Sunday, 17 February 2013

Sebuah Cerita Di Balik Cerita...



Cerita dibalik sebuah cerita...
13611439651260217258
Kali ini ada sebuah cerita saat aku menggowes si putihku. Biasanya trek yang aku lewati hanya yang sudah aku kenal. Tapi pagi ini aku mencoba trek yang belum aku lewati. Sebenarnya kalau bukan untuk menggowes aku sudah pernah melewati jalan ini, apalagi bila kami ingin makan sop iga, biasanya ibuku pasti langsung menunjuk tempat ini. Dan aku pernah bertanya pada adikku karena ia yang lebih paham untuk jalur gowes. Dan dia hanya menjawab,”gak usah kamu kesana kalau sendirian, tembus ke hutan...” Aku pun kembali bertanya,”emang kenapa?”  Dia hanya diam. Tapi aku masih penasaran, hingga pagi ini aku iseng dan mencoba keluar jalur yang biasa aku lewati.
13611440281803752340
Aku mulai menggowes sekitar jam 5 pagi dengan pemikiran aku ingin lebih pagi pulangnya dan bisa melakukan hal yang lainnya. Dan jalanan pastinya masih sepi, siapa tahu aku dapat matahari pagi, ternyata cuaca cerah bersahabat.
1361144092354055747
Dan benar jalanan lumayan sepi dan aku mulai menggowes dengan santai. Beberapa kali aku bertemu dengan beberapa orang lainnya, tapi jalur kami berbeda sepertinya. Aku mulai mencoba jalur yang sudah ada dalam pikiranku, aku suka jalanan kampung dengan trek tanah dan berbatu. Menguji nyaliku yang sedikit penakut dengan trek turunan.
1361144162270661815
Sampai akhirnya aku mulai masuk daerah kawasan industri, dan aku mencoba melihat apakah ada teman lain yang menggowes berbarengan denganku? Ternyata ada dan mereka tampak lincah menggayuh pedal sepeda dibanding aku yang terkadang ngos ngosan apalagi saat melewati beberapa tanjakan tanpa dituntun, biasanya aku  jago menuntun .
13611442181643306708
Aku mencoba perhatikan, pertama yang melewatiku dan tersenyum seorang opah opah, dan aku tersenyum tanda hormat pada orangtua. Tak lama menyusul seorang kakek kakek yang juga tersenyum, aku masih tersenyum. Kemudian lewat lagi sepeda dan aku menengok, masih dengan tampang yang kurang lebih nyaris sama masih juga tersenyum. Dan terakhir sepeda yang menyusulpun seorang simbah, hmmm.... pagi ini kakek ceria yang menemani aku bersepeda, kemana orang mudanya?Jalur mereka sepertinya sama dengan yang aku tuju, ahhh...hebatnya mereka. Terlihat dari cara menggowes yang lebih lihai dibanding aku, mereka terlihat mulai jauh meninggalkan aku. Kakek jangan tunggu aku...
13611442871313444295
Dan mereka memang tidak menunggu aku, hanya menengok beberapa kali takut aku tersesat atau terjatuh mungkin .13611443452028271451

Aku beberapa kali berhenti dan menikmati moment matahari terbit yang tersaji didepan mataku. Dan ini tak akan aku sia siakan begitu saja.
1361144391578014119
Dan akhirnya aku tiba diatas dan ternyata aku bertemu dengan keempat kakek tadi. Sepertinya mereka sahabat sepeda bukan pena he he he, terlihat dari keakraban mereka dan saat melihat aku mereka tetap tersenyum dan aku terus mengayuh sepedaku. Aku mencoba jalur yang sempat membuatku penasaran dan aku mencobanya, tapi sepi, benar juga kata adikku. Akhirnya aku balik arah dan bertemu keempat kakek tadi. Mereka menyapaku,” mampir sini neng...makan bareng.” Dan aku menjawab,” terimakasih pak...” sambil memamerkan senyum manisku. Aku terus mengayuh sepedaku dan melihat jalanan lainnya yang sepertinya aku belum coba.
13611444881023824755
Aku bertanya sesuatu pada ibu yang mempunyai warung makan, dimana yang menjual nasi uduk? Karena disini kebanyakan warung nasi plus sop janda (aku kan bukan janda...) .” Diujung jalan sana neng...ada yang jual nasi uduk,” jawab ibu tadi.
13611445471345542371
Pedal sepeda aku kayuh menuju jalanan berbatu dengan trek menurun,sambil memperhatikan petunjuk tadi.Aku bertanya beberapa kali hingga aku ditunjukkan tempat ibu yang menjual nasi uduk tadi,” dilebak ya neng...” akhirnya aku menemukan rumah ibu yang dimaksud. Tapi nasi uduknya habis !
13611446012125712252
“ya udah neng, sepedanya taruh disini, coba diwarung deket sekolah biasanya ada yang jual juga,” lanjutnya. Dan aku mengikuti anjurannya, menyimpan sepedaku didepan rumahnya dan berjalan menuju arah tersebut. Aku menemukan warung tersebut, tapi ada laki laki berkumpul diwarung tadi, lebih baik dibungkus saja dan makan ditempat ibu tadi. Aku agak tidak nyaman dengan kumpulan laki laki tadi dan aku wanita sendiri nantinya.
13611446561544800076
Sampai didepan rumah ibu tadi, aku minta ijin untuk makan didepan rumahnya. Saat makan inilah cerita itu akhirnya dimulai, entah bagaimana ceritanya hingga ibu tadi bercerita tentang kehidupan rumah tangganya. Padahal aku tak memulai apa apa dan tak ingin tahu, hanya menjawab beberapa pertanyaan yang bisa aku jawab tentang diriku. Seperti biasa pertanyaan yang sering ditanyakan banyak orang, sudah menikahkah diriku? Dan aku jawab seperti biasa belum, dan kemudian pertanyaan mulai berkembang, dan akhirnya malah si ibu yang curhat.
1361144812249499140
Intinya beliau merasa terjebak dalam penikahannya. Agak sedikit aneh memang, tapi aku merasa memang ini realita. Karena saat aku bertanya apakah dijodohkan, jawaban beliau tidak, berarti pilihan sendiri alias dengan orang yang dicintainya kan?Ada sebagian orang mengalami kehidupan rumah tangga tersebut. Aku juga tak berhak mengambil kesimpulan sendiri karena ini hanya cerita satu pihak, dan aku tak pernah tahu permasalahan yang sebenarnya terjadi. Toh, itu masalah mereka, ketika si ibu bercerita aku berpikir kalau ibu ini mungkin butuh teman yang hanya mendengar tanpa tahu apapun. Dan kebetulan aku ada saat itu. Masalah jujur atau tidak bukan urusanku, aku hanya wajib mendengar dan berkomentar seperlunya saja. Karena buatku ketika orang bercerita sesuatu kepadaku, orang tersebut percaya padaku, dan  aku tak memaksanya bercerita. Tugasku membuat beliau berpikir kalau beliau tidak sendirian yang mempunyai masalah. Kami lebih banyak tertawa, apalagi saat mendengar ceritaku,  ibu tadi banyak tersenyum mendengarnya. Padahal ceritaku hanya cerita biasa.
1361144887186140147
Beliau sempat berpikir untuk bercerai, dan aku tak bisa menjawab untuk hal tersebut. Toh ibu tadi mempunyai alasan tersendiri dan semoga hanya pemikiran sesaat saja. Satu hal yang aku ingat, beliau hanya berpesan padaku agar berhati hati saat akan menikah nanti. Beliau hanya berkata,”pokoknya nanti kalau neng mau menikah, dilihat gimana orangnya, kalau sudah menikah susah neng.” Sambil tersenyum aku mengiyakannya dan sedikit bingung maksudnya he he he Sudah ada aa nya kan neng? Aku hanya tersenyum kembali...
13611449692037116931
Aku paham intinya, karena banyak hal yang memang terjadi setelah pernikahan. Adaptasi seumur hidup dan kesetiaan, kalau aku membuat sinonim pernikahan.

