Monday, 21 November 2011

Citumang



Citumang...
Pertama kali aku mendengarnya,aku hanya bertanya tempat apa itu?
Kemudian temanku hanya menjelaskan tempat baru yang asyik buat di kunjungi,seperti apa detailnya dia tidak menjelaskan.
Akhirnya aku mencari sendiri melalui internet dan informasi yang aku dapat juga hanya berupa gambar dan asal muasal nama citumang.Aku masih belum paham hanya sekedar tahu,dan akhirnya itu yang membuatku malah jadi penasaran dan ingin melihatnya secara langsung.
Setelah beberapa kali tertunda karena sesuatu hal,akhirnya aku dan adik perempuanku akhirnya memutuskan pergi walau sebenarnya adikku bolos kuliah.Waduh,kalau ketahuan orangtuaku gawat nih,bisa bisa aku dibilang trouble maker nih.Tapi dia juga mau kok,biar gak jenuh katanya,sudahlah toh dia sudah besar jadi sudah siap dengan semua resikonya.Kamipun memutuskan pergi di hari biasa bukan di akhir pekan,karena pertimbangan jika akhir pekan pasti ramai dan kami tidak bisa menikmati suasana yang kami mau.Yah,kami mau suasana yang hening dan tidak terlalu ramai.Jadi kami bisa menikmati dengan cara kami.
Ternyata,kenyataan perjalanan tidak seperti yang kami bayangkan.
Dari mulai petunjuk awal citumang yang tak lebih dari sebuah petunjuk biasa.
Kami terus melanjutkan perjalanan kami melewati jalan desa yang tampak mulai rusak
dibeberapa tempat,ditambah lubang lubang yang tampaknya bermasalah di musim hujan.
Melewati persawahan yang sudah di panen beberapa saat yang lalu, tampaknya membuat suasana sedikit berbeda,karena bila musim tanam pasti lebih memanjakan mata kami yang melihatnya.Tapi itu tidak menjadi masalah karena kami begitu ingin melihat citumang yang sebenarnya.
Kami memang harus ekstra perhatian dengan petunjuk yang ada karena salah melihat bisa membuat kami salah arah,walau hanya tersesat di sebuah desa tapi bisa membuat waktu kami sedikit terbuang nantinya.Dan petunjuk yang ada benar benar minim.
Dan akhirnya kami sampai ditempat parkir kendaraan roda dua yang kami sewa.Sedangkan jarak yang harus kami tempuh mulai dari jalan raya utama hingga melalui jalanan desa,kurang lebih sekitar 3 km hingga kami tiba di tempat ini.
Terdapat beberapa warung makanan yang dibuat oleh penduduk setempat yang menyediakan makanan seadanya juga.Dan sebuah base camp milik satu komunitas tampaknya.Kami pun memasukinya dan bertanya,ternyata memang tempat ini menyediakan pelampung untuk di sewakan dan untuk aku yang memang tak bisa berenang,alat ini pasti sangat membantunya.

Dengan ditemani seorang pemandu bernama Deva,kami mulai berjalan menyusuri hutan jati kecil milik perhutani dan sebuah tempat pengalian batu kapur.Kurang lebih 600 meter dengan jalanan sedikit menanjak,kami sampai di pintu masuk objek wisata tersebut.Dan dengan merogoh uang sebanyak 5000 rupiah,kami bisa mendapat sebuah tiket masuk/orang.
Kamipun terus melanjutkan perjalanan memasuki daerah tersebut hingga kami tiba di satu area sungai dengan sebuah gua yang tampak di aliri sungai dengan bebatuan di sekitarnya.
Yang membuat kami sedikit takjub adalah air yang tampak jernih dan terlihat ehijauan terpantul sinar matahari,siang itu.Aku pun segera memakai pelampung tadi.Dan segera menceburkan diri kedalam aliran sungai.
Hmm...dingin,tapi segar rasanya.
Aku terus meluncur memasuki mulut gua dengan bantuan seutas tali yang memang sengaja di pasang di sana,semakin ke dalam gua semakin gelap.Dan aku memutuskan berhenti hanya sampai 2 – 3 meter dari mulut gua,karena takut juga.
Aku kembali mendekati mulut gua,dan tampak akar sebuah pohon yang menjulur ke arah dinding gua hingga ketengah gua.Dan menurut pemandu kami,di situlah maskot citumang sebenarnya,meloncat dari akar pohon.Dan katanya tak sah bila belum meloncat dari akar tadi.Setelah mendengarnya,aku seperti tertantang mencobanya.Padahal aku tak bisa berenang,tapi bukan sebuh halangan kok.Toh pemandu kami berjanji menjagaku dan menolong aku nantinya.
Dengan dibantu pemandu kami,aku memanjat mengikuti alur akar pohon yang ada hingga ketengah gua.Awalnya seperti tampak mudah,tapi setelah berdiri disana,semua menjadi berbeda.Tidak tampak seperti kelihatannya,karena saat berdiri diatas akar pohon dan memandang dari atas rasanya aku ingin kembali turun.Benar benar tidak seperti yang aku bayangkan,padahal tinggi akar ini hanya kurang lebih 2 meterlah.Tapi cukup membuatku berpikir mengurungkan niatku.Dan aku sempat berpikir ulang dan mencoba kembali sedikit menguatkan hatiku yang bimbang.

