untuk memasak air dan makanan, sambil menunggu tenda berdiri. Suasana malam di Ranu Kumbolo sangat dingin entah berapa derajat, tapi cukup membuatku mengigil. Langit malam sangat cerah, terlihat dari semaraknya bintang berjejer diatas kepalaku memamerkan cahaya cantik yang dimilikinya. Pokoknya cute deh, pesona malam Ranu Kumbolo yang eksotis.

Akhirnya dua orang temanku tiba sekitar pukul.20.30 lebih, dan langsung mendirikan tenda. Beberapa orang yang lainnya ada yang langsung tertidur, sedangkan aku memilih menikmati suasana malam. Toh matras sudah tergelar diluar, jadi tinggal dimanfaatkan saja.
Lama lama dingin juga, akhirnya setelah membereskan peralatan, aku memilih menikmati ranu kumbolo dari dalam tenda saja, lumayan hangat. Roy aku ajak duduk ditenda kami karena yang lainnya sudah tertidur rupanya. Dan kami sempat bercerita tentang pengalaman masing masing sambil menikmati suasana. Roy lumayan juga pengalamannya, mereka berlima memang berangkat dari purwokerto kecuali Okta. Yang sudah ke Semeru Roy dan Okta, selebihnya seperti aku pengalaman pertama uhhuyyy...
Tak terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam dan semakin sepi, akhirnya kami tertidur juga.

Sabtu, pukul 04.50 WIB.

Aku terbangun dan teman temanku sepertinya masih terlelap sebagian, aku buka pintu tenda dan taraaaa...Sunrise Ranu Kumbolo, tepat didepan mataku. Hmmm...
Setelah cukup menikmati suasana pagi dan dinginnya Ranu Kumbolo kami melanjutkan perjalanan selanjutnya menuju Kalimati.

Pukul. 10.05 WIB.

Perjalanan awal mendaki Tanjakan Cinta, beberapa orang bertanya tentang mitos yang ada, buatku pribadi itu hanya sekedar mitos yang diciptakan untuk memberi semangat saat menanjak ditanjakan curam ini. Masalah ada yang percaya dan menyakini mitos tersebut itu masalah personal. Aku sengaja melakukan hal hal yang berlawanan dari mitos tadi, bukannya sombong atau tidak percaya. 

Realitis saja, mitos pertama naek tanjakan cinta tidak boleh berhenti, masak aku mau naek tanjakan cinta tanpa berhenti kapan nafasnya?untukku tidak mungkin dan terbukti kalau aku berhenti berkali kali, dipikirnya aku ikan bisa bernafas tanpa istirahat. Mitos kedua jangan menoleh, aku malah setiap berhenti selalu menoleh kebelakang, karena ketika aku menoleh kebelakang ada pemandangan indah yang berbeda suasananya setiap langkahnya. Semakin menanjak dan menoleh kebelakang semakin menawan pesonanya. 

Jadi aku sangat tidak setuju saat menaiki tanjakan cinta kita tidak boleh menoleh, sayang banget kalau tidak menoleh  ke belakang, rugi besarlah. Aku mensugesti beberapa mas mas dari surabaya yang mendaki berbarengan denganku untuk menoleh ke belakang, sepertinya mereka setuju kalau pemandangan dibelakang kita wajib dinikmati (semoga tidak terpaksa...) he he he ( Saat sore hari berdiri atau duduk dibawah pohon di atas tanjakan cinta suasananya romantis buatku, sayang aku sendirian ha ha ha )
Setengah jam aku menaiki tanjakan cinta dan menikmati sensasinya.

Selanjutnya Oro Oro Ombo...

Sebuah padang sabana yang cukup eksotis, terlebih bila saat melewatinya hari mulai beranjak sore hari. Saat pulang dari puncak aku merasakan sensasi Oro Oro Ombo senja hari, sempat aku beristirahat dan rebahan ditengah sabana sejenak. Sepi dan cukup syahdu, lebay...

Pos Cemara Kandang...

Mulai memasuki vegetasi hutan cemara, dan banyak pohon tumbang  disini, ternyata asik juga  untuk dijadikan tempat sekedar mengambil nafas dan beristirahat. Karena trek disini mulai menanjak hanya sedikit yang landai dan sepertinya kita mulai mendaki bukit. Walau tidak sebanyak bukit penderitaan Rinjani tapi cukup menguras air minum rupanya. 

