Saturday, 31 December 2016

Waktu...

Waktu berganti setiap 60 detik,hari berganti setiap 24 jam dan tahun berganti setiap 12 bulan...

Pertanyaannya adalah mengapa semua terus berjalan tanpa pernah berhenti sedetikpun?
Apakah waktu tak pernah lupa atau lelah membuat perhitungan?Dan untuk apa waktu itu semua berjalan dan apakah semua itu benar?Apakah waktu tak pernah salah dalam berhitung?

Hmm...

Friday, 18 November 2016

S I M B O K

"Mbok,  kita kan sekarang cuma tinggal berdua, kenapa simbok tetap masak segitu banyak? Dulu waktu kita masih komplet berenam aja simbok masaknya selalu lebih. Mbok yao dikurangi, mbook...ben ngiriit.." kataku dg mulut penuh makanan masakan simbokku siang ini: nasi liwet anget, sambel trasi beraroma jeruk purut, tempe garit bumbu bawang uyah, sepotong ikan asin bakar,  dan jangan asem jowo. Menu surga bagiku.

Sambil membenahi letak kayu-kayu bakar di tungku, simbok menjawab, "Hambok yo ben toooo..."
"Mubazir, mbok. Kayak kita ini orang kaya aja.." sahutku.
"Opo iyo mubazir? Mana buktinya? Ndi jal?" tanya simbok kalem. Kadang aku benci melihat gaya kalem simbok itu. Kalo sudah begitu, ujung-ujungnya pasti aku bakal kalah argumen.
"Lhaa itu?, tiap hari kan yo cuma simbok bagikan ke tetangga-tetangga to? Orang-orang yg liwat-liwat mau ke pasar itu barang??" aku ngeyel.
"Itu namanya sedekah, bukan mubazir.. Cah sekolah kok ra ngerti mbedakke sodakoh ro barang kebuang.."
"Sodakoh kok mban dino?! Koyo sing wes sugih-sugiho wae, mbooook mbok!" nadaku mulai tinggi.
"Ukuran sugih ki opo to, Kir?" Ah, gemes lihat ekspresi kalem simbok itu!
"Hayo turah-turah leh duwe opo-opo..Ngono we ndadak tekon!"
"Lha aku lak yo duwe panganan turah-turah to? Pancen aku sugih, mulo aku iso aweh...". Tangannya yg legam dg kulit yg makin keriput menyeka peluh di pelipisnya. Lalu simbok menggeser dingkliknya, menghadap persis di depanku. Aku terdiam sambil meneruskan makanku, kehilangan selera utk berdebat.
"Le, kita ini sudah dapat jatah rejeki masing-masing, tapi kewajiban kita kurang lebih sama: sebisa mungkin memberi buat liyan. Sugih itu keluasan atimu untuk memberi, bukan soal kumpulan banda brana. Nek nunggu bandamu mlumpuk  lagek aweh, ndak kowe mengko rumongso isih duwe butuh terus, dadi ra tau iso aweh kanthi iklas. Simbokmu iki sugih, le,  mban dino duwe pangan turah-turah dadi iso aweh, tur kudu aweh. Perkoro simbokmu iki ora duwe banda brana, iku dudu ukuran. Sing penting awake dewe iki ora kapiran, iso mangan, iso urip, iso ngibadah, kowe podo iso sekolah, podo dadi uwong.. opo ora hebat kuwi pinaringane Gusti Allah, ingatase simbokmu iki wong ora duwe tur ora sekolah?", simbok tersenyum adem.
"Iyo, iyoooooh.."
"Kowe arep takon ngopo kok aku masak akeh mban dino?"
"He eh."
"Ngene, Kir, mbiyen simbahmu putri yo mulang aku. Jarene: "Mut, nek masak ki diluwihi, ora ketang diakehi kuwahe opo segone. E....mbok menowo ono tonggo kiwo tengen wengi - weng ketamon dayoh, kedatangan tamu jauh, atau anaknya lapar malam-malam,kan paling ora ono sego karo duduh jangan..".. ngono kuwi, le. Dadi simbok ki dadi kulino seko cilik nyediani kendi neng paran omah kanggo wong-wong sing liwat, nek mangsak mesti akeh ndak ono tonggo teparo mbutuhke. Pancen niate wes ngunu kuwi yo dadi ra tau jenenge panganan kebuang-buang.. Paham?"
Aku diam. Kucuci tanganku di air baskom bekas simbok mencuci sayuran. Aku bangkit dari dingklikku di depan tungku, mengecup kening keriput simbokku, trus berlalu masuk kamar.
Ah, simbok. Perempuan yg tidak pernah makan sekolahan dan menurutku miskin itu hanya belajar dari simboknya sendiri dan dari kehidupan, dan dia bisa begitu menghayati dan menikmati cintanya kepada sesamanya dg caranya sendiri. Sementara aku, manusia modern yg bangga belajar kapitalisme dgn segala hitung-hitungan untung dan rugi, selalu khawatir akan hidup kekurangan, lupa bahwa ada Tuhan yang menjamin
hidup setiap mahluk yg bernyawa. Simbokku benar: sugih itu kemampuan hati utk memberi kepada yang lain bukan soal mengumpulkan untuk diri sendiri.
(dikutip dan disadur dengan beberapa editing dari sebuah cerita melalui media sosial whatsapp,entah siapa yg membuatnya,tapi simple dan bermakna...ijin mengutip dan pastinya yang membuat pasti dengan senang hati ceritanya dibaca banyak orang :-) )