Aku tak bisa bercerita apa yang menjadi permasalahan yang diceritakan ibu tadi. Tapi aku hanya membuat sebuah kesimpulan untuk diriku sendiri dan pertanyaan untuk diriku juga. Apakah cinta itu? Kesabaran?

Didalam pemikiranku dan ketika aku dekat dengan seseorang, aku hanya ingin sebuah kenyamanan. Baik untuk aku dan pasanganku kelak, ini hanya pemikiranku, kenyataannya seperti apa beda ceritanya. Aku hanya berpikir  bukankah kita bukan individu yang sama? Kita sudah berbeda dari awal, dan konsep itu yang agak sulit dipahami dan diterima kita pada umumnya. Kita sudah mempunyai kebebasan pribadi sebelumnya, dan terkadang kebebasan ini yang diartikan bermacam macam saat kita mulai terikat.Dan semua akhirnya berusaha menyamakan, bukan menerima perbedaan itu.
Rasanya burung dalam sangkar emas pun akan selalu mempunyai pemikiran untuk bisa terbang bebas suatu saat nanti, kecuali burung itu sudah lupa caranya terbang. Toh burung pun bila diberi kebebasan terbang kemanapun tetap akan selalu kembali pada sarangnya sendiri bukan?

Banyak rumah tangga yang kandas karena salah satu pihak tak tahan dengan pihak lainnya. Kenapa tidak tahan? apakah karena kita berbeda? bukankah kita memang sudah berbeda pada awalnya?aku wanita dirimu pria,aku malas dirimu rajin,aku pemarah dirimu penyabar,aku pelupa dirimu detail,dirimu tepat waktu aku sering terlambat, aku sensitif dirimu tak peka, dan masih banyak yang lainnya. Bukankah itu yang nantinya saling melengkapi?jadi apa yang harus dipermasalahkan??ini hanya cerita diatas cerita...
1361145111474301831
Bukankah kita tahu itu semua sejak awal kita bertemu? Bahwa kita memang berbeda...

Kecuali kekerasan dalam rumah tangga, lainnya aku masih bisa mengerti. Apalagi kalau ada intimidasi di dalamnya, seperti yang dialami ibu tadi. Bentuk intimidasi bisa macam macam ternyata, dan nyata. Yang penting pengalaman ibu tadi bisa aku jadikan pelajaran yang berharga untuk diriku sendiri.

Wanita memang terkadang berada dalam posisi yang sulit ketika dihadapkan dengan budaya dan norma yang berlaku. Dan kita sendiri yang akhirnya terjebak dan mungkin menjebak diri kita untuk masuk dan menjadi bagian itu sendiri. Ini hanyalah cerita diatas cerita...
13611450442096784577

Wednesday, 6 February 2013

Di Balik Dinginnya Merbabu...


Merbabu...

Sebuah gunung berapi bertipe Strato, dan hal ini yang akan aku pahami nantinya. Letaknya yang secara geografis berada pada 7,5 ° LS dan 110,4° BT dan secara administratif berada di dua kabupaten yaitu Magelang dan Boyolali. Yang nantinya membawaku ke sebuah perjalanan renungan dan ini salah satu kado ulangtahun terindahku, walau telat 4 hari .


Perjalanan bersama teman teman baruku selain Yuni, kami semua berjumlah 12 orang dan aku yang baru pertama mengikuti trip mereka. Yuni sempat menawariku untuk pergi bersama dari Jakarta menggunakan kereta. Tapi karena hari rabu aku masih ada 1 jadwal materi kuliah tambahan, jadi aku memilih berangkat sendiri menggunakan bus dan bertemu dengan mereka di Wekas saja.

Persiapan Merbabu benar benar hancur hancuran alias tidak seperti aku biasanya, semua serba mendadak. Karena sebelumnya trip mereka beralih ke gunung lain karena cuaca dan info longsor di Merbabu. Dan hal ini yang akan membuat aku sedikit menderita nantinya. Ijin ibu dan lain lainnya aku dapat dengan metode terpaksa mereka beri, karena aku sudah siap berangkat dengan semua taktikku. Ibuku hanya takut dengan kondisi musim hujan, tapi aku berusaha menyakinkan beliau kalau aku akan baik baik saja dengan seijin beliau (apalagi ayahku...???)

Perjalanan dengan bus aku mulai hingga kutoarjo, aku sempat bertanya dengan temanku om kis yang berasal dari Magelang bagaimana akses menuju Wekas, dan aku sedikit punya gambaran walau tidak jelas. Dan ternyata Yuni cs malah berubah haluan menuju Kutoarjo dan tidak berangkat dari Jogja. Jadi lebih baik aku gabung saja.

Dengan angkutan kota, kami bersepuluh orang mulai menuju Wekas. Kami tiba di base camp Merbabu sekitar pukul 10.30 dengan sedikit incident angkot yang kami carter tidak kuat menanjak. Hingga kami harus berganti kolt sayur hingga base camp dengan diiringi rintikan hujan dan kabut.

