Tuesday, 23 September 2014

Kenapa Harus Kami Wanita Yang Menjadi Objek...




“Dian...tadi sebel deh mba,masak tadi pas naek motor tangan dian dipegang orang sambil lewat gitu,kan nyebelin jadi aku maki maki aja tuh orang,” cerita teman kerjaku saat kami bertemu hari ini.

 “Emang orang tadi naek motor juga?”, tanyaku kemudian.

 “ Iya mba...pantesan dian udah curiga dari tadi, kok orang itu naek motornya agak aneh...”, lanjutnya bercerita.

 “ Aneh gimana ?,” tanyaku ingin tahu.

“Iya aneh aja mba, soalnya pas dian lihat dispion orang itu ada dibelakang motor dian,” lanjutnya.

“Padahal dian sengaja gak ngebut soalnya trauma jatuh waktu itu,jadi naek motornya kan pelan tuh dan orang itu ada dibelakang Dian terus”, lanjut cerita temanku tadi.

“Nah, Dian kan jadinya penasaran, nih orang mau kemana sih, terus Dian coba kencengin naek motornya, eh dianya ikutan ngebut, terus Dian pelanin orangnya juga ikutan pelan,aneh kan mba,” sahut temanku tersebut.

“ Terus gimana?”,lanjutku bertanya.

“Ya pokoknya, dian jadi takut aja, terus ngebut sampe belokan, pas  Dian mau belok dia tiba tiba ngebut sambil megang tangan Dian yang sebelah kanan sambil menyentuh payudara, Dian kan jadi kaget terus spontan aja keluar makian eh dianya malah meringis, nyebelin banget kan,”sahutnya kesal.

Dan aku bisa merasakan hal yang menyebalkan yang sama dengannya, karena aku pernah mengalaminya dan menurutku itu sudah masuk kategori pelecehan seksual.

“Padahal kan siang gitu, terus jadinya orang pada nanya sama Dian kenapa, terus aku jawab aja gak tau tuh orang aneh,” masih dengan nada kesal.

“Mungkin orang gila kali neng...,”sahut orang yang mendengar ocehan temanku saat itu.

“Emang orang itu ngikutin kamu darimana?,” rasa ingin tahuku kembali muncul.

“Tadi pas dilampu merah kan sempet berhenti nah orang itu ada disebelah Dian, padahal Dian udah paling pinggir banget, gak tau kalau orang itu emang ngikutin Dian, soalnya gak ngeh juga,” ceritanya kembali.

“Nyebelin banget deh mba, jadinya kan nakutin kalau pergi pergian gitu,” sambil menaruh tas kerjanya dan melanjutkan melampiaskan rasa kesalnya.

Aku masih mendengarkan ceritanya.

“Waktu mba gimana?,” dia bertanya dan aku menceritakan saat beberapa waktu yang lalu aku mengalami hal tersebut. Aku bisa mengerti apa yang dirasakannya saat itu karena saat aku mengalaminya benar benar menyebalkan, rasanya kalau tidak saat dijalan raya ingin aku tampar dan tonjok saja orang itu. Padahal temanku memakai jaket panjang dan tidak ada yang aneh dalam hal berpakaian, wajah tertutup helm walau pastinya orang tadi melihat raut wajah temanku tadi. 
 
Yang jelas aku hanya menjawab,” orang sakit jiwa tuh ...”

“Iya ya mba..kalau gak kelainan jiwa ngapain coba ngelakuin hal tadi bikin orang kaget dan nakutin, nanti pulang mau minta dikawal suami dulu ah, takut...”lanjutnya kemudian.

Aku tersenyum dan agak sedikit kesal juga mendengar ceritanya, kalau masih saja ada orang yang senang membuat teror seperti itu dan orang yang seperti itu harus disebut dengan “teroris” juga. Karena ia menebarkan teror atau rasa takut pada orang lain.

Padahal tak ada yang aneh dengan diri kami, kalau temanku cantik apa dia salah terlahir cantik dan apakah harus ia mengalami hal tersebut karena ia cantik?Rasanya bukan masalah cantik atau tidak, ini masalah moral??

Rasanya setelah mendengar cerita temanku itu, jangan jangan masih banyak wanita lain yang mungkin mengalami hal yang sama dengan yang kami alami. Berarti diluar sana banyak orang yang mengalami kelainan jiwa yang berkeliaran dengan amannya, yang setiap saat bisa mengganggu kami para wanita.

Ada lagi cerita temanku lagi saat mendengar cerita temanku tadi. Dia bercerita saat dia berada didalam kereta api lokal. Dan semua orang pasti bisa membayangkan kalau kereta tersebut pasti penuh sesak. Dan menurut cerita temanku, dia bertemu dengan “coli” istilah yang dia gunakan. Aku sendiri kurang paham dengan istilah tersebut, cuma dia menceritakan kalau “coli” itu adalah lelaki yang mempunyai kebiasaan menggesek gesekan alat kelaminnya saat suasana kereta penuh sesak dan korbannya adalah wanita didepan “coli” tersebut. Dan temanku mengalami hal tersebut. Entah apa yang dialami orang tersebut, kalau sensasi ingin menikmati kenikmatan seksual, aneh saja kalau harus disaat ramai seperti itu dan memanfaatkan keadaan yang seperti itu. Kalau aku sebut kelainan seksual???

Jadi apa sih yang harus kami lakukan saat harus berada dalam keadaan seperti itu? Aku sempat bilang pada temanku teriak aja biar orang tahu kelakuan orang sakit itu dan malu sekalian kan pas banyak orang tuh jadi orang pasti banyak yang dengar. Temanku hanya bilang,” takutlah mba...banyak orang disana dan ada teman temannya, padahal dia pake baju rapih dan berdasi, aku pindah tempat aja dan aku pelotin gitu mba,” lanjut temanku yang lain.

“Kenapa cuma dipelototin aja, teriak biar malu sekalian, kalau besok ketemu lagi,”lanjutku mengomporinya.

“Takut diapa apainlah soalnya kita kan perempuan dan mereka laki laki, belum tentu yang lainnya nanti bantuin kalau aku teriak, kalau pas turun kita diincer kan malah jadi punya masalah baru,” lanjut temanku bercerita.

Dan permasalahannya adalah laki laki yang tidak bisa menghormati wanita seperti itu harus diapakan? Jangan bilang salah perempuannya itu sih dengan alasana bla bla bla. Kalau anda yang bilang seperti itu adalah laki laki juga bagaimana jika anda diposisi kami wanita? Apakah kalian akan berkata seperti itu juga?

Ini yang harus menjadi perhatian kita para wanita jika berada ditempat keramaian seperti kereta atau tempat umum agat tidak mengalami hal hal yang tadi sempat aku ceritakan. Kalau ada yang bilang itu sih resiko jadi wanita? Rasanya yang bilang seperti itu harus berpikir dua kali saat mengatakannya. Kami wanita baik baik yang bertemu dengan pria tidak baik itu mungkin permasalahannya. Dan karena kami kerap kali dianggap lemah akibatnya adalah kami sering kali menjadi dan dijadikan objek. Padahal terkadang situasi yang membuat seperti itu. Kami tak pernah meminta dilahirkan dengan jenis kelamin tertentu bukan?