Akhirnya aku memutuskan meloncat,setelah berpikir toh turun juga bukan hal yang mudah,jadi lebih baik loncat saja.Setelah di beri petunjuk agar tidak meloncat di tempat yang salah,agar tidak membentur bebatuan yang ada di dalam sungai.  Aku memberanikan diri untuk meloncat dan satu,dua, tiga....byurrr....   Aku akhirnya loncat juga,wah sensasinya tak bisa di katakan walau tak seekstrim batu payung, tapi cukup membuat adrenalinku bekerja saat itu.
Kemudian kami melanjutkan menelusuri aliran sungai ini,dengan beberapa loncatan lebih kecil tapi sempat membuat kami beberapa saat berpikir.Terlebih aku yang tak bisa berenang dan takut dengan air.
Tapi aku berpikir sekali menyelam teruskan saja,toh sudah terlanjur basah ha ha ha
Suasananya benar benar sunyi,aku suka.
Ditambah pemandu kami deva,sesekali menakut nakuti dengan cerita mitos buaya sungai ini.
Ahh,sudahlah...so explore this river with us...
Sepertinya sungai ini memanggil kami,terlebih aku yang mulai kelelahan berenang karena aku tak bisa berenang.Rasanya aku seperti tidak maju maju dan sering tertinggal jauh.Jadi karena rasa takut aku berusaha mengejar adikku dan deva,dan sesekali berteriak pada mereka untuk tidak meninggalkan aku.Semakinlah mereka senang mencandai aku dengan beberapa hal,dan tampak mereka tertawa menertawakan aku.Saat itu aku sepertinya jadi ingin bisa berenang.Tapi saat itu saja.
Benar benar sungai yang berbeda.
Lihatlah airnya yang tampak kehijauan,membuat semua mata terpesona saja.Seperti melihat mata yang hijau saja.
                                                                      



Luar biasa,walau kami terlebih aku tampak sangat kelelahan.Tapi ketika kami memulai rasanya kami tak bisa berhenti di tengah tengahnya.Karena sepertinya aliran sungai ini memang tak menginginkan kami berhenti.Dan kami harus terus berenang hingga mendekati tepi bendungan.Dan disini kami tidak bisa mengabadikan moment itu.Karena harus berenang terus dan terus.
Benar benar melelahkan,tapi cukup seru.
Ternyata,tidak berhenti di sini teman.Perjalanan kami di lanjutkan melewati sebuah aliran selokan kecil yang di buat,dan kami juga di suruh berenang di sini,dan anehnya kami menurut saja.Padahal aliran selokan ini tidak dalam malah mungkin hanya setengah meter,dan sebenarnya kami bisa berjalan melewatinya.Tapi kami terus saja berenang.Kalau di pikir pikir yang bodoh siapa yah?ha ha ha
Sampai karena lelahnya,aku lupa kalau aliran sungai ini tak lebih dari setengah meter.Karena di akhir perjalan aku meminta tolong memegang tanganku agar tak terbawa arus,padahal aku tidak harus seperti itu,aku bisa berdiri langsung saja sebenarnya.Benar benar stupid behaviour,ha ha ha ha 
Tapi itulah Citumang ...
Sayang akses kesana belum seperti objek wisata lainnya yang sudah di kelola baik.
Tapi mungkin itu kelebihan Citumang,benar benar suasana pedesaan. 
Yang jelas sudah cukup memuaskan rasa penasaran kami,dan kami tersenyum.
Walau ada cerita di balik itu,kami sempat tersesat ha ha ha

Saturday, 5 November 2011

Pilihan...