Desa Kaponan adalah base camp Merbabu melalui jalur Wekas. Udara dingin khas pegunungan mulai menyambut kami, dan ternyata dinginnya lebih dingin dari Semeru. Ini baru base camp, gimana diatas nanti. Ternyata hujan tak mau berhenti, ia tetap berminat mengiringi keberangkatan kami. Dan kami mulai berangkat mendaki pukul.13.30 dengan rintikan hujan dan dinginnya udara kaki gunung Merbabu. Jumlah kami 12 orang ( Ricky, Yuni, Regina, Ejiie, aku, Prima, Mavril, Rikik, Anja, dengan tambahan formasi Naomi dan Ray yang datang menyusul dengan menggunakan ojek.

Trek awal adalah jalanan berbatu hingga kami mulai menapaki jalur yang telah di faving blok hingga nantinya kami menemukan jalur dengan tanah seperti biasa. Saat mulai memasuki vegetasi hutan pinus inilah sebuah petualangan lain menyertai pendakian kali ini.
Diawal pendakian inilah ada sebuah tragedi nyasar mode om Mat Erore. Karena memang semua berawal dari langkah Mat Erore, aku yang berada dibelakang sempat bertanya pada Naomi dan Ray yang berada dibelakangku apakah akan mengikuti? Dan sepertinya tanda diam aku anggap sebagai jawaban iya (kesalahan pertama...menganalisa sesuatu tanpa konfirmasi kejelasan).

Dan kami mulai mengikuti jejak jalur tersebut dengan pimpinan om mat erore,mavril,prima,aku,naomi,ray,ricky, kami berpikir jalur tadi pasti memotong lebih cepat. Karena didepan kami banyak anak BPI lainnya yang juga akan ke Merbabu. Semakin lama jalur kok malah terus trekking tak ada tanda melipir ke jalur yang tadi. Aku mulai bertanya pada Ricky yang memang berada persis dibelakangku apakah jalur ini benar? Karena beberapa kali aku pernah nyasar, jadi aku lebih sensitif bila ada sesuatu yang tak seharusnya he he he. Aku bertanya siapa yang GPS nya aktif ? karena kebetulan handphoneku sengaja aku matikan tak ada sinyal. Ricky mulai membuka GPS dan menurutnya memang ada jalur ini, hanya tak tahu akhirnya dimana.

Akhirnya kami terus berjalan dengan hujan yang tak berhenti sedikitpun. Jaket dan bajuku sudah basah kuyup terguyur hujan, sepertinya kami memang semakin jauh masuk ke jalur ini jadi terus sajalah sambil berharap ada sesuatu. Dan akhirnya kami bertemu dengan beberapa orang yang sedang melakukan latihan dasar survival. Aku melihat tenda bivak yang mereka buat dan baju yang mereka gunakan, dan mereka berasal dari MAPALA UTY. Petunjukpun kami dapatkan dari mereka dan akhirnya kami mulai melanjutkan perjalanan. Naomi dan aku wanita yang terjebak dalam jalur ini, aku sempat berpikir apa mungkin kami potong kompas? Semoga iya...

Mavril mulai terlihat kedinginan dan tampak kalau dirinya sudah kelelahan akibat dingin. Ini salah satu hal yang berbahaya dalam pendakian, Hipotermia. Aku mencoba mengingatkan teman teman yang lain akan kondisi mavril, sempat kami memasang flysheet saat beberapa teman yang lain mencoba memastikan jalur agar tidak semakin parah. Akhirnya memang jalur kami temukan dan kami harus menuruni jurang kecil karena posisi kami memang bukan pada jalur yang benar. Karena posisi Merbabu disebelah kiri kami harus mengambil jalur bukit disebelah kiri kami,sedangkan jalur kami tadi lebih ke kanan. Bisa dibayangkan kondisi masih hujan dan kami harus menuruni lembah kemudian dengan patokan jalur pipa air kami harus mendaki dengan sedikit memanjat dengan tas keril tetap menempel karena memang jalur yang kami lewati adalah lembah. Tapi seru juga, mencoba jalur yang beda, alibi pembenaran.

Akhirnya kami menemukan jalur yang benar, karena kami bertemu dengan teman teman BPI yang tadi rencananya kami ingin lewati. Dan akhirnya kami malah bertemu dengan mereka kembali, memang dasar kami berjodoh hmmm....

Tadinya kami berharap kalau nanti kami ketemu jalur, semoga jalur itu langsung menuju pos II.Ternyata kenyataannya lain, kami belum juga sampai di pos II. Kami masih harus menyusuri trek dengan kondisi hujan, aku tetap membawa tas keril dan daypackku sendiri. Toh teman teman yang lain juga sama payahnya jadi aku tak tega merepotkan mereka, walau ada yang mau berbaik hati membawakan daypackku. Ini konsekuensi yang harus aku terima . 

Masih teringat dalam benakku pesan mas edi, saat kamu mencoba naek ke atas gunung,  jangan makan punggung orang kira kira begitu petuahnya mbah Edi, artinya apa om? (kira kira jangan merepotkan orang, sok tahu deh aku... )

Mavril mulai tampak kepayahan dan pos II belum juga tampak. Aku menyarankan Ricky yang bisa berjalan cepat agar segera menuju pos II dan membuat tenda diatas kemudian baru membantu teman teman yang mulai kedinginan. Toh ada Mat Eror dan Ray yang memback up Naomi dan Mavril, daripada kami harus saling menunggu dan akhirnya malah membuat tubuh kami semua drop karena kedinginan. Aku masih bisa beradaptasi sementara, semoga aku tidak merepotkan kalian. Akhirnya Ricky segera berjalan dengan rencana tadi. Aku masih berjalan menemani Mavril, tampak kalau rasa dingin mulai mengerogoti dirinya, dan aku bisa merasakannya karena aku tahu bagaimana rasanya kedinginan.

Ternyata, tak lama Ricky sudah turun dan mencoba membantu membawakan barang barang teman kami dan ternyata diatas pos II, semangatttt teman....
Akhirnya tiba di pos II, waktu menunjukkan sekitar pukul 5 sore kurang lebihnya. Dan sebuah camping ground yang sangat luas, mirip dimana ya? Surya Kencana? Ranu Kumbolo? Pastinya Merbabulah.

