Sunday, 1 November 2015

Takdir atau Nasib....?

Perkataan ini muncul,setelah aku mendapat pertanyaan dari seseorang yang bertanya padaku apa perbedaan takdir dan nasib. Sebenarnya aku sendiri tak mengerti pasti,hanya sering mendengar kalau kata-kata ini seringkali orang atau mungkin diriku mengatakannya. Dan lucunya aku menjawab enteng saja menurut pendapatku,masalah benar atau tidak toh buatku tidak penting juga.Aku juga tak mengerti kenap aku ditanyakan akan hal tersebut. Dan aku menjawab,"kalau aku tidak percaya dengan istilah nasib,kalau menurutku hanya ada takdir dan pilihan hidup dengan pengertian kalau takdir itu adalah ketentuan atau perjanjian yg memang sudah ditentukan dari awal "perjanjian" itu. Sempat ada perdebatan sedikit yang menurutku tidak penting karena ini hanya masalah konsep dan sudut pandang saja, dan setiap orang terkadang mempunyai pemikiran yang berbeda. Dan sah - saja bukan?

Kalau akhirnya aku menuliskannya,karena aku memang ingin menuliskan saja. Aku tersenyum ketika saat itu kami berdebat tentang kata - kata tersebut,walau pada intinya akhirnya kami mempunyai persamaan persepsi.

Sempat ada pertanyaan sedikit nyeleneh juga, karena ada pertanyaan tentang perceraian apakah menurutku itu takdir atau nasib? Aku tertawa ketika menjawabnya karena pertanyaan itu diajukan pada orang yang belum mengenal pernikahan apalagi perceraian! Dan aku menjawab kalau itu pilihan hidup bukan takdir dan aku tidak mengenal nasib.

Karena menurutku ketika ada nasib akan rancu dengan kata takdir dan hanya membuat kebingungan karena sebuah kata. Tapi sekali lagi ini pemikiranku.Kalau ada yang mempunyai pemikiran lain,silahkan saja. Takdir memang sudah dibuat dari awal sebelumnya dan mungkin juga hasil dari sebuah pilihan. Tak ada yang tahu akan hal tersebut atau mungkin kita yang tidak ingat saja he...xx

Tapi menurutku tidak usah juga diperdebatkan, tak ada yang diuntungkan atau dirugikan juga atau malah ada?

Cermin Diri...

Ternyata kebaikan tidaklah selalu berakhir dengan hasil yg baik juga. Tergantung dari sipenerima kebaikan itu sendiri. Apakah sipenerima kebaikan itu mau menerima kebaikan yang kita berikan atau sebaliknya dia menolaknya, walaupun didalam hati penolakan itu. Karena hasil akhirnya akan berbeda. Tapi jangan lantas kita berhenti melakukan kebaikan yang tulus,karena kebaikan atau apapun yang bersifat positif pada dasarnya adalah baik.

Diri kita adalah cermin....

Jadi apapun yang ada didalam hati kita akan memantul ke sekitar kita dan akan kembali pada kita, lepas kita menyadarinya atau tidak. Karena hal ini pernah aku alami seperti ketika kita melakukan sebuah ketulusan dengan membantu orang yang kita kenal atau tidak, entah kapan waktunya kebaikan itu kembali dengan sendirinya. Ini terjadi seringkali pada saat aku bepergian dan tempat yang aku tuju tidak aku ketahui atau aku berada dalam perjalanan yang aku sendiri belum pernah pergi kesana, ada saja orang - orang yang mau membantuku dengan tulus bahkan lebih dari yang pernah aku lakukan. Jadi mungkin hal itu yang membuat aku berani melakukan beberapa perjalananku sendirian, padahal sih takut juga di awal perjalanan he...xx

Banyak hal lainnya, yang pasti sih karena tuhan atau malaikat pelindungku selalu menjagaku dan kita semua. Lepas dari kita percaya atau tidak. Tapi sekali lagi kita hanyalah manusia biasa, tak ada hal yang sempurna kita lakukan. Dan berawal dari ketidak sempurnaan itulah manusia menjadi sempurna adanya seperti maksud dari penciptaan kita mungkin.

Sunday, 30 August 2015

Amarah Dan Kenapa?

Amarah...
Sebuah kata yang mempunyai efek luar biasa bagi yang merasakannya. Entah bagaimana perasaan seperti ini terjadi. Karena aku masih bisa merasakannya hingga saat ini,dan perasaan ini harus bisa dikendalikan karena efeknya hampir tak bermanfaat. Dan aku berpikir kenapa perasaan itu muncul dan kenapa perasaan itu ada?Karena ketika perasaan itu muncul hanya membuat banyak hal tidak bermanfaat bagi yang merasakannya.Aku pernah merasakannya dan menurutku hanya ketidaknyamanan yang terjadi.