Ternyata membuat sebuah keputusan bukan suatu hal yang mudah,apalagi ketika hal itu nantinya memberi pengaruh pada kehidupan kita ke depannya.

Padahal,ada beberapa orang yang kelihatannya gampang gampang aja ketika memutuskan hal ini.

Kenapa buatku sulit?

“Menikah...”

Sepertinya kata kata itu hanya terdiri dari beberapa untaian huruf dan satu kata,tetapi kenapa sulit buatku untukku melakukannya.Bukankah banyak orang juga melakukan hal itu,dan tampaknya biasa saja.

Apakah aku termasuk orang yang aneh?

“Pernikahan...”

Membayangkannya saja buatku terlalu rumit,jadi seringkali aku malas untuk sekedar membayangkannya.Entahlah,apakah aku memang tidak punya “konsep” tentang sebuah pernikahan? Rasanya aku punya “impian”.

Tapi kenapa aku malas buat merealisasikannya.

Traumakah?

Rasanya juga tidak,toh kalau manusia pernah gagal membina sebuah hubungan sepertinya hal yang lumrah dan biasa bukan.Kalau kita menjadi berhati hati,rasanya lebih bijak.Tak ada manusia yang tak pernah “gagal” dan kegagalan itulah yang membuat kita semakin banyak belajar tentang sesuatu,bukan dari sebuah keberhasilan kita mendapatkan sesuatu tapi dari sebuah “kegagalan”.Semakin banyak kita melakukan “kegagalan” akan banyak hal pula yang kita terima sebagai pembelajaran hidup.Tapi bukan berarti kita harus gagal terus,kalau seperti itu pastinya sebuah “kebodohan” yang bekerja he he he he

Takutkah aku?

Kalau untuk hal yang ini,mungkin saja.Tapi kenapa yah...Benarkah aku takut?

Apakah mungkin aku takut gagal?berarti aku tak mau mencoba kalau memang iya.Wah,kalau seperti ini ceritanya kapan aku mau melangkah.

Sepertinya aku memang takut mencoba, karena  ketika aku mencoba melangkahkan kakiku untuk pertama kalinya,aku ingin ada orang  disampingku yang bersedia memapahku ketika aku terjatuh dan menopangku ketika aku terperosok dan menerimaku apa adanya “aku”.Tapi masalahnya adakah “orang” itu? Dan itukah “realita”...

Aku cukup sadar dengan “sang waktu”, ia tak pernah berhenti untuk menunggu dan aku juga tak akan pernah sanggup untuk mengejarnya.

Seringkali dalam kesendirianku,aku merenung dan tak terasa air matapun menetes tanpa diundang,bukan karena aku sedih tapi berpikir kalau aku sudah menyia nyiakan hidupku dengan sesuatu hal yang tak jelas,semoga saja tidak...

Dan akupun terkadang bertanya pada diriku sendiri,apakah yang kamu mau?

Apa yang menjadi pilihan hidupmu?

Pernah seorang temanku bertanya dan berkata,”sebenarnya kamu mau menikah tidak?”

Dan aku menjawab,”aku belum membuat pilihan.”

Diapun kembali bertanya,”kenapa belum,emang kamu gak mau menikah?”

Aku hanya diam...

Aku tak menjawab untuk hal itu,aku hanya berpikir ketika aku memutuskan sesuatu, aku sudah paham betul dengan semua resiko yang akan terjadi di kemudian hari,sampai hal yang terburukpun aku harus sudah mempersiapkan.Walaupun kalau kenyataannya terjadi belum tentu aku siap.Memang seperti itulah kenyataan.Terkadang tak sesuai dengan apa yang kita bayangkan dan harapkan.

Aku hanya mau ketika aku sudah membuat keputusan tak ada lagi sebuah kata “penyesalan” yang akan mengelayutiku di kemudian hari,walau prakteknya tak akan semudah itu.

Entahlah semakin hari semakin rumit aku berpikir untuk hal yang ini.

Aku semakin paham kenapa orang yang semakin bertambah umur semakin sulit memutuskan sesuatu dan akhirnya mereka memilih untuk “diam”.

Sepertinya lebih mudah ketika usiaku mundur beberapa tahun yang lalu,saat itu aku penuh dengan impian dan rasanya sangat mudah aku membuat “keputusan”.Walaupun akhirnya juga tak ada yang terealisasikan ha ha ha ha

Tapi kadang kadang aku berpikir,apakah hidup hanya memberi satu pilihan?