Tuesday, 27 August 2013

Tambora sebuah Perjalanan Yang Mengagumkan...

 
Perjalanan menuju puncak Tambora...

Diawali dari sekretariat HUMPA di gedung pemuda kabupaten Dompu, menggunakan truk dan ternyata lumayan banyak yang berencana merayakan 17 agustus di puncak Tambora. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa komunitas pencinta alam. Dan perjalanan ini sepertinya akan menyenangkan.

Perjalanan menuju dusun pancasila dari daerah Dompu membutuhkan waktu sekitar 4 jam, dimulai sekitar pukul.1 siang WIB (+ 1 jam) .Sepanjang perjalanan merupakan pemandangan yang eksotis dimana kita dapat melihat hamparan padang sabana yang dipenuhi beberapa kumpulan hewan ternak seperti sapi, kuda, dan kerbau yang berkeliaran bebas tanpa di tunggu pemiliknya. Disini pemilik ternak hanya melihat ternak mereka 1 atau 2 bulan sekali tanpa harus takut kehilangan.

Hingga kami beristirahat di tepi pantai Hodo ( kalau tak salah mendengar). Uniknya pantai ini ada mata air yang keluar di dekat pohon besar dan saat membasuh mukaku aku mencoba merasakan air yang keluar rasanya memang asin (namanya juga tepi pantai) tapi kok bisa muncul mata air?? Harusnya aliran air tawar baru asin di lautan he he he ( ngaco tingkat tinggi...).

Perjalanan kami lanjutkan dengan masih melewati padang sabana  pada sebelah kiri jalan, semakin keatas tampak pemandangan laut yang memukau. Ditambah semakin senja lereng utara tambora memberi pemandangan sunset yang menawan. Andai saja bisa berhenti dan mengabadikan momen ini rasanya... tapi sudahlah melihat dan menikmati saja sudah lebih dari cukup, kenapa aku meminta lebih. Cukup disimpan dalam memori otak saja  he he he

Dusun pancasila, Desa Tambora.

Merupakan titik awal pendakian menuju puncak Tambora yang berada
diketinggian sekitar 775 mdpl. Kami tiba saat hari mulai senja, lapangan luas menjadi tempat pemberhentian kami. Memasuki rumah bang saiful atau yang sering disebut bang ipul dan sering dijadikan tempat peristirahatan sementara sebelum memulai pendakian. Beberapa sudah mulai mendirikan tenda di berbagai tempat hingga sekitaran lapangan.

Kebetulan mba Novi dan bu Tuti teman yang semula akan menjadi teman pendakianku sudah lebih dahulu mendaki Tambora jadi aku tak mungkin menyusul mereka. Hari sudah malam dan rencana pendakian akan dimulai esok hari. Saatnya istirahat dan menyesuaikan diri. Disini banyak cerita, yang sepertinya terlalu panjang kalau harus aku tuliskan. ( Tidur di tenda...zzzzzz ).
 
Pukul.08.45 WITA.

Pendakian menuju puncak tambora dimulai. Perjalanan dari sinilah yang merupakan perjalanan yang cukup panjang hingga menuju pos 1. Awal perjalanan kami harus melewati jalanan cukup lebar yang merupakan jalur kendaraan truk pengangkut hasil ladang kopi dan mungkin kayu. Disini kalau ada yang mau menggunakan ojeg hingga portal tak ada yang melarang kok he he he

Kanan dan kiri dipenuhi pohon kayu dan ladang kopi milik penduduk atau perusahaan. Dari buku yang aku baca sejak tahun 1980 daerah disini memang dibuka perkebunan kopi dan beberapa perusahaan kayu membuka lahan di kaki tambora. Dan jelas kalau memang aktifitas perkebunan kopi menjadi ciri khas masyarakat yang berdomisili di dusun pancasila.

Sebelum sampai Portal aku diajak bang Tiran melewati sebuah kampung Bali yang ternyata di sini terdapat sebuah Pura yang menjadi tempat beribadah mereka. Aku sempat mampir dan foto dengan beberapa orang, ternyata kami ditegur seorang ibu tidak boleh foto foto karena akan ada ritual upacara nanti. Wah, aku tidak tahu kalau akan ada acara ibadah aku hanya ingin melihat Pura ditengah hutan dari dekat saja. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan ketidaktahuanku. Pura yang indah.                    

Hampir satu jam kemudian kami sampai di shelter yang di sebut Portal ( jam 09.50 WITA ).Lumayan sebagai pemanasan dan ternyata disini merupakan pertemuan dari dua jalur karena ada beberapa teman teman dari daerah Calabai  yang beristirahat bersama.

Selanjutnya perjalanan mulai memasuki ladang kopi dengan banyak pepohonan kayu yang ditebang ( ilegal loging??? ). Agak membosankan pemandangan disini karena sejauh mata memandang kopi dan kopi serta bonus rimbunan semak belukar berduri tajam ( Padahal bajuku sudah berlengan panjang masih saja cubitan manis itu terasa he he he ). Dan ternyata perjalanan dari sini hingga pos 1masih lumayan panjang, sekitar 2 jam lebih kami baru sampai di pos 1. Jam menunjukkan pukul.12.45 WITA saat kami beristirahat di pos 1( sebuah pos dengan bangunan dari kayu dibangun seadanya disebelah kiri jalur dan banyak potongan kayu yang bisa dijadikan tempat beristirahat sejenak.
Disini juga sering disebut pos pipa bocor, karena terdapat persimpangan pada pos 1, bila kita berjalan terus kearah sebelah kanan sekitar 50 meter kemudian akan menemukan pipa air yang bocor dan ditampung dalam bak (mungkin ini sebabnya dinamakan pipa bocor). Dan kami beristirahat lumayan lama disini sambil makan mie sayur daun pakis buatan bang son gimbal. Nikmatnya...

Perjalanan aku lanjutkan bersama lia dan mut disusul bang son, setelah kami beristirahat hampir satu jam. Aku berpikir jalan kami lebih lama jadi lebih baik curi start, biar bisa istirahat di pos 3 lumayan lama. Ternyata, perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 masih membutuhkan waktu yang lumayan walau tidak sepanjang menuju pos 1. Disini mulai memasuki vegetasi hutan rimba tambora yang kanan dan kiri dipenuhi semak belukar berduri yang terkadang tanpa sengaja melukai bagian tangan kami (sentuhan sayang Tambora he he he). 
 
Jalur mulai sempit karena semak belukar semakin rapat memenuhi jalur yang kami lewati menuju pos 2. Dengan trek yang mulai menanjak tapi masih termasuk landai, kami harus menempuh waktu sekitar 2 jam menuju pos 2. Ternyata tanpa sadar aku dan lia berjalan terlalu cepat dan baru tersadar saat sepanjang jalur kami hanya berdua tanpa bertemu teman yang lainnya ( beruntung hari masih terang kalau malam hmm...). Dan ciri khas bila kita sudah dekat dengan pos 2 adalah suara  air sungai yang bakal kita dengar dengan disertai turunan tajam yang bakal menghantar kita sampai disebuah shelter yang cukup terawat. Di pos 2 terdapat sebuah shelter dengan sebuah pohon kayu besar berada didekatnya dan terdapat sungai yang sangat jernih dibawahnya.
 