Sepertinya perasaan itu ada ketika ekspetasi terlalu besar dari realita dan harapan tidak sesuai. Dan pertanyaannya haruskah ada amarah?

Entahlah....apakah marah itu memang diperlukan?tapi kalau menurutku seharusnya tak perlu ada amarah,kalaupun ada hal - hal yg memang tidak sesuai,terima saja,tapi mungkin untuk beberapa orang mereka membutuhkan untuk sebuah eksistensi bahwasanya ego mereka diakui. Tapi yang aku rasakan amarah hanya menghabiskan energi yang ada di dalam diri kita dan akhirnya sia - sia, bukan berarti aku tak pernah marah karena aku juga manusia biasa yang masih terbelenggu oleh emosi,tapi aku belajar mengendalikannya,dan aku lebih suka membawa amarahku dalam tidur,karena setelah bangun aku mudah melupakannya ha....xx emang dasarnya aku pelupa kali ya

Tuesday, 11 August 2015

Diri Sendiri...

Ternyata mengenali diri sendiri tidaklah semudah ketika mengatakannya. Karena hal itu berlaku pada diriku. Semua bermula ketika aku menceritakan satu hal yang terjadi pada diriku dan menurutku cara menyelesaikannya adalah dengan berbicara. Tapi tenyata aku tak pernah bisa membicarakannya,entah bagaimana ada saja halnya yang membuat kami tak bisa berbicara satu sama lain. Aku tak pernah memaksakan sesuatu itu karena aku terkadang berpikir aku sendiri tak siap untuk melakukannya. Tapi disatu sisi diriku seperti menuntut sesuatu itu terjadi dan akhirnya memang tak pernah terjadi. Aku membicarakannya dengan adikku dan dia hanya berkata,"cukup mba...kamu mencari sesuatu diluar diri sebenarnya lo dah tau jawabannya."

Dan aku akhirnya terdiam,entah merenung,berpikir atau malah tak mengerti,atau tak mau tahu!

Setiap manusia mempunyai hati nurani atau "spiritual helper" kalau pake istilah adikku. Apapun istilahnya Tuhan sudah menciptakan diri fisik kita dan paketnya. Jadi inget waktu aku ikut lokakarya padmajaya,ibu pembimbingku berkata,"sebelum diri fisik kita diciptakan kita sudah diberitahukan tentang petunjuk tehnis tentang diri fisik kita dan paketnya." Setelah lahir kita seringkali lupa dengan aturan atau rules yg sudah dibuat tersebut. Tapi Tuhan itu memang luar biasa, sepertinya Tuhan memang tahu akan hal tersebut, makanya ketika kita keluar dari aturan yang sudah dibuat pada awal penciptaan, kita selalu diingatkan akan tujuan awal dan aturan yang telah dibuat tersebut. Kita seperti lupa akan diri kita sendiri, tujuan penciptaan kita, dan pembelajaran apa yang seharusnya kita dapat.

Kita seringkali asyik dengan hal duniawi yang sebenarnya bukanlah tujuan awal kita ada di dunia ini dan siapa diri kita sendiri! Kita lupa dengan diri kita sendiri dan sibuk melihat hal dan apa yang ditempelkan lingkungan, nilai, dan pemikiran orang lain terhadap kita yang bukanlah sebenarnya diri kita sendiri. Kita disibukkan dengan pemikiran dan apa yang dihasilkannya atau yang diakibatkannya, padahal itu tidaklah penting pada dasarnya. Tapi memang seperti itu mungkin hakikat manusia pada umumnya dan mungkin menjadi batu sandungan manusia pada umumnya. Dan asumsi serta pendapat yang aku tuliskan juga hasil dari sebuah pemikiran dan pendapat, jadi tidaklah penting buat diriku sendiri.

Butuh waktu dan ketakutan untuk mau menerima kenyataan siapa sebenarnya diri kita sendiri,bukan diri fisik yang terkadang adalah hasil cipta dari pemikiran atau nilai yang ditempelkan orang lain. Misalnya baik atau jahat, keras atau lembut dan sebagainya, karena itulah dualitas, diri sejati tak pernah mengenal dualitas, tak ada baik atau jahat yang ada adalah apa adanya, tak ada konsep atau pemikiran yang ada adalah apa adanya. Sepertinya aku mudah mengatakannya dan aku seperti mengenal diriku sendiri, tapi kenyataannya hidupku adalah pengenalan diriku yang sebenarnya. Sampai akhirnya aku benar - benar melihat dan mengenali diri sejatiku....

Saturday, 18 October 2014

Meditasi Pertamaku...