Perjalanan ditempuh sekitar 1,5 jam sampai daerah jambangan, yaitu sebuah tempat sebelum Kalimati, yang sekelilingnya dipenuhi dengan beberapa tanaman edelweiss yang sedang bermekaran dan pepohonan cantigi. Bila kita beristirahat sejenak disini serasa berada dalam sebuah taman edelweiss, dengan latar belakang puncak mahameru menjulang gagah. Aku sengaja menikmati puncak Mahameru dari sini, sesekali kabut tampak bermain main dengan Mahameru yang gagah.
Dari jambangan sampai dengan pos Kalimati membutuhkan waktu kurang dari satu jam dengan trek yang cukup landai dan menurun.

Pos Kalimati...pukul.13.45 WIB


Disini terdapat sumber mata air yaitu Sumber mani yang banyak dijadikan tempat mendirikan tenda. Karena disini tempatnya sangat luas dan terdapat shelter yang cukup besar, walau tak  seperti shelter di ranu Kumbolo. Kami sempat beristirahat disini dan beberapa orang temanku mengambil persediaan air untuk di Arcopodo. Aku sempat mengobrol dengan beberapa orang yang ternyata baru saja turun dari puncak, mereka bermalam disini dan jumlah mereka sekitar 2 orang wanita dan 5 orang pria. Mereka tergabung dalam tim gabungan Mapala UGM, mereka bercerita dengan semangatnya karena mereka semua sampai puncak mahameru. Sampai sampai mereka memberikan tongkat kayu mereka untukku, biar ketularan muncak kali dan aku berikan pada temanku saja toh aku sudah bawa tongkat saktiku he he he

Karena yang lain masih mengambil air, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju arcopodo bersama mas page dan mas jonjot, duo sidoarjo. Tapi sebelum berangkat aku berpikir untuk meninggalkan tas kerilku disini, tapi karena rombongan tim kami memutuskan bermalam di arcopodo semua. Terpaksa aku menitipkan tas kerilku pada mas mas dari surabaya yang bermalam disini. Aku meminta ijin pada mereka dan beruntung mereka mau terpaksa menerima tas kerilku, jadi aku hanya membawa day pack hijauku yang kuisi perlengkapan summit sisanya aku tinggal. Terimakasih mas dari Surabaya.

Aku melanjutkan perjalanan menuju arcopodo sekitar pukul tiga sore, dengan ditemani duo sidoarjo. Aku melanjutkan perjalanan, sedangkan dua temanku dan tim purwokwerto masih beristirahat sambil mengisi persediaan air untuk diatas.

Trek menuju Arcopodo masih menanjak dengan lintasan yang mulai bercampur material debu dan pasir halus, sehingga debu sering berterbangan disini. Masker sangat membantu menjaga pernapasan disini. Kami tiba disebuah tempat yang cukup bisa mendirikan 3 buah tenda kami nantinya, setelah menempuh perjalanan selama 1 jam lebih 15 menit. Dan duo sidoarjo segera mendirikan tenda disini, aku memasak air dan nasi serta lauk sekedarnya untuk menganjal perut saja. Tak lama kemudian Gepeng dan okta datang dan segera mendirikan tenda, kemudian tresno dan  kismo terakhir mendirikan tenda. Ternyata arcopodo lebih dingin dan  ada yang lebih dulu tinggal disini Niken dan pacarnya, mereka bermalam disini sebelumnya. Waduh dinginnya kayak gini dan minim air, kalian nekat juga.

Aku secepatnya memilih masuk tenda karena tidak tahan dingin euy...
Kami pun segera beristirahat untuk persiapan summit dini hari nanti.Dan akhirnya penantian itu tidak sia sia!

Monday, 29 October 2012

Magnet Kegagahan Mahameruku...


Alarm berbunyi....

Sepertinya aku mendengar dari tenda sebelah, dan aku terbangun. “ Jam berapa mas...?,” tanyaku pada tenda sebelah. Entah mas Page atau mas Jonjot berteriak, “ jam satu..” Karena suara kami sudah bersahutan berarti orientasi kesadaran kami sudah bukan dalam mimpi. Aku mulai membangunkan teman temanku dan tenda sebelah lainnya, dan persiapan summit dimulai. Sebelum memulai pendakian kami sempat menyeduh minuman hangat, lumayan buat penghangat tubuh.