Rasanya tempat yang sangat nyaman untuk beristirahat, dan saat itu memang banyak orang beristirahat bersama kami. Kami tiba sekitar pukul.16.30 dan menunggu beberapa teman sholat ashar, tempat ini tampak berbeda suasananya mungkin karena berada ditengah hutan rimba yang rapat dan banyak sekali pohon pohon besar tumbuh disekitarnya. Kesannya gimana gitu, padahal saat itu banyak teman teman yang beristirahat juga ( mulai aneh deh he he he ). Disini kami tidak terlalu lama karena berusaha mencapai pos 3 tidak terlalu malam, dan aku, lia, mut serta bang son ternyata sama sama menyimpan head lamp dan senter pada tas lainnya. Tapi aku tadi beruntung dipinjami eit salah ding diberi korek gas yang sekaligus bisa menjadi senter oleh mas mas yang juga beristirahat bersama kami. Lumayan kalau kemalaman gak kayak sibuta dari goa Tambora he he he

Setelah pos 2 kami harus menuruni sebuah jalur yang cukup curam melewati aliran sungai opi yang sangat jernih dan berbatu. Kemudian sedikit melipir dan mulai menanjak menuju pos 3. Perjalanan dari pos 2 menuju pos 3 inilah yang menurutku menjadi sebuah perjalanan yang lumayan panjang dan mulai menguras tenaga. Karena jalur sepertinya mulai menanjak dan beberapa sedikit curam walau masih bisa ditoleransi. Mut yang mulai kelelahan ditemani bang son dan lia, aku mulai berjalan sedikit cepat karena tak ada senter yang aku pegang, dua korek gas yang aku minta tadi sudah aku berikan bang son dan lia agar bisa dijadikan lampu penerang. Karena sudah sangat pasti kalau kami pasti kemalaman dijalur.

Akhirnya aku bertemu dengan empat orang teman dari calabai yang bakal menuntun aku hingga pos 3 (lia,mut aman dikawal bang son..). Menuju pos 3 adalah perjalanan yang lumayan seru karena disini banyak sekali pohon besar tumbang yang bakal merintangi perjalanan kami menuju pos 3. Kalau pohon yang tumbang kecil mungkin tidak masalah tapi ini pohon yang besarnya bisa 2 atau 3 x badanku. Ditambah malam hari jadi semakin seru saja perjalanan panjang menuju pos 3 ini. Pokoknya melangkah dihutan Tambora siap siap melangkah panjang, karena kaki kita akan sangat sering melangkahi pohon besar yang tumbang (lebih seringnya sih memeluk pohon tumbang he he he). Satu kata yang aku bisa katakan Tambora = pohon tumbang. Dijalur inilah kami sempat dihibur sedikit dengan sunset Tambora, walau sebentar karena menghilang seiring dengan rimbunnya pepohonan.

Dan disinilah aku bertemu mbak novi, bu tuti yang sudah lebih dahulu mencapai puncak Tambora pagi dinihari tadi. Walau malam aku bisa menebak bahwa mereka adalah rombongan mba novi dkk, karena kebanyakan pendaki saat itu adalah pendaki asli daerah Dompu dan sekitarnya. Untuk pendatang akan jelas berbeda dari bahasa yang digunakan. Saat aku mendengar percakapan menggunakan bahasa Indonesia dan perkiraan bahwa malam ini mba novi dan bu tuti pasti akan berada dijalur yang aku lewati.

Trek tetap menanjak dengan disertai jalur yang tetap dengan rimbunnya semak terlebih saat mendekati pos 3. Aku jadi teringat kata kata bang son, kalau sudah melewati ilalang berarti sudah dekat pos 3. Dan ketika jalur semak mulai aku lewati, pikiranku langsung “pos 3 diatas” ( ya iyalah pasti diatas). Aku sempat berujar pada keempat abang tadi,” udah deket nih bang, banyak ilalang.” ( sok tahu tingkat tinggi )

Dan ternyata masih harus berjalan melalui semak belukar yang rimbun dan ilalang  yang lumayan tinggi sekitar 10 menit lebih baru kami sampai dipos 3. Ternyata pos 3 sangat ramai, seperti pasar malam saja. Tenda sudah banyak berdiri disepanjang jalur yang kami lewati. Dan akhirnya aku bertemu tenda  teman teman yang lebih dahulu sampai disini. Bang john dan kawan kawan sudah menanti disini, dan aku kemudian disuguhi energen karena aku tidak minum kopi he he he.
Api unggun tampak menyala disekitaran tenda, rasanya aku mungkin akan bingung kalau harus mencari tenda teman he he he

Jam menunjukkan pukul. 19.35 WITA saat kami sampai di pos 3. Dan kami beristirahat sambil menikmati segelas energen hangat dan api unggun serta bintang bintang yang tamapak semarak menghiasi langit malam. Aku rebahan direrumputan sambil menikmati sajian langit malam penuh bintang. Tambora menantiku...



Sepenggal Cerita Memikat Tambora...

 
Pendakian dimulai pukul.04 pagi.

Aku yang sejak tengah malam sudah mulai sulit tidur, berusaha untuk mengobrol dengan bang iping beberapa hal dan menikmati langit malam. Udara malam tambora saat itu tidak dingin malah cenderung hangat buatku. Atau mungkin karena banyaknya api unggun membuat udara sekitar lebih hangat? Padahal yang aku ketahui tentang Tambora, udara diatas sangat ekstrim dinginnya ( menurut literatur yang sempat aku baca ). Padahal jaket hangat yang sekaligus dapat aku jadikan raincoat sudah aku siapkan, karena aku sangat tidak tahan udara dingin. Ternyata malam itu belum berfungsi, aku masih bisa hanya menggunakan sleeping bag dan tidur diluar tenda. Padahal biasanya jangankan diluar tenda, didalam saja aku masih bergumul dengan jaket plus sleeping bag serta kaos kaki. Apa sleeping bagnya yang keren?? He he he

Sepertinya aku bisa beradaptasi cuaca malam itu.

Pos 3 menuju pos 4...

Trek yang langsung mendaki dengan ditemani gelapnya malam dan rimbunnya semak belukar berduri tajam menjadikan pendakian pertamaku ke Tambora semakin seru. Aku hanya mengikuti langkah kaki bang Tiran yang berada didepanku. Trek mulai sedikit bonus, tanjakan dengan kemiringan diatas 50° mulai menghadangku. Awal aku masih bisa mengikuti ritme langkah kaki bang Tiran, semakin lama aku mulai kewalahan. Sempat aku mengingatkan beliau untuk memperlambat ritme langkah kakinya agar aku bisa mengatur pernapasanku yang amburadul mengimbangi langkah kaki beliau. Bang Tiran yang sabar ya jalan denganku he he he.

