Friday, 22 September 2017

Asumsi dan Pendapat

Ternyata hal ini mungkin yang membuat diriku seringkali tersandung. Pendapat atau asumsi sesuatu hal yang seringkali membuat kita berkonflik karena kesalah pahaman. Aku sadar hal ini setelah aku mendapat pembelajaran tentang kondisi ini. Saat aku mempunyai pendapat atau berasumsi sesuatu itu kemungkinan itu hanya halusinasiku saja ha...xx Karena asumsi seringkali membuat kita berpikir sempit, seperti yang pernah aku rasakan, sampai aku tersadar dengan hal ini.

Kondisi dan keadaan seperti ini mungkin karena pikiran kita begitu kuat mendominasi diri kita. Aku yang begitu dominan dengan pikiran akhirnya menyadari sedikit demi sedikit kondisiku ini. Selama ini mungkin aku belum tersadar bahwa aku seringkali berpendapat dengan pikiranku sendiri, pembenaranku sendiri yang sebenarnya belum tentu benar pendapatku tersebut.

Aku disadarkan oleh kondisi juga bahwa tidak semua orang bisa senang dengan asumsi kita dan terkadang asumsi membuat sesuatu menjadi tidak baik.

Ya, aku paham dengan caramu menyadarkanku dan aku memang keras kepala jadi menyadarkanku tenyata butuh sesuatu hal yang langsung menohok jantungku mungkin. Astaga begitu kerasnya diriku...

Perlahan dan pasti caramu melembutkan diriku pasti berhasil...

Buka hatiku selalu...

Tuesday, 12 September 2017

Realita vs Ilusi...

Kata-kata ini mulai menggelitikku dan membuatku bertanya tentang sesuatu itu. Ini bermula ketika aku melihat satu tayangan acara yg menggunakan imajinasi yang dibawakan oleh seorang ilusionis atau sejenisnya. Dan setelah melihat acaranya kemudian aku berpikir berarti semua hal yang kita lihat bisa jadi adalah ilusi?

Dan kemudian aku dan adikku berdiskusi tentang topik tersebut dan akhirnya aku menyadari ada banyak hal yang kita lihat bisa hanya sebuah ilusi saja dan bukan realita. Dan apa yang bisa kita artikan menjadi batasan sebuah realita?

Dan aku akhirnya bertanya dengan diriku sendiri bahwa apa itu realita dan bagaimana membedakan realita bukanlah sebuah ilusi...

Wednesday, 16 August 2017

Salah Paham....

Kata - kata ini terlalu biasa untuk dibicarakan,terlebih karena seringkali manusia melakukan hal ini. Dan pertanyaannya adalah mengapa terjadi? jawabannya mungkin bisa diartikan berbeda beda tapi satu hal yg pasti adalah manusia mempunyai pikiran. Dan pikiran inilah yang seringkali membuat persepsi menurut pemikirannya.

Jadi sebenarnya masalahnya adalah pikiran. Jelas kan? :-)

Friday, 23 June 2017

Bermain Peran..

Kata-kata ini menggelitik ketika temanku sedang curhat tentang pergumulannya. Spontan saat setelah dia bercerita aku berkata bahwa hidup ini hanyalah tentang bermain peran. Dia yang seorang ibu dengan anak satu dan juga seorang istri dan sekaligus pekerja sempat terdiam sesaat saat aku berkata seperti itu,aku paham kebingungannya dan aku jelaskan kenapa aku berkata seperti itu.

Hidup memang seperti itu kalau menurut pendapatku, bagaimana ketika setiap manusia menjalani siklus yang hampir sama. Bahwa ada masa ketika kita lahir sampai dewasa kita belajar berperan sebagai anak, adakalanya saat itu juga ketika kita mulai bersosialisasi dengan orang lain kita berperan sebagai teman atau bahkan menjadi musuh atau rival seseorang.

Peran yang kita jalani pun sesuai dengan apa yang telah kita pilih dan tentukan, mungkin beberapa orang akan berasumsi lain,buat saya tidak masalah karena opini hanyalah masalah sudut pandang saja.

Banyak peran yang akan kita jalani ketika kita memilih sesuatu walau terkadang kita belum menyadari hal tersebut. Setiap orang akan menjalani perannya masing-masing karena dari peran itulah mungkin kita belajar sesuatu tentang kehidupan ini. Dan menemukan esensi hidup itu sendiri pada akhirnya.

Jadi kalau ada sebuah lagu yang liriknya mengatakan bahwa dunia ini panggung sandiwara,mungkin ada benarnya dan mana yang akhirnya sebuah realita itu yg mungkin menjadi misteri dan tidak perlu dicari. Semua hanya masalah menjalani peran kita masing-masing dengan sebaik baiknya.

Friday, 26 May 2017

Kesepian...

Satu kata yang kalau dicermati ini hanyalah ilusi, karena itu bagian dari emosi dan emosi hanyalah satu bagian ilusi yang dimiliki oleh manusia. Kenapa saya beranggapan seperti itu, karena kesepian adalah sampah yang menggerogoti dan akhirnya membuat yang memiliki perasaan ini terbelenggu. Dan ketika kita terbelenggu oleh sesuatu dan tidak bisa merasakan kebebasan atau kedamaian kemungkinan itu hanyalah bagian dari ilusi. Tapi itu adalah bagian dari emosi dan setiap manusia kemungkinan bisa merasakan perasaan ini, tergantung situasi dan kondisi serta kematangan dari jiwa itu sendiri. Tapi memang hal tersebut lumrah dimiliki setiap manusia bukan jiwa...