Pukul.02 pagi...

Pendakian menuju puncak Mahameru dimulai, kami berkumpul bersama dan berdoa sebelum pendakian dimulai. Udara semakin menusuk kedalam tulang dan semakin terdengar berhembus lumayan kencang, akhirnya duo sidoarjo memulai pendakian dan yang lainnya menyusul. Aku dan dua rekannku berjalan dibelakang mereka, dibelakang kami purwokerto cs masih membereskan beberapa hal dan Niken masih berada ditendanya. Headlamp mulai kami nyalakan dan selangkah demi selangkah pendakian ini dimulai, ditemani tongkat sakti aku memulai perjuanganku. Kami masih menapaki vegetasi hutan dengan beberapa tempat terdapat jurang pada sebelah kanan kami. Beberapa kali kami melewati prasasti yang saat kami lewati masih belum jelas siapa pemiliknya.
Beberapa kali pemandangan kota Malang dan sekitarnya sempat menyita perhatianku dan seperti biasa aku selalu terpesona dengan hal hal seperti ini, walaupun hal seperti ini bukanlah sesuatu yang aneh tapi buatku selalu menarik. Ada suasana dan nuansa yang berbeda untuk hal yang terlihat sama, itu yang selalu aku rasakan.

Angin sesekali terdengar mempermainkan dedaunan dan menimbulkan suasana yang “mistis” he he he Mungkin hanya imajinasiku saja yang sedikit ketakutan hingga sedikit berlebihan menafsirkan suasana dini hari itu. Sampai akhirnya batas vegetasi itu mulai terputus dan langit terlihat jelas, bayangan kegagahan Mahameru didepan terlihat samar samar. Kaki ini mulai menapaki jalur ber pasir  walaupun trek belum menanjak. Satu jalur pendek yang sepertinya kanan dan kirinya adalah jurang, mungkin ini yang namanya “Kelik” aku sendiri tidak paham. Setelah daerah tadi jalur mulai menanjak, belum terlalu curam tapi sudah mulai terasa.

Semakin keatas sepertinya trek mulai tidak bersahabat, memang tidak seperti gambaran orang yang bilang kalau naik 3 langkah turun lima langkah. Aku berusaha untuk tidak terlalu banyak merosot, aku harus berusaha menancapkan sepatu depanku sebagai tumpuan, dibantu tongkat pada salah satu tanganku. Dan berusaha mencari batu batu besar sebagai pijakan utamaku, walau ini berbahaya bagi orang yang ada dibawahku tapi aku berusaha seaman mungkin dan memperingatkan orang bila aku salah pijakan.

Awal pendakian aku memulai dengan target 5 langkah pelan dan berusaha tidak merosot banyak cukup satu langkah saja he he he. Memang agak sulit tapi aku tidak mau berkutat dengan cerita cerita kemerosotan yang hanya membuat stres. Aku sangat perlahan tapi berusaha pasti naik, selalu berusaha membuat target berapa aku harus melangkah dengan sedikit merosot. Aku juga menargetkan waktu aku untuk tiba dipuncak adalah pukul delapan  pagi, pertimbanganku adalah itu batas maksimalku bisa menikmati Mahameru. Badanku mungkin tidak terlalu kurus alias agak sedikit montok jadi mungkin bisa menambah beban saat menapaki trek dan lebih mudah merosot. Tapi aku harus bisa sampai diatas apapun caranya. 

Tapi ada senyum kebahagiaan, saat aku mulai kelelahan ketika beristirahat ditengah trek. Dan terduduk melihat cahaya lampu kota yang ada dibawah kita terlihat jelas dalam gelap dan bayang samar Arcopodo dan  sekitarnya, dan semilir udara dingin membuat sensasi tersendiri. Beberapa kali aku sengaja duduk sambil menikmati suasana tersebut. Rasanya saat itu aku ingin disini saja.

Ada temanku yang selalu mengingatkan waktu yang sudah kami tempuh dan aku sangat tidak suka cara itu. Aku sudah membuat batasan waktuku sendiri dan cara temanku itu hanya akan membuat aku stres, walau mungkin maksudnya baik untuk mengingatkan.