Beberapa tenda sudah berdiri, dan aku mulai kedinginan, karena semua baju luar dan dalamku basah kuyup. Karena tenda satu masih dipakai untuk ganti baju, saat ada tenda baru berdiri aku segera masuk kedalam untuk berganti baju kemudian Naomi dan ternyata aku hanya membawa jaket satu dan tak ada cadangan seperti biasanya, celana panjangpun tinggal satu, waduhh?? Untung Naomi mau meminjamkan jaketnya, makasih Naomi...

Ternyata kemalanganku bertambah saat aku mulai membongkar tas kerilku, sleeping bag yang biasanya aku packing dengan plastik ternyata polos tanpa plastik alhasil sleeping bagku basah sebagian dan inilah penderitaanku di Merbabu. Aku tak mungkin menganggu temanku yang lain untuk berbagi SB denganku, mereka juga butuh kehangatan untuk mereka sendiri, ditambah kaos kakiku pun basah karena aku lupa memasukkan kedalam plastik seperti biasanya. Hmmmm.......

Akhirnya aku masuk kedalam tenda om Mat Erore bersama Regina dan aku tidur tanpa SB dan kaos kaki, aku hanya dipinjamkan sarung oleh om Mat Erore tapi sarung tak cukup untuk hawa dingin Merbabu. Celetukan tenda sebelah yang kami respon membuat gelak tawa yang membawa kehangatan diantara dinginnya Merbabu, dan kami tertawa lepas bersama angin dingin Merbabu. Dan malam itu menjadi malam yang sangat panjang untuk diriku, aku yang langsung tiduran sejak jam 9 malam tak bisa sedikitpun memejamkan mata. Padahal teman temanku bisa sangat tidur terlelap, tapi sudahlah ini resiko dan aku harus menerima mengigil semalaman.

Jam menunjukkan pukul 12 malam,saat aku masih terjaga dan suasana sepi mulai terasa. Aku yang tak bisa tidur mencoba bangun dan mulai berjalan keluar, ternyata pemandangan diluar sangat indah. Walau bintang tak terlihat tapi di ujung sana kerlip lampu kota dan siluet gunung entah Sumbing atau Sindoro tampak menjulang dalam kegelapan tampak sesekali kabut datang dan pergi. Aku mencoba menikmati dalam kesendirianku dan terdiam diluar dalam gelap. Ada sedikit rasa takut karena beberapa pepohonan tampak seperti siluet dan bermain dalam imajinasiku .

Akhirnya aku masuk kedalam tenda dan masih berteman dengan rasa dinginku dan mencoba  tertidur, tapi tidak berhasil.Jam menunjukkan pukul.03.05 dan tak ada alarm yang berbunyi, aku mencoba membangunkan rere dan mat eror apakah akan summit tapi tak ada respon dari Regina, mat Erore hanya menjawab,” gak tahu...dingin gak punya kaos kaki.” Aku hanya pasrah tak ada kawan summit nih, tenda lain tak ada geliat padahal suaraku pasti terdengar saat membangunkan Rere. Akhirnya aku tiduran dan entah aku sempat terlelap, tiba tiba aku mendengar suara ditenda Yuni, aku pun memanggil Yuni dan sahutannya aku dengar, “iya lis, kita mau summit...” Akhirnya...

Yuni tunggu aku, aku yang tak punya kaos kaki kering membungkus kakiku dengan kantong plastik baru memasukkan kaos kakiku yang basah dan mengenakan sepatuku yang sudah jelas basah juga. Dan day packku kami gunakan untuk membawa kebutuhan summit kami, semua kami packing satu tempat karena yang summit pagi itu hanya kami berempat dengan formasi Yuni, aku, ejii, dan Ricky satu satunya penjaga kami dan kami bertiga wanita yang ingin menikmati puncak Merbabu.

Jam menunjukkan pukul.03.40 WIB.

Pendakian puncak Merbabu kami mulai, trek masih menanjak tanpa bonus seperti sebelumnya. Jalur wekas sepertinya memang minim bonus mulai dari base camp. Sampai akhirnya kami berada dipertigaan pos pemancar, disini kami mulai foto yang paling narsis pastinya Ejiie, puncak saat ini bersahabat padahal saat kami bertemu pendaki lain dijalur menuju pos II beberapa pendaki yang sudah muncak mengingatkan kami akan kabut di puncak. Berarti Merbabu bersahabat dengan kami, walau memang sesekali kabut naik menghampiri kami tapi segera menghilang dengan cepat. Sunrise kami nikmati disini. Katanya juga didaerah sinilah biasanya angin kencang mendera para pendaki tapi pagi ini angin malah bertiup sepoi sepoi. Hampir 2 jam untuk mencapai pos pemancar ini.

Dan ternyata kami masih harus mendaki keatas dengan trek yang masih kurang lebih minim bonus dengan beberapa kali kami harus melewati jalur dengan aliran air hingga kami menemukan persimpangan yang kekiri adalah puncak syarif dan ke kanan adalah puncak kenteng songo. Kami harus naik turun untuk mencapai masing masing puncak, lumayan menguras tenaga, jadi kalau mau mending pilih saja salah satu.

Ada satu jalur sebelum pos helipad yang bau belerangnya cukup menyengat, tapi agak lupa sesudah pos pemancar atau?

Pemandangan mulai dari pos pemancar dan seterusnya sangat memanjakan mata, benar benar cuci mata nih. Perjalanan menuju puncak kenteng songo yang menurutku lumayan menantang dibanding puncak syarif. Terutama saat melewati jembatan setan dan kami harus sedikit panjat dan memanjat tebing kecil, lumayan memacu adrenalin. Disini kami bertemu mas mas dari jogja berjumlah enam orang kalau tak salah hitung. Mereka tadinya memilih puncak syarif saja, karena kalau harus ke kenteng songo harus mendaki bukit lainnya yang tampak jauh di mata. Dan aku kemudian menyahut,” gunung aja kalau dilihat dari bawah tinggi mas, tapi kalau dijalani buktinya kita udah sampe puncak, walau resiko betis kayak tales bogor dan nafas kayak ikan cupang dan capekkkkk.....”

Akhirnya mereka mengikuti hasutan kami he he he, lumayan ada yang nemenin kita dibelakang. Ricky ma yuni sudah jalan jauh di depan dan aku otomatis berpatner dengan ejii. Kena mereka ejii....dan bonusnya kami jadi foto model mereka  ( yang jelas sih Ejiii...)