Saturday, 5 November 2016

Kelekatan

Ini seperti lem.
Sesuatu yang ditempelkan dengan lem akan melekat dan menempel pada yang dilekatkannya. Dan seperti ini juga memahami kelekatan itu. Ketika kita secara sadar atau tidak sadar melekatkan sesuatu dalam diri kita, secara otomatis itu yang menghambat diri dan perkembangan diri kita. Karena cara pandang dan sudut pandang kita hanya pada apa yang kita tempel. Kita tidak bisa bergerak bebas seperti kertas yang tidak diberi lem, dia akan terbang kemana saja angin meniup. Tapi ketika kertas itu diberi lem, dia kan sulit terbang ketika angin bertiup, karena ia akan begitu mudahnya menempel pada sesuatu dan ketika sudah menempel, kertas itu akan sulit untuk terbang kembali, karena ia terikat.

Oleh karena itu,jadilah seperti kertas yang tidak diberi lem, yang bisa bergerak dan tidak terikat, kalaupun ia sempat menempel, hanya sebentar dan bisa kembali mengikuti kemana angin bertiup, menikmati apa yang seharusnya dimaknai.

kesadaran

Hanya satu kalimat, tapi mempunyai arti dan pemahaman melebihi sebuah kalimat dan mungkin membutuhkan waktu.

Ini yang aku alami,memahami sebuah kalimat ini membutuhkan hampir seluruh waktuku. Dan tidak ada yang harus aku sesali,karena memang semua ada waktunya. Waktu aku memahami semuanya dengan seharusnya. Walau terkadang berpikir, kenapa harus sekarang?Tidak pernah tahu kenapa, dan tidak harus dipertanyakan. Semua ini hanya untuk menunjukkan kemanusiaanku, betapa tak ada yang aku bisa mengerti dan pahami kecuali jika semua karena kehendaknya.

Semakin semua aku sadari,semakin hati ini damai. Menyadari sesuatu hanya dengan menyadarinya saja, sudah cukup.

Sunday, 23 October 2016

Perjalanan Solo Terpanjangku

Sebenarnya ini kejadian sudah beberapa tahun yang lalu,kurang lebih 3 tahun yg lalu.Ini perjalanan terpanjangku seorang diri. Semua ini berawal dari obsesiku mencapai 2 hal yg menurutku begitu mempunyai nilai sejarah bagi kehidupan yaitu gunung Tambora dan Danau Toba.Puji tuhan semuanya sudah bisa dicapai dengan berkat tuhan.Perjalanan ini adalah perjalanan luar biasa yang pernah aku lalui.