    Pengalaman meditasi tanpa objek pertamaku. Aku memang baru pertama mengikuti yang namanya meditasi, sebelumnya aku memang mengenal meditasi dari cerita orang-orang. Tapi aku belum pernah mengikutinya. Jujur, keinginan untuk tahu apa itu meditasi ada dari sejak lama, tapi ketika meditasi butuh konsentrasi aku mundur perlahan. Aku berpikir saat itu. Aku merasa mengenal diriku bahwasanya aku mencap diriku sendiri sebagai diri yang sulit untuk fokus dengan satu hal. Dan meditasi yang aku ketahui seperti itu intinya, jadi konsep itu melekat dalam pikiranku karena aku pernah mencoba sendirian dan aku akhirnya stress, dan malas mengikutinya pada akhirnya.
    Meditasi tanpa objek aku kenal tanpa sengaja, ketika aku dengan sengaja membuka handphone adikku dan membaca beberapa unduhannya tentang jadwal meditasi tanpa objek tahun ini. Tapi aku tidak terlalu menanggapinya karena aku tidak tahu apa meditasi tanpa objek itu. Tapi entah mengapa, pikiranku memikirkan Meditasi Tanpa Objek tanpa aku sadari sepenuhnya. Aku tak mengenal Meditasi Tanpa Objek dalam bentuk buku sebelumnya dan dalam bentuk apapun. Aku hanya mencari sesuatu entah itu apa.
    Aku jadi teringat ketika adikku berusaha mencoba membaca garis tanganku dan aku menolaknya dengan sadar dalam pikiranku beberapa waktu yang lalu. Dia pernah berkata kamu mencari sesuatu kan mba? Dan saat itu aku memang mencari sesuatu yang aku sendiri tak pernah paham apa itu. Entah mengapa aku kembali melihat jadwal meditasi tanpa objek tersebut, aku mencoba menyesuaikan beberapa jadwalnya. Awalnya aku hendak mengikuti MTO saat libur lebaran tapi aku berubah pikiran dengan beberapa alasan yang terlalu klise, bulan oktober aku sempat ragu karena ada beberapa hal teknis, dan akhir tahun sempat menjadi waktu yang menurutku tepat untuk mengikuti meditasi tanpa objek ini, karena akhir tahun orang cenderung untuk berusaha melakukan introspeksi akan dirinya sendiri bukan? Tapi akhirnya pikiranku berubah, karena hasil doktrin dengan sengaja adikku, “Kenapa harus tunggu akhir tahun sih mba, kelamaan kali, kalau bisa sekarang kenapa gak.”
    Entahlah kata- kata itu masuk ke dalam alam bawah sadarku dengan sengaja dan aku akhirnya berpikir dan pikiran bekerja dengan segala paket alasan dan pembenarannya. Akhirnya dengan sedikit ragu akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti MTO bulan oktober. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana untuk dapat mengikuti meditasi tanpa objek tersebut karena adiku sendiri belum pernah mengikutinya, dan penjelajahan dunia maya akhirnya menjadi solusiku.
    Lucu sebenarnya kalau aku pikir- pikir, kenapa juga aku bisa tertarik dengan meditasi ini. Padahal tak ada yang ketahui tentang meditasi itu sendiri. Apa itu meditasi, hanya seperti kebanyakan orang berpikir saja bahwa meditasi ya duduk diam itu saja.
    Akhirnya setelah aku bertanya melalui email, aku mencoba mencari tahu apa meditasi tanpa objek. Dan aku mengunduh e book tentang meditasi tanpa objek, pengarang bukunya cukup cerdas dan up to date ternyata. Aku mecoba membaca beberapa testimoni dan sempat berpikir “ pusing juga ngertinya nih...” dan malas membaca testimoni selanjutnya, entah kenapa. Tapi rasa ingin tahuku memang terlalu besar tentang sesuatu yang tidak aku mengerti, sehingga pendaftaran itu berlanjut walau sempat tidak jelas. Tiket pulang pergi sudah ditangan walau statusku sebagai peserta tidak jelas, yang jelas aku sudah minta cuti ditempat kerjaku. Aku sendiri tidak tahu alamat yang  aku tuju, yang jelas rute yang tertulis di dunia maya tidak aku pahami dan aku tidak bertanya, lengkap sudah kebodohanku he he he
    Sampai detik-detik keberangkatan aku masih santai, dan sempat kaget juga saat membaca email balasan, intinya bahwa syarat untuk mengikuti meditasi tersebut harus mendapat konfirmasi kalau aku memang terdaftar sebagai peserta. Dan sampai keberangkatanku aku belum mendapat konfirmasi dalam bentuk apapun, sempat panik.com. Tapi aku sempat berpikir kalau memang ternyata aku nanti tidak terdaftar ya sudahlah, paling aku luntang lantung saja menikmati perjalananku dan tak pernah aku mengalami perjalanan yang sia-sia pada dasarnya. Semua cerita perjalananku membantuku menemui sesuatu.