Jadi teringat kutipan lagunya Ninja Hatori :
Mendaki gunung, lewati lembah
Sungai mengalir indah ke samudra?
Bersama teman bertualang...

Akhirnya kami tiba dipuncak kenteng songo sekitar pukul setengah delapan, terdapat batu dengan cekungan empat buah. Kami berfoto sebentar disini, tapi aku lebih tertarik puncak triagulasi disebelahnya. Dan aku mulai mengejar yuni dan ricky yang sudah berada disana. Latar belakang Merapi dengan awan putihnya memikat hatiku dan pesona Sumbing Sindoro berdiri manis didepan kami. Tak bisa aku gambarkan kenyataan apa yang kami lihat. Kado terindah yang aku dapat yang membuatku seakan berada dalam mimpi manisku. Tak sia sia kami diguyur hujan dan aku tak dapat tidur semalaman karena kedinginan. Diatas sini semua terbayar manis. Dibalik dinginnya Merbabu...






Thursday, 31 January 2013

Untukmu Ibu...

Cukup...

Semuanya sudah lebih dari cukup,
Tak ada lagi petualangan petualangan,

Stop...

Tak lihatkah wajah lelah ibumu,
Lelah memikirkan dirimu dan aku,
Memikirkan semua egoisme diri kita,

Ibu...

Maafkan aku, maafkan kenakalanku,
Aku menyayangimu,
Sekarang aku menurutimu,
Terserah apa yang dirimu inginkan dari anak nakalmu ini,
Aku milikmu ibu...

Tak ingin waktuku yang tersisa bersamamu hilang sia sia,
Apa yang kau inginkan dariku ibu sayang?
Aku mendengarkanmu,
Terlalu sering dirimu mendengarkanku dan semua keinginanku,

Sekarang saatnya aku mendengarmu,
Tanpa bicarapun aku sudah mendengar ibu,
Ibuku sayang, aku mencintaimu...


Wednesday, 16 January 2013

Asrama Putri No.16....

Jangan berpikir kalau sekumpulan wanita berkumpul,pastilah tingkah laku yang kami lakukan semanis wajah kami. Itu pula yang terjadi pada kami semua. Sekumpulan wanita yang tinggal dalam sebuah asrama putri. Begitu banyak hal yang terjadi diluar pemikiran orang kebanyakan. Kalau kalian berpikir, ketika wanita dikumpulkan semua dalam satu tempat, pasti tempat itu akan seperti surga? Kalau pemikiran seperti itu yang ada, kalian akan kecewa dan salah besar!

Karena kenyataannya tidaklah seperti itu. Kami yang notabene adalah kumpulan wanita yang cantik dan manis malah seringkali melakukan hal hal yang tidak manis. Inilah kenakalan kami para kaum wanita. Jadi tidak hanya kalian para pria yang bisa melakukan kenakalan, karena ketika wanita berkumpul kami bisa lebih nakal daripada kalian...

Tapi mungkin ini semua karena kami tinggal dalam sebuah asrama putri dan seperti biasa, selalu ada aturan dalam sebuah asrama. Begitu pula kami, asrama putri no.16. Itulah alamat asrama putri tercinta kami. Sebuah asrama dengan 10  kamar tidur dengan satu lantai diatas terdiri dari 6 kamar tidur dengan kapasitas berbeda beda mulai dari 12 tempat tidur hingga 24 tempat tidur atas dan bawah dan 4 kamar dilantai bawah dengan kondisi kurang lebih hampir sama dengan diatas, satu ruang makan besar dan satu ruang bertamu sekaligus tempat kami menonton tivi dan belajar bersama sekaligus untuk tempat “kencan” he he he. Dan diasrama inilah kenakalan itu terjadi. Ditambah seorang ibu asrama yang sering kami sebut mami asrama, kebetulan mami asrama saat aku berada disini seorang ibu sekaligus nenek yang berusia sekitar 60  tahun dan terkenal “cerewet”.

Dan disini berlaku aturan secara turun temurun kalau seorang junior wajib menghormati senior. Jadi setiap junior bila melewati kamar dan bertemu senior wajib memberi salam dan bila melanggar siap menerima “konsekuensi”. Dan itulah seni asrama kami saat itu.
Mungkin aku tidak akan bercerita tentang aturan tadi, karena setiap asrama sepertinya hampir seperti itu he he he. Tapi kenakalan kami yang ternyata lebih berkesan dan menjadi kenangan saat bersama tadi.

Ada aturan tertulis dalam asrama kami bahwa kami boleh ijin menginap atau bermalam setiap sabtu malam atau sebulan sekali dan itu harus seijin “tertulis”. Dan aturan pertama ini yang sering kami langgar terlebih ketika kami menjadi senior, untuk junior pastilah hal yang sangat jarang dilakukan. Kemudian jam belajar atau nonton tivi, semua ada waktunya. Mulai jam 5 sore hingga jam 6 kami mendapat ijin keluar asrama dan kenyataannya seringkali hingga larut malam yang penting teman jaga piket asrama bisa di “lobi”. Karena kebanyakan yang datang sore keasrama adalah pacar dan teman yang pasti mengajak kami pergi keluar. Kecuali aku, aku kan anak manis jadi pemerhati saja  

Aku masih sangat ingat kalau jaman kami diasrama terdapat fasilitas telepon umum kartu dan koin, jadi tidak ada fasilitas handphone, hanya pager itu juga orang  tertentu yang memiliki. Dan telepon yang tersedia hanya dua buah, satu kartu dan koin. Dan bila malam minggu, kedua telepon tadi sepertinya pasti menjerit berteriak. Kenapa? Karena penyiksaan pasti akan dilakukan oleh kami sang penghuni asrama. Kalian pasti berpikir apa yang kami lakukan pada kedua telepon tersebut bukan? 
 
Pertama, kami pasti mengantri panjang dan penuh hingga sesak seperti ketika kami akan makan malah terkadang lebih parah. Urutan pertama antrian biasanya senior dan yang membuat telepon itu begitu berharga adalah kami bisa menggunakan fasilitas tadi dengan tidak mengeluarkan uang sepeserpun, kecuali telepon koin. Untuk telepon koin, kami harus bermodal satu koin untuk bisa bertelepon selama mungkin tapi area lokal yah. Mau tau caranya? Kasih tau gak ya??? Kayaknya gak usah juga toh telepon koin sudah sangat jarang ditemukan sekarang jadi gak ada untungnya juga he he he

Untuk telepon kartu, ini yang agak sedikit rumit karena harus pintar memainkan tangan mengutak atik kabel telepon. Rasanya seperti kami pemilik telepon rumah bila seperti ini, jangan dicontoh yah ha ha ha.

