Friday, 2 April 2021

Reaksi...

Manusia dilahirkan ke dunia dengan mempunyai apa yang dinamakan perasaan, dan manusia bisa mengungkapkannya. Ini yg membuat manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya, bisa jadi makhluk hidup lainnya mempunyai hal ini tapi mereka tidak bisa mengungkapkannya. Dan ini yang menjadikan manusia begitu unik satu dengan lainnya. Ketika manusia berespon dengan yang namanya perasaan. Hal ini bisa aku pahami ketika aku adalah juga bagian dari manusia itu. Bagaimana tidak ketika perasaan itu yang bisa jadi mempengaruhi kehidupan manusia selanjutnya. Dan aku bisa melihat hal tersebut didiriku dan orang lain disekitarku. 

Setiap manusia benar mempunyai perasaan hanya bagaimana manusia itu merespon apa yg dirasakan oleh perasaan. Ada manusia yang merespon perasaannya lebih dari manusia lainnya, misalnya ketika manusia merasakan rasa sedih atau kebalikannya apa yang dilakukannya? Berbeda beda bukan?Nah respon itulah yang menentukan bagaimana kehidupan manusia itu selanjutnya...

Apakah manusia tidak boleh merasakan perasaan dan mengungkapkannya apapun rasa itu? Sepertinya tidak juga...Tidak ada yang salah dengan perasaan, hanya bagaimana manusia merespon terhadap apa yang dirasakan perasaan kita. Misalnya ketika seseorang bahagia, dia berhak mengekspresikan perasaan bahagianya dan mungkin mengungkapkannya agar manusia lain mengetahuinya, sekedar berbagi. Dan mungkin perasaan sebaliknya, ketika perasaan sedih muncul bisa jadi orang lain mencoba mengungkapkan dan menjelaskan apa yang dirasakan dengan berbagai cara. Satu hal yang manusiawi yang dilakukan manusia, karena ini kodrat manusia. Karena ini aku pahami ketika aku bisa merasakan semua perasaan yang ada dan mencoba mengkomunikasikan dengan manusia lainnya yg ada didekatku sebagai contoh saja.Ketika kita hanya mengungkapkan rasa atau perasaan, tidak ada yg salah dengan hal tersebut. Yang menjadi masalah adalah respon dari perasaan itu....

Maksudnya gimana ini?

Ketika  perasaan anda muncul keluar,apapun itu, anda akan mencoba mengenali perasaan itu bukan?karena memang seperti itu mekanisme otak bekerja, karena otak bekerja berdasarkan stimulus, dia membutuhkan hal tersebut untuk mengenali apa yg ada di dalam memori otak kita ha....xx Jadi ketika kita pernah mengalami sesuatu, otak bekerja lebih mudah dalam mengenalinya, apakah sesuatu yang asing dan mengganggu atau sebaliknya dan bagaimana reaksi kita tergantung dari apa respon kitaa.

Kadangkala ada banyak hal yang membuat kita merespon sesuatu berlebihan, entah karena rasa takut, atau perasaan lainnya. Dan itu hanya mekanisme otak untuk melindungi kita saja. Padahal ketika kita tidak merespon sesuatu hal tak ada yg akan terjadi pada diri kita. Karena otak tidak merespon sebagai sesuatu hal yang perlu dianalisa apakah ini baik atau sebaliknya. Karena ketika tidak ada analisa,tidak ada yg akan dianggap apapun oleh otak kita, ia tidak akan bekerja apapun karena tidak ada stimulus yg merangsangnya untuk bekerja ha...xx 

Jadi ketika kita ingin merasakan sebuah kedamaian, kita hanya tidak perlu merespon apapun, membiarkan semua apa adanya, benar benar apa adanya.

Saturday, 20 March 2021

Passion VS Obsesi

Ini bermula dari iseng iseng main tarot. Ada satu kartu yang saat dibuka memberi saran padaku untuk berhati hati dalam bersikap, terlebih dengan apa yang disebut dengan obsesi. Karena obsesi dan hasrat, tertutup lapisan pembeda yang sangat tipis. Dan kecenderungan aku menjadi obsesif bisa sangat besar,ketika semuanya menjadi abu-abu.