    “Waduh kalau aku nanti sampai sana ternyata jumlah peserta penuh terus aku gimana dong jauh-jauh gak ada hasil..,” pemikiran sempitku bekerja.
    Aku mencoba mencari kontak person yang bisa aku hubungi dan pak josef orang pertama yang ada dalam pikiranku dan nomor teleponnya juga tidak aku ketahui ha ha ha
Aku mencoba mengirim email, belum ada balasan, akhirnya teknologi membantuku dan akhirnya aku mendapat konfirmasi status!
    Tapi itu semua tidak selesai sampai disini ternyata, aku menyadari sesuatu saat aku mengobrol dengan seorang bapak asal Malang dalam kereta api. Beliau bertanya tentang tujuanku dan aku jawab yang aku ketahui dan beliau menjelaskan kalau claket itu dekat dengan stasiun hanya 10 menit, aku cukup senang juga saat mendengar hal tersebut. “Ah...perjalanan tidak melelahkan nantinya,” pikirku saat itu.
Setelah itu, bapak tersebut memilih pergi ke gerbong lain karena ingin tidur dengan leluasa dan kami tidak bertemu hingga saat beliau hendak mengambil barangnya dan sudah mendekati daerah Malang. Beliau sempat mengajakku untuk bareng saja karena beliau dijemput oleh keluarganya dan berkenan mengantarku. Tapi aku mencoba untuk tidak merepotkan bapak tersebut dan menolak dengan halus agar bapak tersebut tidak tersinggung. Dan beliau mengerti, tapi pikiranku kembali bekerja saat beliau bercerita aku mencoba mensinkronkan petunjuk rute yang aku dapatkan dari dunia maya dengan penjelasan beliau tadi malam. Karena menurutku rute yang tertulis cukup jelas tapi tidak sesuai dengan penjelasan beliau yang hanya 10 menit, kok kalau menurutku rutenya sepertinya rumit dan jauh. Akhirnya aku menjelaskan pada bapak tersebut tentang alamat yang dituju, dan akhirnya bapak tersebut sadar bahwa alamat yang dijelaskannya semalam padaku bukan alamat yang aku tuju. Beliau tahu daerah tersebut tapi tidak paham alamat tersebut, tapi beliau dengan baik hati membantuku agar nanti memilih jalur yang lebih mudah aku lalui walau aku sendiri tidak paham he he
    Bener juga apa yang dikatakan dalam buku Alkemist karangan Paulo coelho intinya bahwa semesta akan membantu ketika dengan segenap hati pula kita melakukan sesuatu.
    Aku sempat nyasar juga sebenarnya, itu karena ketidaktahuanku. Karena aku percaya pada pak supir aku biarkan saja beliau membawaku sampai akhir rutenya, karena aku pikir aku sudah bertanya padanya tentang alamat yang aku tuju dan beliau menurutku sudah paham tujuanku, ya sudah. Ternyata aku seharusnya turun disebuah pertigaan tetapi malah mengikuti hingga aku sadar sesuatu dan bertanya kembali. Taraaa...aku malah sampai di objek wisata Air Terjun Kakek Bodo dan akhirnya daripada meratapi kebodohanku mending aku masuk saja seperti apa sih didalamnya. Namanya air terjun pastinya sama saja kayak yang lain, cuma  karena rasa ingin tahuku saja dan akhirnya aku hanya melihat air menetessedikit lebih banyak, bukan air tejun. Sepertinya aliran sungainya kering hingga air yang turun tidak terlalu besar, tapi cukuplah.
    Sampai juga aku ditempat yang aku tuju setelah makan nasi campuur dan melewati banyak hal, mungkin makanan ini yang membuat otakku bisa bekerja lebih jernih ha ha ha
    Akhirnya....
    Malam pertama...
Badan sedikit capek dan setelah penjelesan beberapa hal tanpa sempat berpikir untuk bertanya seperti apa nantinya aku hanya mencoba mengikuti saja. Aku sempat berkenalan dengan seorang nenek yang cukup muda untuk dikategorikan, karena beliau berusia 49 tahun dan hampir seusia dengan sepupuku dan beliau memang tampak muda dan tidak keberatan aku panggil “mbak” biar tidak ada jarak yang terlalu jauh saja. Beliau sempat menjelaskan beberapa hal yang diketahuinya dari temannya, karena temannya pernah mengikuti meditasi sebelumnya ditempat lain. Dan aku mendangarkan saja penjelasan beliau toh gak ada ruginya. Yang jelas ini malam terakhir kami berbicara sampai dengan waktu yang ditentukan. Karena kami dilarang berbicara satu sama lain dan fasilitas handphone, jam tangan kami disimpan panitia.
    Meditasi dimulai pukul 4 pagi...   