Jadi teringat satu kata yang diucapkan seorang romo saat aku mengikuti misa di jogja. Dia berkata dalam bahasa jawa kurang lebih artinya adalah setiap manusia pasti pernah merasakan kesepian tapi satu hal yang tak pernah bisa diingkari bahwa tuhan tak pernah meninggalkan kita sendirian bahkan saat kita kesepian sekalipun. Dan itu aku amini...

Disaat kita merasa tak ada yang peduli bahkan tak ada yang bisa diandalkan, berhati-hatilah dengan perasaan itu karena semua itu yang mengawali keraguan kita akan keberadaan tuhan dan kasihnya.

Perasaan kesepian dan bersalah adalah sampah hati, jadi jangan biarkan perasaan ini menguasai hati kita. Karena perasaan inilah yang berbahaya bagi keluasan hati kita. Jangan merasa bersalah terlalu dalam karena itu hanya membuat hati tidak dapat mengembang dan merekah seperti bunga.

Hati adalah kunci kita bisa merasakan keberadaan jiwa atau bahkan tuhan sekalipun.

Tuesday, 16 May 2017

Kasih..

Pagi ini aku memahami mengapa tuhan selalu memaafkan kita manusia. Betapa sering kalinya kita melukai hatinya, ataupun melakukan hal-hal yang menurut ukuran manusia bisa menimbulkan amarah atau kebencian. Tapi tuhan memang bukanlah kita, ia mempunyai kasih yang tak terbatas yang tak akan bisa dimengerti oleh pikiran kita tapi bisa dirasakan oleh hati. Aku yang selalu begitu kuat dengan pemikirannku, akhirnya menyadari hal ini. Bagaimana caranya tuhan memaafkan kita, dan itu tidak ada caranya. Ia hanya membiarkan cinta kasihnya yang tak terbataslah yang melakukannya.

Ketika rasa "cinta" itu demikian besarnya, tak ada lagi hal yang akan bisa membuat diri bisa merasakan kebencian atau amarah, karena itu adalah emosi bukan perasaan.

Sekali lagi cinta yang bukan dalam arti sempit, atau mungkin disebut kasih.

Karena makna kasih lebih luas dari pelabelan cinta yang demikian umum diartikan manusia. Aku bisa memahaminya tapi tidak bisa dijabarkan, cukup dirasakan saja.

Ketika aku tidak bisa lagi membenci orang atau bahkan menyimpan dendam, disitulah kasih berkuasa. Aku paham kenapa orangtua tidak bisa membenci anaknya ketika berulang kali anak itu melakukan kesalahan atau bahkan menyakitinya, karena kasih yang berkuasa. Aku paham kenapa ada orang yang berulangkali disakiti ia tetap memaafkan, bisa jadi karena kuasa kasih. Kasih mungkin tampak membuat kita bodoh karena ia rendah hati, ia tak pernah ingin menampakkan diri karena ia tahu kuasanya begitu nampak besar ketika orang menyadarinya.

Kasih adalah kunci hati yang membuat kita tersenyum pada akhirnya.

Monday, 15 May 2017

Be Netral...

Kata ini aku pahami kemarin, saat aku dan adik kecilku berdiskusi tentang sesuatu. Manusia mempunyai gelombangnya masing-masing ketika kita berada di frekuensi gelombang tertentu, secara otomatis orang yang berada digelombang yang sama yang akan memahami dan mengerti kita. Sama seperti gelombang radio kita akan mendengar gelombang yang bisa ditangkap oleh radio kita. Dan diri kita pun sama seperti radio itu, ia akan mencari orang dengan gelombang atau frekuensi yang sama agar bisa di dengarkan atau dimengerti. Karena ketika frekuensi atau gelombang kita berbeda akan kesulitan kita untuk bisa mendengar dengan jelas bukan? Mungkin butuh waktu untuk akhirnya kita bisa berada di frekuensi yang sama agar bisa mengerti dengan jelas.

Sebagai contoh aku bisa memahami pemikiran adikku karena mungkin saja kami berada di gelombang frekuensi yang sama seperti radio, ketika ada orang yang tidak bisa memahami kita mungkin saja gelombang frekuensi kita belum sama atau pas dan ketika gelombang itu berada di frekuensi yang sama kita bisa saling mengerti, jadi tidak usah dipaksakan ketika kita tidak bisa dimengerti atau mengerti orang lain, cukup dipahami saja.

Hanya dengan memahami hal ini akan membuat kita bisa menerima orang lain apa adanya seperti apa adanya kita.

Semua adalah proses kita mengenal diri kita sendiri. Semakin kita bisa menerima diri kita sendiri semakin kita bisa menerima orang lain. Diri kita hanya butuh diterima, semua rasa takut dan luka batin yang kita miliki, ketika semua hal tersebut kita terima bukan hindari ia akan merasa diterima keberadaannya dan mungkin ia akan siap menerima orang lain seperti apa adanya diri. Ia harus dialami sendiri bukan katanya atau kata dia. Karena pengalaman itu sesuatu yang berharga.

Nikmati semua prosesnya, ketika aku bisa menikmatinya semua menjadi mudah.

Demikian pula dengan perasaan, ia butuh diterima dan disadari bukan sebuah reaksi. Karena reaksi akan menghilangkan esensi perasaan itu sebenarnya. Ia hanya butuh kenetralan ketika kita tidak bereaksi dengan apa yang kita rasakan. Dan pelajaran tambahan ini mulai aku pahami. Bukan memendam perasaan ini berbeda hal, menerima adalah ketika kita merasakan sedih, senang atau kecewa atau apapun yang dirasakan perasaan kita membiarkan diri merasakannya tapi tanpa reaksi yang berlebihan. Mungkin kemarin aku terlalu berlebihan mereaksikan perasaanku seharusnya sehingga ada sebuah ketidaknyamanan yang dirasakan.

Tapi itu semua proses sehingga kita memahami kenetralan tersebut.