Jadi bisa dibayangkan kalau setiap hari senin pasti petugas telkom yang mengunjungi asrama kami pasti menemukan kondisi telepon yang sering rusak. Tapi itu yang sering berulang dan mencari pelakunya pastilah sulit karena pelakunya adalah kami semua, masak kami yang manis dan imut imut harus dilaporkan kepada petugas yang berwajib? Kan sayang sekali mending kami dijadikan teman saja 

Aturan selanjutnya adalah jam 7 malam adalah waktu belajar, jadi tak ada aktifitas selain belajar kecuali malam minggu. Itupun dibatasi malam minggu hanya sampai jam 11 malam selanjutnya bila televisi masih menyala, tugas mami asrama untuk membuat lampu shutt down tiba tiba. Dan hal ini yang paling tidak kami sukai terlebih jika kami sedang ramai ramai menonton acara televisi yang seru dengan pemain yang cute. Aku sih anak manis jadi manis jugalah tingkah lakunya he he he

Jadi biasanya bila lampu sudah dimatikan oleh mami asrama berarti kami bubar jalan, tapi kenyataannya kami sering menyambung kabel televisi dengan kabel panjang yang terhubung dengan kamar tidur yang terdekat, terlebih bila acara televisi sungguh sayang bila dilewatkan.
Apalagi bila musin ujian, pasti acara menonton ditiadakan dan ternyata akal kami lebih cerdik dari sipembuat aturan. Acara belajar bersama terkadang diselingi acara menonton dengan metode sambung kabel dan acara belajar bersama hanya menjadi kedok. Kecuali bila ujian akhir, sepertinya kami benar benar anak manis.

Pernah temanku sunartinah dan aku dan beberapa orang sedang asik menonton, kebetulan kami senior waktu itu, dan jam kami menonton bukan jam menonton dan mami asrama tau kami menonton hingga akhirnya lampu dimatikan dan kami tidak bisa menonton hingga larut malam. Karena kami kesal, sedotan minuman es kami jadikan gembok dengan cara mengikat pada anak kunci gembok yang ada diluar pintu hingga esok pagi pasti mami susah keluar. Kebetulan pintu kamar ibu asrama kami terdapat tempat untuk kunci gembok diluar pintu. Kemudian sendal jepit mami asrama dibuang sebelah oleh si tince entah kemana, ditambah sebelum kami pergi lubang saluran air kamar mandi mami asrama kami tutup dengan papan diselokan luarnya. Karena kami berasumsi kalau esok pagi ketika mami mencuci baju atau mandi, kamar mandinya mampet dan mami pasti mencoba keluar karena berpikir ada yang menyumbat, sedangkan pintu kamar mami kami kunci dengan sedotan dan sendal jepit mami hanya sebelah. Jadi lengkap sudah pemikiran jahat kami, dan esok pagi kami tinggal melihat hasilnya saja. Kami tertawa tawa pelan saat beraksi sambil menaiki tangga asrama agar tidak terdengar.Pembalasan sepihak 

Dan esoknya kami mendengar mami asrama ngomel ngomel tentang sandalnya yang hilang dan huru hura dikamarnya. Dan sepertinya mami tahu kalau itu perbuatan anak anak asramanya, tapi siapa yang bisa dituduh coba? Pelakunya saja tidak merasa bersalah ha ha ha

Itu baru beberapa kenakalan yang kami lakukan, belum termasuk kenakalan senior kami dan pendahulu kami. Setiap angkatan mempunyai ceritanya sendiri. Dan yang paling membuat kami rindu asrama adalah kebersamaan kami selama disana terlebih teman teman satu kamar dan yang lainnya.
 
 Yang masih kuingat adalah saat pertama kami masuk asrama sebagai junior kami pertama diberi wejangan oleh senior ditambah cerita cerita horor kalau ada lelaki yang bisa masuk kedalam dan memperkosa kami nantinya. Jadi diawal pertama masuk asrama kami ketakutan sehingga dikamarku terjadi ronda secara bergantian dengan metode main kartu hingga subuh. Dan yang lebih membuat kita menjadi tampak bodoh adalah kita percaya dengan cerita tersebut dan akhirnya ketika kami hendak tidur, baju tidur kami berlapis lapis dengan asumsi jika terjadi pemerkosaan sang pelaku akan mengalami kesulitan. Itu terjadi diawal kami masuk asrama hingga kami akhirnya lelah ronda sampai subuh dan gerah memakai baju berlapis dan akhirnya tersadar dengan kebodohan kami Namanya anak asrama kan lebih senang memakai baju tidur dengan lapisan baju paling sedikit kalau perlu tanpa pelapis 

Belum lagi ditambah setiap hari senin pagi atau ketika kami semua tidak ada diasrama, ibu pengawas asrama kami yaitu ibu endah  seringkali melakukan “inspeksi” mendadak. Aktifitas beliau adalah koleksi celana dalam kami yang menurut beliau tidak layak pakai plus koleksi piring kotor kami. Dan siap siap sang pemilik yang terkena razia kelimpungan mencari harta benda tersebut. Begitu apiknya beliau dan pedulinya 

Yang sangat membuat aku terharu adalah saat kami mencuci baju. Aktifitas ini membuat aku kangen karena biasanya kami semua berkumpul disebuah tempat dengan bak kapastas besar dan bersama sama mencuci layaknya kami berada ditepi sungai dengan bubuhan gurauan yang pastinya ngaco berat. Belum lagi ditambah beberapa aktifitas beberapa orang yang sekaligus mandi disini, lengkap sudah penuh sesaknya tempat ini.

Ada banyak kejadian yang terjadi disini, yang membuatku selalu tertawa bila mengingatnya adalah “insiden molto”. Kebetulan terjadi dikamarku, seorang temanku waktu itu memang selesai mencuci dan hendak menjemur. Sebenarnya sudah ada larangan tertulis untuk tidak menjemur dikoridor kamar tapi kami sering langgar, karena alasan tempat menjemur penuh dan sering pakaian kami lenyap tak ada jejak. Dan kebetulan meja dikamar tempat kami meletakkan minuman sedang tidak rapih, biasanya juga begitu kok. Dan entah siapa yang menaruh molto dalam sebuah gelas atau botol aku agak lupa, tiba tiba temanku ini karena lelah mencuci seketika menenggak gelas cairan yang berisi molto. Bisa dibayangkan mulut temanku wanginya seperti apa, sepertinya tak perlu lagi memakai mouthwash. Untung saja ia cepat tersadar dengan rasa dan tidak berlanjut. Kebetulan moltonya sudah dilarutkan, jadi tidak pekat. Lia...lia...kami semua tertawa dan sang korban juga tertawa terlebih saat ia bicara ada sedikit gelembung busa.