Awal yang sulit karena pikiranku masih saangat mendominasiku seperti biasanya, untuk bisa duduk manis tanpa bergerak saja yang kelihatannya  begitu mudah, buat aku pribadi menjadi begitu sulit. Jangankan satu jam, duduk diam untuk beberapa menit saja, aku sudah merasakan kesemutan, sakit dan lain sebagainya. Sepertinya pembimbing meditasi sepertinya tahu kesulitanku dan ketika beliau berkata amati dan sadari, saat itu aku belum paham. Meditasi berlanjut dengan berjalan,menyadari gerak langkah dan saat makan pun dilakukan dengan meditasi. Aku masih dengan pemikiranku, dalam diam pun pikiranku bergerilya dengan nyamannya. Aku masih kesulitan memahami sebuah kata “amati” dan “sadari”. Ketika sesi meditasi berjalan terus hingga malam hari, aku masih sibuk dengan diriku sendiri!
    Aku masih sangat sibuk dengan diriku dan aku mencoba berbicara dengan pembimbing meditasi untuk meminta waktu berbicara dengan beliau esok hari dan esok harinya aku bertemu dengannya.
    Aku mencoba mengemukakan masalahku sehubungan dengan meditasi ini dan semua konsep yang sebelumnya aku ketahui dan ini yang menjadi bumerang buat diriku sendiri. Dalam meditasi yang lainnya yang sempat aku baca, bahwa dalam meditasi dibutuhkan konsentrasi tentang sebuah objek dalam artian kita fokus terhadap objek tersebut. Sedangkan dalam meditasi tanpa objek yang sempat aku baca, objek yang muncul hanya diamati dan disadari tanpa kita harus berusaha fokus terhadap objek tersebut. Tapi kenyataannya aku mengalami kesulitan pada awalnya dan pikiranku menguasai diri. Hasilnya hari pertama menjadi hari perjuangan dengan diriku sendiri.
    Saat berbincang tersebut ada kata-kata pembimbing meditasi yang aku ingat adalah jangan memahami dengan pikiran. Aku sempat bingung dan beliau berkata kembali, “ jangan gunakan pikiran sekali lagi...”
    Saat itu aku rasanya ditampar dengan sebuah kata- kata, “ jangan gunakan pikiran...”
Aku yang terbiasa menggunakan logika dan pembenaran sendiri dan pikiran-pikiranku, dihadapkan dengan sebuah kondisi yang mengharuskanku melakukan hal-hal yang berbanding terbalik dengan apa yang sudah biasa aku lakukan. Aku sempat terdiam dan tiba-tiba menangis entah mengapa dan berkata sesuatu dengan pembimbing meditasi. Aku menyadari kesulitanku dan keterikatanku dengan pikiran-pikiranku, aku hanya belum bisa memahami bagaimana aku bisa hidup tanpa pikiran-pikiranku??
Aku belum rela meninggalkan semua pikiranku dan bagaimana aku melepaskannya?
Tiba-tiba apa yang ada di pikiranku aku ungkapkan pada pembimbing meditasi dan beliau benar-benar luar biasa sabar dan tanpa reaksi sedikitpun ketika melihatku menangis,beliau memang terlatih dengan berbagai kondisi dan  sepertinya buat beliau hal tersebut biasa saja, aku yang menanggapinya terlalu luar biasa dan saat aku menyadarinya esoknya lucu sekaligus malu juga kalau ingat saat itu.
    Aku sadar musuh terbesarku adalah diriku sendiri dan akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak bisa menganggap diriku sebagai musuh, tapi cukup menyadari saja keberadaanku mungkin lama kelamaan diriku akan menghilang dengan sendirinya, tanpa harus aku berusaha sekuat tenaga mengalahkan diriku sendiri, seperti yang beliau ucapkan padaku, “cukup amati dan sadari...” hanya sesimple ini dan aku menghabiskan beberapa energi dan waktu untuk mencari sesuatu yang tak perlu aku cari dalam sisa kehidupanku. Luar biasa bodohnya aku ha ha ha
    Tapi aku sangat berterima kasih dengan sebuah tamparan yang cukup menyadarkan diriku saat itu dan semoga setiap saat. Hanya sebuah kesadaran diri setiap saat yang perlu aku sadari apapun itu, tanpa harus mencari dan berpikir dan membiarkan semuanya berjalan sealami mungkin tanpa intervensi dan usaha apapun. Cukup dengan mengamati dan menyadari setiap waktu!
Sebuah kata-kata yang begitu mudahnya tapi ketika pikiran menguasai menjadi tertutup...
(Terima kasih romo sudri dan adikku yang manis, kamu paham diriku tak bisa menemukan sesuatu tanpa aku sendiri yang menemukannya dan pencarianku berhenti saat ini...)
Kebebasan total bukanlah kebebasan dari tekanan, atau bebas melakukan segala tindakan tetapi batin yang mandiri dan tidak terpengaruh oleh memori apapun 
Love u....