Semakin keatas semakin terasa berat langkah ini, kakiku semakin berkurang kekuatannya untuk menumpu dan ini yang membuatku sedikit stres. Langkahku semakin lambat dan berkurang, apalagi jika ada orang yang cepat langkahnya dan menyusul langkahku. Rasanya ingin bertukar kaki. Pagi itu sepertinya banyak orang yang ingin merengkuh Mahameru. Rombongan kami yang menginap di Arcopodo saja berjumlah 13 orang, Mas dari Surabaya yang aku titip tas kerilku dan menginap di Kalimati berjumlah sekitar 6 orang kalau tidak salah ingat, Empat orang bule dari Perancis yang sempat aku sapa bersama seorang guide. Jadi sangat ramai pendakian pagi itu, dan sudah berapa orang menyalip aku tapi aku berusaha fokus dengan diriku. Akhirnya sang mentari sedikit demi sedikit mulai membiaskan cahayanya saat aku masih ditengah perjalanan. Hampir dua jam lebih perjalanan, aku masih jauh dari puncak. Sunrise pun aku nikmati ditengah perjalanan, dan siluet Mahameru hanya aku bisa nikmati dan aku abadikan dalam memori ingatanku saja.

Dibawahku ada Reza yang sempat aku tanya, “ mana tugunya Reza..?”.

“Itu mbak diatas...,” jawab Reza.

“Yang mana sih?.” Aku mencoba memahami arah yang dimaksud Reza, tapi aku belum paham tugu yang dimaksud. Sambil berusaha mencari tugu yang dimaksud dan terus menapaki jalur pasir berbisik, karena kakiku semakin terasa nyeri dan langkah kakiku mulai bertambah lambat karena kelelahan. Tapi perjuanganku tak boleh sampai disini, semua harus berakhir di puncak Mahameru. Mengingat semuanya yang telah berkorban agar aku bisa merengkuh Mahameru dan memeluknya. Teringat adikku dan ibuku dan semua yang menginginkan salah satu mimpiku tercapai, aku tak tega membuat cerita sedih hanya karena aku menyerah. Aku harus sampai.

Aku dan Niken akhirnya bisa berbarengan mendaki, jarak kami tidak terlalu jauh dibandingkan lainnya. Dan aku selalu berusaha mencapai “tugu” yang terlihat tidak jelas dan menjadikannya patokanku untuk target pencapaianku. Aku akhirnya mulai kepayahan dan temanku akhirnya harus menyeretku naik. Walau diseret, bebanku masih terasa berat karena pernafasan mulai sedikit sesak dan aku berusaha mengatur pernafasanku.
Sedikit demi sedikit akhirnya “ tugu “ itu mulai terlihat tapi agak sedikit aneh menurutku, kenapa tugu itu terlihat tampak kecil dan sepertinya kenapa posisinya agak aneh?
Karena rasa lelah aku sudah tidak peduli segala hal yang terlihat aneh yang penting “tugu” mulai tampak. Aku mulai bersemangat dan akhirnya semakin dekat dengan “tugu” dan ternyataa...

Hanya sebuah bongkahan batu besar dengan botol aqua isi 500 liter kosong yang terpasang terbalik dengan mulut botol berada dibawah dan tersangkut paku atau entahlah apa yang membuatnya tidak terbang tertiup angin. Inilah “TUGU ABAL ABAL” yang menjadi targetku tadi. Aku tertawa dan beberapa temanku juga tersenyum. “ Reza..... ternyata Tugu Pancang Aqua bukan tugu Pancoran lagi,” rasanya ingin berteriak seperti itu. Tapi tugu ini juga berjasa membuat aku bersemangat mendaki Mahameru dan hampir separuh lebih perjalanan kaki ini melangkah untuk bisa mencapai Tugu ini. Sepertinya kekecewaanku masih butuh waktu untuk terobati.