Aku menyadari bahwasanya kecenderunganku menjadi obsesif besar. Karena aku paham ketika keinginan atau ambisi yang kita miliki besar. Aku memang orang yang memiliki keinginan yang banyak. Dan berusaha untuk mewujudkan keinginanku menjadi realita atau nyata. Dan hal itu butuh keinginan atau ambisi. Tapi sekali lagi, aku diingatkan untuk apa yang akan diakibatkan jika ambisi selalu dipenuhi. Saat itu ak disadarkan bahwa tidak semua ambisi harus dipenuhi, aku seperti diajarkan bahwa ambisi perlu karena ia dibutuhkan untuk membantu kita merealisasikan mimpi. Tapi ia juga bila terlalu sering dimunculkan akan menjadi bumerang dan menjadikan kita ambisius. Dan ambisius inilah yang membahayakan, karena kita tidak lagi paham apa yang benar-benar kita inginkan dan perlu diwujudkan ketika ambisi menjadi candu. Yang berbahaya adalah candunya, karena setiap hal dalam hidup kita berpotensi menjadi candu ketika kita mempunyai pola berulang dan menghasilkan efek berulang yang menyenangkan. Ketika kita sukses akan sesuatu yang kita lakukan, secara sadar kita mengetahui peluang itu kita miliki. Dan sekali lagi ego adalah hal yang kita miliki selama kita hidup, dan dia akan bermanifestasi dalam banyak hal ketika diri berada dalam eksistensinya. Dan tidak ada yang salah dengan hal itu, karena itu kodrat manusia dan sangat manusiawi. Ego hanya berbahaya ketika kita tanpa sadar membiarkan dia tidak seimbang atau menjadikannya terlalu besar atau dominan. Karena dia akan meminta untuk dipenuhi, meminta lagi dan lagi hingga akhirnya kita yang lelah memenuhi keinginannya. Semua hal baik adanya ketika semua sesuai dengan seharusnya jika sudah berlebih itu yang harus ak sadari. Kesadaran bahwasanya semua cukup, dan jika kita memiliki sebuah keinginan kita tidak lagi menjadi obsesif. Semua orang mempunyai passion atau hasrat. Karena itu yang membuat manusia bersemangat dalam menjalani kehidupannya. Passion itu yang menjadikannya menemukan tujuan hidupnya. Karena tanpa passion manusia tidak akan mempunyai keinginan untuk menjalani kehidupannya. Sekali lagi passion dan obsesi hanya dibatasi lapisan tipis pembatas. Berhati hati adalah sikap yang bijak.

Semua kembali pada diri kita sendiri, karena pada dasarnya diri kita akan selalu berusaha menjaga dirinya untuk selalu berada dalam line nya. Semua sudah ada rambunya, karena memang seperti itu hakikat manusia, berjalan pada path yang sudah ditetapkan. Semua hanya butuh kesadaran dan setiap saat kita hanya diminta untuk sadar akan semua hal yang kita lakukan. Sebuah kesadaran yang harus disadari dan aku paham hal ini pada akhirnya. Pembelajaran hanya akan berakhir ketika kita sadar akan hal itu. Dan kesadaran adalah kunci utama menjalani kehidupan kita.

Love and love....
 

Tuesday, 16 March 2021

Letting Go...

Sebuah kata yang membuat saya berulang kali harus remedial kalau boleh saya meminjam istilah ini. Saya pikir kata-kata ini hanya sekedar melupakan dan melepaskan, tapi tidak semudah itu kenyataannya. Karena keterikatan kita akan sesuatu adalah bentuk lain dari ego dan dia bermanifestasi dalam ketakutan. Tidak ada yang salah dengan rasa takut karena manusia memang mempunyai ciri khas tersebut. Tidak ada manusia yang tidak mempunyai rasa takut, karena bisa jadi itu adalah kodrat manusia. Karena rasa takut yang membuat manusia menjadi manusia. Dan rasa takut yang harus kita terima karena itu adalah bagian menjadi manusia.