Dimulai dengan perjalanan menggunakan bus menuju kota Dompu.Satu kota yang belum pernah sekalipun aku ketahui. Karena menuju Tambora aku harus mencapai kota dompu terlebih dahulu.Dan karena pertimbangan lebih murah bus menjadi salah satu transportasi alternatifku.Tapi ini menjadi pengalaman pertamaku dan menjadi tak terlupakan,karena banyak cerita yang terjadi selama perjalanan ini.

Perjalanan bus dimulai dari kota cikampek sore hari,bus safari dharma raya adalah bus yang aku ketahui bisa membantuku menuju kota dompu,lama perjalanan yang nanti aku tempuh adalah 3 hari 2 malam.Perjalanan selama hari pertama adalah perjalananku melewati pantai utara pulau jawa hingga pelabuhan ketapang keesokan sorenya.Terlebih ketika melewati taman nasional baluran yang ada di situbondo,walau hanya melewati sudah cukup membuatku merasakan perjalanan menjelejah taman tersebut dari kejauhan.

Setelah melewati ketapang,bus menyebrangi selat bali menuju pelabuhan gilimanuk dan seperti biasa memasuki bali pemeriksaan setiap penumpang dilakukan dan aku juga melalui hal yang sama.Karena tiba diketapang menjelang magrib,otomatis perjalanan laut tidak terlalu bisa dinikmati dan karena jarak cukup dekat hanya 30 menit bus sudah tiba.Dan perjalanan dilanjutkan menuju Lombok melalui pelabuhan lembar,satu kali kami rehat di tempat makan yang sudah disediakan dan karena perjalanan masih panjang,bus melanjutkan perjalanan kembali.Karena perjalanan malam yang aku sadari adalah kami sudah berada di tengah selat lombok pagi harinya,pemandangan ditengah selat ini begitu menakjubkan,karena suasana masih pagi eksotisme pulau bali dan pulau lombok diantara cahaya matahari pagi menjadi pemandangan gratisku yang sayang aku lewatkan saat itu,aku menuju dek atas dan menikmatinya.Sekitar jam 8 pagi kami sudah sampai dipelabuhan lembar dan menuju kota mataram karena beberapa penumpang ada yang turun disini didaerah sweta kami berhenti,jadi ingat ketika beberapa tahun yang lalu aku berada di daerah ini juga.Perjalanan kami lanjut menuju pelabuhan kayangan,sekitar 5 jam perjalanan sebelum kami menyebrang menuju pulau sumbawa.Disini kami mulai mengenal sesama penumpang dan bercerita satu dengan yang lainnya,karena sepanjang perjalanan sebagian besar adalah penduduk pulau sumbawa dan ada beberapa orang penduduk pulau ntt,yang menumpang hingga kota dompu dan melanjutkan perjalanan hingga pulau timur nusa tenggara.

Semua ini kami lakukan untuk mengurangi kejenuhan selama didalam bus.Sebelah tempat dudukku adalah seorang bapak yang menuju pulau ntt,dan dalam rangka kembali setelah pelatihan di jakarta. Beliau bercerita banyak hal,tentang perjalanannya nanti yang masih membutuhkan satu hari perjalanan ditambah melalui perjalanan laut flores yang panjang ditempuh sekitar 7 jam dari pelabuhan sape di bima hingga menuju labuan bajo di flores.Itu bila cuaca mendukung dalam arti angin laut flores bersahabat,bila tidak bisa lebih lama dari itu.Aku membayangkan betapa melelahkannya,duduk di bus selama menuju dompu saja sudah membuat bokongku terasa panas tapi mau apalagi beliau membawa beberap pesenan yang tidak bisa dibawa melalui udara,karena terlalu banyak dan satu pesanan adiknya yang belum bisa didapatkannya yaitu brem.Beliau memang pernah bertanya padaku saat masih berhenti didaerah probolinggo,tapi ditempat istirahat bus kami, tidak kami temukan brem tersebut hingga melewati bali dan seterusnya tidak beliau dapatkan akhirnya.Beliau sendiri belum tahu seperti apa brem itu,akhirnya aku berjanji bila aku kembali ke jawa aku akan paketkan brem tersebut untuk adiknya.Dan beliau memberikan alamatnya tersebut dan tampak sekali kalau beliau begitu senangnya mendengar janjiku tersebut.Dan akhirnya brem tersebut sudah aku paketkan sekembalinya aku dari Tambora,semoga bermanfaat.