Rasa lelah semakin mengerogotiku, rasa stres perlahan tapi pasti mulai menganggu konsentrasiku. Aku harus berjuang memotivasi diriku sendiri dan mulai mengisi pikiranku dengan cerita teman temanku yang sudah mencapai puncak lebih dulu dan membayangkan kebahagiaan yang sama saat bisa merasakan hal yang sama juga. Beberapa kali temanku mengingatkan kalau puncak sedikit lagi dan aku mulai tidak percaya kata kata itu lagi. Aku sudah hampir empat jam menapaki jalur pasir berbisik ini dan rasanya pasir ini mulai mengeluarkan bisa bisa kelelahan. Rasanya ingin merangkak dan kalau perlu tak perlu lagi melangkah. Batu batu mulai berkurang dan pijakan semakin berat dengan kecuraman yang membuat tanganku harus menapaki pasir langsung beberapa kali. Tongkat memang cukup membantu tapi ada saatnya harus mengandalkan tangan langsung.

Semakin lelah dan stres, dan aku harus terus memotivasi diriku.

Aku belum melihat orang turun dari puncak, jadi aku belum bisa bertanya pada mereka berapa lama aku masih harus mendaki dan aku melihat Niken diatasku menapaki jalur dengan kelelahan juga. Yah, hanya aku dan Niken yang berjenis kelamin wanita, sisanya pria. Dan kami berdua berusaha ingin merasakan hal yang sama. Merasakan bagaimana Mahameru membuat kami tersenyum dan menangis haru. Mahameru menempa kami dan membuat kami tidak menangis dan menyerah saat kami kelelahan dan rasa nyeri mulai menjalari kaki kami.

Saat puncak belum juga terlihat...

Aku salut juga dengan Niken fisiknya oke, secara usia memang Niken masih muda tapi aku tak boleh kalah dengannya. Aku harus punya semangat untuk meraih Mahameruku..
Akhirnya aku bertemu dengan bule yang turun dari puncak dan aku bertanya pada salah satu dari mereka tentang sisa waktu tempuhku hingga puncak. Dan dengan sopan ia menjawab pertanyaanku. “20 menit lagi...,” sambil sedikit memberi penjelasan tentang rute trek yang katanya mudah. Aku percaya pada mereka untuk masalah waktu tapi untuk trek rasanya tidak juga mudah.

Tapi yang penting aku mempunyai gambaran kenyataan tentang waktu dan aku menyesuaikan dengan kondisiku dan rasanya aku bisa sampai ke puncak. Karena waktu yang tersisa hingga pukul delapan masih ada satu jam lebih, jadi aku yakin bisa. Aku semakin bersemangat untuk mencapai Mahameru apapun kondisinya. Tapi dibawahku masih ada seorang temanku yang entah dimana posisi terakhirnya, Reza  dan seorang mas dari surabaya yang sepertinya sudah kelelahan juga. Sempat temanku yang bersamaku meragukan teman kami yang dibawah kami akan bisa mencapai Mahameru dengan batas waktu yang ada, tapi sudahlah semuanya harus terus berjalan apapun keadaannya.

Selangkah demi selangkah aku mulai terus menapaki jalur berpasir dan mulai sedikit meruncing jalurnya, sebelum akhirnya sebuah belokan kami tapaki dan akhirnya tampak lapangan luas berpasir didepan mataku dan dua orang berdiri menghadap kearah kami seakan menyambut kedatangan kami. Roy dan Gepeng sedang menikmati suasana sepertinya dan aku hanya bisa bersujud ketika akhirnya aku bisa sampai di puncak Mahameru dan terduduk sambil memandang sekelilingku sambil menangis haru. Tak ada yang tahu tentang tangisanku, rasanya tak bisa terbayangkan aku bisa berdiri disini dengan semua hal yang harus aku alami. Bagaimana adikku mengorbankan waktunya dan ibuku yang memberikan ijinnya padaku. Ini semua memang doa banyak orang yang tak bisa aku jelaskan satu persatu. 

Tim Purwokerto berhasil summit semua, timku juga akhirnya berhasil menggapai Mahameru termasuk temanku yang terakhir, Niken cs dan duo Sidoarjo, kami semua menyentuh dinginnya kegagahan Mahameru. Semua pesona yang tersaji diatas tak bisa diungkapkan oleh kata kata.

Dan aku bersyukur, Mahameru mengijinkan aku menjamahnya dan melihat pesona kegagahannya. Hanya beberapa prasasti dan tiang bendera yang menjadi tanda keberadaannya. Waktu menunjukkan pukul. 07.30 WIB saat kami berada diatas.
Udara tetap berhembus dingin walau sang mentari sudah memancarkan cahayanya secara penuh. Masih ada waktu untuk kami menikmati pesona kebaikan Mahameru. Dan kami sangat memanfaatkan waktu tersebut.