Tuesday, 23 September 2014

Tanpa Judul

     Pertama kali naik gunung seperti halnya pengalaman kita belajar sesuatu. Seperti pertama kali kita belajar naek sepeda, ada rasa takut pastinya begitu mendominasi tetapi keinginan untuk mengetahui gunung seperti apa menjadi penyeimbangnya . Begitu banyak hal yang mengejutkan dan menjadikannya sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Dan setiap gunung mempunyai cerita dan sensasinya sendiri, tak ada yang sama dalam setiap petualangannya.

Gunung gede adalah gunung pertama yang membuat saya jatuh cinta dengan semua sensasinya. Saya belajar filosofi dari sebuah gunung dan merasakan seperti menemukan diriku. Bagaimana gunung bisa mengajarkan  kita untuk menemukan arti sahabat, dan mengajarkan untuk tidak menyerah dengan keadaan saat kita merasa sudah kelelahan dan merasa tak berdaya ditengah perjalanan. Berusaha membuat kita kembali ingat akan mimpi dan tujuan awal dari sebuah pendakian, seperti mengingatkanku akan tujuan hidupku sendiri. Intinya gunung membuat penikmatnya, mengerti mengapa mereka mau mendaki sebuah gunung.

    Banyak cerita yang menyertaiku selama mendaki gunung mulai dari cerita lucu, bahagia, sedih, dan menegangkan. Mulai dari pengalaman pertamaku berjalan sambil tidur saat mendaki gunung gede, dan saat temanku merasa jantungnya akan meledak karena kelelahan. Ini menjadikan aku mengerti bahwa mendaki gunung adalah bagian dari olahraga jadi pemanasan sangat penting bila kita akan mendaki sebuah gunung, kecuali jika memang kita sudah terbiasa olahraga setiap hari. Sangat dianjurkan bila kita akan mendaki gunung, beberapa hari sebelum pendakian lebih baik kita membiasakan diri dengan lari kecil (jogging) agar kaki tidak kram ( Ini pengalamanku saat mendaki gunung gede untuk pertama kali).

    Dan setiap gunung mempunyai karakter sendiri seperti halnya manusia, tidak ada gunung yang sama persis. Misalnya ada gunung yang mempunyai lintasan atau trek yang tidak dominan, seperti ada trek berpasir dan berbatu sekaligus dengan tanjakan curam langsung atau malah ada gunung yang sangat landai diawal tetapi saat menuju puncak lintasan atau trek langsung menanjak curam. Seperti saat aku mendaki gunung semeru dan rinjani atau merapi, gunung tersebut mempunyai kesamaan trek pasir sangat mendominasi saat menuju puncak. Walau sama ada beberapa hal yang membuat mereka berbeda dan ini yang menjadikan sebuah pendakian tidak pernah membosankan. Gunung selalu menyajikan nuansa “magis” yang membuat orang tertentu merasakan sebuah candu. Mereka seperti merasakan bahwa mendaki sebagai sebuah kerinduan, merasakan bagaimana rindu akan kebersamaan dengan teman teman saat mendaki bersama. Rindu akan keceriaan saat makan bersama dan bisa bersama mencapai puncak sebagai bonus pendakian. Bahkan rindu saat kami merasakan penderitaan bersama semisal saat kami kehujanan bersama, lapar bersama, dan saat bajuku kebasahan ( karena kesalahanku saat packing) hingga harus meminjam pakaian teman yang lainnya. Disitulah sebuah pendakian menjadi sebuah hal yang menurutku tak akan pernah terlupakan dan bagaimana pendakian membuat orang membantu tanpa harus mengenal terlebih dahulu. Dan membuatku belajar bagaimana packing yang baik dan benar, seperti kehidupan itu sendiri bagaimana kita menyusun agar tidak memberatkan nantinya he he .

    Pengalaman kehausan dan kehabisan logistik karena beberapa hal mengajarkan arti berbagi dengan tulus, karena saat kita pernah merasakan kehausan atau kelaparan kita akan mengerti hal tersebut dengan lebih baik.