Aku masih mencoba mengatur pernapasanku. Diam adalah alternatifku mengatur kerja paru paruku. Iri rasanya melihat bang Tiran yang sepertinya tak ada masalah dengan hal tersebut. Trek yang harus kutempuh hingga pos 4 sekitar 2 jam. Dengan hiasan tanaman jelatang mendominasi jalur menuju pos 4 ini. Ada jalur dimana kita harus berjalan diatas pohon tumbang  panjang dengan tanaman jelatang dikanan dan kirinya. Ini aku ketahui saat turun dari puncak siang harinya. Terlihat jelas tanaman jelatang tumbuh subur pada kanan dan kiri jalur tersebut. Beberapa kali aku meminta bang Tiran beristirahat sejenak, terlebih saat mendekati pos 4. Vegetasi saat mendekati pos 4 didominasi cemara gunung dan ada satu momen aku berada dijalur yang hanya dipenuhi ilalang dengan sedikit cemara. Langit malam begitu tampak luas terlihat, bintang tampak semarak diatas dengan bulan diantaranya dan aku meminta bang Tiran beristirahat sebentar disini. Aku ingin menikmati pemandangan ini, aku langsung rebahan diatas ilalang dengan hanya beralas daypack, sempat aku melihat bintang jatuh tapi sayang tak sempat aku mengucap apapun karena terlalu takjub he he he

Perjalanan kami lanjut terlebih saat melewati pos 4, karena hari sudah pagi pos ini dapat terlihat jelas tanpa shelter berada diantara pepohon cemara. Saat pulang turun, bang Tiran malah menceritakan beberapa cerita mistis gunung Tambora. Tapi itu semua aku anggap sebagai bumbu yang menambah seru rasa petualangan gunung Tamboraku.

Perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 lumayan seru selain pos 2 menuju pos 3. Trekking langsung, bonus tanaman jelatang kalau tidak hati hati, beruntung jaket yang aku gunakan cukup melindungiku. Jadi tanaman itu hanya sesekali membuatku merasakan perasaan panas dan perih.

Pos 4...

Jam menunjukkan pukul.6.15 WITA semakin keatas dominasi padang sabana dengan cemara gunung menghiasinya. Mendaki bukit adalah bonus setelah pos 4, karena hari mulai terang semakin jelaslah pemandangan sekitar. Keindahannya mulai terlihat tak kalah dengan jalur sembalun Rinjani dan Merbabu, terlebih setelah melewati pos 5. Cemara gunung yang kering meranggas menambah anggun keindahan padang sabana Tambora. Jarak pos 4 ke pos 5 tidaklah sepanjang pos 3 menuju pos 4. Waktu yang kami butuhkan sekitar satu jam dengan langkah santaiku dan istirahat sebentar dengan trek yang cukup landai.

Pos 5...

Sebuah dataran yang dapat digunakan untuk camp dengan sumber air yang dapat digunakan sebagai cadangan air. Tapi air disini harus pandai pandai memilih, karena tidak sejernih dipos 2 dan sebelumnya tapi masih dapat digunakan he he he Trek cukup landai, jam menunjukkan pukul 7.15 waktu setempat.

Perjalanan selanjutnya kita masih mendaki bukit dengan kecuraman yang lumayan menguras tenaga, hampir mirip bukit penderitaan Rinjani tapi tidak sebanyak Rinjani. Nyaris sedikit bonus tapi pemandangan disini buatku sangat indah. Sayang kalau tidak dinikmati karena semakin keatas kita mempunyai pemandangan dengan suasana berbeda. Semakin keatas kita dapat melihat pemandangan pulau satonda dan laut, karena cuaca sangat cerah tampak menjulang beberapa puncak gunung. Terlebih saat mendekati kaldera kita dapat melihat puncak Rinjani dan puncak gunung Agung. Dan saat itu edelweiss Tambora bermekaran walau tak sebanyak Papandanyan dan Gede, rasanya mereka mempunyai pesona tersendiri.

Puncak Tambora sudah tampak selepas pos 5, saat telah melewati bukit dengan cemara dipuncaknya. Tampak berada disebelah kanan saat kita melintasi jalur dan saat matahari terang jalur menuju puncak sangat jelas terlihat dan ini yang sempat membuatku stress juga. Sempat aku bergumam dalam hati karena melihat jalur tersebut terlihat sangat jauh. Sempat hopeless juga, tapi aku sudah bertekad aku harus sampai dipuncak itu apapun caranya. Aku sudah sejauh ini dan semuanya harus tanpa sia sia. Lelah sudah jelas, kaki sudah mulai terasa pegal hanya semangat yang masih aku punya. Trek masih mendaki dengan kecuraman hampir 60 °. Bang Tiran berada dibelakangku dan tampak hanya kami berdua yang mendaki saat itu, kebanyakan orang sudah mendaki mulai malam hari dan saat itu sudah mulai menuruni puncak. Kami berpapasan dengan beberapa orang dan tampak 4 orang WNA beristirahat setelah lelah mendaki, aku sempat menyapa mereka dan mereka memberi semangat padaku dan mengatakan Tambora cantik. Mereka berasal dari Perancis, aku tak boleh kalah dengan mereka. Mereka saja bisa menikmati kecantikan Tambora maka aku pun mempunyai kesempatan yang sama. Aku harus sampai...

Lelah semakin terasa terlebih rasa haus, karena bang Tiran berada jauh dibelakangku aku tak bisa meminta air minum. Aku mulai kehausan dengan terik matahari langsung menerpaku karena vegetasi disini mulai berkurang hanya padang sabana. Aku sempat meminta minum pada beberapa orang yang berpapasan denganku, tampaknya puncak Tambora sudah menguras habis air minum mereka hingga tak ada lagi yang bisa mereka beri padaku. Ditambah lagi ada seorang yang bertanya padaku mengapa naik terlalu siang? Diatas mulai kencang angin dan kabut turun,”saya saja cuma sampai bukit itu tuh.” (sambil menunjuk bukit yang dimaksud ). Sempat ciut juga nyaliku (puncak masih tampak jauh ), tapi aku merasa yakin ada bang Tiran yang menemaniku dan aku harus mencoba sampai batas terakhir kemampuanku. Beruntung ada seorang yang masih memiliki sebotol air minum berisi sekitar 500 ml dan memberikannya padaku, kalau bukan diatas gunung rasanya aku tak ingin minum air itu karena sangat jelas kalau air itu berwarna kecoklatan dengan bonus rerumputan didalamnya. Tapi rasa hausku lebih besar dari yang lainya, air itu seperti oase yang melepas dahagaku dan memberiku semangat.

Bang Tiran tidak tampak didekatku dan selanjutnya aku berjalan sambil menunggu jarak aku dan beliau tidak terlalu jauh. Saat aku dapat melihat keberadaan beliau aku melanjutkan langkahku, jalur sangat jelas aku hanya tinggal mengikuti saja. Ternyata selepas pos 5 kita masih membutuhkan sekitar 3 jam perjalanan menuju puncak, dengan kontur tanah yang lumayan terjal hingga mendekati kaldera Tambora yang mulai didominasi tanah berpasir dan beberapa edelweiss. Pemandangan disini tak kalah cantiknya.

Saat mendekati kaldera Tambora aku semakin bertambah semangat hingga lupa kalau bang Tiran tidak tampak dibelakangku. Saat melewati pasir dan mendekati bibir kawah aku tersadar bahwa aku sendirian tak ada orang, bang Tiran tak jua tampak padahal langkah kakiku sudah mulai aku perlambat. 
 