Tiba tiba terdengar suara deru seperti mesin pesawat dan keluarlah asap dari kawah “Jonggring Saloka” yang sedari kami berada disini diam membisu melihat tingkah kami disini. Beberapa temanku berusaha mengabadikan momen tersebut, tapi aku berusaha mengingatkan mereka kalau itu asap beracun. Dan beruntungnya angin tidak berhembus kearah kami jadi amanlah, walau sempat ketakutan juga diriku he he he

Hanya udara dingin yang akhirnya memaksaku melepas kemesraan bersama Mahameru. Dan rasanya ingin kuulang lagi semua hal tadi yang serasa dalam mimpi. Bila saja pasir berbisik ini tidak membuat kakiku terasa berbisa, rasanya ingin lagi dan lagi. Tapi semuanya lebih dari cukup, semua diluar “ekspetasiku”. Dan semuanya menambah rasa syukurku atas apa yang telah aku terima dan rasakan, betapa kehidupan sungguh merupakan anugerah terindah yang telah aku terima hingga saat ini. Banyak hal yang tak pernah aku bayangkan akan aku raih, tapi malah aku dapatkan. Rasanya bonus kehidupan luar biasa berlimpah, tapi semakin mengingatkanku akan “PR” kehidupanku yang masih menantiku.

Kami menikmati kebersamaan itu sambil beristirahat dibawah naungan Cemara Tunggal..

Hmmm...

Terima kasih tak terhingga untuk sebuah kehidupan yang luar biasa indahnya.

Pesona Ranu Kumbolo...

Ranu Kumbolo....

Salah satu danau yang menawan dan memberi pesona yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertamaku. Sekitar empat tahun yang lalu saat beberapa temanku bercerita tentang Semeru aku mencoba mencari tahu tentang Semeru, tapi aku malah mendapatkan hal lain yang menarik hatiku. Aku malah menyukai Ranu Kumbolo, entah karena sesuatu yang subyektif karena aku wanita, yang notabene senang dengan hal hal yang memberikan keindahan? Entahlah, yang jelas daya tarik itu juga yang membuatku sedikit ingin tahu. Semakin melihatnya walau hanya sekedar foto, cukup membuatku terhibur dan semakin membuat rasa ingin tahu seperti apa Ranu Kumbolo itu sebenarnya.

Dan Ranu Kumbolo membuatku harus menanti, dan menjadikannya sebuah penantian yang cukup mengajarkanku sebuah kesabaran. Beberapa kali aku sempat merencanakan kepergianku dan pada kenyataannya aku gagal bertemu Ranu Kumbolo. Entah karena saat itu Semeru yang sedang tidak bersahabat hingga sang waktu yang ternyata tidak memberikan kesempatan itu. Dan semua memang ada waktunya, tak ada yang salah dengan sang waktu. Ia akan memberikan saat itu pada waktunya dan tak ada yang akan bisa menukarnya jika memang sudah saatnya. Sebuah keindahan yang benar benar bisa dirasakan.

Mungkin jika aku terlalu memaksakan dan tidak mau menunggu, aku rasa aku tak akan bisa memahami pesona Ranu Kumbolo itu sendiri. Ranu Kumbolo hanya akan menjadi sebuah Ranu atau danau biasa, mungkin sangat biasa. Tapi saat aku disana saat itu, walau hanya dua malam cukup membuat pesona malam pertama yang luar biasa bagiku. Mungkin ketika bintang bertebaran dilangit malam bukan satu hal yang aneh karena beberapa kali aku juga mengalami hal yang sama dan selalu menimbulkan perasaan takjub dan takjub.

Tapi ketika itu menjadi sebuah bagian dari mimpiku, hal tersebut menjadi lain dan berbeda. Tebaran bintang tak lagi sekedar tebaran, kilauannya menjadi sebuah fenomena yang membuatku bermain main dengan imajinasiku sendiri. Bahkan rasa dingin yang menjalari tubuh tak lagi aku gubris ketika melihat pesona itu. Terlebih ketika pantulan cahaya bintang menimbulkan gambaran tersendiri pada air danau dan kabut yang memberi siluet malam yang indah di Ranu Kumbolo, membuatku ingin diam berlama lama disini.
Aku ingat ketika Roy yang menemaniku bercerita malam itu sempat bercerita tentang Segara Anakan tapi memang berbeda pesonanya.