    Terkadang teman yang baru kita kenal dapat menjadi sahabat yang menjaga kita juga. Pengalaman mendaki gunung merapi sendirian membuat aku berkenalan dengan beberapa orang yang tulus menjadi sahabat tanpa berpikir banyak hal. Bagaimana rian dkk begitu ramah dan tulus mengajakku yang sendiri mendaki,  bergabung bersama padahal kami tak pernah saling mengenal sebelumnya. Dan bang Tiran dkk di Humpa, yang begitu hangat menyambutku layaknya kawan lama saat mendaki gunung Tambora terlebih saat melihatku sendiri. Mereka benar benar menjagaku hingga puncak Tambora.

    Gunung buatku sebuah pengalaman sekaligus bonus kehidupan yang luar biasa. Bagaimana aku bisa memahami mengapa orang jaman dahulu melakukan ritual kepercayaan atau berdoa diatas puncak gunung. Jauh jauh mereka berdoa hingga berada diatas puncak gunung. Itu yang menjadi pertanyaanku dahulu dan kini aku mengerti jawabannya. Ketika kita merasakan perjuangan mencapai sesuatu, sepertinya kita lebih bisa menghargai hasilnya kemudian. Dan saat di atas puncak terkadang kita merasa lebih religius, saat memandang semua begitu kecil dari puncak dan membayangkan diri kita bagian dari kekecilan itu dan melihat kebesaran yang tersaji didepan. Tak ada sekat saat kita berada diatas puncak, sepertinya kita menghadap langsung kepada sang pemilikNya. Disitulah nilai religi sebuah gunung.

    Tapi dibalik semua hal yang indah dari sebuah gunung. Gunung juga mengajarkan banyak hal tragis. Saat mendaki gunung, walaupun kita mungkin pernah mendaki gunung lebih dari sekali jangan pernah meremehkan sebuah gunung. Berpikir seperti kita baru mendakinya pertama kali, karena terkadang kesombongan membuat kita membayar mahal hasilnya. Ketika kita merasa mendaki seperti pertama kali biasanya orang akan lebih berhati hati. Sehingga hal yang tidak diinginkan tidak terjadi misalnya tersesat atau hilang bahkan terjatuh.

    Hal yang terpenting yang harus dilakukan atau dimiliki bagi pendaki yang terutama adalah mental yang baik bukan nekat. Karena terkadang kita harus membuat keputusan yang menyangkut orang lain dan bahkan menentukan diri kita sendiri. Logika harus selalu berjalan dalam sebuah pendakian dan tim yang baik akan menghasilkan pendakian yang membawa semua anggota tim kembali dalam keadaan selamat bukan hanya sebuah bonus “puncak”. Pengetahuan menjadi sebuah hal yang mutlak dimiliki seorang pendaki, misalnya kita akan mendaki gunung ceremai sebaiknya kita mengetahui karakter gunung seperti apa dan apa saja yang kita butuhkan disana dengan medan yang nantinya kita tempuh. Jadi persiapan yang baik menjadi harga mati agar pendakian menjadi nyaman dan menyenangkan, karena kita sudah mengerti apa yang akan kita temui saat mendaki. Banyak referensi yang dapat dijadikan modal awal kita mendaki, entah dari teman, buku atau media sosial  dan teknologi yang berkembang. Peralatan pendakian standar wajib dimiliki oleh pendaki selain peralatan tambahan, tergantung karakter gunung yang akan kita daki. Karena untuk gunung tertentu ada beberapa peralatan khusus, seperti gunung es.

    Banyak pembelajaran yang aku dapat selama mendaki gunung, bagaimana keegoisan tidak berlaku disini! Seperti halnya kehidupan, gunung menjadi guru yang dapat menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Selamat mendaki gunung.

Kenapa Manusia Harus Berpikir...

Kehidupan kita adalah hasil dari sebuah pikiran. Aku pernah membaca sebuah buku yang berjudul “Anda Adalah Apa Yang Anda Pikirkan”. Dan kata – kata itu baru aku bisa pahami beberapa saat ini. Entah bagaimana, kita begitu terkontrol oleh pemikiran kita sendiri. Coba saja anda pikirkan sesuatu, misalnya saja rasa bosan, ketika kita berpikir hidup kita membosankan ternyata yang kita rasakan akhirnya perasaan bosan dan jenuh, mungkin perasaan itu juga hasil dari sebuah pemikiran? Itu hanya pemikiran kepalaku saja he he he

    Yang  paling  penting dari itu semua adalah kenapa pemikiran itu ada dalam diri kita? Makhluk hidup yang lainnya apakah mempunyai pemikiran seperti kita? Rasanya jawabannya mungkin tidak atau karena kita tidak tahu saja pemikiran mereka?