Ini yang membuat saya, berkali kali bertemu dengan pola yang sama. Saya berpikir tadinya adalah person tapi ternyata bukan itu yang harus saya pahami esensinya. Keterikatan kita tentang banyak hal berawal dari perasaan - perasaan kita sendiri. Dan semua berpusat dari perasaan kita yang merasa terluka, tersakiti, terabaikan, tidak dianggap, dan semua perasaan kehilangan lainnya yang pada dasarnya ini adalah respon kita terhadap sesuatu. Saya jadi ingat saat mengikuti meditasi tanpa objek beberapa tahun yang lalu. Saat itu romo Sudri, pembimbing meditasi tersebut pernah mengatakan bahwa dualitas itu tidak ada, yang ada adalah respon kita terhadap sesuatu. Saat itu saya memang belum paham arti kata tersebut. Akhirnya saya paham bahwa jugdement kita terhadap sesuatu, itulah yang membuat kita mempunyai dualitas. Dan bukan sesuatu yang salah juga kalau kita mempunyai hal tersebut, karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk berpikir. Dan pikiran itu yang menciptakan dualitas tersebut. 

Manusia akan selalu mempunyai kecenderungan untuk berpikir tentang benar dan salah, atau menang dan kalah, dan dosa atau tidak bahkan dualitas lainnya. Karena memang begitulah cara pikiran bekerja. Dia memang tercipta untuk melakukan hal tersebut sebagai fungsi membuat manusia merasakan sesuatu yang menurut kita ada nilainya. Pikiran membutuhkan itu semua karena dia adalah program yang ada didalam tubuh kita yang memang bekerja dengan analisa. Layaknya komputer dia hanya bekerja sesuai dengan input yang muncul, jadi tak ada yang salah dengan pikiran. Yang menjadi masalah adalah ketika pikiran kita mendominasi diri kita, semua hal yang ada dalam diri kita hanyalah berdasarkan apa yang sudah diinput. Padahal banyak hal dalam kehidupan kita yang tidak cukup kita pahami dengan pikiran, karena bisa jadi input yang ada hanya terbatas. Dan pikiran hanyalah pikiran.

Komponen  yang ada dalam diri kita tidak hanya terdiri dari pikiran, ada bagian lain yang menjadi komponen lain yang menyeimbangkan seorang manusia. Karena semesta ada tidak cukup dipahami dengan pikiran. Dan respon kita terhadap sesuatu bukan pula sesuatu hal yang paling penting dalam kehidupan kita.

Dan akhirnya memahami letting go bukan lagi berasal dari pikiran yang menciptakan dualitas. Tapi semesta yang akan membantu saya memahami hal tersebut. Sehingga pola itu tidak harus berulang dan selesai pelajaran tersebut saat ini. 

Monday, 8 March 2021

Intuisi...

Mengenal intuisi butuh beberapa latihan. Lebih terutama adalah percaya kepada intuisi itu sendiri. Terkadang percaya dengan intuisi kita sendiri, butuh beberapa kali keyakinan bahwa apa yg disampaikannya adalah memang untuk kebaikan kita sendiri. Karena pada dasarnya manusia mempunyai kelemahan untuk takut bila apa yg diyakininya adalah sebuah kesalahan. Takut bila apa yg dipercayai adalah salah, dan manusia takut dengan konsekuensi tersebut. 

Hal ini berlaku terhadap diri saya sendiri, ketika dua hari yang lalu,saya tiba-tiba memutuskan ingin nenda alias camping. Semua memang muncul spontanitas tanpa perencanaan yang cukup baik. Cuma satu hal yang saya yakini adalah saya rindu suasana alam, kesunyian dan pesonanya. Sudah hampir 7 tahun saya tidak pernah pasang tenda, terakhir adalah saat saya di tambora. Dan selebihnya rencana nenda di pinggir pantaipun tidak terlaksana walaupun beberapa kali saya pergi ke pulau ha....xx