Contohnya gini nih,kalau orang lahir terus hidup kemudian besar terus bertambah dewasa dan matang harus pasti “menikah” yah?terus ketika orang “menikah” pertanyaan yang muncul,”anaknya dah berapa?”.Terus kalau udah punya anak dan anaknya tumbuh dewasa juga,pertanyaan selanjutnya,”udah punya cucu berapa?”dan selanjutnya dan selanjutnya.

Sekarang aku yang bertanya,kalau semua hal itu tidak terjadi seperti itu bagaimana?

Misalnya,ketika dewasa anaknya memutuskan tidak menikah atau setelah menikah tidak dikarunia anak,apa yang akan terjadi dengan kehidupan orang tersebut?

Apakah “mereka” dianggap manusia yang tidak berhasil atau malah “aneh”?

Apakah mata rantai kehidupannya berhenti setelah ia tidak lagi mengalami hal itu semua?Seandainya betul,sungguh “tragis” hidup mereka,terus pertanyaan yang muncul kemudian,”sebenarnya manusia diciptakan untuk apa sih?”

Apakah betul hanya untuk sekedar bereproduksi dan kalau tidak berhasil apakah mereka dianggap manusia “gagal”?

Hmmm...

Kalau seandainya itu semua memang betul,rasanya sedih sekali,bahkan miris merasakannya.Bukankah “nilai” seorang manusia lebih dari itu semua?

Bukankah katanya manusia diciptakan lebih tinggi derajatnya dari mahluk lainnya di muka bumi ini? Terus apa bedanya “manusia” kalau seperti itu ceritanya,toh merekapun melakukan hal ituwalau ada perbedaannya,tapi intinya kan sama.Maaf yah kalau ada yang tersinggung....

Aku mencari “konsep” yang berbeda dari sebuah penikahan,kalau aku harus menikah aku tidak mau hanya sekedar seksualitas harus ada yang lebih dari itu.Sesuatu yang “agung” yang aku lakukan dari sebuah “pernikahan”.Karena sebuah “pernikahan”terlalu agung kalau hanya diartikan seperti itu.Toh kalau hanya untuk hal itu manusia bisa kok melakukannya tanpa “pernikahan”, ini menurutku lho.

“Menikah” itu masalah “kesetiaan” salah satunya.Bagaimana aku bisa “setia” dengan satu orang itu seumur hidupku.Itulah yang bikin “rumit”.

Kebayang banget deh dengan orang yang sama dengan segala hal yang pasti berbeda,seumur hidup lagi.

Wah.....

Makanya rasanya aneh banget ketika aku harus seumur hidupku bersamanya kalau tidak mempunyai cara pandang yang sama, walau terkadang sudut pandang bisa berbeda.Maksudnya gimana nih?

Gini deh gampangnya,misalnya kita beranggapan atau melihat bumi itu bulat, walau dilihat dari sudut manapun, yah bumi itu tetap bulat nah seperti itulah yang namanya satu visi.Jadi lebih mudah mengartikannya bukan?

Dan buat aku pasangan adalah “patner”, ketika kami bisa mengartikan seperti itu sepertinya asik aja deh.

Apalagi yang namanya “pernikahan” seumur hidup kan,pasti ada masa bosan atau jenuhnya kan? Orang kadang aku yang masih “single” saja sering banget bosannya dengan rutinitas hidup,apalagi nanti yah,bener gak sih?

Woii...yang udah memutuskan “married” buat koment yah nanti biar aku tahu kenyataannya,ini kan baru versiku sekarang.

Waduh...ceritanya kok jadi tambah panjang nih dan sepertinya harus aku stop,nanti malah bikin kerancuan hidup deh.Intinya sih aku memang belum memutuskan dan membuat pilihan,tapi bukan berati aku anti menikah atau tidak menikah.Toh keputusan belum aku ambil,dan kalau nanti aku sudah membuatnya dan kalau ternyata aku memilih menikah semoga memang dia yang bisa menjadi “patner” hidupku yang memiliki cara pandang yang sama tentang sebuah “pernikahan”.Dan kalau aku memilih yang sebaliknya semoga sudah aku pikir matang sekali dan semoga hidupku juga lebih berarti dan sama dengan pernikahan ha ha ha ha

Tenang aja ,semua masih sangat mungkin....tak ada yang tidak mungkin kan dalam hidup ini?

Aku masih suka anak anak kecil yang lucu,so bersiaplah menjadi lelaki sejati hai...para pejantan he he he he

Kayaknya ngaco deh ceritaku kali ini.......