Perjalanan tiba di pelabuhan kayangan lombok sekitar pukul 2 siang,disini aku membeli beberapa makanan khas lombok yang pastinya pedas seperti nasi kuning yang bisa aku makan untuk mengganjal perutku yang lapar karena jatah makan bus sudah tidak ada lagi disini.Kami menunggu antrian masuk seperti biasa,karena lama akhirnya kami memilih turun dan melihat pemandangan pulau sumbawa dikejauhan dan gunung rinjani.

Perjalanan menuju sumbawa akhirnya dimulai,bus kami akhirnya masuk dan kami naek ke atas menuju tempat duduk penumpang,kapal yang menuju ke pelabuhan potatano tidaklah sebesar kapal yang menuju pelabuhan lembar,tapi cukup nyamanlah tidak membuat aku mabuk laut.Aku lebih memilih diluar kapal sambil melihat pemandangan selat sumbawa dan pulau disekitarnya.Sepanjang aku menikmatinya pulau disekitar sumbawa tidak lebih dari hamparan padang rumput jarang ada pepohonan tinggi,tampak begitu panasnya pulau didaerah sumbawa berbeda dengan sebelumny.Tapi itu semua tidak menghilangkan eksotisme pulau didaerah sumbawa,aku sempat mengobrol dengan orang-orang yang berada diatas kapal tentang keindahan pulau sumbawa dan yang berhubungan hal tersebut.Tampak kalau beberapa pulau kecil ada yang tidak ditinggali dan ada yang dijadikan resort karena  bule-bule luar negeri menyukai konsep kealamian pulau tersebut.Hingga 2 jam kemudian kami sampai di pelabuhan potatano sumbawa.

Kegersangan sudah mulai terlihat,infrastruktur saat aku melewatinya ada yang rusak dibeberapa titik dan jembatan penghubung ada yang sedang dalam tahap perbaikan,ciri khas negeri kita yang sebenarnya :-)

Semakin dilalui mulailah terlihat keadaan pulau sumbawa secara keseluruhan dari dekat tidak lagi dari tengah selat.Disini tampak.terlihat bahwa kebun adalah salah satu usaha yang dilakukan penduduk disini selain berternak dan menggarap sawah dibeberapa lahan. Tapi yang terbanyak diawal perjalanan adalah kebun jagung kami sempat berhenti karena pak sopir begitu baiknya setelah mendengar aku yang belum pernah makan jagung daerah sumbawa dan kami membeli jagung beramai-ramai, yang saat itu sedang musim panen.Ternyata jagung di pulau sumbawa berbeda dengan jagung kebanyakan pulau jawa,disini jagung berwarna putih dan saat dimakan begitu pulennya,seperti makan nasi,enak rasanya.Tapi sayang tidak bisa aku jadikan oleh-oleh karena masih terlalu awal perjalananku.

Disini sepanjang jalan setelah kebun jagung tadi,jalanan sudah aspal halus terlebih setelah melewati kabupaten sumbawa besar.Sepanjang jalan ciri rumah khas sumbawa terlihat jelas.Begitu lenganggnya jalanan ketika kita berjalan semakin ke timur,tidak seperti kebanyakan jalanan di pulau jawa.Jalanan semakin berliku ketika sudah mendekati daerah dompu.Dan perjalanan ini tidak bisa aku deskripsikan seperti aslinya,karena sulit menuangkan sebuah pengalaman yang hanya bisa dirasakan kedalama sebuah tulisan.Satu hal yang pasti,ini adalah salah satu perjalanan soloku yang begitu berkesan,terlebih di akhir perjalanan menuju dompu,kami semakin menjadi seperti sebuah keluarga yang akan pulang kampung terlebih saat satu persatu dari kami turun menuju tempat tujuannya masing-masing,kami berpamitan seakan kami sudah mengenal begitu lama.Dan memang tiga hari dua malam memberikan sebuah cerita tersendiri bagi kami yang melaluinya,terlebih diriku.Banyak hal yang aku dapatkan ketika aku berangkat seorang diri dan akhirnya merasa tidak sendirian lagi,setelah banyak hal aku dapatkan.Hingga aku pun dapat menghapal pengemudi bus yang jumlahnya 3 orang saat itu.Mereka luar biasa membawa kami dalam perjalanan jauh dengan mengedepankan keselamatan semua.Merindukan kembali perjalanan yang seperti ini.