Semua terjadi begitu saja seperti laksana keinginan seorang anak tentang sebuah permen. Semua hanya ingin dilakukan saat itu saja. Hendak kemanapun tidak jelas,coba browsing terlalu luas destinasinya. Akhirnya sampai dengan satu nama tempat nenda pun karena letak yang paling dekat dengan tempat yang saya tinggali saat ini. Karena saya penakut sendirian, saya butuh teman jalan dan adik saya yang paling bisa saya ajak karena saat ini dia tidak terikat dengan situasi dan kondisi apapun. Rencana awal saya mengajak jumat malam selepas pulang kerja tapi hujan menghalangi, seolah tidak berkenan memberi ijinnya. Akhirnya ditunda esok hari bila cuaca mendukung, dan akhirnya rencana kedua berjalan lancar. Tapi ada sedikit keraguan bila tiba-tiba hujan deras tiba,niat naik kendaraan roda dua dibatalkan karena cuaca tidak bisa diprediksi. Dan kami dua wanita yg tidak tahu medan yang akan kami tempuh dan kendaran roda empat saya pilih dengan pertimbangan tersebut, bila harus menginap dijalan,kami aman.

Tenyata jalanan di tol sempat macet kurang lebih 8 km, belajar sabaar. Dan setelah itu, perjalanan selanjutnya adalah diluar tol dan setelah beberapa lama ditempuh, ada kejadian longsor yang membuat akses jalan terhalangi. Ditambah jalan ke tempat camping menakutkan untuk ukuran kami wanital dewasa. Kami sempat ribut tentang apakah dilanjut rencana piknik.Ditambah penjelasan beberapa hal menambah ketakutan tentang kondisi longsor tersebut dan akhirnya berusaha mencari rumah yg bisa dititipkan kendaraan roda empat kami. 
Kami sempat berdebat tentang apa yg tadi disampaikan. Dan akhirnya taraaaa.....

Setelah berdebat tentang perasaan, terlebih saat adikku bilang dari awal feeling dia kurang bagus tapi sempat saya komunikasikan untuk kami memutuskan lanjut camping atau kembali pulang. Dan aku pun menyampaikan kondisi apa yang saya rasakan tidak sesuai dengan apa yang dia rasakan,karena dari awal perjalanan saya benar - benar merasakan ketenangan walaupun terjebak macet dan kondisi longsor tadi,tidak ada rasa cemas yg saya rasakan. Saya pun menyanggah pendapat adik saya yg mengatakan dia punya bad feeling. Akhirnya kami memutuskan lanjut setelah saya menyampaikan beberapa hal yang menjadi asumsi saya dan apa yg saya rasakan saat itu, saya tidak merasakan apa yg adik saya rasakan dan saya percaya kalau semua akan baik adanya. Dan ternyata apa yang saya yakini benar adanya untuk tetap lanjut ngecamp apa adanya, karena kami disuguhi pemandangan indah dan pertolongan orang sekitar dengan luar biasa, karena banyak kejadian yang diluar ekspetasi kami dan semua seperti menolong kami untuk merasakan dan mempercayai intuisuiku...terima kasih penolong jiwaku...

Saturday, 13 February 2021

Ekspetasi....

Ketika manusia menjalani kehidupan, ada kondisi atau keadaan yg diharapkan kita sebagai manusia. Dan hal itu kita kenal dengan ekspetasi atau harapan. Pertanyaannya adalah kenapa harapan atau ekspetasi ada dalam hidup kita?Karena pikiran kita yang membuatnya, untuk apa?Manusia butuh untuk bertahan hidup atau survival. Secara mudahnya,manusia adalah makhluk yg paling bisa eksis dalam kehidupan ini, selain adaptasi manusia sebagai proses evolusi dan keberlangsungan hidup manusia. Ada yang namanya harapan atau ekspetasi yg diciptakan untuk manusia ada dan menjalani kehidupannya. 