Rasanya ingin aku tuangkan semua cerita itu dalam sebuah cerpen tapi butuh waktu dan pastinya cerita sangat menyenangkan yang tak akan pernah terulang. Ini hanya sebagian kecil kenakalan kami didalam asrama. Belum kalau kami sedang tidur dan tingkah centil khas anak asrama putri lainnya. Ah...lucunya kenangan itu, so sweet, unforgetable moment.








Wednesday, 2 January 2013

Tanpa Judul 2...

Larut…
Berkali kali aku larut!
Terhempas!
Kali inipun aku kembali terhempas.

Mencoba untuk kembali ketepian,tapi lagi-lagi…?
Aku hanya tetap berada ditengah-tengah.
Kulihat sekelilingku,gelap hanya gelap yang kutahu.

Aku takut...

Kucoba mencari tepi dengan sisa tenagaku
Tapi lagi-lagi aku hanyut tak jua kuraih tepian!
Mencoba teriak?
Percuma…!
Tak ada yang mendengar...

Aku menangis,takut…..
Aku takut...

Aku tak boleh menyerah!
Aku kembali mencoba
Mencoba dan terus mencoba,tapi….percuma!
Sia-sia…..aku hanya lelah dan lelah.

Semakin kucoba, semakin habis tenagaku!
Biarkan,biarkan saja...
Biarkan aku larut dengan semua ini
Dan akhirnya membawaku ketepian.
( Larut....2007)


Cerita Tanpa Judul...

Pagi ini mentari hati tak terlihat menampakkan keanggunannya. Tak tahu apa yang terjadi padanya hari ini? Setiap pancaran kehangatannya kami rasakan  begitu menyentuh kedalam ujung kulit kami yang memang gelap terlihat. Terkadang ego pikiran sering berkata, “ tak mau kah mentari berbagi tugasnya pada yang lain kalau memang ia lelah, toh kamipun bisa melakukan apa yang ia lakukan!”. Kami merasa dirugikan kalau satu hari kami tidak merasakan sinar yang seharusnya ia pancarkan pada kehidupan ini. Kaki melangkah terus seiring sinar yang masih belum bisa terpancar sampai kedalam perut bumi. Terus dan terus langkah kehidupan ini terpaksa dilakukan menyusuri jalanan setapak yang menjadi tidak jelas karena sinar itu tidak ada.

”Benar –benar merepotkan,” gerutu hati kecil! Langkah kaki kehidupan ini begitu terasa melelahkan juga ternyata tanpa sinar sang mentari.
”Kemana gerangan ia hari ini?”ego pikiran kembali berkata. Akhirnya langkah kehidupan ini berhenti sejenak karena sahabat kecilku lelah melihat jalanan kehidupan yang tampak remang dihadapannya. ”Beristirahat sejenak mungkin akan meringankan tugas indera mata,”kata indera mulut.”
Aku tak bisa melihat dengan baik dimana tempat bokong dan kaki bisa menyangga punggung dengan nyaman,bisik indera mata pada ego pikiran.

” Hmm….,”ego hanya terdengar seperti mengumam daripada berpikir. Akhirnya kakek kayu jati  yang menjadi sandaran punggung dan hamparan  hijau nona rumput yang masih terasa basah terselubung titik-titik air yang mengalasi bokong untuk berbagi kelelahan dengan sang bumi.
” Hai,sahabat…,”terdengar suara kakek yang bijak sepertinya. Dengan anggunnya kepala menoleh kearah sumber bunyi   tersebut. ”Apa gerangan yang tampaknya begitu merisaukan engkau sahabat,”tanya kakek dengan begitu lembutnya. Sesaat tak ada kata yang terucap dari indera mulut atas pertanyaan tersebut. Dibiarkannya suara itu melintas bersama desiran lembut angin yang menyertainya. Diam dan hanya sebuah kebisuan yang mungkin kakek kayu jati bisa dapatkan dari pertanyaan itu. Kakek itu hanya menampakkan senyuman tuanya melihat hal itu, tak sedikitpun tampak raut kekecewaan atas sikap indera mulut. Ah..,sungguh cermin kebijakan yang bisa terlihat dari gerak geriknya itu.

Kembali anak angin berhembus melewati indera mulut dan hanya diam yang bisa terdengar! Ego pikiran mencoba ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh indera mulut,karena memang tidak seperti biasanya ia seperti ini. Mencoba semakin ingin tahu apa yang terjadi adalah ciri khas Ego! Terus dan terus berpikir,sampai akhirnya indera mulut mengucapkan sesuatu, sepertinya gumaman yang bisa terdengar oleh daun telinga.”Hmm……,”memang sebuah gumaman daripada kata-kata. ”Coba kakek pikir apa yang beda dengan hari ini?”lanjut indera mulut . Kakek kayu jati tua tidak segera menjawabnya,ia hanya menggoyang sebagian tubuhnya kekanan dan kekiri mengikuti keinginan anak angin yang sedikit nakal. Dan akhirnya kakekpun mencubit pipi anak angin dengan sedikit keras, sehingga anak angin menangis dan menjadi tidak terarah meghembus desirannya. Kakek mencoba merayu anak angin  yang suaranya semakin membuat sang kehidupan bingung. ”Cup,cup,cup……,” kata sang kakek terdengar sedikit tertawa daripada merayu sambil melakukan gerakan, akhirnya anak angin perlahan tapi pasti mulai tenang.

Kakek kayu jati berpaling pada indera mulut yang tadi berkata sambil sedikit menopang dagunya seperti berpikir mungkin? Ego pikiran kembali berpikir, mencoba tahu apa yang sedang dipikirkan kakek tua itu . Kakek kayu jati terus bergerak dan sedikit-sedikit menggaruk rambutnya yang entahlah memang gatal atau tidak. ”Ayolah kakek,masak seorang bijak seperti engkau tak tahu apa yang beda pada hari ini,” rengek indera mulut tak sabar melihat sang kakek hanya terlihat menggerak-gerakkan badannya.