Aku melihat kesekelilingku tak ada orang, aku sendirian, panas mulai terasa menyengat kulit walau tudung jaket sudah aku pakai. “ bang Tiran...,” aku mulai meneriakkan nama bang Tiran beberapa kali, dan aku tak mendengar sahutan. Kalau bang Tiran mengajakku bercanda saat ini sepertinya waktunya tidak tepat. Seharusnya bang Tiran tidak jauh dariku karena beliau dapat dengan mudah menyusulku walau dibelakangku, ritmenya memang seperti itu. Aku masih dapat melihat  keberadaan beliau menyusulku. Aku mulai ketakutan, aku masih memanggil nama beliau dan aku masih belum mendengar sahutan, angin diatas memang bertiup lumayan kencang tapi tidak berkabut.
 
Aku mulai berpikir kembali atau meneruskan langkahku. Jalur menuju puncak tampak jelas dan bibir kaldera tampak didepanku, tapi aku takut sendirian. Hampir sekitar 10 menit aku diam dan berteriak ,akhirnya aku memutuskan kembali berbalik mencari bang Tiran ( sebuah keputusan yang lumayan bodoh sebenarnya).

Akhirnya aku kembali menuju batas bukit dan kaldera, dan setelah 5 menit lebih berjalan bang Tiran tampak berjalan mendekatiku. Ah, bang Tiran ini bikin aku ketakutan saja he he
Beliau dengan santainya menjawab,” maaf tadi aku ketiduran sebentar.”

Gubrak... Ketiduran???

Aku ketakutan dirimu ketiduran bang he he he

Ya sudahlah permintaan maaf sudah lebih dari cukup, toh sekarang kan kita harus lanjut menuju puncak. Perjalanan kami lanjutkan hingga berada dibibir kawah Tambora yang luar biasa besar. Kaldera raksasa yang cantik tampak jelas didepan mataku, rasanya seperti mimpi saja. Keindahannya tak bisa terkatakan, pantas saja bule tadi bilang,” it’s beautifull..”

Hmmm...

Kami berfoto disini dan aku mengabadikan beberapa kesempatan menikmati kecantikan kawah tambora. Kata bang tiran terkadang kawah tambora tidak selalu dapat dilihat dengan jelas terlebih bila hari mulai beranjak siang, karena kabut kadang menghalangi pemandangan dibawah kawah. Dan kali ini aku beruntung masih dapat menikmati kawah tambora dengan sangat jelas. Danau yang berwarna kehijauan nun jauh disana, dan anak gunung Tambora yang terlihat kecil dari atas sini. Padahal katanya ketingiannya sekitar 2 meter lebih dan tidak bertambah, kata bang Tiran he he he

Beberapa kali aku diingatkan oleh bang Tiran saat menikmati kawah Tambora agar berhati hati saat berpijak. Karena struktur tanah dibeberapa tempat labil sehingga rawan longsor. Menurut cerita beliau diameter kawah selalu bertambah karena tanah longsor. ( Buku yang pernah aku baca mengatakan diameter kawah tambora sekitar 6 km berarti sekarang pasti bertambah... )

Rasanya kalau saja terik matahari yang menyengat dan puncak tambora masih menantiku diatas serta angin yang mulai bertiup kencang. Aku masih ingin berlama lama disini, jalur menuju puncak masih tampak terlihat lumayan jauh dari bibir kaldera dan sang waktu terus berjalan tanpa jeda.

Kami melanjutkan perjalanan dan panas membuat rasa haus semakin terasa, beberapa kali aku membasahi bibirku dengan jilatan lidahku ( hi...jijik ha ha ha) agar menghemat air yang semakin minim.

Jalur menuju puncak tampak terjal dari bawah padahal kalau dijalani biasa saja, debu pasir mulai menerpa wajahku dan aku mulai berlindung dengan syalku. Material pasir bercampur kerikil dan bebatuan  mulai mendominasi jalur menuju puncak. Disini mulai berhati hati karena terkadang licin terlebih saat turun. Dan setelah tertatih tatih beberapa jam, akhirnya kami tiba diatas puncak tambora sekitar pukul.10.30. Puncak tidak terlalu luas, hanya berupa dataran dengan tiang dengan bendera yang mulai usang dan terobek hampir setengah bagian. Mungkin karena kencangnya angin diatas. 
 
Hanya sujud syukur yang bisa aku lakukan saat kaki ini menjejak puncak Tambora. Mengingat semua perjalanan panjang yang aku lakukan, menjadikan semuanya sebuah keajaiban yang mengagumkan untuk diriku pribadi. Tulisan ini tak cukup menceritakan semua hal yang sudah aku lalui untuk mencapai salah satu mimpi besarku menggapai Tambora.

Terimakasih tak terhingga atas semua hal yang aku dapatkan, terlebih bang Tiran yang menemaniku hingga puncak Tambora. Terimakasih bang dan juga teman teman HUMPA dan komunitas lainnya yang sempat bertemu di beberapa pos... maaf kalau merepotkan dirimu dan teman teman. Terimakasih juga sudah menemaniku ke pantai lakey walau kemalaman akhirnya. Rasanya aku tak bisa membalas keramahan kalian dan maafkan kalau diriku membuat kalian terganggu dengan beberapa hal, mohon maaf teman teman...

Semoga aku masih diberi waktu menikmati Tambora Menyapa Dunia tahun 2015 dan dengan jalur yang lainnya yang tak kalah serunya!! ( Jalur Off Roadnya... Mimpi.com )



Saturday, 15 June 2013

Pak Edi...


Sore itu...

Kaki ini melangkah memasuki kereta diesel menuju daerah tujuanku bersama yang lainnya. Aku langsung mencari tempat duduk yang masih kosong. Karena aku berangkat dari stasiun Kota otomatis tempat duduk yang tersedia masih banyak yang kosong. Aku segera mencari tempat duduk disamping jendela yang aku rasa nyaman dan  kemudian seorang bapak duduk persis disampingku padahal tempat duduk didepanku maih kosong, aku tersenyum tanda menghormati beliau. Aku duduk sambil mengamati aktifitas kereta sore itu.

Tiba tiba seorang kakek tua berjalan seorang diri menghampiri tempat duduk didepan kami. Aku memperhatikan kakek ini dari mulai beliau masuk gerbong karena penampilannya menarik perhatianku. Dan beliau akhirnya memilih tempat duduk yang masih kosong persis didepanku. Tapi yang memperhatikannya tidak hanya aku, bapak disebelahku juga ternyata memperhatikan apa yang aku lihat. Aku masih diam ditempat duduk yang sedari tadi aku pilih, beberapa orang yang tadinya duduk didekat kami satu persatu berpindah tempat kecuali bapak disebelahku dan aku. Bapak tadi juga sepertinya memberi isyarat padaku untuk berpindah juga sebelum tempat yang lainnya penuh, tapi aku menggeleng kepalaku. Dan aku memang tidak bergeming dari tempat dudukku. Dan entah mengapa bapak tadi juga akhirnya tidak jadi berpindah tempat duduknya dan masih duduk disampingku sambil beberapa kali berbisik kepadaku tentang kakek didepanku. Tempat duduk didepan kami akhirnya penuh juga, setelah beberapa kali orang yang hendak duduk disamping kakek tadi banyak yang berpindah tempat. Akhirnya ada juga yang mau duduk bersama kami.