    Manusia hanya terdiri dari tiga elemen menurutku, yang pertama dan utama adalah jiwa kemudian pemikiran dan yang terakhir adalah raga atau fisik. Tapi sekali lagi ini adalah pemikiranku!! Masalah benar atau tidak, ini hanya sebuah pemikiran. Kenapa aku berpikir seperti itu, karena itu yang membuat manusia merasakan sebuah “kehidupan”. Coba saja kita berpikir ketika orang mengatakan seseorang “mati”, apa yang sebenarnya terjadi? Orang meninggal atau mati hanyalah ketika kita tidak lagi mempunyai pemikiran apapun dan tidak terikat lagi pada bentuk fisik atau raga kita lagi. Apakah ada yang bisa menceritakan ketika orang mati atau meninggal masih mempunyai pemikiran bosan atau perasaan lain atau keinginan dan entahlah apa yang ingin dipikirkan orang itu?

    Jadi sepertinya pemikiran dibutuhkan dan mungkin ada untuk membuat manusia itu tetap “hidup”. Pemikiranlah yang membuat manusia hidup dalam “kehidupan” yang dijalaninya. Pemikiran kitalah yang menciptakan kehidupan kita. Ini bukan masalah takdir atau hal – hal yang bersifat ghaib. Maksudnya begini, ketika kita menginginkan sesuatu atau berpikir tentang sesuatu dan fokus, entah bagaimana kita mempunyai semangat untuk berusaha mewujudkan pemikiran itu dan ketika kita bisa fokus dengan hal yang kita pikirkan itu, hal itu menjadi sebuah “kenyataan”. Aneh bukan? Sepertinya tidak...

    Manusia mempunyai pemikiran mungkin kalau dalam sebuah komputer, pemikiran adalah sebuah program, jadi pemikiranlah yang menjalankan raga atau fisik kita dan jiwa yang menjadi “Penyempurna” dan pengendali kontrol. Asikk...(ngomong apa sih aku???)

    Jadi kita membutuhkan pemikiran untuk bisa menjalani sebuah kehidupan, tanpa pemikiran mungkin kita tidak akan tahu bagaimana menjalani kehidupan ini dan hanya mengikuti naluri dasar atau insting saja. Inilah yang membuat manusia berbeda dengan makhluk hidup yang lainnya, mungkin saja. Berarti kita memang berbeda dari makhluk yang lainnya kan? Tapi terkadang perbedaan ini yang menjadi batu sandungan bagi kehidupan manusia itu sendiri. Coba saja kita lihat, bagaimana ketika manusia sudah menggunakan pemikirannya, banyak hal yang tercipta dan menjadikan kita seperti “pencipta” bukan? Entah hasil penciptaan kita itu bermanfaat atau tidak, pemikiran kita menghasilkan sesuatau bagi kehidupan kita baik secara pribadi atau mungkin keseluruhan. Ketika kita mulai tertarik dan mulai tercipta banyak hal bagi kehidupan kita, yang awalnya mungkin untuk mempermudah kehidupan itu sendiri ternyata ada hal yang mungkin harus kita terima ketika kita tidak lagi bijak menggunakan kemampuan dan pemikiran kita sendiri.

    Kecenderungan manusia untuk sombong adalah batu sandungan dari pemikiran itu sendiri. Ketika kita tidak lagi bisa bijak menggunakan pemikiran dan hasil dari pemikiran itu sendiri, makhluk lainnya lah yang mungkin menjadi “korban”. Ketika kita terlalu serakah dan merasa “lebih”, hal itu yang menjadi batu sandungan kita sendiri.

    Lihatlah bagaimana makhluk lainnya bisa dengan bijak menggunakan apa yang memang mereka butuhkan untuk “hidup” tidak meminta lebih. Ketika ular hanya memakan tikus hanya sebagai pemenuh kebutuhan bertahan hidup saja tidak lebih. Apakah ada luar yang memakan tikus sebagai bahan permainan saja? Sepertinya aku belum mendengarnya. Karena mereka memang tidak mempunyai pemikiran lain selain makan untuk bertahan hidup. Ketika alam sudah diciptakan dengan semua keseimbangannya pada  awal penciptaannya mungkin alam akan tetap dalam”keadaaannya”.

Dan ketika kita “merasa” sebagai pencipta dan merasa ada yang harus dirubah, kita sendiri yang membuat perubahan bagi alam itu sendiri. Dan jangan pernah menyalahkan siapa- siapa, karena yang mempunyai pemikiran hanyalah kita manusia. Makhluk lainnya hanya menjalani “insting” mereka sebagai bagian dalam alam itu sendiri. Ketika kita sadar kita bagian dari alam itu sendiri, mungkin hal itu yang bisa membuat alam tetap dalam keseimbangannya. Kita sudah mempunyai bagian kita sendiri. Ketika kita bisa mencipta dan berpikir, pemikiran kita baiknya kita gunakan untuk menyeimbangkan alam ini, bukan malah merusaknya dalam “keserakahan”. Entah untuk alasan ekonomis atau untuk alasan bertahan hidup.