Dan anak angin pun kembali melewati mereka dan terasa kesejukan bersamanya. Yah walaupun ia yang termuda diantara mereka tapi aura kesejukan selalu menyertainya apapun keadaan sang kehidupan. Ego pikiran berkata,”aku tahu apa yang hendak kakek lakukan.” Perkataannya tadi membuat semua terkaget-kaget,seperti biasa ia memang selalu merasa paling tahu akan segalanya melebihi sang kehidupan dan kakek kayu jati sekalipun.”Baiklah apa yang kau tahu?,” sahut kakek kayu jati dengan tenangnya sambil terus menggerakkan tubuh rentanya.”Emmm…..,”ego tertahan sebentar saat akan melanjutkan jawabannya. 
Indera mulutpun akhirnya tak sabar menunggu jawaban ego pikiran. ”Kalau kau memang tahu apa yang hendak kakek lakukan cepat katakan ego,” dengan sedikit nada tinggi indera mulut berkata. Sang kehidupan seperti biasa hanya terdiam dan melihat. Ego pikiran dengan pakaian keangkuhannya mencoba menunjukkan pada indera mulut tentang pengetahuannya. ”Aku tahu,aku benar-benar tahu kok,” bantah ego pikiran, seakan ia ingin indera mulut yakin padanya. Indera mulut semakin tak sabar pada apa yang akan Ego lakukan, ia melirik pada daun telinga agar mendengar dengan seksama apa yang nantinya Ego katakan sampai hati kecilpun mencoba ia libatkan.

“Cepatlah katakan kalau memang engkau benar-benar tahu ego, sehingga aku tak perlu menunggu jawaban kakek,” perintah indera mulut pada ego.
Ego yang telah memakai pakaian keangkuhannya semakin merasa jengah pada apa yang saudaranya lakukan. Kakek kayu jati tua hanya tersenyum melihat apa yang terjadi diantara mereka, ya ia hanya tersenyum ditemani sang kehidupan yang lebih banyak diam tanpa ekspresi apapun dari wajahnya! 
Hanya anak angin yang terus bergerak bebas diantara mereka semua melakukan apa yang ia mau lakukan tanpa takut apa yang akan terjadi pada dirinya. Ia hendak berlari atau hanya melangkah tak ada seorangpun yang berani protes padanya walaupun ia hanya seorang anak kecil,sampai sang kehidupan pun tak pernah menghukumnya atas apa yang ia lakukan. Begitu percayanya sang kehidupan padanya karena memang ia anak kecil yang sangat dapat diandalkan. Ia bisa memberikan kesejukan saat kehidupan membutuhkannya dan dengan sekejap pun ia bisa membuat sang kehidupan menujukkan kekuasaannya pada saat keadaan meremehkan kebaikan hatinya.

”Kakek pasti tidak akan menjawab pertanyaan bodohmu mulut,” dengan yakinnya ego pikiran mengeluarkan sebuah jawaban. Indera mulutpun dengan sedikit jengkel bertanya,”bagaimana mungkin engkau sungguh yakin kalau kakek akan melakukan hal itu?”.”Aku tahu pasti apa yang akan kakek lakukan karena itu kelebihanku,”sahut ego dengan keyakinannya. ”Tak percaya,tanyakan lagi saja pada kakek kayu jati,”lanjutnya dengan lebih meyakinkan. Indera mulut sesaat terdiam dan anak angin terus saja bergerak bebas diantara mereka seakan tidak peduli apa yang tengah terjadi. ”Kakek,benarkah engkau tidak akan menjawab pertanyaanku,”tanya indera mulut dengan sedikit keraguan. Kakek kayu jati memang terdiam tak menjawab,dan ego pikiran terlihat menyunggingkan sebuah senyuman kemenangan menunjukkan bahwa ia memang tahu segalanya!Kakekpun tetap diam seakan membenarkan apa yang ego katakan dan membuat indera mulut tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Diam dan memang diam sang kakek terlihat ,tanpa sedikitpun menggerakkan badannya seperti biasanya.

Pakaian keangkuhan egopun berganti menjadi pakaian kekuasaan laksana raja segala raja.
Tiba-tiba kakek menggerakkan badannya dan membuat daun telinga sedikit kaget karena biasanya kakek bergerak bila ia akan berkata-kata.”Kakek bergerak..”serunya membuat yang lainnya pun terperanjat melihat gerakan kakek.”Satu,dua,tiga,….” ego mencoba menghitung. Sampai hitungan kesepuluhpun kakek hanya menggerakkan badannya terus dan terus. 
Ketika semua menunggu apa yang akan kakek lakukan, tiba-tiba sang kehidupan mengeluarkan sebuah suara yang tak pernah didengar oleh semuanya sejak dahulu mungkin hanya kakek kayu jati tua saja yang tahu kata-kata dari sang kehidupan. Daun telinga begitu perhatiannya seakan tak mau sedikitpun melewatkan keadaan yang sangat-sangat jarang terjadi ini. Sang kehidupan berkata,”aku, aku yang membuat sang mentari tertidur karena saatnya ia tidur panjang, Dan kemudian tubuh kakek kayu jati tiba-tiba memeluk sang bumi sambil tersenyum pada sang kehidupan dan melambai pada yang lainnya. Ego pikiran mencoba kembali mencari tahu apa yang terjadi tapi kali ini ia diam dan diam.

                                                                                              ( J uli,2006...    11.30 )




Tanpa Judul 1...

Rasa?
Perasaankah...

Kata-kata yang tak pernah bisa aku mengerti
Kucoba mencari dalam kumpulan kata-katapun,tak kudapatkan.
Padahal begitu banyak kata-kata yang ada didalamnya tersimpan.

Mengapa begitu sulit aku mendapat arti dari kata-kata itu
Kemana lagi aku harus mencari dan bertanya pikirku
Akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada guru hatiku.

Apa yang sedang kau cari tanya guru hatiku lembut?
Dengan tersipu malu aku mencoba merangkai kata demi kata.

Emm…mengapa saya tak pernah bisa mengerti apa itu rasa,guru?

Dengan senyum bijaknya ia hanya tersenyum dan terdiam.
Jangan pernah kau coba mengerti tapi rasakan saja pintanya!
Rasakan….?
Aku kembali bertanya,dan ia hanya tersenyum...


(Aku....2007)