Bagaimana bisa harapan atau ekspetasi bisa membuat manusia eksis. Coba anda bayangkan, ketika manusia tidak lagi merasa mempunyai tujuan atau harapan dalam hidupnya entah berapa besar atau kecil harapan itu , hal itulah yg menjadikan manusia mau untuk ada dalam kehidupan ini. Karena ketika kita merasa tidak ada lagi harapan walau sebesar ujung jari, tak ada lagi keinginan manusia untuk melanjutkan kehidupannya. Tetapi kadang kala, harapan atau ekspetasi itu bisa menjadi seperti mata pisau yg mempunyai sisi berbeda. Dia bisa menjadi hal yg berbahaya jika kita terlalu berharap dengan harapan terlalu. Karena harapam seringkali tidak sesuai dengan kenyataan atau kenyataan yg berbeda dengan harapan?🤔

Bagaimana bisa harapan menjadi berbahaya, karena ketika realita yg kita ciptakan tnyta tidak sesuai dengan harapan, seringkali hal ini yang membuat perasaan kecewa. Dan ketika kita kecewa yang muncul adalah perasaan sedih, bersalah, atau mungkin perasaan tidak berharga. Dan perasaan - perasaaan ini yg bakal memberikan kontribusi tidak baik bagi perkembangan jiwa kita, jika tidak bisa di antisipasi dengan baik dan bijak.

Ketika ekspetasi dalam bentuk apapun, kita simpan dalam standar terlalu berlebih hal itu yang membuat munculnya rasa takut. Takut bila ekspetasi kita atau orang lain terhadap kita atau orang lain tidak sesuai, kemudian kita akan menjadi kecewa dan sedih. Manusia pada dasarnya tidak menyukai perasaan tersebut, jadi diri akan selalu berusaha membuat benteng untuk menjaga hal tersebut. Dan hal tersebut yang membuat manusia lebih berhati-hati. 

Tidak ada yg salah dengan ekspetasi atau harapan karena  itu yang membuat kita bertahan hidup. Yang menjadi kurang tepat adalah respon kita terhadap harapan atau ekspetasi. Karena yang penting adalah respon kita terhadap hal tersebut, bilamana ekspetasi atau harapan itu sesuai atau tidak sesuai, apa yang terjadi?? Hal tersebut yang menjadi bagian paling penting yang akan mempengaruhi perkembangan jiwa kita selanjutnya. Jadi berhati hati dengan ekspetasi, bukan tidak boleh berharap tapi respon kita terhadap harapanlah yang menentukan baik atau tidaknya keberadaan manusia.

Sunday, 31 January 2021

Healing...

Sering kali aku merasakan luka-luka yang aku miliki adalah sebuah kekuatan dan penyembuh yang sebenarnya. Tapi dengan catatan bahwa luka itu sendiri sudah mengalami tahap penyembuhan. Karena ketika luka itu masih ada secara tidak langsung akan ada hal-hal yg dirasakan masih terasa.Sama halnya dengan luka luar, luka yang ada di dalam diri juga berproses,jadi bohong kl seseorang pernah mengalami sesuatu yg membuat trauma terus dia bilang dengan cepat bahwa saya sudah baik-baik saja. Luka itu sembuh dengan caranya,karena tidak mungkin cara menyembuhkan sama dengan luka luar. Setiap orang mengalami penyembuhan hanya dengan memaafkan, apapun bentuk luka batinnya. Aku seorang yang pernah mengalami pelecehan seksual ketika kecil tapi tidak berimbas yang luar biasa karena pelecehan ini tidak membuat saya mengalami satu bentuk kekerasan fisik. Dan entah hal ini menjadi bentuk ketakutan saya tapi saya sudah berdamai dengan kondisi tersebut dan kondisi luka lainnya. Dan itu yang malah menjadi kekuatan lain dari diri saya ketika menemukan kasus serupa dengan diri saya. Karena saat ini saya baik2 saja dan ini benar baik adanya.