Ranu Kumbolo...

Terlebih ketika suasana pagi hari tiba, semuanya yang nampak saat malam menjadi lebih jelas disini. Tapi aku tetap menyukai suasana malam, pesona gelap dengan nuansa kabut malamnya ditambah pancaran cahaya bintang dan beberapa cahaya api unggun menjadikan sebuah lukisan malam yang indah.

Yang membuatku semakin takjub adalah saat senja di Ranu Kumbolo. Aku terduduk memandang dari atas tanjakan cinta, menikmati suasana senja itu, tak ada sunset, tapi memandang Ranu Kumbolo saat senja menambah satu pesona kecantikan tersendiri. Sempat aku mencoba mendokumentasikannya, ternyata saat aku cek tak ada tersimpan dalam memori card. Sepertinya ia ingin tersimpan dalam memori otakku he he he

Akhirnya, Ranu Kumbolo memberikan pesona diri yang sengaja diberikan untuk aku nikmati. Kecantikan dan pesona kebersahajaan Ranu Kumbolo yang telah menawan hatiku. Terimakasih tak terhingga untuk semua hal ini, kenangan itu akan selalu ada tersimpan rapi dalam memori hidupku dan akan kuulang...

Sunday, 26 August 2012

Apa sih maunya Kehidupan?

Terkadang aku bertanya dengan diriku sendiri,”sebenarnya apa sih yang dimau oleh kehidupan itu?”.Baru saja aku disms oleh adikku dan dia memberi kabar yang sangat menyedihkan tentang temannya.Dan ketika membacanya saja aku langsung terbangun dari tidurku dan terdiam tanpa kata untuk sesaat.

Adikku meminta aku berdoa untuk temannya yang pastinya lebih dari sekedar teman kampus,teman belajar dan sebagainya.Karena aku tahu kalau mereka tahun kemarin pergi berlibur bersama ke bali dan melakukan petualangan bersama, dan pasti banyak memori yang terjadi diantara mereka.Dan masih ingat saat adikku bercerita tentang petualangan fanka di rinjani,,ia sempat ke rinjani, dan membuatku tertarik dengan rinjani.

Aku bisa merasakan semua dan kesedihan itu,karena aku pernah merasakan kesedihan itu.Ketika kita mempunyai kenangan dan memori yang begitu indah kemudian kita dihadapkan oleh kenangan yang berbanding terbalik bahkan menghancurkan perasaan.
Hidup memang banyak menyimpan misteri yang terkadang membuat kita tidak bisa memahami dengan menggunakan logika saja.Terlalu luas untuk bisa dipahami oleh pemikiran seorang manusia.

Karena ketika kita mencoba memahaminya,akan ada sebuah celah yang membuat kita semakin bingung dan tak paham apa apa.Sepertinya hidup memang tak mau dipahami dengan titik,ia selalu mengakhiri segalanya dengan tanda koma.

Entah apa yang dikehendaki oleh kehidupan?

Perasaanku tiba tiba menjadi melankolis,dan entah perasaan apa yang sekarang dominan aku rasakan.Semuanya tercampur tak bisa dimengerti.Dan sepertinya kehidupan sering men”shake” perasaan kita.Membuat aku terdiam dan merenung tak mengerti.Dan perasaan seperti ini yang membuat aku bisa tak merasakan diriku sendiri.
Ketika aku tak lagi tahu tentang kehidupan dan tak mengerti apa itu kehidupan...
Dan hidup adalah sebuah misteri !

( Untuk “Fanka” semoga yang terbaik yang dirimu dapatkan dan aku rasa kamu pasti bahagia dengan semua kehidupan yang sudah kamu rasakan diusia mudamu..)

Thursday, 16 August 2012

Apakah ini?