Kalian pasti bertanya mengapa banyak orang yang enggan duduk bersama kakek didepanku?Mungkin kalau kalian tidak ada bersama dengan kami saat itu, akan sulit membayangkan apa yang terjadi sore itu.

Aku akan mendeskripsikan sedikit tentang kakek yang duduk persis didepanku. Pertama beliau aku taksir berusia sekitar diatas 60 tahun, berperawakan sedang malah cenderung kecil dengan menggunakan topi hitam diatas kepalanya. Terus apa yang menjadi alasan mengapa banyak orang yang enggan duduk disampingnya?Apakah beliau seorang kriminal sehingga orang enggan duduk bersamanya?

Bukan..masalahnya adalah kakek tadi menebarkan aroma khas yaitu bau pesing yang menyengat hidung,ditambah dengan penampilan fisik beliau yang membuat aku miris melihatnya dengan pakaian yang sangat lusuh tak terurus dan luka yang tampak pada daerah tangan dan kaki dan bapak disebelahku beberapa kali membisikkan kata kata padaku, aku hanya mengangguk. Beberapa kali aku melihat kakek tadi mengaruk tangannya sepertinya lukanya gatal dan saat beliau merogoh saku bajunya dan mengeluarkan uang sejumlah lima belas ribu rupiah yang dimilikinya untuk membeli sesuatu.

Beliau bukan seorang kriminal, pertama kali aku melihatnya, tatapan matanya yang lelah dan seperti berbicara banyaklah yang membuatku memutuskan untuk tidak berpindah tempat seperti yang lainnya. Entah mengapa saat mataku menatap mata beliau ada sesuatu hal yang tak bisa aku jelaskan dengan kata kata, ada sebuah ketulusan yang menurutku begitu jelas tergambar dalam matanya. 

Ketulusan menerima sebuah bentuk kehidupan yang harus beliau jalani. Sulit untuk aku menceritakan apa yang aku rasakan saat itu, apalagi saat melihat satu persatu orang mulai berpindah tempat saat mencium aroma yang ditebarkan olehnya, aku juga tak bisa menyalahkan orang lain yang memilih berpindah tempat, itu hak mereka juga. Dan saat ajakan orang padaku untuk berpindah tempat dan akhirnya aku memilih diam saja, itu bagian dari hakku jugakan. Aku tak tega saat beliau menatapku saat orang berangsur angsur berpindah tempat, matanya berkata banyak hal. Dan aku memilih diam...

Aku membayangkan kalau kakek itu kakekku, apa yang akan aku lakukan?Apakah aku akan tega meninggalkannya?Aku sempat bertanya beberapa hal pada beliau dan beliau menjawab apa yang aku tanyakan, yang jelas nama beliau pak Edi mempunyai dua orang anak asal beliau dari padalarang, Bandung. Dan sekarang beliau mengaku tinggal didaerah depo stasiun Purwakarta(dan aku tak tahu dimana itu) bersama 2 orang lainnya dengan mengontrak. Beliau lebih banyak diam bila tidak ditanya, sekilas orang akan beranggapan macam macam dengan kakek ini. Yang jelas buatku adalah mata kakek ini menyimpan sesuatu yang sepertinya ingin bercerita banyak hal.

Seandainya waktu itu tidak singkat, mungkin mata beliau akan memulai ceritanya.

Merapi bersama kesendirianku...



Mungkin kali ini merapi menginginkan diriku menyendiri dan entah mengapa walau kali ini aku sendirian, ingin sekali menyentuhnya kembali. Apalagi saat aku tiba di Jogja cuaca saat itu hujan dan aku teringat sewaktu dibase camp wekas dan new selo aku kedinginan akibat guyuran hujan. Dan itu membuatku sedikit cemas bila harus kembali bertemu hujan, rasanya aku harus berjuang dengan rasa dingin berkali kali.

Merapi kali ini membuatku berjuang dengan semua rasa takutku, biasanya ada teman yang pasti menemaniku kini aku sendiri. Sempat aku berniat membatalkan juga setelah rere tak jadi pergi, tapi rasanya sayang kalau harus batal. Melihat puncak merapi yang selalu menyembul diantara awan putihnya, dan kegagahannya yang selalu menantang nyaliku untuk menyentuhnya kembali. Haruskah aku kembali kalah oleh ketakutanku sendiri???

Kepergianku kali ini ke Merapi benar sebuah uji nyali. Temanku Momon Alias Superman yang biasa tertarik dengan petualangan gilaku sedang diRinjani. Teman mas Bima masih dalam perjalanan, sepertinya dia bersama teman mas bima yang lainnya. Dan aku tetap dengan niatku naik ke Merapi apapun yang terjadi, sedikit nekat. Adikku pun menyangka aku berangkat dengan teman temanku, sedangkan dia sedang bersenang senang dipuncak Dieng dengan pemikirannya. Kalau tahu aku sendiri pasti dia akan mencoba melarangku dengan berbagai alasan yang pastinya juga tak pernah mempan he he he.

Aku berangkat dengan semua rencana yang aku susun sendiri, setelah sempat bertanya dengan mas Edi yang selalu memback up ku dari handphone. Itu yang membuatku sedikit percaya diri, mas edi sangat mengenal Merapi dan aku nyaman saja setiap hendak naik bertanya padanya dan berkonsultasi sedikit dengannya. Dan seperti biasa aku ambil rute melalui Magelang bukan Solo. Dan perjalanan itu jam 12.30  dari daerah Sleman dan aku pun memulai petualangan sedikit nekatku. Hari Jumat siang aku mulai perjalanan dari desa yang asri ini hingga sampai didaerah Blabak Magelang. Dan disetiap perjalananku, wajib mencicipi kuliner khas setempat dan aku mencicipi kupat tahu Blabak depan pabrik kertas sambil meneguk es teh tawar yang lumayan cocok dengan panasnya kota Magelang saat itu.

Rencana aku memang hanya tektok dan tidak ada rencana untuk ngecamp, persiapan tas kerilku hanya berisi sleeping bag dan matras bila diperlukan, rencana sih kalau ada temannya aku akan meninggalkan tas kerilku dan hanya membawa day pack hijauku saja. Sempat mas Bima menghubungiku untuk memastikan kalau aku jadi berangkat karena temannya sedang dalam perjalanan juga tapi melalui Solo dan bersama temannya jadi mereka berdua. Aku berkomunikasi dengannya dan kita bertemu dibase camp saja. Selanjutnya melanjutkan menuju base camp New Selo karena hari sudah mulai sore kendaraan sudah mulai jarang dan akhirnya aku memutuskan menggunakan ojek saja hingga base camp. Dan transportasi yang ada hanya itu hingga base camp, kecuali truk sayuran he he he.

Menikmati suasana sore dengan pemandangan khas pegunungan dan yang pasti cuaca hari ini sangat cerah, kalaupun udara lumayan panas tampaknya belum ada tanda tanda hujan akan turun. Semoga Merapi bersahabat denganku, dan aku benar benar pasrah dengan apa yang terjadi nanti. Aku berusaha menyiapkan diriku dengan hal hal yang diluar harapanku, sedikit realistis saja, ketika kita sendirian hanya pasrah dan niat yang tulus yang menemani perjalananku. Hampir satu jam lebih aku naik ojek hingga akhirnya sampai di base camp dengan ditemani cerita bapak yang aku tumpangi motornya, aku lupa namanya, beliau cukup baik dengan cerita cerita menariknya terlebih saat erupsi kemarin.