Friday, 21 October 2016

wanita...

Wanita....
Entah kondisi apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita di negara kita, banyak hal yang begitu kompleks terjadi dengan seorang wanita. Mulai dari tanggung jawab, proses reproduksi seorang perempuan yang sangat unik dan keadaan atau budaya yang sering kali membuat wanita lebih banyak disudutkan atau malah tersudutkan.

Kenapa aku bisa berkata seperti ini, karena aku tahu dan merasakan bagaimana ketika kita berada dalam keadaan tersebut.

Contohnya saja adalah budaya yang paling sering terjadi. Ketika seorang wanita dilahirkan saja, ada beberapa budaya yang menganggap bahwa ketika seorang ibu melahirkan seorang anak perempuan, ada yang mengganggap anak perempuan sebagai modal. Karena ketika nanti anak beranjak dewasa mereka bisa menikahkan anak mereka dengan pesta bahkan mungkin ada yang meriah sehingga ada banyak uang yang disumbang kepada si penggelar pesta, walau buat saya pribadi itu hal yang aneh. Tapi itu sangat nyata terjadi, apalagi kebanyakan budaya yang berlaku di negara kita yang menikahkan itu pihak wanita. Aku tidak bisa berdebat dengan hal tersebut karena itu hal yang sudah terjadi dan diyakini oleh banyak orang, jadi ya sudahlah.

Itu baru beberapa hal yang memang terjadi di negara kita dan budaya kita. Walaupun mungkin kata emansipasi itu seringkali didengungkan, tapi buat saya sendiri apa itu emansipasi ketika itu semua hanya sebuah kata yang dilematis. Bagaimana tidak dilematis, ketika wanita tidak bisa berkata apa yang ingin dikatakannya atau bisa tetapi dengan syarat tidak tertulis oleh norma dan diamini oleh banyak orang.

Betapa menyedihkannya ketika orang tidak bisa berkata apa yang sesungguhnya ingin dikatakannya, tapi aku bisa mengerti kenapa itu semua bisa terjadi. Ketika sedari kecil kita dididik untuk tidak mengatakan apa yang kita inginkan dan tidak sopan ketika kita berkata yang berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh orang tua kita. Bukankah seperti itu yang memang di doktrinkan oleh budaya dan norma yang berlaku. Jadi ya sedari kecil kita sudah di design untuk berpikir seperti itu. Untunglah ayah dan ibuku tidak mendidik dengan hal yang terlaku kaku, mereka tetap bisa mendidik aku dengan sebuah kesantunan tetapi aku tetap bisa bersuara walau mungkin tidak semua harus aku suarakan.

Hal yang aku sering sedihkan adalah ketika seorang wanita tidak bisa berdaya dengan dirinya sendiri. Maksudnya seperti apa?

Aku pernah dinas di daerah dan kebetulan aku berhubungan dengan hal kesehatan, seringkali ketika seorang wanita melahirkan dan butuh rujukan ke kota yang fasilitas lebih lengkap, mereka harus berjibaku dengan rundingan dan terpaksa menurut dengan keputusan orang lain bukan dirinya sendiri ketika harus terkait dengan keuangan atau norma. Padahal kita punya hak untuk menentukan semuanya ketika kita tidak bergantung sepenuhnya dengan orang lain semisal suami atau keluarga. Tapi kenyataannya adalah budaya kita kebanyakan mengganggap wanita seharusnya dirumah, tidak bekerja dan mengurus anak saja. Padahal anak tidak hanya menjadi tanggung jawab seorang wanita saja.