Melihat beberapa foto foto yang tersimpan dalam memori data,membuat aku berpikir sesuatu. “Life so complicated...” Banyak hal yang membuat analisaku menjadi stagnan alias tak bergerak. Karena ketika semua aku coba untuk pikirkan, hanya membuat kerumitan saja. Maksudku adalah ketika aku mencoba berpikir,kenapa aku ada dalam sebuah moment atau mungkin ketika melihat foto yang lainnya. Tak ada yang sama walau mungkin moment yang sama. Hanya satu hal yang terpikir olehku adalah semua itu bukan sebuah kebetulan. Skenario hidup pasti selalu dibuat walau mungkin sang pembuat skenario kelelahan atau mungkin kehabisan “ide”. Tapi itu semua nyata dalam hidup kita. Ketika aku mengalami suatu proses, dan kesempatan itu semua ada dalam skenario hidupku, dan tercatat dalam cerita hidupku. Kemudian aku mendokumentasikannya dalam bentuk memori yang tersimpan dalam otakku atau memori lainnya seperti foto dan mungkin beberapa tulisan cerita dan diaryku. Entah apa yang harus kulakukan dengan semua itu? Ada banyak orang yang lebih beruntung dalam hidupnya dan mengalami banyak petualangan luar biasa dalam hidup mereka masing masing dan caranya masing masing.Ada pula yang yang biasa saja bahkan mungkin terlihat sangat biasa. Setiap orang mempunyai porsinya sendiri. Aku dengan porsiku dan mereka dengan porsi mereka. Ada sedikit rasa iri ketika melihat orang mengalami hal yang tak bisa aku lakukan. Tapi itu semua manusiawi,karena pada dasarnya orang ingin mengalami hal yang sama dan merasakan semua sensasi yang muncul. Bukan kelihatannya atau katanya. Rasanya pasti berbeda kalau hanya melihat saja tapi tidak mengalaminya. Tapi hidupku adalah hidupku,dan bagianku adalah bagianku bukan hidupmu dan bagianmu. Hmm... Tapi itulah hidup,tak pernah bisa dimengerti!

Thursday, 26 July 2012

Nasibmu....Oh Tempe

Kedelai... Bahan baku utama pembuatan makanan tempe dan tahu yang akhir akhir ini menjadi polemik. Padahal tempe adalah makanan asli yang diklaim oleh negara kita,berarti makanan utama sebagian besar masyarakat kita. Dan aku salah satu penggemar tempe, mulai dari kering tempe,tempe bacem, dan hanya digoreng biasapun tempe mempunyai rasa khas yang tidakdidapati oleh makanan lainnya. Tempe goreng biasa yang disajikan dengan nasi panas dan tumis kangkung pedas adalah makanan favoritku. Dan menjadi permasalahan sekarang adalah, bahan baku utama yaitu kedelai,harganya bisa tidK terjangkau oleh produsen tempe. Bagaimana bisa kedelai yang harusnya bisa ditanam ditanah kita bisa begitu sulit didapatkan? Bukankah negara kita negara agraris yang notabene mempunyai tanah yang subur dan berpotensi untuk ditanami kedelai? Bahkan seharusnya kita bisa menjadi pengekspor kedelai bukan pengimpor ! Apakah ada yang salah dalam sistem pertanian kita? Begitu tergantungnya kita dengan negara lain sebagai pengimpor sehingga kita sudah tidak bisa lagi berswasembadakah? Tidak bisakah kita menjadi penghasil kedelai bagi negara sendiri? Sulitkah merealisasikannya? Apa yang menjadi kendala sebenarnya? Apakah karena tempe dicap sebagai makanan tradisional dan mungkin sangat biasa sehingga tak ada yang peduli keberadaannya? Ketika makanan asli Indonesia tidak lagi diperhatikan, jangan pernah salahkan jika suatu saat ada orang lain yang peduli dan mungkin bukan orang asli Indonesia yang bisa melestarikan keberadaan tempe itu sendiri. Jangan ketika orang lain bisa menjaga dan menghargai milik kita, kemudian kita baru tersadar akan keberadaannya dan baru berpikir kemudian. Saatnya kita menjaga dan menghargai apa yang kita sudah miliki, apapun itu. Jangan sampai anak cucu kita hanya mengenal tempe hanya sebagai tulisan kata, tapi tak lagi mengenal bentuk dan rasanya. Dan jangan pernah berpikir karena tempe bisa diproduksi dengan harga murah kemudian beranggapan sebagai makanan murahan. Lihat kandungan gizi dan nilai histirinya.