Jam 16.30 base cam New Selo..

Tempat ini kembali dan masih dengan ibu pemilik rumah yang pastinya masih sedikit mengenali wajahku walau pasti tak akan ingat nama. Karena beberapa bulan yang lalu aku mampir disini bersama teman temanku, dan menunggu mereka menggapai Merapi. Dan base camp ini masih sepi hanya ada satu orang didalam sleeping bag sepertinya sedang menunggu waktu naik nanti malam. Dan aku juga menunggu teman mas Bima yang juga berencana naik malam, jadi aku menghubungi temanku Superman untuk memastikan dia akan ikut atau tidak. Ternyata posisinya masih di Lombok dan sepertinya tak akan sampai Jogja malam ini. Jadi sangat pasti kalau posisiku sendirian, dan rencana menunggu teman mas Bima alternatif terbaik saat itu. Sambil menunggu aku mencoba beristirahat dan tak lama kemudian ada serombongan anak muda yang datang setelah aku dan sepertinya lumayan banyak. Aku sempat bertanya pada salah satu dari mereka kapan mereka akan naik? Dan entah bagaimana aku ditawari naik bareng mereka saja, karena tahu aku berencana naik sendiri dan sedang menunggu teman dari Solo yang baru tiba mungkin nanti malam.

Aku sempat bingung juga, teman mas Bima baru berangkat dari Solo jam 5 sore dan tiba mungkin jam 9 malam dan posisi aku juga belum mengenalnya. Toh, kita sama belum mengenal dan aku berpikir tak ada salahnya menerima ajakan mereka. Setelah memastikan aku tak mengganggu mereka nantinya. Dan aku akhirnya merubah rencanaku dan menelpon mas Bima kalau aku berubah pikiran, toh teman mas Bima sudah ada yang menemani jadi aku lebih tenang meninggalkannya.

Aku akhirnya bergabung dengan sebuah komunitas anak muda Boyolali  bernama Catper kalau tak salah ingat. Maaf teman kalau salah nama yah he he he...

Dan kami sempat mengobrol selama perjalanan, dan yang mengajakku bergabung dengan mereka adalah ryan alias Multono. Terimakasih buat Ryan yang begitu ramahnya dan wellcomenya denganku.Mereka adalah anak muda Boyolali yang menurutku begitu kompaknya, mereka berjumlah 15 orang dengan kondisi beberapa orang adalah teman sekolah dan yang lainnya satu orang teman ryan yaitu rasid, tiga orang gak terlalu jelas, yang masih bisa aku ingat adalah sisca,endah,ririn,nining,rizki dan dia yang paling muda dikelompok ini usianya baru 13 tahun Merapi ini perjalanan keduaya. Dan buatku salut juga ternyata nyali Rizki lebih hebat dibandingkan aku. Saat seusianya, aku baru berani naik sepeda ha ha ha

Rizki kerennn....

Perjalanan kami sangat menyenangkan, terlebih dengan berbagai hal yang terjadi khas anak muda. Dan yang pasti kami mulai naik dari pos New Selo setelah magrib sekitar pukul setengah tujuh. Bulan purnama begitu indah menemani perjalanan kami, setelah sebelumnya kami menikmati sunset yang manis dari pos New Selo. Sebuah awal perjalanan yang manis yang semoga nantinya akan selalu diakhiri dengan sebuah senyum kepuasan. Perjalanan kami sangat santai ditambah dengan iringan suara radio yang dibawa multono alias rian yang membuat suasana tambah heboh. Dan aktifitas beberapa orang yang mencoba mengupdate status jejaring sosialnya karena sinyal diawal masih baik.

Aku lebih tertarik dengan langit malam yang sangat cantik, bintang yang bertaburan diselingi cahaya bulan purnama sulit diceritakan. Kami masih berada disekitar ladang sambil memandangi cahaya lampu kota dibawah kaki gunung Merbabu dan Merapi. Ini sebuah ekspetasi yang lebih dari yang kuharapkan. Mungkin untuk beberapa orang hal ini sangat biasa tapi buatku pribadi pemandangan seperti ini yang selalu aku rindukan dari sebuah gunung. Kecantikan malam yang membuatku selalu terpesona dibuatnya. Dan bau udara khas yang tak akan pernah aku lupa, gelapnya malam yang selalu membuatku tertunduk menapaki jalan setapak sehingga tak ada lagi keangkuhan diri.

Perlahan pasti kami mulai menapaki perjalanan hingga pos pertama dan disini kami mulai mengatur strategi karena berkelompok dan jalur nantinya terpecah. Aku, multono alias rian,rasid dan rizki menggunakan jalur utama dan yang yang lainnya menggunakan jalur lumutan. Ini hanya agar semuanya bisa sama sama sampai tujuan yang telah mereka sepakati, aku hanya mengikuti rencana saja.

Saat dijalur utama ini beberapa pemandangan cantik terhampar layaknya sajian yang memang sengaja tersaji untuk kami yang ingin menikmati.

Tapi yang tak akan aku lupakan saat bersama mereka adalah membuatku tak pernah merasa tua he he he. Mereka membuatku teringat beberapa hal dan itu menjadikan perjalananku kali ini lebih berwarna dan banyak cerita. Aku tak pernah membuat batasan dalam diriku saat menjalani apapun dalam hidupku. Aku mencintai apa yang aku jalani dan perjalanan ini juga mempunyai cerita sendiri.

Sebuah kesendirian yang tak lagi menyendiri.

Dan sampai nanti hingga aku summit pun banyak cerita yang akan selalu menambah cerita kehidupanku semakin berwarna dan penuh  keindahan. Tak ada lagi dalam hidup ini yang harus aku kejar semuanya sudah aku terima, aku hanya tinggal menikmati dan menerima apa yang aku milik saat ini. Semua hal yang aku rasakan saat disinilah semakin membuatku merasakan diriku sendiri. Aku menyukai gunung dan semua misteri yang ada bersamanya. Pesona dirimu, bau khas dan udara dinginmu yang selalu mengalahkan aku. Semua hal yang selalu tak pernah bisa aku tebak apa yang akan aku dapati nantinya disana. Menguji ambang batas nyaliku yang selalu tak berarti disini. 

Ketakutanku dan semua yang selalu membuatku akhirnya tak tahu apa apa.
Semua itu hanya membuatku pada akhirnya merasakan sebuah nyawa, terutama saat aku tak bisa merasakan apa apa.

Kami sampai di pasar bubrah dan mulai menikmati pesona dingin malam itu.

Dan esok hari kami akan menikmati lagi sebuah bonus kehidupan dari Merapi dan terjalnya puncak Garuda bersama sisca,rizki,dan wied.

( Terima kasih untuk kalian semua...maaf kita pulang tidak bersama,salam manis untuk kalian yang manis, buat sisca terbukti kan kalau dirimu bisa sampai puncak merapi he he he, rizki imut...miss u, buat ryan alias multono makasih buat keramahanmu dan akhirnya bisa mengenal kalian walau singkat cepet selesein kuliahmu jangan ditunda tunda jadi MA )

Thursday, 13 June 2013

Duri dan Aku...