Saya jadi teringat kejadian hari minggu yang lalu dan ini terjadi pada adik saya sendiri. Entah bagaimana ceritanya dia sore itu keluar kamar sambil mengatakan, " mba....ak dighosting si H." Sambil menangis dan memeluka saya tiba-tiba. Saya yang sedang mengerjakan tugas, agak kaget karena jujur saya tidak paham kata2 "ghosting". Saya bertanya tentang apa itu ghosting dan dia menjelaskan sambil menangis dan sempat saya bingung walau sy paham pada akhirnya. Dan kondisi ini sempat membuat rasa sedih dan mungkin trauma jika tidak diselesaikan dengan baik. Maksud selesai dengan baik adalah bukan dengan orang tersebut. Karena yang membuat luka itu ada adalah bagaimana cara orang memperlakukan orang lain yg mungkin tidak sesuai atau seharusnya. Saya hanya berkata pada adik saya pada saat itu," kamu bisa memaafkan dia??." Dan dia mengangguk dan menjawab," bisa...". Sambil saya memberi penjelasan pada dia apa yg pernah saya rasakan dengan kasus lainnya, dan bagaimana saya belajar melakukan healing pada diri saya sendiri. Saya hanya bilang menangislah semalam ini dan esok semua akan baik-baik saja. Kami sempat berdiskusi beberapa hal tentang kondisi saat itu sampai tengah malam ha...xx karena pada kondisi awal terluka akan ada tahapan penolakan dan pembenaran, itu hal yang sangat lumrah terjadi dan begitu manusiawi yg dilakukan adik saya. Dan saya menjelaskan sesuatu juga bukan berasal dari sesuatu yg tidak saya rasakan, tetapi apa yang saya rasakan. Jadi kondisi terluka begitu saya pahami. Saat itu saya begitu mudah mengatakan karena memang saya sudah melewati kondisi itu dan ketika memaafkan dan menerima kondisi adalah hal yang menyembuhkan luka itu perlahan-lahan.

Banyak orang yang masih menyimpan dendam atau membiarkan luka itu semakin membesar dengan terus mengingat rasa sakitnya. Melepas semuanya, perasaan yang muncul akibat luka tersebut dan menerima semua perasaan terluka itu dengan setulus hati kita. Dan menjadikan luka itu kekuatan kita adalah satu hal terbaik yang bisa kita lakukan.Karena begitu luka itu sembuh kita bisa menjadi healer bagi orang lain. Karena bukan orang lain yang menyembuhkan semua luka-luka kita tapi diri kita sendirilah yang merupakan healer terbaik. Dan ketika anda menyembuhkan diri sendiri secara tidak langsung anda menjadi penyembuh buat orang lainnya. Percayalah menyembuhkan itu mudah dan tidak sulit ketika anda denial atau menolak itu manusiawi dan juga sebuah proses. Dan sebuah kesadaran untuk healing adalah kunci utamanya. Tapi jangan berharap ketika anda sembuh dari luka yang satu tidak akan ada luka lainnya. Karena luka yang baik adalah luka yang memberi kekuatan. Dan kekuatan muncul dari kelemahan dan kerapuhan,entah benar atau tidak saat ini keyakinan saya seperti itu. Jadi jangan pernah takut dengan luka, walau kadang kita takut menerimanya. Healing yourself to being a healer to another else.

Tuesday, 5 January 2021

Budaya...

Terkadang bicara apa adanya tidak selalu bisa diterima orang kebanyakan dengan baik. Terlebih dengan budaya ketimuran yang bahasa mencerminkan kesantunan seseorang. Dan menurutku bicara apa adanya berbeda dengan kesantunan. Bukan berarti orang yg berbicara apa adanya tidak santun, yang menjadi kendala adalah bahwasanya apakah orang bisa menerima apa yg dikatakan apa adanya tersebut. 

Orang seringkali mempunyai ekspetasi atau harapan tentang sesuatu. Dan ketika tidak sesuai, ini yg akhirnya membuat orang sedih atau kecewa dan secara budaya ketimuran membuat orang lain bersedih karena perbuatan kita bs jd melanggar kesantunan, entahlah....

Batasan kesantunan adalah norma subyektif menurutku, karena terkait perasaan. Tidaklah mudah menilai hal subyektif karena terlalu luas dan bisa berbeda satu dengan lainnya. Dan ini berlaku selama ada orang yg mengakuinya.

Adat istiadat juga sebuah budaya yg memang ada karena orang masih mengakui keberadaannya. Kadangkala budaya dibuat utk membuat manusia beradat, dalam arti ada batasan atau standar yg mengatur benar dan salah. Karena akan membuat orang bingung dan bisa tak terkendali perilakunya. Jadi memang ada hal yg memang dibutuhkan oleh manusia utk membuat perilaku manusia terkontrol.

Hmmm....