Aku termasuk seorang anak yang berhasil dididik oleh ibu yang bekerja,dan ibuku tidak berkontribusi sendiri saja tapi kontribusi ayahku sangatlah besar. Malah ayahku mempunyai dominasi yang besar dalam membuat doktrin dalam hidupku. Ayahkulah yang mengajarkan sebuah keterbukaan selain ibuku, kami terbiasa berdiskusi dengan banyak hal mulai dari kami kecil. Jadi aku sedikit tertawa geli, ketika ada anak yang mempunyai kebiasaan tidak baik atau nakal yang disalahkan seorang wanita, buatku ini tidaklah adil!

Banyak hal yang membuat wanita tidak bisa memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri, semisal KB (keluarga berencana), masih banyak wanita yang tidak bisa merencanakan tentang keluarganya sendiri, semua ditentukan oleh suami atau ibu atau ayahnya.

Buatku agak sedikit aneh, tapi sekali lagi itu kenyataan, dan kalau dibahas tidak akan selesai karena sudut pandang dan pemikiran kita mungkin berbeda.

Yang sangat ingin aku lihat adalah bahwa wanita bukanlah sebuah slogan atau hanya pajangan dalam keluarga yang tidak bisa berkontribusi dalam hidup keluarganya atau malah dalam dirinya sendiri. Wanita mempunyai kontribusi dalam kehidupan keluarga terlebih dirinya sendiri. Karena itu bagian dari penghargaan diri.

Betapa tersanjungnya seorang wanita yang mendapatkan seorang pendamping yang bisa menghargainya sebagai pendamping yang sepadan,sehingga ia selalu melibatkan pendamping hidupnya bukan hanya sekedar pemuas nafsu atau hanya menjadi pajangan cantik yang tidak dapat memberi dan menambah warna dalam kehidupannya. Maaf tulisan ini mungkin tidak mencerminkan semuanya,karena masih banyak lelaki yang berlaku seperti ayahku dan menghargai wanita benar-benar sebagai wanita yang seharusnya,dan wanitanya juga memang wanita yang seharusnya pantas untuk dihargai. Dibalik sebuah keluarga yang penuh cinta,semua mempunyai kontribusi,terlebih seorang wanita.Jadilah wanita berharga yang memang pantas untuk dihargai.

Saturday, 17 September 2016

keyakinan

Entah apa yang di definisikan orang tentang keyakinan. Apakah ini disamakan dengan agama,terserah orang saja apa yang mereka yakini. Tapi untuk saya pribadi, keyakinan adalah masalah hati. Untuk saya agama dan keyakinan itu berbeda kalau agama bagian dari keyakinan, mungkin ada orang yang meyakini demikian. Agama hanya masalah pemahaman manusia akan konsep tuhan yang abstrak menjadi tidak abstrak untuk diri masing masing. Sedangkan keyakinan adalah masalah kekuatan hati. Makin bingung deh...

Tidak penting jika memahaminya semakin bingung, itu hanya masalah pikiran. Yang jelas adalah keyakinan dimiliki oleh setiap diri untuk membuatnya semakin yakin melangkah dalam kehidupannya masing masing. Setiap individu mempunyai kehidupan dan keyakinannya masing masing, jadi tidak ada yang berhak menyalahkan atau membenarkan keyakinan orang lain, yang wajib diyakini adalah keyakinan yang memang diyakininya. Tak ada yang benar mutlak. Karena kebenaran itu relatif untuk diri kita masing masing. Tak ada sudut pandang yang salah, hanya darimana dan bagaimana orang memandangnya.

Jadi tak adalagi keributan hanya karena masalah keyakinan. Bila nyatanya keyakinan seseorang berbeda dengan yang kita yakini, ya sudahlah, tak ada yang harus diperdebatkan. Biarkan semua berjalan dengan sendirinya, tak harus ada yang disamakan, biarkan ia berbeda seperti apa adanya dan menerimanya.