Aku jadi inget waktu adikku dan aku iseng ngobrol gak jelas.Tiba tiba adikku bilang gini,”mbak...gw bisa baca garis tangan lo,sini garis tangan lo gw baca.” Sambil dia menarik tangan kiriku, kemudian dengan gaya dan mimik muka serius dia mencoba membaca garis tanganku dan aku tertawa tawa. 
 
“Males ah,kamu ketawa ketawa gitu, beneran tau, temen kampusku aja percaya,”sahut adikku kesal. Mungkin karena aku sedikit tidak percaya dan meremehkan kemampuannya. Aku bertanya padanya,”emang kamu belajar gitu?” Dia menggelengkan kepalanya dan menjawab,”gaklah, tapi percaya deh, gampang kok itu cuma masalah logika aja.

”Ah, kata siapa masalah logika,”sahutku menyanggah jawabannya."Yee, gak percaya...,” balasnya sambil menjambak rambutku dan melepas tanganku karena marah. Aku tertawa dan merayunya agar kembali membacakan hasilnya. “Gak mau ah, gak mood lagi,habisnya sebel...,” raut mukanya lucu kalau lagi marah, dan aku suka sekali melihat hal tersebut. Makanya aku paling sering iseng menggodanya sampai akhirnya dia marah dan aku yang nantinya pasti tertawa senang.

Akhirnya dia kembali membacakan hasil analisanya, dan beberapa ada yang benar dan aku beragumen kalau ada yang benar karena ia sudah tahu karakterku. Kami sempat berdebat  akan hal tadi, tapi yang penting buatku bukan masalah benar atau salah dan apakah sebuah kebetulan saja. Yang pasti ada beberapa hal yang membuatku menjadikannya sebagai bahan instropeksi diri.

Satu kalimat yang sangat kuingat adalah,”masalah kamu tuh sebenarnya diri kamu sendiri mba bukan apa apa, kamu tuh duri buat orang orang disekitarmu.”

Kata kata ini yang tidak aku sanggah!
Untuk hal ini aku setuju dengannya dan aku sangat sadar akan hal ini sejak lama hingga saat ini. Ya, masalahku adalah diriku sendiri dan ini hal yang tersulit aku hadapi: diriku sendiri. Itulah lawan terberatku,”DIRIKU SENDIRI”.

Dia hanya bilang,”hati hati dengan dirimu sendiri.” Dan hingga saat ini aku masih berusaha beradaptasi dengan diriku sendiri. Semua keegoisanku dan semua yang ada dikepalaku. Semua itu yang aku takutkan dan dia paham akan hal ini. Aku takut dengan diriku sendiri, terlebih ketika aku dipuji dan disanjung. Jujur aku menyukainya, sekaligus aku tidak menyukainya.
 
Dia juga bilang,”kamu tuh penakut dan masih mencari sesuatu.” Dan untuk hal ini dia memang paham betul tentangku. Aku memang penakut dan hingga saat ini aku memang dalam pencarian. Mencari makna hidupku dan untuk apa aku ada disini?Aku selalu mempunyai pemikiran bahwa setiap manusia diciptakan mempunyai sebuah maksud. Aku diciptakan bukan sebuah kebetulan, atau kebetulan ada?

Ketika orang bilang aku pintar atau aku baik dan sebagainya, aku takut. Karena sisi lain diriku akan meyukainya dan secara otomatis akan mengeluarkan “Aku” dan kesombongan itu yang pasti keluar. Dan aku takut akan efek yang terjadi setelahnya. Aku takut tidak bisa mengontrol semua hal tersebut.

Setiap saat aku berhadapan dengan diriku sendiri, dan aku tahu apa yang aku takutkan. Duri itu memang aku dan aku menyadarinya. Terlebih orang orang terdekatku, adikku salah satunya. Dia sangat mengenal aku dan sering merasakan duri duri yang menempel bersama diriku. Makanya aku sangat menjaga jarak dengan orang orang yang belum aku kenal dan baru mengenal aku.
 
 Duri yang sering aku tebarkan yang tak ingin aku tancapkan tapi kenyataannya aku dan duri satu kesatuan. Secara otomatis menjadi paket yang menyakitkan. Bibirku ini terlalu tajam menusuk, dan ini yang harus aku jaga, dan kenyataannya sulit! Kadang aku berbicara seperti lupa berpikir apakah menyakitkan buat orang atau tidak, ini yang seringkali menjadi masalah terlebih orang terdekatku.

Semakin orang mengenalku semakin tahu betapa sakit duri yang aku tancapkan. Padahal sepertinya tak ada maksudku untuk membuat orang tersakiti atau terluka. Tapi itulah aku, bersama semua keegoisanku. Aku menyadari hal ini dan akan selalu menjadi PR kehidupanku. Aku tak pernah menyalahkan apapun. Aku adalah aku. Dan akan selalu menjadi aku, hanya aku harus lebih waspada dengan diriku sendiri, sedikit saja aku lengah aku sendiri yang harus merasakan akibatnya.

Karena musuh terberatku adalah diriku sendiri. Lebih mudah melawan hal lain daripada diri sendiri, dan itu sebuah perjuangan. Hmm...

Jadi ingat sebuah cerita dalam buku karangan Antonie De Mello Doa Sang Katak 2 tentang seorang petapa Budha yang bernama Ryonen. Ia adalah cucu Shingen seorang prajurit terkenal. Ia dianggap sebagai salah seorang yang tercantik diseluruh Jepang dan seorang penyair dengan bakat besar.Ia menjadi pelayan Ratu Putri hingga sang ratu wafat. Karena kecintaan dan loyalitasnya ia terluka karena sang ratu wafat tapi ia malah memperoleh pengalaman batin mendalam hingga ia sadar sesuatu bahwa segala sesuatu akan berlalu dan ia memutuskan untuk mempelajari Zen. Tapi ia mendapat banyak tantangan terlebih dari keluarganya. Hingga ia membuat sebuah persyaratan dengan suaminya setelah melahirkan anak ketiga, ia bebas untuk menjadi apa yang diinginkannya. Tapi pada akhirnya bujukan suaminya tidak mempan dan akhirnya ia melaksanakan niatnya. Tapi saat mewujudkan apa yang diinginkannya tidaklah mudah. Beberapa kali ia ditolak menjadi murid para guru yang didatanginya. Alasan para guru tersebut sama, mereka menolaknya karena ia terlalu cantik. Menurut para guru tersebut itu yang nantinya akan menjadi sumber masalah. Akhirnya Ryonen membakar wajahnya dengan besi panas dan kecantikannya rusak, kemudian ia menghadap salah satu guru. Setelah melihat apa yang terjadi padanya, guru tersebut mau menerimanya menjadi murid. Dan ia menulis beberapa puisi. Dan sebuah puisi saat ia akan meninggalkan dunianya yang menarik :

Enam puluh kali mata ini telah memandang keindahan musim gugur...
Tak usahlah menginginkan lebih daripada itu.
Hanya dengarlah suara gemerisik pohon pohon cemara
Saat angin tak berhembus.